08 April 2016

Amin, Amiin, atau Aamiin...

Ada teman saya yang ngotot menulis AMIN (setuju, menjawab doa) dengan AAMIIN... Sudah dikoreksi dengan rujukan beberapa kamus, khususnya Kamus Besar Bahasa Indonesia versi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, bahwa penulisan yang benar ala Indonesia adalah AMIN pun ndak mempan.

"Mas, yang benar itu AAMIIN. Ada beberapa versi kata dalam bahasa Arab yang bunyinya mirip tapi tidak sama artinya. Kalau AMIN artinya aman atau tenteram. Kalau menjawab doa harus pakai AAMIIN," kata teman yang makin gandrung mendalami agama Islam itu.

Dia kemudian menunjuk sebuah artikel tentang AMIN, AAMIIN, AAMIN... di internet. Saya sudah lama membaca dan menelaahnya. Karena itu, saya hanya tersenyum geli menyimak argumentasinya meskipun sangat memahami maksudnya.

Di era revivalisme ini, banyak orang Indonesia yang makin cenderung Arab minded. Arabisasi. Kata-kata lama yang sudah mendarah daging diganti dengan istilah Arab. Agar lebih asli dan islami. Belakangan kata serapan AMIN pun ikut dikoreksi karena dianggap salah kaprah.

Benarkah kata serapan AMIN (biasa dipakai di akhir doa: kabulkanlah, terimalah, demikianlah hendaknya...) itu salah? Apakah para penyusun kamus kita tidak paham bahasa Arab? Tidak paham kalau AMIN itu ada 4 atau 6 versi dalam bahasa Arab?

Wow, sangat kebangetan kalau kita meragukan kemampuan Prof Hasan Alwi dkk yang sangat mamahami bahasa Arab dan beberapa bahasa asing lain! Jangan lupa, banyak sekali pakar bahasa Arab dan ahli agama Islam yang dilibatkan dalam proyek KBBI. Mereka tidak hanya sangat paham bahasa Arab tapi juga hukum penyerapan bahasa dalam bahasa Indonesia.

Nah, teman-teman yang gencar mengampanyekan penggunaan AMIN, AAMIIN... itu menurut saya hanya menggunakan kacamata transliterasi. Alias romanisasi aksara Arab ke ABC Latin. Dus, hanya mengubah huruf-huruf Arab ke aksara lain, yakni sistem romanisasi ABC.

Ini persoalan klasik tidak hanya bahasa Arab, tapi juga bahasa Mandarin, Thailand, Korea, India, bahkan bahasa Jawa dan bahasa Bali. Semua bahasa yang punya sistem aksara yang mapan niscaya tidak bisa dialihkan sistem tulisannya ke aksara lain. Pasti tidak akan sempurna. Tapi paling tidak mendekati lah.

Karena itulah, kata-kata dalam bahasa Mandarin yang sama dalam aksara Hanzhi biasanya berbeda-beda versi jika ditulis dalam ABC. Contoh: Beijing atau Peking atau Peiching..? Dari dulu sih ibukota Tiongkok itu sama saja kalau ditulis dalam aksara Hanzhi. Kok bisa jadi berbeda-beda seperti itu?

Tiongkok atau Cungkuo atau Zhonguo atau China atau Cina atau Cina?

Kasusnya hampir sama. Makanya ada sistem yang disebut Hanyi Pinyin untuk transliterasi aksara Mandarin ke ABC Latin. Bahasa Arab pun memiliki sistem romanisasi di level internasional.

Nah, romanisasi atau transliterasi ini jelas sangat berbeda dengan penyerapan kata/istilah. Kata-kata Arab atau Tionghoa itu dilokalisasi menjadi kosa kata bahasa Indonesia. Sudah tentu kata-kata asing itu harus mengikuti sistem bunyi atau fonologi bahasa Indonesia.

Maka AMIN, AAMIIN, AAMIN... dsb wajib mengikuti sistem bunyi bahasa Indonesia. Kata-kata yang aslinya berbeda bunyi dan tulisannya itu kemudian diserap menjadi satu kata: AMIN. Singkat, padat, enak diucapkan, meskipun huruf A dan I tidak panjang.

Kata AAMIIN yang makin populer di media sosial akhir-akhir ini merupakan romanisasi Arab. Bukan serapan. Bahasa Indonesia itu sangat sederhana, hemat, efisien. Karena itu, sangat aneh kalau ada orang yang ngotot mengubah AMIN menjadi AAMIIN... agar lebih cocok dengan aslinya dalam bahasa Arab.

