30 April 2016

Hanya 5 SMP yang unas pakai komputer

Dari 239 SMP yang ada di Kabupaten Sidoarjo, hanya lima yang menyelenggarakan ujian nasional berbasis komputer (UNBK). Lima SMP itu SMPN 1 Sidoarjo, SMPN 2 Sidoarjo, SMP Kristen Petra 4, SMP PGRI 1 Buduran, dan Singapore National Academy (SNA) Pepelegi Waru.

Begitu sulitkah membuat ujian nasional dengan komputer? Untuk Sidoarjo, tetangga terdekat Kota Surabaya? Janggal juga rasanya. Hanya lima SMP yang siap. Dua sekolah negeri dan tiga sekolah swasta.

Sekolah favorit macam Al-Hikmah di Deltasari pun belum bisa UNBK pada Mei 2016. Begitu juga sekolah Katolik macam SMP Santa Maria 2 di Lingkar Timur dan SMP Untung Suropati. Begitu sulitkah menyediakan komputer atau laptop buat peserta didik yang mau unas?

Memang benar tidak semua SMP dan SMA di Sidoarjo siap mengadakan unas pakai komputer. Masih banyak sekolah yang fasilitasnya terbatas. Masih banyak orang tua siswa yang belum bisa membeli laptop atau netbook untuk anaknya. Tapi kalau cuma 5 sekolah yang siap UNBK kok rasanya kebangetan. Cuma 2 persen saja. Sebanyak 98 persen sekolah di Sidoarjo tidak siap?

Belajar dari unas SMA pada awal April lalu, UNBK sebetulnya sangat mudah. Kendalanya cuma di perangkat keras komputer dan perangkat lunas. Ada satu sekolah (kalau tidak salah SMAN 1 Sidoarjo) yang kesulitan login. Tapi kendala itu bisa diatasi dengan cepat. Selanjutnya... lancar jaya!

Ujian berbasis komputer di Indonesia sebetulnya sudah sangat sangat terlambat. Baru dicoba tahun lalu dan tahun 2016 ini. Padahal benda sakti yang namanya komputer sudah dikenal orang Indonesia sejak 1980an. Tahun 1990an sebagian kantor sudah pakai komputer.

Tahun 2000an komputer menjadi mass product yang kian terjangkau harganya. Sejak 2010 komputer (PC) atau laptop sudah dianggap ketinggalan zaman. Orang muda lebih suka mengakses internet, mengetik tugas sekolah/kuliah dengan tablet atau smartphone.

Karena itu, kurang beralasan kalau UNBK di Sidoarjo hanya diikuti 5 sekolah menengah pertama. Berdasar pengamatan saya di 18 kecamatan yang ada, seharusnya yang bisa UNBK sekitar 100 hingga 150 sekolah. Lima sekolah untuk uji coba itu hanya cocok di luar Jawa macam NTT, Maluku, atau Papua yang penuh keterbatasan.

Mudah-mudahan Pak Mustain, kepala dinas pendidikan, lebih matang memersiapkan UNBK untuk tahun 2017. Sehingga 60-70 persen sekolah-sekolah di Sidoarjo bisa UNBK. Lebih bagus lagi kalau 80 persen.

Roy Mukhlis Sangat Mengecewaan

Sudah lama tidak ada pertandingan tinju di Sidoarjo (dan Surabaya). Maka, ketika diumumkan akan diadakan kejuaraan tinju kelas ringan WPBF di Sidoarjo, teman-teman penggemar adu jotos sangat antusias. Laga Roy Mukhlis vs Allan Tanada dari Filipina diharapkan bisa menghidupkan kembali gairah pertinjuan di Sidoarjo yang mati suri.

Persiapan Roy Mukhlis pun selalu diikuti. Sparring dengan petinju-petinju Sasana Arhanud Gedangan dan Sasana Amphibi Marinir Gedangan. Latihan lari jauh di Kenjeran dan Trawas. Petinju berjuluk The Sniper Sumba itu pun sangat antusias. Optimisme besar selalu terucap.. dan selalu masuk koran. Headline besar-besar.

Saya pun mendalami lagi rekaman pertandingan Roy dan Tanada di Youtube. Tidak banyak tapi lumayan untuk mengetahui gaya kedua petinju yang sama-sama ortodoks. Siang hari menjelang pertandingan pun Roy dan teman-teman di Sidoarjo masih mengunggulkan Roy. "Insya Allah KO," kata seorang mantan petinju serius.

Yakin Roy menang? Allan Tanada itu mainnya cepat dan selalu menyerang, kata saya. "Roy menang jangkauan dan pengalaman. Dia sudah punya strategi untuk meredam si Filipina," begitu analisis bekas juara tinju nasional yang sekarang jadi debt collector.

Okelah, kita lihat saja di atas ring. Tiket pertandingan di GOR Sidoarjo itu paling murah Rp 100 ribu, tertinggi Rp 1 juta. Tiket kelas tengah Rp 500 ribu. Meskipun mahal (ukuran Sidoarjo), penonton cukup antusias datang ke gedung olahraga itu.

Ada juga pengerahan tentara untuk mendukung Hanif Brawijaya yang memperebutkan juara nasional KTI. Hanif dari Batalyon Arhanudse Gedangan memang sukses. Untung saja Rasmanudin dari Semarang tidak sampai KO meskipun berkali-kali diserang pukulan straight dan hook bertubi-tubi dari Hanif Brawijaya.

Laga puncak segera dimulai. Lagu kebangsaan Indonesia Raya dinyanyikan penyanyi wanita gemuk dalam tempo lambat. Aneh, penyanyi profesional tidak tahu tempo Indonesia Raya yang mestinya ala marcia. Baru kali ini saya mendengar lagu Indonesia Raya dibawakan selambat itu di event internasional.

Suasana terasa kurang semangat. Roy Mukhlis pun terlihat kurang trengginas. Aktif menyerang tapi double cover-nya payah. Bukannya menjaga jarak renggang, hit and run.. Roy justru selalu main rapat. Jelas saja si Tanada bisa dengan mudah melancarkan pukulan-pukulan keras dan telak.

