26 March 2016

Sinar Harapan dan Terbit memilih mati

Ada peristiwa besar yang luput dari perhatian masyarakat. Dua koran besar di Jakarta dengan sukarela memilih mati. Harian Sinar Harapan per 1 Januari 2016 dan harian terbit 1 Maret 2016.

Dua koran itu, khususnya Sinar Harapan, pernah berjaya pada masa Orde Baru. SH beberapa kali dibredel karena berani memuat berita2 yang dilarang rezim otoriter itu. SH juga dikenal dengan liputan2 mendalam dan investigative reporting. Omzet iklan SH hanya kalah dari Kompas.

SH alias Sinar Harapan akhirnya dibredel lagi pada 1986. Untuk selamanya. Kemudian muncul Suara Pembaruan sebagai pengganti SH tapi tidak sehebat SH. Peter A Rohi (FOTO pakai kaos merah) wartawan senior andalan SH kemudian menghidupkan lagi arwah SH setelah orba tumbang.

"Saya ingin SH menjadi koran yang berpengaruh dan independen," kata Om Peter Rohi kepada saya di Surabaya. Om asal Timur mantan KKO ini memang sejak dulu tinggal di Surabaya meski lebih banyak waktunya di Jakarta dan kota2 lain.

Bisa ditebak, SH, Terbit, dan media2 cetak lain kelimpungan di era internet, media sosial dan TV berita yang makin buanyaaak. Informasi tak lagi lewat majalah atau surat kabar seperti era pra internet. Ponsel modern menimbulkan gairah media sosial yang luar biasa.

Masyarakat makin kecanduan medsos. Sangat jarang orang Indonesia hari ini yang kecanduan koran atau buku. Koran gratisan pun sering tidak dibaca. Sebaliknya orang rela keluar duit untuk beli paket internet. Atau mampir cangkrukan di warkop untuk nebeng wi-fi.

Apakah ini yang bikin SH dan Terbit bangkrut? Tidak juga. Peter A Rohi bilang kualitas surat kabar itu sendiri yang tidak bisa mengikuti perkembangan masyarakat yang makin well informed. Sehebat-hebatnya medsos, akurasi dan kedalamannya tentu tidak sebagus koran atau majalah.

Koran sore macam SH menurut Peter Rohi harus menampilkan berita-berita mendalam. Indepth reporting. Bukan berita-berita pendek ala portal online atau breaking news. "Orang ingin tahu ada apa di balik isu tertentu. Ini yang tidak ada di koran," begitu Peter menilai koran SH yang membuat reputasinya mencorong di jurnalistik Indonesia.

Mengapa SH tidak bikin liputan mendalam atau investigasi? "Beta sonde tahu. Saya sudah lama keluar," ujar Peter seraya memperlihatkan bundel SH di masa Presiden Gus Dur.

Peter A Rohi benar-benar kerja keras untuk SH. Termasuk membawa ribuan bukunya dari Surabaya untuk perpustakaan koran di awal terbit pasca reformasi. Dedikasi luar biasa. Tanpa dibayar oleh pengusaha alias penerbit. "Beta memang tidak pikir duit. Yang penting bekerja sebaik mungkin untuk jurnalistik."

Terlalu panjang cerita perjalanan SH era 2000an. Singkat kata, merugi terus menerus. Sulit bertahan di era baru ketika pemerintah tak bisa membredel pers. Justru pasar lah yang menentukan nasib media.

"Tapi media cetak masih punya masa depan," kata Peter A Rohi. Tak ada kata menyerah untuk jurnalis dewa yang sukses membongkar sejumlah skandal di tanah air pada era 80an dan 90an itu.

Peter benar. Sinar Harapan, Terbit, dan banyak lagi media cetak sudah masuk liang kubur. Tapi fakta menunjukkan omzet surat kabar justru naik... secara umum. Omzet iklan media2 online di Indonesia justru masih kecil.

"Jujur aja omzet edisi online satu tahun ternyata sama dengan omzet edisi cetak satu minggu," ujar pewarta senior di koran besar terbitan Jakarta.

Karena itu, pesan Peter A Rohi dari almarhum Sinar Harapan layak disimak. Content is the king! Kedalaman berita, investigative reporting... perlu diperbanyak media cetak. Sebab media cetak senantiasa akan ketinggalan dari online, apalagi breaking news televisi.

Selamat jalan sahabat Sinar Harapan dan Terbit. Kalian telah berjasa dalam peradaban jurnalisme cetak di Indonesia.

1 comment:

  1. Selamat malam Om Lambertus Hurek. Saya senang mengikuti tulisan-tulisan terbaru Anda sejak pertama kali, secara tidak sengaja, bertemu blog ini. Terima kasih untuk cerita-cerita tentang Opa Peter Rohi.

    Salam dari Maumere

    ReplyDelete