02 April 2016

Angguna mencoba bertahan

Masih ingat angguna? Orang Surabaya lawas pasti kenal angkutan serbaguna warna kuning itu. Sahabat masyarakat yang hendak boyongan alias pindah rumah.

Diperkenalkan kali pertama pada 1988, kini angguna sudah jadi barang langka di Surabaya. Tinggal beberapa unit yang tersisa. Karena itu, sangat sulit menemukan angguna yang tidak punya tempat mangkal itu. Angguna sudah lama diganti pikap yang mangkal di sejumlah ruas jalan raya.

Semalam saya beruntung ketemu angguna tua di Kalibokor. "Masih bisa jalan?" tanya saya basa-basi.

Lha kalau tidak beroperasinya, ngapain pak sopir asli Kalibokor itu ngetren di pinggir jalan raya. Wow, tarifnya ternyata jauh lebih murah ketimbang pikap. Hampir separonya.

Angguna berusia 28 tahun ini juga masih bandel. Kecepatannya boleh juga. Jarang mogok, kata pak sopir plus pemilik angguna itu.

Di balik mobil kusam bermesin Hijet ini tersimpan semangat pelayanan dari pak sopir. Bantu angkat barang-barang, menata, sambil cerita tentang jatuh bangun sebagai pengusaha angguna. Dulu enak, sekarang susah. Saingan banyak dan bagus-bagus.

Apalagi ojek online juga melayani pengiriman barang yang menjadi core business angguna. Tapi rezeki selalu ada, katanya. "Saya tidak tahu sampai kapan angguna bertahan di Surabaya," katanya perlahan.

No comments:

Post a Comment