"Bisa tahan lima ronde saja sudah bagus," kata saya dalam hati.

Maklum, pelipis kiri Roy sudah robek sejak ronde 3 (kalau tidak salah ingat) sehingga wasit beberapa kali menghentikan pertarungan. Sebaliknya, Tanada terus menari dan tersenyum mencium aroma kemenangan dari Sidoarjo.

Ronde 7: Allan Tanada makin ganas. Sementara Roy kehilangan fokus. Ambruk! Tapi masih bangun untuk melanjutkan laga.

Ronde 8: Roy Mukhlis tamat. Serangan cepat dan beruntun Tanada membuat Roy jadi sansak hidup. Ambruk lagi. Kemudian bangkit tapi menyerah.

Sama sekali tidak terlihat aura petarung di wajah Roy Mukhlis. Apa nggak salah promotor mengangkat Roy ke WPBF? "Roy terlalu emosi. Dia mengikuti iramanya lawan," kata Tjutjuk Nurendah pelatih Roy Mukhlis.

Lha, kalau sudah tahu kelemahan Roy, mengapa sang pelatih tidak kasih instruksi? Ubah strategi, main renggang, pukul lari?

Nggak enak juga menanyakan hal-hal begini kepada pelatih yang petinjunya sedang terpuruk. Paling enak memang bicara dengan atlet atau pelatih yang menang. Orang kalah jangan dihajar lagi di media.

Di usia 29 tahun, rasanya sulit mengharapkan Roy Mukhlis bisa berjaya di tingkat dunia. Kalau teknik bertinjunya masih seperti saat melawan Allan Tanada di Sidoarjo pekan lalu.

Pesta Rakyat HUT Ke-1056 Makco di Sidoarjo

Apa perayaan terbesar warga Tionghoa di Sidoarjo? Ternyata bukan tahun baru Imlek atau Capgomeh atau sembahyang rebutan. Tapi ulang tahun dewi lautnya orang Tionghoa bernama Thian Siang Sen Bo alias Makco.

Pesta ulang tahun Makco biasanya dirayakan pada bulan April. Suasananya benar-benar kayak pesta rakyat. Beragam hiburan disajikan pengurus Kelenteng Tjong Hok Kiong, Jalan Hang Tuah, Karanggayam Sidoarjo. Kelenteng tua di pinggir Sungai Karanggayam yang terkenal itu.

Malam tadi, 29 April 2016, ribuan orang Tionghoa dari seluruh Jawa Timur menghadiri perayaan sejit ke-1056 Makco di Sidoarjo. Bahkan para tenglang dari luar Jatim pun hadir. Maklum, selain kelenteng tua, TITD di tengah Kota Sidoarjo ini kabarnya punya banyak kelebihan.

"Orang-orang sakit biasanya sembahyang di Sidoarjo dan sembuh," kata Tante Tok, wanita Tionghoa Sidoarjo, yang leluhurnya dulu jemaat TITD Tjong Hok Kiong.

Tante Tok bilang perayaan Makco tempo doeloe sebelum Orde Baru jauh lebih meriah. Acara hiburan tidak hanya semalam, tapi bisa satu minggu. Ada kirab atau pawai di pecinan tengah kota. Setelah orba tumbang, kemeriahan itu mulai muncul kembali. Meskipun masih kalah sama era pra-Soeharto.

Yang menarik, pengurus kelenteng selalu mengemas perayaan hari lahir Makco ini sebagai pesta budaya. Tak hanya kesenian Tionghoa, masyarakat sekitar kelenteng bisa menikmati wayang kulit semalam suntuk, tarian remo, hingga jaranan. Ki Sugilar, dalang asal Mojokerto, selalu tampil memeriahkan pesta ulang tahun Makco.

"Kita ingin berbagi kebahagiaan kepada masyarakat. Biar masyarakat Sidoarjo senang," kata Arief Pujianto, ketua Kelenteng Tjong Hok Kiong. Ada pula kegiatan sosial pengobatan gratis dan pembagian sembako.

Pertunjukan wayang potehi sudah tentu tidak pernah absen. Apalagi kelenteng ini memiliki dalang potehi yang saat ini sangat terkenal di Indonesia: Ki Subur. Bersama krunya, Ki Subur mempersembahkan atraksi wayang boneka kain khas Tiongkok ini selama satu bulan penuh. Dua kali sehari.

"Biasanya diperpanjang satu bulan," kata Ki Subur yang asli Jawa itu.

Pesta rakyat dan kemeriahan itu tidak akan kita jumpai saat tahun baru Imlek atau Capgomeh. Mungkin bagi warga Tionghoa di Sidoarjo, khususnya yang punya ikatan dengan TITD Tjong Hok Kiong, sang dewi laut Makco jauh lebih penting. Sebab beliaulah yang melindungi para leluhur orang Tionghoa ketika berlayar dari negeri Tiongkok ke Nusantara.

29 April 2016

Perpustakaan untuk main internet

Capek nggowes, mampirlah aku di warkop sederhana di Desa Tambakoso paling ujung. Dekat Desa Segorotambak Sedati, Kabupaten Sidoarjo. Syukurlah ada koran Jawa Pos di warkop milik mbak Siti asal Bungurasih.

"Saya baru satu tahun di sini. Kampung baru," katanya ramah. Orang seperti ini bagus diajak ngobrol untuk dapat informasi menarik dari kawasan Sidoarjo utara-timur itu.

Secara umum berita-berita hari ini tidak menarik. Cuma running atau lanjutan berita kemarin. Yang menarik justru surat pembaca. Indra warga Genteng komplain karena koneksi internet di perpustakaan Balai Pemuda Surabaya sangat buruk. Ndak nyambung-nyambung.

Kelihatannya Indra marah. Sebab setiap hari dia mampir ke perpustakaan yang dulu bioskop terkenal langgananku itu. Dia pun mendesak pemkot agar memperbaiki jaringan internet di perpustakaan.

