20 April 2016

Ahok Tenggelamkan Pilgub Jatim

Apa hubungan Ahok dengan Sidoarjo atau Jawa Timur? Tidak ada. Tapi gubernur Jakarta ini hampir tiap hari jadi trending topic di media sosial. Beberapa grup media sosial di Sidoarjo yang saya pantau banyak membahas Ahok Ahok Ahok Ahok...

Tiada hari tanpa Ahok. Baik yang pro maupun yang kontra. Tapi paling banyak anggota grup medsos yang pro dan netral. Teman-teman yang kontra biasanya pakai senjata agama dan ras. Ahok yang Tionghoa dan Kristen dianggap tidak pantas menjadi gubernur Jakarta.

"Ndak pantas gimana? Wong sekarang kan Ahok sudah jadi gubernur? Gerakannya pun oke punya. Dan menasional. Berani. Transparan. Blakblakan. Mengapa masih dipersoalkan?" pancing saya berlagak pendukung berat Ahok.

"Kemarin itu kan kecelakaan. Ahok naik karena Jokowi jadi presiden. Kalau normal ya ndak mungkin Ahok jadi gubernur," kata teman yang anti Ahok karena faktor SARA.

Mencuatnya kasus Rumah Sakit Sumber Waras kian menambah ramai diskusi di medsos warga Sidoarjo. Makin panas karena Ahok menuduh BPK ngaco. Dan makin banyak orang yang ingin Ahok segera ditangkap.

Hehehe.... Begitulah diskusi ala medsos dan warkop yang makin heboh aja di Jatim. Topik soal Ahok sepertinya tidak habis2 dibahas meskipun tidak ada lagi argumen baru. Bahan2 untuk menyerang dan mendukung Ahok kayaknya sudah habis.

Bagi saya, Ahok ini fenomena yang luar biasa. Apa pun kontroversinya, Ahok telah menyita perhatian masyarakat di luar Jakarta yang tidak punya urusan dengan pilgub.

Diskusi soal Ahok ini saya duga juga merembet hingga ke luar Jawa. Kecuali NTT provinsi asal saya yang sejak dulu tidak terlalu peduli dengan hiruk politik di Jakarta. Orang NTT sejak dulu juga kurang peduli dengan penyanyi atau band terkenal di Jakarta. Sebab orang NTT biasanya lebih suka band2 atau penyanyi lokal. Bae sonde bae Flobamora lebih bae!

Ironisnya, warga Jawa Timur sendiri, khususnya Surabaya dan Sidoarjo, hampir tidak pernah membahas pemilihan gubernur Jawa Timur. Padahal Jatim pun sama2 mengikuti pilgub seperti Jakarta.

Siapa saja bakal calon yang maju untuk menggantikan Gubernur Soekarwo? Saya pastikan 8 dari 10 orang Surabaya dan Sidoarjo tidak tahu. Mereka hanya tahu dan antusias membahas Ahok alias Basuki Tjahaja Purnama yang omongannya keras, kasar, dan polos ala arek Surabaya.

"Bahas pilgub Jatim itu gak menarik. Gak ada yang like," kata cak Mamat, salah satu TS yang punya banyak pengikut itu.

"Bakal calon gubernur Jatim gak ada yang sekuat Ahok. Bu Risma pun masih kalah. Ahok ini lain dari lain," kata kenalan yang juga pengamat politik.

Memang... Ahok ini fenomenal. Sangat jarang muncul tokoh di luar mainstream macam Ahok di pentas politik nasional. Tionghoa. Kristen. Belitung. Tak punya partai pula. Semua mata tertuju padanya. Banyak orang yang panas kuping mendengar omongan Ahok tapi dalam hati ketawa karena omongan Ahok sangat jujur dan kena.

Ahok sendiri sebetulnya nothing to lose. Ndak patheken kalau ndak terpilih sebagai gubernur Jakarta. Bahkan kalaupun dijegal sehingga tidak lolos pencalonan pun saya kira Ahok tidak akan rugi.

Yang rugi justru rakyat Jakarta dan Indonesia umumnya. Sebab pemimpin dengan karakter dan integritas macam Ahok belum tentu muncul setiap 25 tahun. Sayang banget kalau tokoh seperti ini disia-siakan.

8 comments:

  1. Sebelum Ahok, ada pemimpin dengan integritas dan karakter seperti Ahok. Namanya Abdurrahman Wahid. Tetapi dia diturunkan dr kepresidenan atas skandal yang dibuat-buat. Waktu jadi presiden pun dibikinkan isu, wong buta kok jadi Presiden. Atau, wong Gus Dur itu temannya Yahudi, atau dia itu Kristen. Padahal itu karena Gus Dur itu mau memberi contoh agar berkawan dengan semua orang. Gus Dur itu hafal Al Quran dan semua kitab-kitab tafsir, cucu salah seorang pendiri NKRI, anak pejuang kemerdekaan dan Menteri Agama, dibilang antek Yahudi. Itu SARA anti orang difabel, anti orang toleran, kelas bangsat.

