22 April 2016

Banyak orang gagal paham Kartini

Masih banyak orang Indonesia yang berpandangan kolot soal gender. Kalah jauh sama Kartini pada 1900an. Banyak laki2 yang masih pegang stereotipe bahwa wanita itu ya 3M: masak manak macak! Masak, melahirkan, berdandan. Gagal paham substansi pemikiran Kartini yang super progresif itu.

Ada juga teman di Surabaya (kota modern) yang masih percaya bahwa perempuan itu identik dengan dapur sumur kasur. Kok iso gitu? Wanita lulusan universitas kok cuma 3M dan 3ur? Sayang banget kuliah lama dan buang banyak uang.

"Kodrat wanita ya begitu. Masa suaminya yang masak dan cuci2?" kata teman yang sarjana sosial.

Statusnya di media sosial pas Hari Kartini kemarin beroleh banyak tanggapan. Sebagian komentator pro dengan dapur sumur kasur + masak manak macak. Teman2 grup medsos ini bahkan menakut-nakuti para wanita karir. Wanita2 sekarang kebablasan, begitu intinya.

"Memasak dan mencuci itu bukan tugas wanita," komentar saya buat mancing.

"Kalau wanitanya capek.. ya tidur. Toh di meme itu cuma masak mi instan. Apa sulitnya? Apa harus wanita yang masak? Koki2 yang bagus di hotel berbintang di Surabaya semuanya laki2..."

Rupanya cukup banyak anggota grup di Sidoarjo yang like. Tapi para penentang pun tidak sedikit. Aneh... orang Sidoarjo dan Surabaya yang sangat terdidik dan maju masih punya ideologi wanita dipingit ala zaman Hindia Belanda. Masih ingin wanita diamankan di rumah untuk masak macak manak.

Lha, masak untuk siapa kalau suaminya pulang tengah malam? Atau tugas ke luar kota? Macak2 sendiri yo opo pantas? Macak itu kalau mau ke kondangan atau acara2 tertentu. Tapi ya teman kita yang patriarkistik itu ngotot menolak wanita berkarir setinggi mungkin.

Mbak Novita pelukis asal Waru sudah lama aktif dalam pemberdayaan perempuan di Kabupaten Sidoarjo. Dari pengalaman lapangan, dia justru menganjurkan perempuan harus kerja kerja kerja. Tidak bisa cuma 3M di rumah.

Berapa sih penghasilan suami? Cukup untuk biaya sekolah dan kuliah anak? Ngontrak atau nyicil rumah? Beli ini itu? "Bekerja itu tidak harus di kantor atau pabrik. Bisa buka usaha di rumah," katanya.

Novita tidak cuma ngomong. Kemarin dia bikin pelatihan seni kerajinan untuk ratusan wanita di pendapa Kabupaten Sidoarjo. Bikin kerudung pake hiasan dsb. Pelatihan ini akan terus dilakukan di berbagai kecamatan.

Bukan apa2.. mbak Novi berbisik: umur orang siapa tahu. Kalau Tuhan berkehendak, sang suami bisa dipanggil kapan saja. Potensi perceraian pun sangat tinggi di era easy come easy go ini.

"Kalau jadi single parent, anda mengandalkan siapa? Wong suamimu sudah di surga. Yang masih di dunia ini susah," kata Novita yang baru meluncurkan komunitas perempuan pelukis Sidoarjo.

Saya rasa teman2 aliran 3M perlu lebih banyak diskusi dengan Novita dkk. Bukan cuma memaki-maki wanita karir di medsos hanya karena tidak bisa (sempat) masak atau cuci pakaian.

Toh wanita karir itu duitnya buanyaaak sehingga bisa dengan mudah menggaji asisten rumah tangga. Rupanya pemikiran masih buanyaaak laki2 yang gagal paham pemikiran Kartini di era medsos yang sangat canggih ini.

4 comments:

  1. Paradigma feodal Jawa apalagi sekarang dibungkus Arabisme masih banyak rupanya berkembang. Padahal pemikiran anti feodal ala Kartini dan penyertaan perempuan dalam pembangunan ala Sartika sudah 100 tahun lebih menggaung. Hai lelaki, rombak lah paradigma berpikirmu yang kolot!

    ReplyDelete
  2. om hurek, di kampung kami gak ada itu istilah "masak, macak, manak"... wanita ya harus bekerja... menanam padi di sawah, beternak babi atau lembu, menangkap ikan di Danau Toba...

    makanya harga sinamot alias mahar di tempat kami mahal... karena itu sebagai ganti rugi bagi orang tua mempelai wanita, karena mereka kehilangan satu orang pekerja yg akan mengurus ladang mereka... ganti rugi ini juga disimbolkan dalam wujud kerbau yg disembelih setiap pernikahan adat Batak...

    jadi sebelum euforia "emansipasi", sebelum ada Kartini, wanita2 Batak sejak lama sudah harus bekerja... entah itu keinginan mereka untuk bekerja, ataupun karena terpaksa...

    entah kenapa kerja selalu diidentikkan dengan pergi ke kantor pagi-pagi, duduk di kantor... memangnya bercocok tanam, beternak, menangkap ikan, itu bukan pekerjaan???

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pak Nababan, masyarakat Batak rupanya tidak terlalu feodal seperti Jawa, mungkin karena tidak adanya kerajaan besar dan keragaman agama.

      Dalam masyarakat agraris yang berdasarkan OTOT, semua orang berguna sebagai pekerja. Tidak ada hierarki yang terlalu berarti. Tidak ada gaji, yang penting semua dapat makan. Walau ada pembagian tugas, lelaki melakukan yang memerlukan otot lebih banyak, perempuan melakukan yang memerlukan otot lebih sedikit. Begitu pulang, lelaki ingin dilayani krn merasa sudah lebih capai.

      Dalam masyarakat modern yang knowledge-based, yang menggunakan OTAK, siapa yang mampu berpikir lebih cerdas, merencana lebih matang, mengeksekusi lebih sempurna, itulah yang dibayar lebih, yang diangkat menjadi pemimpin yang dibayar berlipat-lipat. Tidak peduli jenis kelamin. Tetapi banyak lelaki yang masih berpikir ala agraris. Apalagi kalau pemikiran feodal itu dibungkus agama, dahsyatlah ia menghambat suatu masyarakat untuk maju.

      Delete
  3. Salut untuk mBak Novita. Selamat berkarya dan sukses ke depannya.

    ReplyDelete