Hehehe.... Aku tertawa sendiri. Mbak yang dari Bungurasih itu kaget. Kok ada pembeli kopi pahit ketawa sendiri kayak pasien Menur.

Ya.. buatku si Indra itu lucu buanget. Rajin ke perpustakaan bukan untuk membaca atau pinjam buku tapi internetan. Kalau memang niat membaca buku, ndak usah ribut soal koneksi internet yang lemot. Toh di Surabaya ini banyak sekali warnet.

PWarkop-warkop yang punya fasilitas wi-fi pun buanyaaak. Kalau mau main internet gratis 24 jam pun bisa di taman-taman yang sudah dibuat bu Risma. Mengapa harus di perpustakaan? Memang ada e-book tapi sejatinya perpustakaan umum di Indonesia itu masih fokus di buku cetakan biasa.

Saya kira Indra tidak sendiri. Di beberapa perpustakaan umum di Sidoarjo pun aku sering melihat pengunjung yang lebih asyik main laptop atau HP ketimbang membaca buku. Dan ini makin memperlihatkan betapa selera membaca buku cetak semakin tergerus di era internet ini.

Gununganyar dan Tambakoso yang berubah

Pagi ini saya nggowes ke Gununganyar Surabaya. Kemudian nyambung ke Tambakoso Waru Sidoarjo. Wilayah timur Surabaya-Surabaya-Sidoarjo. Sangat dekat Bandara Internasional Juanda.

Suasana di kampung Gununganyar masih khas perdesaan. Tak beda jauh dengan luar Jawa, khususnya Flores dan Lembata di NTT. Banyak sekali pohon bidara. Orang Flores Timur biasa sebuah kaha (bahasa Lamaholot). Bidara alias kaha boleh dikata identik dengan NTT pesisir yang payau atau asin.

Bidara juga pertanda tanah itu sulit diolah untuk tanaman padi, jagung, atau ubi-ubi-ubian. Tapi di Surabaya ini ada tanaman jagung yang subur. Pohon-pohon penghijauan pun mulai besar. Ini berkat kegigihan Bu Risma mengerahkan pasukan pemkot untuk merawat dan menyiram tanaman peneduh setiap hari.

Cukup luas tanah kosong ala desa di Kota Surabaya. Tapi sampai kapan bisa bertahan? Saya pastikan tak sampai lima tahun bakal berubah total. Sebab tanah-tanah itu sudah dikapling pengembang. GMS paling banyak tanahnya. Mendekati perbatasan Surabaya-Sidoarjo, ratusan hektare tanah tambak sudah jadi milik Sipoa.

Luar biasa cepat pembangunan apartemen dan belasan perumahan di Surabaya selatan-timur alias Sidoarjo utara-timur itu. Suasananya benar-benar beda dengan satu tahun lalu. Jalan desa yang dulu banyak lubangnya, paling jelek di Sidoarjo, kini halus mulus. Khas jalan di daerah perumahan kelas menengah atas.

"Mungkin akhir tahun ini sudah mulai ditempati," kata Anwar asli Tambakoso.

Jika apartemen rampung, perumahan-perumahan elite jadi, kampung Tambakoso bakal berubah total 180 derajat. Tambakoso jadi kota apartemen yang bergandengan langsung dengan Surabaya. Penduduk asli sudah pasti jadi minoritas di kampung asalnya sendiri.

Geliat apartemen membuat harga tanah naik gila-gilaan. Bu Ana pemilik warung lidah di Tambakoso bisa senyam senyum karena harga tanahnya naik lima kali lipat. Disandingkan saat dia beli enam tahun lalu. "Alhamdulillah," katanya lalu tersenyum.

Bu Ana yang bukan asli Tambakoso sangat sadar tidak mungkin bisa bertahan lama di dekat apartemen. Cepat atau lambat mereka akan tergusur. Maka dia pun sudah membeli tanah dan rumah di daerah Sedati. Masih banyak sisa buat modal usahanya.

Warga pendatang macam bu Ana bisa minggat sewaktu-sewaktu kalah mau. Bagaimana dengan penduduk asli? Pindah juga ke tempat lain? Saat ini sih belum. Tapi bukan tidak mungkin penduduk desa yang terkenal dengan tokoh Sarip Tambakoso itu bakal hijrah juga kalau struktur ekonomi dan populasinya berubah.

Mudah-mudahan perumahan-perumahan yang baru dibangun di kampung tambak ini tidak kebanjiran di musim hujan. Semoga Pemkot Surabaya dan Pemkab Sidoarjo sudah melakukan analisis dampak lingkungan dengan benar.

22 April 2016

Banyak orang gagal paham Kartini

Masih banyak orang Indonesia yang berpandangan kolot soal gender. Kalah jauh sama Kartini pada 1900an. Banyak laki2 yang masih pegang stereotipe bahwa wanita itu ya 3M: masak manak macak! Masak, melahirkan, berdandan. Gagal paham substansi pemikiran Kartini yang super progresif itu.

Ada juga teman di Surabaya (kota modern) yang masih percaya bahwa perempuan itu identik dengan dapur sumur kasur. Kok iso gitu? Wanita lulusan universitas kok cuma 3M dan 3ur? Sayang banget kuliah lama dan buang banyak uang.

"Kodrat wanita ya begitu. Masa suaminya yang masak dan cuci2?" kata teman yang sarjana sosial.

Statusnya di media sosial pas Hari Kartini kemarin beroleh banyak tanggapan. Sebagian komentator pro dengan dapur sumur kasur + masak manak macak. Teman2 grup medsos ini bahkan menakut-nakuti para wanita karir. Wanita2 sekarang kebablasan, begitu intinya.

"Memasak dan mencuci itu bukan tugas wanita," komentar saya buat mancing.

"Kalau wanitanya capek.. ya tidur. Toh di meme itu cuma masak mi instan. Apa sulitnya? Apa harus wanita yang masak? Koki2 yang bagus di hotel berbintang di Surabaya semuanya laki2..."

