22 March 2016

Keroncong Perlu Revolusi

Kemarin saya membaca pengumuman dari pak Musafir Isfanhari tentang lomba grup keroncong di Surabaya. Lomba diadakan pada 23 April 2016. Lumayan... banyak yang tertarik. Termasuk mbak Sri Mulyani penata tari dari Sidoarjo.

Saya geleng kepala dan tersenyum sendiri. Bukan apa-apa. Tujuh lagu yang ditawarkan panitia langgam/keroncong lawas. Bahkan super lawas kayak Di Bawah Sinar Bulan Purnama. Langgam klasik ciptaan Maladi pada masa penjajahan, 1940an.

Kemudian Tanah Airku, Janjimu, Semanggi Surabaya, Lenggang Surabaya, Tanjung Perak... Jembatan Merah. Semuanya lagu lawas.

Apakah tidak ada komposisi baru? Mengapa lomba ini tidak dipakai untuk memperkenalkan lagu-lagu keroncong edisi 2016? Apa sih susahnya bikin lagu keroncong yang sudah punya rumus itu? Jumlah bar sekian. Irama 4/4. Ada interlude dst...

Kalau para praktisi dan pembina musik keroncong masih seperti ini ya mandeg. Tidak ada greget. Lagu-lagunya masih corak 40an dan 50an, sementara zaman sudah jauh berubah. Tidak ada revolusi keroncong. Beda dengan Rhoma Irama yang merevolusi musik melayu menjadi dangdut pada 1970 bersama Soneta.

Dangdut alias orkes melayu kemudian menjadi sangat dinamis. Pakem-pakem lama ditinggalkan. Dimasuki rock ala bang Rhoma. Belakangan aipongan hingga koplo yang ngetren sejak era Inul pada 2003 hingga sekarang.

Rhoma Irama pun bingung karena revolusi dangdut justru membuat dangdut makin liar. Padahal pak haji ini menginginkan dangdut menjadi the sound of Islam. Hehehe....

Nah, keroncong ini tidak ada figur revolusioner ala Rhoma. Dulu ada mendiang Gesang yang dianggap maestro keroncong. Tapi Gesang simbol status quo. Sementara keroncong justru butuh orang-orang yang mendobrak status quo itu. Pernah ada gebrakan keroncong rock dan keroncong dangdut tapi layu sebelum berkembang.

Orang-orang keroncong macam bu Nurhayati di Sidoarjo justru pemuja keroncong gaya asli. Salah cengkok sedikit aja dia berteriak. Makanya murid-murid vokalnya kabur semua. Begitu pula pak Totok Siring, Sidoarjo, yang getol merawat lagu-lagu keroncong sulit macam Segenggam Harapan.

Saya pun bertanya kepada pak Musafir Isfanhari mengapa tidak ada lagu-lagu keroncong baru di lomba ini. Dosen musik di Universitas Negeri Surabaya ini menjawab lewat medsos:

"Hal itu juga sudah saya tanyakan ke panitya lomba. Jawaban panitya, lomba ini khususnya untuk menggaet pemusik keroncong remaja yg masih kesulitan membedakan mana keroncong mana stambul dan mana langgam.

"Karena itu dipilihkan lagu yg setidaknya sudah diakrabi oleh para pemula tadi."

Baiklah kalau begitu. Mudah-mudah ke depan ada revolusi keroncong. Revolusi mental pun berlaku di musik. Kalau tidak keroncong tinggal menjadi klangenan orang-orang tua... dan masuk museum musik Indonesia.





Dikirim dari ponsel cerdas Samsung Galaxy saya.

No comments:

Post a Comment