21 March 2016

Kor Santri vs Kor Gereja

Festival paduan suara khusus santri di lingkungan Nahdlatul Ulama (NU) kemarin diadakan di Sidoarjo. Lomba seni suara ini dibuka Bupati Sidoarjo Saiful Ilah yang juga ketua PKB Sidoarjo sekaligus tokoh NU di Sidoarjo dan Jawa Timur.

Layaknya lomba atau festival paduan suara di tempat lain, festival paduan suara yang diadakan IPNU/IPPNU di Sidoarjo ini berlangsung meriah. Peserta berusaha tampil bagus dengan vokal yang harmonis. Kostumnya pun anggun.

"Selamat berlomba dan ukirlah prestasi setinggi-tingginya," kata Cak Nur, wakil bupati Sidoarjo yang juga santri senior.

Lomba paduan suara ini juga mendapat dukungan yang luas dari teman-teman peserta. Mereka datang untuk menikmati penampilan para peserta. Luar biasa!

Suasananya mirip lomba kor atau paduan suara di paroki atau gereja-gereja. Ini juga membuktikan bahwa paduan suara merupakan seni musik vokal yang universal. Kor atau choir atau paduan suara tak lagi identik dengan kristiani atau nasrani.

Semua orang yang punya suara bisa menyanyi. Asalkan punya kemauan dan dibimbing oleh dirigen atau pelatih yang sedikit banyak tahu ilmu membentuk suara dan conducting. Image masa lalu bahwa kor itu keseniannya orang Kristen/Katolik pun lenyap setelah melihat festival paduan suara ini.

Sejak 1980an, lebih-lebih 1990an, paduan suara memang mewabah di sekolah-sekolah dan perguruan tinggi. Kampus-kampus punya UKM (unit kegiatan mahasiswa) yang disebut PSM: paduan suara mahasiswa. Sulit membayangkan ada perguruan tinggi di Indonesia yang tak punya paduan suara.

PSM ini bertugas untuk membawakan himne, mars, lagu-lagu nasional dan daerah saat wisuda, dies natalis, dan sebagainya. Duit untuk pembinaan paduan suara tidak sedikit. Sebab anggota paduan suara biasanya lebih dari 100 orang. Konsumsinya saja berapa? Belum kostum, akomodasi, transportasi kalau ada perlombaan atau festival. Apalagi lombanya di luar negeri.

Saya perhatikan kualitas paduan suara di lingkungan sekolah-sekolah dan perguruan tinggi Islam meningkat luar biasa dalam 10 tahun terakhir. Kalau dulu jarang masuk 10 besar, sekarang kor-kor anak muda muslim ini justru selalu masuk unggulan. Bahkan dapat medali emas, perak, atau perunggu.

Beberapa waktu lalu paduan suara sebuah SMA di Pasuruan, yang semua penyanyi sopran dan alto pakai jilbab, menjadi the best dalam festival paduan suara di Tiongkok. Bung Andre, guru bahasa Mandarin, yang mendampingi siswa-siswi sekolah negeri yang sangat islami itu (wajib berjilbab dsb), terkaget-kaget.

"Anak-anak muda Islam sekarang jago-jago paduan suara. Lama-lama orang tidak lagi belajar paduan suara di kalangan gereja tapi ke sekolah-sekolah islami," kata teman yang Buddhis itu.

Hehehe... Musik itu universal. Tidak dibatasi sekat agama, ras, asal usul apa pun. Tuhan memberikan talenta kepada semua orang. Begitu jawaban saya untuk bung Andre alias Rong Xiang itu.

Pada 1990an, paduan suara mahasiswa Universitas Katolik Parahyangan Bandung selalu menjadi the best di Indonesia. Saking seringnya juara di tanah air, paduan suara yang didirigeni Avip Priyatna ini akhirnya lebih suka ikut festival di luar negeri. Hasilnya pun selalu juara.

Asal tahu saja, Avip Priyatna ini bukan aktivis musik liturgi Katolik atau anggota kor gereja. Agamanya Islam. Sampai sekarang pun Avip Priyatna tetap membina paduan suara dan orkes simfoni kelas wahid di tanah air.

Ketika mampir ke dua kampus negeri di Surabaya, ITS dan Unair, saya pun kembali menemukan gadis-gadis berjilbab (atau berhijab) sibuk berlatih vokal. Atau mempelajari partitur baru untuk festival paduan suara. Sebaliknya, ketika mampir ke markas mahasiswa Katolik dan Protestan (GMKI), saya hampir tidak pernah melihat adik-adik mahasiswa ini berlatih paduan suara.

"Sekarang lagi sibuk mendalami teorinya Abraham Maslow," kata seorang aktivis PMKRI sembari menunjukkan sebuah buku tebal penuh coretan stabilo.

Kapan latihan paduan suara? "Waduh, paduan suara itu urusan seksi liturgi. Kita jangan terlalu asyik dengan urusan seputar altar Bung!" jawabnya membuat saya tertawa kecil.

Aku teringat omongan teman-teman lama di PMKRI dulu. Jadilah garam dan terang dunia! Jangan cuma sibuk di gereja, abai pada perkembangan sosial politik budaya ekonomi... di masyarakat. Hehehe....

3 comments:

  1. Koor Muslim ini tidak hanya di Indonesia, tetapi juga di negara-negara di mana musik menjadi santapan jiwa sehari-hari, seperti India, Persia, di mana tradisi sufi yang mengapresiasi sastra, tarian, dan musik sudah mendarah daging. Tetapi kalau di Arab Saudi yang lebih mengutamakan fikih dan suka mengkafir-kafirkan orang yang tidak sesuai dengan garis keras mereka, jangan harap.

    Salah satu lagu koor yang populer dinyanyikan sekolah-sekolah dan grup koor di USA ialah Zikr (zikir) oleh AR Rahman. Ini contohnya, yang disiarkan oleh NPR (semacam RRI di Indonesia).

    ReplyDelete
  2. https://www.youtube.com/watch?v=6I0Dk8cdfCA
    Menit ke 5:45

    ReplyDelete
  3. Ini tautan ke: http://www.npr.org/event/music/170856332/cantus-tiny-desk-concert

    ReplyDelete