Rupanya cukup banyak anggota grup di Sidoarjo yang like. Tapi para penentang pun tidak sedikit. Aneh... orang Sidoarjo dan Surabaya yang sangat terdidik dan maju masih punya ideologi wanita dipingit ala zaman Hindia Belanda. Masih ingin wanita diamankan di rumah untuk masak macak manak.

Lha, masak untuk siapa kalau suaminya pulang tengah malam? Atau tugas ke luar kota? Macak2 sendiri yo opo pantas? Macak itu kalau mau ke kondangan atau acara2 tertentu. Tapi ya teman kita yang patriarkistik itu ngotot menolak wanita berkarir setinggi mungkin.

Mbak Novita pelukis asal Waru sudah lama aktif dalam pemberdayaan perempuan di Kabupaten Sidoarjo. Dari pengalaman lapangan, dia justru menganjurkan perempuan harus kerja kerja kerja. Tidak bisa cuma 3M di rumah.

Berapa sih penghasilan suami? Cukup untuk biaya sekolah dan kuliah anak? Ngontrak atau nyicil rumah? Beli ini itu? "Bekerja itu tidak harus di kantor atau pabrik. Bisa buka usaha di rumah," katanya.

Novita tidak cuma ngomong. Kemarin dia bikin pelatihan seni kerajinan untuk ratusan wanita di pendapa Kabupaten Sidoarjo. Bikin kerudung pake hiasan dsb. Pelatihan ini akan terus dilakukan di berbagai kecamatan.

Bukan apa2.. mbak Novi berbisik: umur orang siapa tahu. Kalau Tuhan berkehendak, sang suami bisa dipanggil kapan saja. Potensi perceraian pun sangat tinggi di era easy come easy go ini.

"Kalau jadi single parent, anda mengandalkan siapa? Wong suamimu sudah di surga. Yang masih di dunia ini susah," kata Novita yang baru meluncurkan komunitas perempuan pelukis Sidoarjo.

Saya rasa teman2 aliran 3M perlu lebih banyak diskusi dengan Novita dkk. Bukan cuma memaki-maki wanita karir di medsos hanya karena tidak bisa (sempat) masak atau cuci pakaian.

Toh wanita karir itu duitnya buanyaaak sehingga bisa dengan mudah menggaji asisten rumah tangga. Rupanya pemikiran masih buanyaaak laki2 yang gagal paham pemikiran Kartini di era medsos yang sangat canggih ini.

21 April 2016

Makin sulit membaca buku

Satu minggu satu buku. Begitu tekad saya bulan lalu. Saya ingin mengembalikan kebiasaan membaca buku (sampai tamat) yang sudah lama hilang. Sejak ada laptop dan smartphone yang bisa dibawa ke mana2. Sejak lebih asyik mengikuti trending topic di media sosial.

Maka saya sengaja pilih dua buku bagus: Mao - Kisah-Kisah yang Tak Diketahui dan Malaikat Lereng Tidar karya Remy Sylado. Penulis ini, Remy, idola saya. Dia ahli musik, bahasa, poliglot, hingga teoloh yang sangat menguasai sejarah gereja. Semua buku atau artikelnya selalu disusupi demo kepiawaiannya memelototi akar kata dan etimologi.

Minggu pertama baca novel Malaikat Lereng Tidar. Awalnya asyik tapi lama2 kelelahan. Kemudian harus ngantor. Sempat melanjutkan membaca kemudian ditinggal. Lalu lupa komitmen awal untuk membaca sampai halaman terakhir.

Saya pun geli sendiri. Kok begitu susahnya menyelesaikan buku bagus hari ini? Dulu, empat lima tahun lalu, novel2 Remy Sylado selalu tuntas dibaca paling lama tiga hari. Sekarang malah tidak selesai. Hanya kuat 20 persen!

Minggu berikut saya coba membaca Mao pemimpin besar Tiongkok. Tebal banget, 823 halaman. Belum termasuk daftar referensi yang tebalnya sama dengan buku karya penulis Indonesia. Tapi saya bertekad membaca sampai selesai karena sejak dulu saya tertarik dengan buku2 sejarah dan budaya Tiongkok.

Kisah Mao Zedong ini luar biasa menarik. Wow, tokoh komunis ini ternyata sangat doyan membaca. Kutu buku. Sejak remaja beliau kecanduan baca koran. "Mao kecanduan membaca koran yang berlangsung seumur hidup," tulis Jung Chan sang penulis.

Karena kecanduan koran dan buku, Mao akhirnya otomatis jadi rajin menulis. Mirip kita punya Bung Karno. Betapa bedanya dengan politisi sekarang yang malas membaca buku. Dan tidak berlangganan surat kabar. Politisi Indonesia sekarang lebih suka main game dan HP. Bahkan nonton film porno saat sidang hehe...

Belajar dong sama Mao Zedong dan Bung Karno! Jangan cuma maki2 Tiongkok sebagai komunis bin kafir!

Meskipun sangat tebal, syukurlah, saya sudah selesaikan lebih dari 50 persen. Minggu depan harus tamat. Yakin? Tidak juga. Tapi saya mencoba berusaha sekuat kemampuan.

Mengapa kemampuan membaca bukuku turun drastis? Internet. Media sosial. Dan itu semakin parah gara2 ada HP cerdas yang memungkinkan kita bisa mengakses internet dengan sangat mudah. Beda dengan internet di PC atau laptop.

Diam2 saya perhatikan karyawan perusahaan media cetak. Koran2 menumpuk di kantor. Majalah juga tersedia. Buku2 pun buanyak di pojok taman baca. Berapakah orang yang membaca buku dan media cetak itu?

Kebetulan saat survei amatiran itu tidak ada. Mereka justru sibuk dengan HP masing2. Pun tak ada diskusi atau obrolan yang serius. Inikah senjakala buku dan media cetak? Semoga tidak. Kasihan para wartawan dan keluarganya yang masih menggantungkan hidup pada printed media.