Setelah saya buka kamus besar (KBBI), bahasa Indonesia hanya menyerap AMIN dari bahasa Arab untuk "terimalah, kabulkanlah, demikianlah adanya...".

Sedangkan kata AMIIN yang artinya jujur, bisa dipercaya.. belum disebut di kamus. Tapi yang jelas nama Bapak Amien Rais bisa diduga yang pakai dua huruf I ini: AMIIN. Tapi kalau diserap ya tetap jadi AMIN.

Mau 4 versi atau 6 versi atau 10 versi, ya, tetap diserap jadi AMIN. Wah, jadinya ada satu kata yang punya banyak sekali arti?

Betul. Dan itu sangat biasa. Kata-kata bahasa Mandarin yang tulisan ABC-nya sama, bisa memiliki 10, 15, atau 30 arti. Itu memang risiko transliterasi dan penyerapan.

Rupanya penjelasan saya ini tidak bisa diterima IW dari Porong Sidoarjo. Ibu yang tamatan SMA Katolik di Surabaya ini malah terus mengingatkan saya bahwa tulisan yang benar itu AAMIIN dan bukan AMIN.

Sakarepmu! Suka-sukalah!

7 comments:

  1. Kok ngotot banget sih? Padahal kata Amin sendiri adalah kata serapan dari bahasa Ibrani yang masih saudara dekat bahasa Arab. Maka itu dalam Agama Yahudi dan Agama Kristen, juga banyak digunakan kata Amin. Di salam Injil Yohanes - yang dituliskan sekitar tahun 100, 500 tahun lebih sebelum wahyu diterima Nabi Muhammad - Yesus sering menggunakan kata Amin di awal kalimat untuk menekankan pentingnya yang dia utarakan. Kata Amin yang digunakan di depan ini bukanlah bermakna persetujuan atau permintaan, tetapi penekanan shg biasanya diterjemahkan sbg "Sebenar-benarnya" atau "sesungguhnya" dalam bahasa Indonesia, tetapi dalam Bahasa Inggris masih dipertahankan frasa "Amen, Amen, I say to you ..." Lihat misalnya Yohanes 5:19, dll.

    ReplyDelete
  2. Ada kecenderungan purifikasi di indonesia. Semangat beragama meluap-meluap. Termasuk tata kata.. tata kalimat.. tata busana.. tata negara.. tata ekonomi.. dan tata-tata yg lain.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya, sebenarnya semangat puritanisme ini telah ada sejak jaman seratusan tahun lalu. Tetapi pemuka-pemuka agama yang bijak di Nusantara waktu itu merumuskan Islam yang menghormati adat istiadat lokal (seperti NU), atau yang mensintesa pemikiran modern dengan Islam (Muhammadiyah), dan menolak puritanisme yang terlalu mengutamakan "tata" lebih daripada "akidah". Semoga ketika semuanya reda dan setimbang, begitulah adanya di Indonesia kembali.

      Delete
    2. Arif bijaksana.. penuh ilmu dan kajian mendalam tapi tetap menusantara. Itulah yg saya baca dari tulisan2 para pemikir islam masa lalu macam Hamka.. Hatta.. Agus Salim.. bung Karno.. M Yamin.. Ahmad Dahlan.. Hasyim Ashari... kemudian era Gus Dur.. Cak Nur.. Dawam Rahardjo dll.

      Tapi belakangan ada kecenderungan wacana keagamaan makin tekstual skripturalistik dan fundamentalistik. Pemain2 baru yg seperti ini malah dominan di media sosial. Syukurlah, media cetak koran dan majalah justru kajiannya makin toleran... terbuka. Ada tempat utk kajian2 kiri.

      Delete
    3. Para ulama besar jaman dulu tidak punya tujuan untuk jualan agama. Pd saat ini, aliran-aliran garis keras ini sedang jualan, karena itu mereka harus bersuara lantang bhw kecap mereka nomer satu, lebih murni gula merahnya. Ya sama lah dengan aliran Kristen haleluyah yang suka jualan ke umat Katolik dan Protestan arus utama. Harus menawarkan kepastian dan kebenaran absolut!

      Delete
  3. Yang sederhana kok malah dibikin ruwet???

    ReplyDelete