01 March 2016

La Nyalla: Apa Salahku?

La Nyalla: Apa salahku? Silakan buktikan kalau aku punya salah!

Begitu pernyataan La Nyalla, ketua PSSI, yang tidak diakui pemerintah itu. Ia menanggapi wacana kongres luar biasa PSSI yang digulirkan pemerintah. Syarat untuk mencabut keputusan membekukan PSSI.

"Sebetulnya hanya satu yang dimaui pemerintah: La Nyalla tidak lagi jadi ketua PSSI," kata La Nyalla yang juga pentolan Pemuda Pancasila itu.

Syukurlah, La Nyalla akhirnya iso rumangsa... bisa merasa apa yang dimaui pemerintah. Juga pendukung tim-tim sepakbola, khususnya Bonek di Surabaya. Mungkin banyak juga rakyat yang sudah lama jengah dengan sepak terjang pemain-pemain lama di bisnis balbalan.

Warga negara internet alias netizen jauh lebih banyak yang menolak La Nyalla sebagai ketua umum PSSI. Dus, bukan cuma pemerintah yang gak suka La Nyalla, bekas tim sukses Prabowo, duduk di kursi nomor satu organisasi balbalan. Tapi semua tahu FIFA justru mendukung PSSI yang tidak diakui pemerintah itu.

Bagaimana mungkin pemerintah mengakui La Nyalla? Wong kongres PSSI di Surabaya digelar setelah Menpora Imam Nahrawi membekukan PSSI lama yang dipimpin Djohar Arifin! Otomatis produk kongres di Surabaya tahun lalu tidak sah. Menpora kemudian membentuk tim transisi yang bertugas sebagai pengurus PSSI sementara.

Kunci penyelesaian kisruh sepakbola kita sebetulnya ada di La Nyalla. Iso rumongso. Andaikan La Nyalla dan pengurus PSSI mengundurkan diri demi sepakbola nasional, selesailah masalahnya. Tapi rupanya La Nyalla dkk berusaha mati-matian untuk mempertahankan kekuasaan di PSSI.

Semangat "berkorban" untuk kebaikan bersama inilah yang hilang di tanah air. Dan itu sejak PSSI dipimpin Nurdin Halid. Biarpun dipenjara, Nurdin tetap berstatus ketua umum PSSI. Tidak mau mundur. Alih-alih meletakkan jabatan, La Nyalla dan konco-konconya malah meminta Menpora Imam Nahrawi yang mundur. Hehehe....

Induk organisasi olahraga, apalagi sepakbola, memang harus independen. Bebas dari pengaruh pemerintah. Tapi di Indonesia semua cabang olahraga mutlak membutuhkan bantuan pemerintah. Apalagi yang namanya balbalan. Mana ada klub yang punya stadion sendiri? Semua stadion baik yang berstandar nasional/internasional maupun lapangan-lapangan bola di kampung adalah fasilitas umum milik negara (pemerintah). Kalau si empunya stadion marah, tidak mengizinkan, tim-tim sepakbola itu mau main di mana?

Di daerah-daerah hampir semua ketua pengurus cabang olahraga adalah pejabat pemerintah. Ini menunjukkan bahwa tanpa pemerintah olahraga tidak akan jalan. Meskipun didukung FIFA, La Nyalla dkk tidak akan bisa bekerja menggerakkan bola kaki di Indonesia kalau berselisih jalan dengan pemerintah.

Kalau La Nyalla gak gelem mundur yo wis.... Sing penting yo diakui FIFA.

1 comment:

  1. Analisa anda tempat bung. Walaupun pemerintah bukan yang punya klub, tetapi turut andil dengan memberikan ijin pakai stadion.

    ReplyDelete