Tapi setidaknya apa yang saya alami ini memberi pesan kuat akan peradaban baru yang sedang kita rayakan. Saya yang penggemar buku, media cetak, saja sangat sulit membaca buku sampai selesai. Apalagi generasi Z yang begitu lahir sudah main smartphone dan tidak dibiasakan membaca buku, koran, atau majalah.

20 April 2016

Indonesia bukan cuma Jakarta

Mengapa laut di Jakarta diuruk? Direklamasi? Dijadikan daratan? Karena pengembang butuh tanah untuk bangun rumah, apartemen, pusat belanja, hiburan, dsb dsb.

Tentu saja biaya reklamasi ini sangat mahal. Belum dampak lingkungan, ketahanan pulau buatan, dsb. Tapi biaya yang mahal itu pasti akan terbayar setelah ribuan unit rumah/apartemen dijual kelak. Pengusaha sudah punya hitung-hitungan pasti laku keras.

Mana ada pengusaha yang mau rugi? Maka apa pun dilakukan agar laut bisa diuruk. Termasuk menyuap anggota parlemen miliaran rupiah agar peraturan daerah bisa diakali sesuai kepentinannya.

Miris rasanya melihat Indonesia hari ini. Negara kepulauan yang luasnya membentang dari Sabang sampai Merauke. Kita punya ribuan pulau di mana-mana. Sebagian pulau itu masih kosong. Kalimantan sangat luas. Sumatera. Sulawesi. Papua. Pulau-pulau kecil yang begitu banyak.

Tapi begitulah... Indonesia masih sangat Jakarta oriented! Uang beredar terpusat di Jakarta. Mungkin 60 sampai 70 persen. Karena itu, Pak Dahlan Iskan sejak dulu selalu bilang Surabaya itu bukan kota terbesar kedua di Indonesia, tapi keenam. "Nomor 1 sampai 5 itu Jakarta, Jakarta, Jakarta, Jakarta, Jakarta," kata mantan menteri BUMN itu.

Rupanya guyonan lawas era 80an dan 90an itu masih berlaku sampai sekarang. Bahkan makin menjadi-jadi. Bukannya menyebarkan kue pembangunan ke daerah-daerah di luar Jakarta, pemerintah malah terkesan mempertahankan hegemoni ekonomi Jakarta. Bila perlu semua laut di sekitar pantai Jakarta dijadikan daratan. Sebab tanah di daratan sudah tidak ada lagi.

Kita sering meniru reklamasi laut yang dilakukan tetangga kita, Singapura. Padahal, kita tahu, Singapura itu negara super kecil yang luasnya hanya sebesar Surabaya + Sidoarjo. Singapura tidak punya tanah. Karena itu, reklamasi laut, pembuatan pulau-pulau baru menjadi kebutuhan bagi negara kota itu. (Tanah, pasir, dan batu untuk menguruk pun diambil dari Indonesia!)

Selama paradigma Jakarta oriented ini tidak berubah, Indonesia akan begini-begini terus. Meskipun Presiden Jokowi bikin tol laut dan bangun infrastruktur di mana-mana.

Ahok Tenggelamkan Pilgub Jatim

Apa hubungan Ahok dengan Sidoarjo atau Jawa Timur? Tidak ada. Tapi gubernur Jakarta ini hampir tiap hari jadi trending topic di media sosial. Beberapa grup media sosial di Sidoarjo yang saya pantau banyak membahas Ahok Ahok Ahok Ahok...

Tiada hari tanpa Ahok. Baik yang pro maupun yang kontra. Tapi paling banyak anggota grup medsos yang pro dan netral. Teman-teman yang kontra biasanya pakai senjata agama dan ras. Ahok yang Tionghoa dan Kristen dianggap tidak pantas menjadi gubernur Jakarta.

"Ndak pantas gimana? Wong sekarang kan Ahok sudah jadi gubernur? Gerakannya pun oke punya. Dan menasional. Berani. Transparan. Blakblakan. Mengapa masih dipersoalkan?" pancing saya berlagak pendukung berat Ahok.

"Kemarin itu kan kecelakaan. Ahok naik karena Jokowi jadi presiden. Kalau normal ya ndak mungkin Ahok jadi gubernur," kata teman yang anti Ahok karena faktor SARA.

Mencuatnya kasus Rumah Sakit Sumber Waras kian menambah ramai diskusi di medsos warga Sidoarjo. Makin panas karena Ahok menuduh BPK ngaco. Dan makin banyak orang yang ingin Ahok segera ditangkap.

Hehehe.... Begitulah diskusi ala medsos dan warkop yang makin heboh aja di Jatim. Topik soal Ahok sepertinya tidak habis2 dibahas meskipun tidak ada lagi argumen baru. Bahan2 untuk menyerang dan mendukung Ahok kayaknya sudah habis.

Bagi saya, Ahok ini fenomena yang luar biasa. Apa pun kontroversinya, Ahok telah menyita perhatian masyarakat di luar Jakarta yang tidak punya urusan dengan pilgub.

Diskusi soal Ahok ini saya duga juga merembet hingga ke luar Jawa. Kecuali NTT provinsi asal saya yang sejak dulu tidak terlalu peduli dengan hiruk politik di Jakarta. Orang NTT sejak dulu juga kurang peduli dengan penyanyi atau band terkenal di Jakarta. Sebab orang NTT biasanya lebih suka band2 atau penyanyi lokal. Bae sonde bae Flobamora lebih bae!

Ironisnya, warga Jawa Timur sendiri, khususnya Surabaya dan Sidoarjo, hampir tidak pernah membahas pemilihan gubernur Jawa Timur. Padahal Jatim pun sama2 mengikuti pilgub seperti Jakarta.

Siapa saja bakal calon yang maju untuk menggantikan Gubernur Soekarwo? Saya pastikan 8 dari 10 orang Surabaya dan Sidoarjo tidak tahu. Mereka hanya tahu dan antusias membahas Ahok alias Basuki Tjahaja Purnama yang omongannya keras, kasar, dan polos ala arek Surabaya.

