21 March 2016

Kopdar medsos tidak efektif

Teman-teman grup medsos kemarin bikin acara kopi darat alias kopda di alun-alun Sidoarjo. Maksudnya sih agar grup yang anggotanya ribuan itu (tapi yang aktif betul cuma 20an) bisa tatap muka. Sebab selama ini mereka cuma guyon, perang gambar, diskusi dsb di dumay alias dunia maya.

Lumayan. Yang ikut kopdar 50 sampai 60 orang. Ngobrol sembari menikmati jajan pasar rebusan. Dipandu senior member, konco2 ini membahas usulan untuk Sidoarjo.

Soal banjir yang parah. Jalan rusak. Parkir langganan. PKL. Usaha kecil menengah. Sampah. SKPD... dan sebagainya. Meski sudah lama ngobrol di medsos, banyak peserta yang kikuk ketika kopi darat. Ndak ceplas-ceplos kayak di dumay.

Tapi jangan khawatir. HP sekarang bisa jadi teman bagus untuk mengalihkan perhatian. Bisa ngobrol di medsos, BBM-an dsb. Dan rupanya lebih banyak orang yang asyik main ponsel ketimbang diskusi. Hanya beberapa pentolan grup yang serius membahas program.

Edi Siswanto menulis di grup itu: "Sakno sing ngomong ra dihargai.... malah asik dg hpnya....apa guna kopdar......."

"Di rumah main HP, di tempat krj main HP, temu temen masih juga main HP.....enak di kamar ae.... Apalagi masuk toilet atau WC umum juga pakai hp..."

Beberapa anggota lain juga menulis status senada. Tapi mau gimana lagi? Grup medsos memang selalu begitu. Orang-orangnya memang pemain medsos yang gila-gilaan. Cerita apa saja di grup. Termasuk urusan tetangga atau rumah tangga yang tidak ada kaitan dengan visi misi grup.

Sebelumnya kopi darat juga dilakukan grup medsos yang lain. Ngelencer ke tempat wisata, diskusi budaya, sarasehan... Sama saja hasilnya. Yang datang segelintir. Itu pun lebih banyak yang main HP ketimbang fokus dalam diskusi. Tak lama kemudian bubarkan grup yang punya 10 ribuan anggota itu.

Sang pendiri grup pun kehilangan selera makan. Dia tak menyangka kalau grup medsos itu lebih banyak dipakai untuk guyon, godain wanita, perang gambar yang tidak sopan... hingga SARA. "Kalau begini caranya ya tak buat grup lawak ae," katanya.

Grup medsos yang saya lihat di Sidoarjo adalah forum kesenian. Diskusi nya serius tapi santai. Buanyaaak guyon tapi guyon yang ada kaitan dengan topik. Bukan guyonan ngeres yang sama sekali keluar dari isu pokok.

Mengapa teman2 kesenian ini bisa asyik diskusi di medsos? Karena mereka-mereka ini sudah berteman di dunia nyata. Sering diskusi, bikin pameran, ngopi bareng dsb. Karena itu, grup medsos justru semakin efektif untuk mempererat silaturahmi.

Dari obrolan ringan di medsos, mas Jagat dkk sering bikin kegiatan seni budaya di Sidoarjo. Begitu juga gagasan mas Jumaadi dari Australia bisa langsung direspons jadi aksi nyata. Teman-teman lama yang sudah tidak bertemu 10 tahun bisa ketemuan lagi.

Kasus main HP saat kopdar yang diceritakan mas Edi tadi kian membuktikan betapa susahnya grup medsos yang heterogen bisa efektif. Lebih baik grup-grup kecil yang seleranya sama, minat sama, daripada grup besar dengan ribuan anggota tapi tidak jelas juntrungannya.

1 comment:

  1. Untuk keluarga besar kami yang berasal dari pinggirnya Kalimas tetapi sekarang tersebar di Hongkong, New York City, Melbourne, San Francisco, Singapura, Jakarta, dan berbagai kampung di Surabaya, WhatsApp sangatlah berguna untuk mendekatkan yang jauh.

    ReplyDelete