07 March 2016

Sang maestro Ireng Maulana, selamat jalan!



Satu lagi empu (maestro) musik kembali ke pangkuan sang Pencipta. Ireng Maulana meninggal dunia dalam usia 71 tahun. Kita kembali kehilangan seoranh tokoh yang total mengabdi di dunia musik hingga akhir hayatnya.

Saya sendiri begitu gandrung melihat permainan Ireng Maulana All Stars di TVRI yang khas itu. Lagu apa saja, pop Indonesia, keroncong, Barat, gospel, lagu daerah... di tangan Ireng Maulana terasa lain. Jadi enak dan berkelas. Jazzy. Jazz tapi tidak berat. Bisa dinikmati siapa saja sambil goyang kaki dan bersenandung.

Di acara Berpacu Dalam Melodi itu, Ireng Maulana yang sudah malang melintang di rekaman dan panggung kian akrab di hati orang Indonesia. Maklum, waktu itu hanya ada satu televisi. Kita semua mau tidak mau harus menikmati sajian apa saja dari TVRI.

Syukurlah, Ireng Maulana, Benny Mustapha, Bill Saragih, dll punya tempat di televisi plat merah itu. Dan sejak itu saya mulai tertarik dengan jazz ringan. Saya pun mencari kaset-kaset yang musiknya digarap Ireng Maulana. Margie Siegers, Rafika Duri, Ermy Kullit.. Irama bosas atau bosanova. Lagunya santai, gak ngoyo, dengan petikan gitar yang menuntut keterampilan tingkat dewa.

"Wow, gayamu kayak Ireng Maulana!" begitu saya biasa memuji teman mahasiswa yang bisa memetik gitar dengan chord-chord jazz yang rada rumit. "Wualah... belum apa-apa," sahut Bambang teman yang gitaris top saat itu.

Sebetulnya saya suka semua jenis lagu. Termasuk lagu-lagu Dian Piesesha, Obbie Messakh, Lydia Natalia dkk dari JK Records yang biasa dicela sebagai lagu cengeng. Bagaimana tidak suka jika masyarakat NTT memang gandrung lagu-lagu manis seperti itu. Tapi ketika lagu Tak Ingin Sendiri diaransemen ulang Ireng Maulana dan dimainkan Ireng Maulana All Stars, nuansa lagu ciptaan Pance Pondaag itu jadi berbeda sama sekali.

Ermy Kullit sang vokalis kesayangan Ireng Maulana membawakannya dengan gaya yang berbeda. Di Balai Pemuda Surabaya, beberapa tahun lalu, saya pun duduk berdekatan dengan Ermy Kullit dan Ireng Maulana. Ngobrol santai layaknya teman atau kenalan lama. Wow, luar biasa rasanya bisa dekat dengan musisi idola di masa remaja. Seperti tidak percaya saja rasanya.

Beberapa waktu kemudian saya kembali ngobrol (bukan wawancara formal) dengan Ireng Maulana yang saat itu tampil di Gereja Katedral Hati Kudus Yesus Surabaya. Ireng Maulana bersama R Tony Suwandi dan Didik SSS, Embong Rahardjo tampil mengisi musik saat perayaan ekaristi (misa). Pak Ireng dkk lagi menggalang dana untuk membantu sebuah seminari di Jakarta.

Wow... Saya pun semakin mengagumi sang maestro jazz ini. Lagu-lagu liturgi Katolik dalam buku Puji Syukur yang sederhana itu terasa sangat lain. Berbobot kelas tinggi. Saya pun beringsut (dengan dalih mau motret untuk media) hanya untuk melihat Ireng Maulana dari jarak sangat dekat. Kok bisa gitar biasa itu bisa berbunyi luar biasa saat dipetik Ireng Maulana?

Pak Ireng selalu tersenyum ketika disalami umat selepas misa. Beliau sama sekali tak membuat jarak lantaran statusnya sebagai musisi papan atas Indonesia. "Talenta (musik) ini dari Tuhan, maka saya kembalikan kepada Tuhan," kata Ireng Maulana kepada saya.

Talenta apa pun, kata Ireng Maulana mengutip cerita Injil tentang talenta, harus dikembangkan. Tidak boleh dipendam di dalam tanah. Dan harus dikembangkan dengan sepenuh hati dan jiwa. Totalitas bermusik, ngejes, menggeluti bosas, dixie dsb... inilah yang membuat Ireng Maulana menjadi musisi legendaris Indonesia.

"Pak Ireng, saya mau foto sama sampeyan," kataku.

"Oh, silakan," balasnya seraya tersenyum.

Maka, ketika membaca teks berjalan di televisi tentang kematian Ireng Maulana, saya pun terdiam lama.... Tak terasa air mataku jatuh mengenang persahabatan yang tulus antara sang maestro dan pengagumnya itu. Saya langsung teringat fotoku bersama Ireng Maulana di Gereja Katedral Surabaya.

Selamat jalan sang maestro Ireng Maulana! Selamat beristirahat dalam damai bersama sang Maestro dari segala Maestro di alam yang abadi!

No comments:

Post a Comment