"Bahas pilgub Jatim itu gak menarik. Gak ada yang like," kata cak Mamat, salah satu TS yang punya banyak pengikut itu.

"Bakal calon gubernur Jatim gak ada yang sekuat Ahok. Bu Risma pun masih kalah. Ahok ini lain dari lain," kata kenalan yang juga pengamat politik.

Memang... Ahok ini fenomenal. Sangat jarang muncul tokoh di luar mainstream macam Ahok di pentas politik nasional. Tionghoa. Kristen. Belitung. Tak punya partai pula. Semua mata tertuju padanya. Banyak orang yang panas kuping mendengar omongan Ahok tapi dalam hati ketawa karena omongan Ahok sangat jujur dan kena.

Ahok sendiri sebetulnya nothing to lose. Ndak patheken kalau ndak terpilih sebagai gubernur Jakarta. Bahkan kalaupun dijegal sehingga tidak lolos pencalonan pun saya kira Ahok tidak akan rugi.

Yang rugi justru rakyat Jakarta dan Indonesia umumnya. Sebab pemimpin dengan karakter dan integritas macam Ahok belum tentu muncul setiap 25 tahun. Sayang banget kalau tokoh seperti ini disia-siakan.

18 April 2016

Ikhlas melepaskan buku koleksi

Buku-buku lama itu harus dibongkar. Harus keluar. Sebab rumah tua eks galeri lukisan itu sudah resmi berganti pemilik.

Sang pemilik, Ibu Yati, telah kembali ke pangkuan sang Pencipta pada 30 Agustus 2013. Sehari setelah coblosan pilgub yang dimenangi Pakde Karwo. Sang pelukis senior 80an tahun itu berpesan agar rumahnya yang artistik, luas, ada kebunnya diserahkan ke yayasan muslim. Untuk dijadikan rumah yatim piatu, pengajian, dakwah dsb.

"Rek... tolong ikut ngurusin wakafnya," pesan Eyang berkali-kali. "Biar saya tenang di sana..."

Dua hari sebelum tutup usia pun Eyang masih menitipkan pesan yang sama. Belakangan saya tahu pesan yang sama disampaikan kepada orang lain seperti mas Yanto pelukis dan bung Riyaman pelukis. Juga kepada para ahli waris, khususnya keponakan-keponakan-keponakan.

Mengurus wakaf itu ternyata tidak gampang. Apalagi almarhumah tidak punya anak kandung. Pihak masjid sangat hati-hati meskipun bakal dapat tanah dan bangunan gratis. Nilainya saya taksir Rp 1,5 miliar hingga 2 miliar. Lokasi sangat strategis di tengah Kota Surabaya.
"Bukan apa-apa, kita khawatir ada masalah di kemudian hari," kata cak Kolis dari masjid terkenal.

Alhamdulillah, urusan wakaf akhirnya tuntas. Setelah dua tahun lebih.... Rumah harus segera dikosongkan. Pihak masjid segera menempati, renovasi dsb.

Yang jadi beban di pikiranku cuma buku buku buku dan buku... Begitu banyak buku di perpustakaan mini itu. Di ruang atas, kamar bawah, garasi, ruang tamu eyang di belakang. Pelajaran moral: Jangan jadi kolektor buku jika tak punya rumah sebesar punya eyang: 30 x 15 meter.

Sebetulnya sudah ada beberapa tawaran dari pengepul alias tukang rombeng. Semua buku mau dibeli. Tapi dengan harga super murah. Saya pun menolak keras. Mana ada buku Di Bawah Bendera Revolusi Rp 5000? Surabaya City of Work Rp 5000? Gila! Tau kucing!

Tapi saya sadar bahwa para pengepul itu tidak paham isi buku. Mereka hanya melihat buku sebagai kumpulan kertas yang dijilid. Sama dengan koran-koran bekas yang dijadikan bungkus kacang.

Setelah bergumul pikir cukup lama, sebulan lebih, akhirnya saya memutuskan untuk wakaf buku. Mengapa eyang mau mewakafkan rumahnya, sementara saya kok nggandholi buku-bukuku. Padahal sebagian besar buku itu sudah tidak dibaca. Sebagian besar waktuku untuk bekerja dan membaca di internet.

Singkat cerita, saya memilih 4 perpustakaan yang saya nilai amanah dan sangat getol menggalakkan budaya baca di Surabaya dan Sidoarjo. Agar buku-buku koleksiku itu ada manfaatnya. Tidak jadi penganan tukang rombeng.

Pertama C2O Library milik Kathleen di Jl Cokroaminoto Surabaya. Perpustakaan ini saya nilai luar biasa kreatif. Pengunjung dan anggota C2O bisa dipastikan maniak buku... meski di era digital.

Kedua perpustakaan milik mas Astika di Waru Sidoarjo. Perpustakaan baru yang segmennya santri-santri, madrasah milik NU dan sejenisnya. Asoka sangat rajin membawa buku-buku koleksinya ke sekolah-sekolah di Sidoarjo, khususnya Kecamatan Waru dan Sedati.

Ketiga perpustakaan milik mas Yanto di Buduran Sidoarjo. Mas Yanto ini tukang kunci tapi sangat aktif dalam gerakan literasi di Sidoarjo.

Keempat, paling banyak, perpustakaan milik PMKRI Surabaya di samping Hotel Garden Palace. Bukan apa-apa. Saya alumnus PMKRI sehingga banyak buku-buku saya, khususnya yang lama-lama, sedikit banyak bernuansa PMKRI. Ada 4 pilar PMKRI alias mahasiswa Katolik, yakni katolisitas, intelektualitas, persaudaraan sejati, humaniora.

Maka buku-buku yang berbau Katolik atau kristiani jadi santapan PMKRI Surabaya. Bung Yeri, ketua PMKRI yang asli Manggarai Flores itu, memimpin acara boyong buku ke margasiswa PMKRI di dekat Garden Palace. Saya baru tahu kalau pengurus-pengurus-pengurus PMKRI Surabaya sekarang sebagian besar orang Manggarai. Kok tidak ada Flores Timur dan Lembata?

