15 March 2016

Tari Oncor Tambayu karya Sri Mulyani



Tari Oncor Tambayu ditampilkan di Pendapa Delta Wibawa, Sidoarjo, belum lama ini. Disaksikan Bupati Sidoarjo Saiful Ilah, Wabup Nur Ahmad Syaifuddin, Ketua DPRD Sidoarjo Sullamul Hadi Nurmawan, dan pejabat-pejabat SKPD, gadis-gadis muda tampak anggun dan lincah membawakan tari karya Sri Mulyani itu.

Enam gadis remaja menjunjung oncor (obor bambu), mengambil oncor, kemudian menggerakkan lampu penerangan tradisional itu. Sri Mulyani ingin mengajak penonton untuk menengok sejenak keseharian para petambak di pesisir timur yang biasa membawa oncor ke tambak.

Di era modern ini, oncor bambu berbahan bakar minyak sudah diganti senter atau lampu ponsel. Bahkan, areal tambak pun semakin berkurang karena berubah menjadi perumahan, industri, atau pergudangan. Namun, Tari Oncor Tambayu ini setidaknya mengingatkan warga Kota Delta akan ikon udang dan bandeng, dua hasil tambak di Kabupaten Sidoarjo.

"Persiapannya sangat menyenangkan. Anak-anak sangat antusias meskipun rumah mereka jauh dari tempat latihan. Semangat mereka untuk berlatih luar biasa," kata Sri Mulyani.

Wanita kelahiran 17 Mei 1974 ini tak asing lagi di jagat tari-menari di Jawa Timur. Sri Mulyani pernah melanglang buana untuk menggelar karya tarinya. Hampir semua karyanya mengangkat aktivitas keseharian warga Sidoarjo. Mulai Tari Tayub Tambak, Kuntulan Kenthong Korek, Putri Pringel, Jaran Jondil, Ngereng Lajer, Aradea, Oncat TandaWurung, Jaran Jondhil, Panji Klaras Keboan Sikep, hingga Oncor Tambayu.

Lebih dari 50 tari telah dia ciptakan. Dan, hebatnya, sebagian besar tarian itu dipentaskan di festival-festival nasional, bahkan internasional. Biasanya Sri blusukan ke desa-desa untuk melihat langsung kesibukan warga tambak, khususnya kaum wanitanya. Para petambak di kawasan pesisir seperti Desa Tambakoso, Kecamatan Waru, selalu mengadakan syukuran di tambak pada malam hari dengan diiringi cahaya obor yang dibawa oleh gadis-gadis cantik.

Lalu, mulailah karyawan Bank UMKM Jawa Timur ini merancang aneka gerakan dan iringan musiknya. Sri juga selalu berusaha menanamkan filosofi tarian kepada para penarinya. Oncor Tambayu, menurut dia, bukan sekadar cahaya penerang dalam gelap, tetapi simbol penerang dalam ajaran kehidupan.

"Oncor deling sanepane eling. Pring apus sanepane. Ojo seneng apus-apus. Ilingo mring Gustine," kata sarjana seni tari lulusan STKW Surabaya itu.

No comments:

Post a Comment