16 March 2016

Terkenang JS Badudu

Judul berita di koran Kompas pagi ini Lokasi Dadap Ditertibkan. Cerita tentang kompleks pelacuran di Tangerang Banten. Pemda setempat mau menutup kompleks itu.

Judul ini sangat umum. Klise. Hampir semua media menulis begitu. Kecuali majalah Tempo yang sangat tertib dan peduli bahasa. Kompas yang media besar sering tidak teliti memelototi kata-kata.

Lokalisasi itu apa?

Bisakah berdiri sendiri tanpa kata lain di belakang? Misalnya lokalisasi pedang sayur: tempat khusus yang disediakan untuk pedagang sayur. Lokalisasi pengungsi: pengungsi dikumpulkan di satu tempat. Begitu pula lokalisasi prostitusi atau pelacuran.

Tapi mau bagaimana lagi? Sudah kadung kaprah. Menyebut lokalisasi orang langsung membayangkan Dolly dan Jarak di Surabaya.. dulu. Lokalisasi seakan identik dengan pelacuran, germo, PSK dan seterusnya. Lama-lama orang enggan memakai kata lokalisasi yang asosiasinya seperti itu.

Lokalisasi Dasar ditertibkan. Kata ditertibkan mirip diamankan dalam berita-berita kriminalitas. Maksud diamankan itu ya ditangkap atau ditahan. Padahal arti harfiahnya membuat aman. Bisa juga memberikan rasa aman.

Mengamankan seperti apa? Sederhananya begini. Teman kita ketinggalan ponsel di kafe atau kantor. Kita bawa dan simpan agar tidak hilang. "Saya mengamankan ponsel Ali."

Tapi kalau polisi mengamankan pelaku pencurian?

Bisa saja. Biar tidak digebuk massa. Tapi sejatinya yang paling sederhana dan enak: Polisi menahan tersangka kasus pencurian.

Kembali ke penertiban lokalisasi. Istilah ini pun ngambang. Seakan-akan ada lokalisasi yang tertib dan tidak tertib. Padahal berita di halaman 28 itu menceritakan bahwa kompleks itu segera ditutup. Rumah-rumah bordil (bukan bordir) akan dibongkar. Sebanyak 727 PSK dilatih agar beralih profesi.

Mengapa judul berita tidak dibuat lugas saja? Misalnya: Lokalisasi Dadap Ditutup Bulan Depan. Mengapa pakai istilah ditertibkan yang kabur maknanya itu?

Sayang, Indonesia baru ditinggal empu bahasa Indonesia Prof JS Badudu. Beliau paling konsisten, tak kenal lelah, dan jeli membedah bahasa jurnalistik kita sejak 1970an sampai jelang ajal di usia 90 tahun. Pak Badudu pasti mengganti kata depan di dengan pada. (Yang benar: pada usia 90 tahun, bukan di usia 90 tahun.)

Ah.. jadi kangen membaca kolom-kolom-kolom JS Badudu: Inilah bahasa yang benar!

4 comments:

  1. Lokalisasi pun sebenarnya kata serapan yang salah kaprah. Kata akarnya "lokal", ditambahi akhiran -isasi, arti aslinya dalam bahasa Inggris, "localization" (British: localisation), ialah suatu proses atau usaha membuat suatu barang / jasa / properti menjadi sesuai dengan budaya atau bahasa lokal. Bahkan dalam dunia software, saking panjangnya kata "localization" disingkat menjadi L10N (L ten N, krn ada 10 huruf antara "l" dan "n"). Kalimat "Bangunan gereja di Puh Sarang dilokalisasi sesusai dengan gaya Jawa." bukan berarti "Bangunan gereja dijadikan tempat esek-esek bayaran seperti kebiasaan Orang Jawa." 😀!

    Kata serapan yang lebih tepat sebenarnya ialah "konsentrasi" atau pemusatan, seperti digunakan dalam kamp konsentrasi. Hanya dalam hal ini, yang dikumpulkan bukanlah Orang Yahudi tetapi para pelacur.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mengutip Mario Teguh: sampeyan ini super sekali... Suwun atas tambahan info tentang LOKALISASI. Penolakan!

      Kata serapan yang sekarang paling laris itu SOSIALISASI. Mestinya sosialisasi berarti bergaul... silaturahmi/silaturahim. Tapi arti asli SOCIALIZE ini dibelokkan menjadi pengumuman, pemberitahuan, penerangan, penyampaian informasi tentang kebijakan dsb.

      Contoh : Lapindo perlu melakukan SOSIALISASI rencana pengeboran sumur gas di Tanggulangin.

      Warga Sidoarjo menolak pengeboran sumur baru karena kurang SOSIALISASI.

      Anggota DPR RI Arteri kemarin melakukan SOSIALISASI empat pilar kebangsaan di Sidoarjo.

      Delete
    2. Sebenarnya ada kata yang sudah benar dalam bahasa kita, yaitu memasyarakatkan atau pemasyarakatan. Misalnya memasyarakatkan olahraga dan mengolahragakan masyarakat. Itu semboyan Orde Baru yang sebenarnya sangat efektif dan benar secara bahasa.

      Jika memaksa menggunakan kata serapan bahasa Inggris atau Belanda, popularisasi lebih tepat atau bahkan "viralisasi", hehehe.

      Delete
  2. Kalau mau menggunakan Bahasa Indonesia, "gaul":

    Sosialisasi => penggaulan (proses menjadikan gaul)
    Disosialisasikan => digaulkan
    Mensosialisasikan => menggaulkan

    Ini substitusi yang tepat untuk kata sosialisasi tersebut, asalkan tidak keliru dengan digauli atau menggauli, hihihi.

    ReplyDelete