03 March 2016

Bimbingan Belajar (Bimbel) Mengalahkan Sekolah

Lembaga kursus yang disebut bimbingan belajar (bimbel) sudah ada di Indonesia sejak 1980an. Bimbel biasanya ramai menjelang skalu, sipenmaru, UMPTN, SNM PTN, atau nama-nama lain sejenis. Alias ujian masuk perguruan tinggi negeri. Orang Indonesia memang punya hobi gonta-ganti nama meski substansinya sama.

Cuma dalam belasan tahun terakhir, tepatnya di atas 2000, bimbel menjadi lembaga bisnis yang berkembang luar biasa. Tengok saja di Surabaya, Sidoarjo, Gresik. Bimbel-bimbel lama dan baru buka cabang di mana-mana. Ruko-ruko yang mangkrak bertahun-tahun berubah jadi ramai sekali berkat bimbel.

Tempat kerja saya kebetulan bertetangga dengan bimbel laris. Wuih... ramai terus setiap hari. Malah lebih ramai dengan pelajar-pelajar ketimbang di sekolah formal. Anak-anak bimbel ini yang paling banyak makan ruang parkir. Belum ditambah orang tua, saudara, kerabat, atau pembantu yang mengantar peserta bimbel. Ruko di dekat stadion lawas dan museum itu pun jadi ramai luar biasa.

Saya yang tak pernah makan bimbel, kecuali kursus bahasa Inggris di dekat Alun-Alun Bunder Kota Malang, dekat sekolah saya di SMAN 1 Malang dulu, hanya bisa geleng-geleng kepala. Bimbel sudah jadi fenomena di tanah air tercinta. Bimbel bahkan sudah jadi kebutuhan buat para pelajar kita.

Kalau dulu bimbel hanya sekadar kursus singkat latihan soal ebtanas atau sipenmaru atau UMPTN, sekarang anak-anak SD dan SMP pun ikut bimbel. "Karena kebutuhan. Kalau gak ikut bimbel ya kalah bersaing," ujar mbak Dewi dari Sukodono yang mengantar putrinya pelajar SMP negeri.

Dengan ikut bimbel, nilai ujian nasional (unas) bisa tinggi. Itulah tiket untuk bisa diterima di SMA negeri. Apalagi SMA-SMA negeri favorit di Sidoarjo macam SMAN 1, 2, 3, dan SMAN Krian. Kalau unasnya jelek, ya terpental dari negeri. Biayanya pasti mahal. "Sistem pendidikan sekarang memang lain dengan zaman kita," kata mbak ini tersenyum pahit.

Biaya bimbel pasti muahaaal ketimbang biaya sekolah negeri yang katanya gratisan itu. Tapi ya itu tadi... ortu harus bondo demi masa depan anak. Investasi pendidikan katanya.

Kalau tidak ikut bimbel yang mahal, biasanya diiming-imingi lolos PTN atau SMA dan SMP negeri, para pelajar ini memilih ikut bimbel paket hemat yang diadakan sekolahnya. Guru-guru pun berubah peran sebagai coach spesialis kisi-kisi ujian. Honor mengajar bimbel atau les privat bisa lebih tinggi ketimbang gaji resmi... kalau mengajar banyak sesi.

Lalu, kapan anak-anak belasan tahun ini main bola, bulutangkis, voli, basket dsb? Latihan musik atau paduan suara? Atau sekadar membersihkan rumah, cuci baju, cuci piring...? Tidak ada.

Sebagian besar energi para remaja kita ini sudah tersedot ke sekolah, bimbel, les ini itu. Malam menjelang, badan capek, lesu, ngantuk. Tidur. Pagi-pagi bangun, sarapan, berangkat sekolah, macet di jalan. Kadang tidak sempat pulang ke rumah, apalagi yang rumahnya di Jabon atau Krembung, langsung masuk kelas bimbel. Begitu seterusnya sampai dinyatakan lulus SMA.

Sembari ngopi dan baca koran, saya selalu memperhatikan tingkah pola siswa-siswi peserta bimbel di Sidoarjo. Lamat-lamat muncul suara serak rusak penyanyi legendaris Louis Armstrong: ".... They learn much more than I ever know..."

7 comments:

  1. Ya itulah dunia pendidikan di Asia yang mengutamakan tes, tes, dan tes. Jaman saya sama dengan Lambertus, hanya belajar 2000 soal dari sekolah, gak pake bimbel. Toh saya diterima di ITS. Itu pun saya rasa akhirnya tidak berguna. Di Korea dan RRT lebih parah lagi, murid murid pada belajar sampai malam di hagwon (bimbel bhs Korea).

    ReplyDelete
  2. sy lebih senang jika anak saya belajar di rumah.

    ReplyDelete
  3. Sudah kadung ruwet dunia pendidikan kita. Bimbel ini menciptakan kebutuhan psikologis baru. Sekolah2 seperti tidak berdaya dan harusnya malu karena tidak bisa diandalkan. Lha guru2 juga buka bimbel alias les privat...

    ReplyDelete
  4. Sejak adanya desentralisasi, mutu pendidikan di daerah terpencil (rural) jeblok, karena dana menjadi alat politis penguasa lokal untuk dibagi-bagikan kepada pendukung pemilu. [Ini menurut penelitian Elizabeth Pisani]. Sedangkan di kota-kota besar, terjadi komersialisasi pendidikan untuk melayani keluarga kelas menengah ke atas yang mampu bayar, baik sekolah nasional plus dan internasional, maupun pusat2 bimbel ini. Jadinya: yang mampu tambah terdidik dan menguasai bangku2 universitas elit, yang tidak mampu dan dari desa makin gigit jari.

    ReplyDelete
  5. Betuuul... kebijakan pendidikan sekarang memang tidak ramah dengan warga miskin dan pelosok. Universitas2 negeri juga cari duit. Dulu anak2 dari pelosok NTT bisa dititip di SMAN-SMAN favorit di jawa kayak aku... saiki wuangel bin mustahal hihi

    ReplyDelete
  6. Sepakat dengan tulisan mas dan komentar-komentar di sini.

    Semoga kualitas pendidikan Indonesia ke depannya semakin baik terutama mengenai pendidikan karakter dan moralnya. :D

    ReplyDelete
  7. bimbel punya kelebihan dalam mengenali soal2 yg kemungkinan akan keluar di unas dan SNB PTN. kisi2 itu yg tidak dimiliki sekolah2 formal.

    ReplyDelete