    Lalu mereka naikkan Megawati. Waktu Megawati kampanye ke-2 mereka bilang: menurut agama, perempuan tidak boleh jadi pemimpin. Itu SARA anti perempuan, kelas asu ....

    Yang lain wong ndeso dan anak orang miskin namanya Jokowi. Waktu dia mau jadi Presiden, dibilang, wong abangan gak bisa ngaji kok mau jadi Presiden. Lha Suharto itu abangan yang suka klenik. SBY pun abangan. Ternyata Jokowi bisa ngaji walaupun logat Jawa. Yang menghujat itu SARA tingkat bedebah.

    Kesimpulannya, yang dibenci itu bukan Cinanya atau Kristennya, atau omong kerasnya, tetapi yang dibenci itu kejujuran dan karakter yang lurus-lurus saja. Coba teliti, siapa saja yang melawan Gus Dur, Jokowi, Ahok, itu orang-orang yang menggunakan agama untuk melindungi kepentingan keuangan sendiri, agar tetap bisa maling uang negara.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Matur nuwun.. komentar sampeyan sangat menarik dan mencerahkan. SARA atau rasisme memang masih jadi masalah besar di Indonesia.

      Syukurlah ada revolusi internet yg membuat orang2 muda makin terbuka. Tidak bisa lagi didoktrin sepihak kayak dulu.

      Delete
    2. Pak Lambertus, Indonesia itu masyarakat majemuk yg terdiri dari berbagai agama, bangsa (bukan sukubangsa) dan bahasa. Mau diseragamkan? Pecahkan NKRI dan gantilah nama menjadi Indonestan. Lalu lihatlah terbentuk negara-negara Bali, Timor, Flores, Maluku Selatan, Papua Merdeka, bahkan Tengger dan Batak.

      Delete
  2. Ada juga kasus NTT yg wilayahnya dibagi penjajah atas dasar agama. Flores dan sekitar di utara hampir semua katolik. Di selatan yakni Timor Sumba dan pulau2 kecil protestan. Kami yg katolik tidak kenal protestan pentakosta dll dan sebaliknya.

    Maka saat pilgub NTT masyarakat di flores (utara) pasti pilih cagub yg katolik. Warga NTT di selatan pilih calon yg protestan. Sentimen katolik vs protestan ini sangat kuat di NTT.

    Di jawa katolik dan protestan sama2 minoritas dengan tantangan yg sama. Makanya kelihatan rukun dan bisa saling kawin campur. Bahkan orang katolik dan protestan di jawa sering menganggap kedua gereja ini sama saja. Padahal di NTT dibedakan secara tegas.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Seperti Irlandia ya.

      Delete
    2. NTT itu buanyak pulau2 kecil yg terpisah laut ganas. Dulu hampir tidak ada mobilitas antarpulau kecuali segelintir nelayan. Masyarakat katolik di flores dan protestan di timor dan sumba tidak saling mengenal.. ndak pernah ketemuan.. ndak pernah ngopi bareng.

      Di sisi lain pelajaran agama cenderung mengangkat ajaran2 reformasi era martin luther, johannes calvin dsb... Misalnya 100 kesalahan gereja roma katolik. Pihak katolik juga menyiapkan argumentasi untuk menghadapi serangan pihak protestan. Misalnya mengapa serangan2 martin luther tidak berdasar dsb.

      Akhirnya warga NTT yg punya katolik dan protestan dengan populasi hampir seimbang ini terjebak pada debat teologis lama ala eropa abad tengah. Padahal di eropa sendiri masyarakatnya sudah nggak peduli gereja dan agama.

      Hikmahnya sederhana : tidak kenal maka tidak sayang.

      Delete
  3. Begitulah Indonesia. Masyarakat Barat termasuk Jepang, Korea, dan RRT sudah berdebat tentang isu ekonomi atau sains berikutnya, masyarakat kita masih berkutat soal sesat tidak sesat dari abad ke-15. Yang Islam masih berdebat tentang Ahmadiyah, Syiah, Kristenisasi, dll. Menyedihkan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Masyarakat Indonesia itu tidak homogen, bung! Yang sering diangkat di media kan yang heboh soal SARA lah, dlsb. Tetapi banyak juga yang berpikiran maju seperti penulis blog ini. Keluaran sektor kreatif Indonesia seperti di bidang sastra, musik, filem, dan macam-macam karya seni dan budaya, luar biasa.

      Delete