Melihat antusiasme adik-adik PMKRI yang lapar buku, saya merasa sangat senang. Buku-Buku-buku Freire, Gramsci, teologi pembebasan, kisruh teologi sukses, dogmatika, sejarah gereja, hingga buku-buku Romo Mangun dan Romo Sindhunata pun jadi rebutan intelektual muda katolik ini. "Jangan dipinjam dulu. Tunggu diinventarisasi dan distempel dulu," kata seorang nona PMKRI yang juga asli Manggarai Flores.

Begitulah. Tidak mudah melepaskan buku-buku yang dulu kita beli dengan harga mahal. Belum tentu masih ada di toko buku sekarang. Tapi menyimpan buku-buku terlalu banyak juga bisa dianggap kelainan jiwa alias hoarding. Seperti penyakit orang-orang tua yang suka menyimpan barang-barang lama yang sebetulnya tidak pernah dipakai lagi.

Saya pun belajar banyak dari beberapa profesor hebat yang pernah saya ajak ngobrol. Mereka punya koleksi puluhan ribu buku. Jauh lebih banyak ketimbang koleksi saya. Setelah sang profesor tutup usia, buku-buku itu jadi berantakan. Rusak. Sebab anak cucunya bukan kutu buku.

Akhirnya, saya sering menemukan buku-buku bagus milik profesor terkenal bergelimpangan di lapak-lapak buku bekas. Korban para tukang rombeng tadi.

08 April 2016

Amin, Amiin, atau Aamiin...

Ada teman saya yang ngotot menulis AMIN (setuju, menjawab doa) dengan AAMIIN... Sudah dikoreksi dengan rujukan beberapa kamus, khususnya Kamus Besar Bahasa Indonesia versi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, bahwa penulisan yang benar ala Indonesia adalah AMIN pun ndak mempan.

"Mas, yang benar itu AAMIIN. Ada beberapa versi kata dalam bahasa Arab yang bunyinya mirip tapi tidak sama artinya. Kalau AMIN artinya aman atau tenteram. Kalau menjawab doa harus pakai AAMIIN," kata teman yang makin gandrung mendalami agama Islam itu.

Dia kemudian menunjuk sebuah artikel tentang AMIN, AAMIIN, AAMIN... di internet. Saya sudah lama membaca dan menelaahnya. Karena itu, saya hanya tersenyum geli menyimak argumentasinya meskipun sangat memahami maksudnya.

Di era revivalisme ini, banyak orang Indonesia yang makin cenderung Arab minded. Arabisasi. Kata-kata lama yang sudah mendarah daging diganti dengan istilah Arab. Agar lebih asli dan islami. Belakangan kata serapan AMIN pun ikut dikoreksi karena dianggap salah kaprah.

Benarkah kata serapan AMIN (biasa dipakai di akhir doa: kabulkanlah, terimalah, demikianlah hendaknya...) itu salah? Apakah para penyusun kamus kita tidak paham bahasa Arab? Tidak paham kalau AMIN itu ada 4 atau 6 versi dalam bahasa Arab?

Wow, sangat kebangetan kalau kita meragukan kemampuan Prof Hasan Alwi dkk yang sangat mamahami bahasa Arab dan beberapa bahasa asing lain! Jangan lupa, banyak sekali pakar bahasa Arab dan ahli agama Islam yang dilibatkan dalam proyek KBBI. Mereka tidak hanya sangat paham bahasa Arab tapi juga hukum penyerapan bahasa dalam bahasa Indonesia.

Nah, teman-teman yang gencar mengampanyekan penggunaan AMIN, AAMIIN... itu menurut saya hanya menggunakan kacamata transliterasi. Alias romanisasi aksara Arab ke ABC Latin. Dus, hanya mengubah huruf-huruf Arab ke aksara lain, yakni sistem romanisasi ABC.

Ini persoalan klasik tidak hanya bahasa Arab, tapi juga bahasa Mandarin, Thailand, Korea, India, bahkan bahasa Jawa dan bahasa Bali. Semua bahasa yang punya sistem aksara yang mapan niscaya tidak bisa dialihkan sistem tulisannya ke aksara lain. Pasti tidak akan sempurna. Tapi paling tidak mendekati lah.

Karena itulah, kata-kata dalam bahasa Mandarin yang sama dalam aksara Hanzhi biasanya berbeda-beda versi jika ditulis dalam ABC. Contoh: Beijing atau Peking atau Peiching..? Dari dulu sih ibukota Tiongkok itu sama saja kalau ditulis dalam aksara Hanzhi. Kok bisa jadi berbeda-beda seperti itu?

Tiongkok atau Cungkuo atau Zhonguo atau China atau Cina atau Cina?

Kasusnya hampir sama. Makanya ada sistem yang disebut Hanyi Pinyin untuk transliterasi aksara Mandarin ke ABC Latin. Bahasa Arab pun memiliki sistem romanisasi di level internasional.

Nah, romanisasi atau transliterasi ini jelas sangat berbeda dengan penyerapan kata/istilah. Kata-kata Arab atau Tionghoa itu dilokalisasi menjadi kosa kata bahasa Indonesia. Sudah tentu kata-kata asing itu harus mengikuti sistem bunyi atau fonologi bahasa Indonesia.

Maka AMIN, AAMIIN, AAMIN... dsb wajib mengikuti sistem bunyi bahasa Indonesia. Kata-kata yang aslinya berbeda bunyi dan tulisannya itu kemudian diserap menjadi satu kata: AMIN. Singkat, padat, enak diucapkan, meskipun huruf A dan I tidak panjang.

Kata AAMIIN yang makin populer di media sosial akhir-akhir ini merupakan romanisasi Arab. Bukan serapan. Bahasa Indonesia itu sangat sederhana, hemat, efisien. Karena itu, sangat aneh kalau ada orang yang ngotot mengubah AMIN menjadi AAMIIN... agar lebih cocok dengan aslinya dalam bahasa Arab.

Setelah saya buka kamus besar (KBBI), bahasa Indonesia hanya menyerap AMIN dari bahasa Arab untuk "terimalah, kabulkanlah, demikianlah adanya...".

Sedangkan kata AMIIN yang artinya jujur, bisa dipercaya.. belum disebut di kamus. Tapi yang jelas nama Bapak Amien Rais bisa diduga yang pakai dua huruf I ini: AMIIN. Tapi kalau diserap ya tetap jadi AMIN.

Mau 4 versi atau 6 versi atau 10 versi, ya, tetap diserap jadi AMIN. Wah, jadinya ada satu kata yang punya banyak sekali arti?

Betul. Dan itu sangat biasa. Kata-kata bahasa Mandarin yang tulisan ABC-nya sama, bisa memiliki 10, 15, atau 30 arti. Itu memang risiko transliterasi dan penyerapan.

Rupanya penjelasan saya ini tidak bisa diterima IW dari Porong Sidoarjo. Ibu yang tamatan SMA Katolik di Surabaya ini malah terus mengingatkan saya bahwa tulisan yang benar itu AAMIIN dan bukan AMIN.

Sakarepmu! Suka-sukalah!

06 April 2016

Rizki tunanetra lulus S1 Unesa

"Anak berkebutuhan khusus bukanlah produk Tuhan yang gagal, karena Tuhan tidak pernah gagal."

Begitu kutipan favorit Riski Nurilawati. Gadis yang akrab disapa Kiki ini memang mengalami gangguan penglihatan sejak kecil. Namun kekurangan fisik ini tidak lantas menjadi penghalang untuk menempuh pendidikan setinggi mungkin.

"Alhamdulillah, akhirnya kuliah saya selesai juga. IPK saya 3,09," ujar Riski Nurilawati kepada saya. Gadis buta ini kuliah di pendidikan luar biasa Unesa kampus Gedangan Sidoarjo.

Masa kuliah Riski juga normal, sekitar empat tahun. Anak ke-4 dari 4 bersaudara ini mengatakan seharusnya kuliahnya di Unesa bisa lebih cepat selesai jika dirinya tidak sibuk melakukan konser ke mana mana.

Asal tahu saja, Kiki merupakan penyanyi tunanetra yang hafal sekitar 500 lagu pop Mandarin. Karena itulah, sejak sekolah dasar dia selalu diajak untuk mengisi pertunjukan musik di berbagai kota di tanah air.

"Setiap dua minggu selalu ada job manggung. Belum job job dadakan yang sulit ditebak waktunya. Makanya, saya harus bisa membagi waktu agar kuliahku tidak terganggu," ucap vokalis Generasi Band itu.

Hebatnya lagi, Riski kuliah bersama mahasiswa normal di kelas. Model pendidikan inklusi ini justru membuat dia lebih berkembang karena harus bisa bersaing dengan teman temannya yang bisa membaca sendiri.

"Alhamdulillah, ada beberapa teman yang ikhlas membacakan materi kuliah," tutur gadis yang pernah mengadakan konser di Hongkong itu.

Kemajuan teknologi informasi terbukti sangat membantu orang orang berkebutuhan khusus seperti Riski. Ada software khusus yang membuat komputer bisa berbicara. Telepon genggamnya pun bisa berbicara. Ini yang membuat dia bisa berkomunikasi lewat ponsel, entah SMS, chatting, hingga eksis di media sosial.

Nah, Rizki ini dikaruniai memori yang luar biasa untuk mengingat apa saja yang sudah ia dengarkan. Bakat inilah yang membuat dia bisa menghafal ratusan lagu Mandarin dan lebih banyak lagu lagu-lagu Indonesia, Barat, dangdut, campursari, dan sebagainya.

Suatu ketika Rizki menulis di status medsosnya:

"Aku bisa membaca karena komputerku bisa bicara.... terus bisa SMS-an, karena HP juga bisa ngomong... Bisa ngomong di sini karena ada aplikasi khusus yang di-install sehingga HP dan komputer/laptop bisa digunakan oleh tunanetra seperti aku. Terus kalau menulis, aku bisa ketik 10 jari, karena aku di sekolah dulu diajarin mengetik pake mesin ketik... gitu ceritanya."

Meski tunanetra, Riski tidak minder atau rendah diri. Dia justru merasa lebih termotivasi untuk menunjukkan bahwa anak berkebutuhan khusus pun bisa berhasil dalam pendidikan dan karir kalau diberi kesempatan.

02 April 2016

Angguna mencoba bertahan

Masih ingat angguna? Orang Surabaya lawas pasti kenal angkutan serbaguna warna kuning itu. Sahabat masyarakat yang hendak boyongan alias pindah rumah.

Diperkenalkan kali pertama pada 1988, kini angguna sudah jadi barang langka di Surabaya. Tinggal beberapa unit yang tersisa. Karena itu, sangat sulit menemukan angguna yang tidak punya tempat mangkal itu. Angguna sudah lama diganti pikap yang mangkal di sejumlah ruas jalan raya.

Semalam saya beruntung ketemu angguna tua di Kalibokor. "Masih bisa jalan?" tanya saya basa-basi.

Lha kalau tidak beroperasinya, ngapain pak sopir asli Kalibokor itu ngetren di pinggir jalan raya. Wow, tarifnya ternyata jauh lebih murah ketimbang pikap. Hampir separonya.

Angguna berusia 28 tahun ini juga masih bandel. Kecepatannya boleh juga. Jarang mogok, kata pak sopir plus pemilik angguna itu.

Di balik mobil kusam bermesin Hijet ini tersimpan semangat pelayanan dari pak sopir. Bantu angkat barang-barang, menata, sambil cerita tentang jatuh bangun sebagai pengusaha angguna. Dulu enak, sekarang susah. Saingan banyak dan bagus-bagus.

Apalagi ojek online juga melayani pengiriman barang yang menjadi core business angguna. Tapi rezeki selalu ada, katanya. "Saya tidak tahu sampai kapan angguna bertahan di Surabaya," katanya perlahan.