30 March 2016

Kaset terakhirku Godbless 36th

Inilah kaset pita terakhir yang saya beli. Godbless 36th. Album terakhir rock band lawas yang dimotori Achmad Albar, Ian Antono, Donny Fatah...

Wow.. sudah lama banget. Sebab album berisi 10 lagu ini dirilis tahun 2009. Saya sempat ketemu dan ngobrol dengan keluarga besar Godbless setelah album ini keluar. "Susah dijual," kata Ian Antono kepada saya di Surabaya.

Saat itu Mas Ian yang asli Arema arek Malang ini ditemani istrinya mbak Titik. Ada juga Albar yang tetap berjiwa muda dan senang gandeng cewek cakep. Juga mas Abadi Soesman, arema juga.

Album Godbless 36 ini benar-benar jeblok. Mungkin album paling gak laku sepanjang karir Albar dkk. Sebab industri musik tengah mengalami revolusi. Kaset yang analog sudah diganti digital. Belum lagi orang bisa dengan mudah share lagu via HP. Siapa yang mau beli kaset?

Manajemen Godbless sangat paham pasar. Dia bikin versi digital juga. Tapi tidak ada promosi di televisi. Maka begitulah nasib album studio terakhir Godbless itu. (Semoga masih sempat bikin single atau album lagi.)

Bagi saya yang gemar Godbless sejak SMA, Godbless adalah jaminan mutu. Ian Iyek Donny Abadi... dulu ada Yockie dan Set selalu total dalam menggarap musik. Gitaris Ian Antono sampai sekarang seng ada lawan... setidaknya menurut saya. Achmad Albar oke punya.

Hard rock ala Godbless selalu enak. Keras tapi melodius. Syair lagunya kelas tinggi. Wawasan mereka luas. Tidak melulu cinta kayak band2 kebanyakan. Karena itulah, saya selalu membeli kaset2 Godbless sejak dulu. Album Cermin dan Semut Hitam paling saya suka.

Sementara itu, industri musik berubah drastis. Musik hard rock ala Godbless dianggap tidak marketable. Beberapa band pop melejit tapi tak tahan lama. Beda dengan Godbless yang masih eksis dan terus ngebet di mana2.

Boleh dikata tak ada lagi produksi kaset. Semua serbadigital. YouTube menawarkan hampir semua lagu Godbless (dan band2 apa saja) yang selama ini tak kita miliki albumnya. Dunia baru yang instan, asyik tapi neraka buat seniman2 macam Godbless.

Sejak itulah saya tak lagi membeli kaset. Beberapa kali beli CD tapi tidak serutin zaman kaset. Apalagi tidak ada band atau artis baru yang benar2 saya sukai. Lagu2 begitu mudah datang dan pergi tanpa nyanthol di kepala.

Bahkan aku ndak mudheng lagu2 Agnes Monica yang konon go international itu. Tapi konsumsi lagu justru meningkat via HP dan komputer kerja di kantor. Biasanya nomor2 lama atau instrumental eksotis dari Tiongkok atau Tibet.

Mungkin karena gandrung musik pada era kaset, saya tidak merasakan kenikmatan saat mendengar lagu2 via komputer, laptop, atau HP. Oh ya, saya membeli kaset pertama kali di Malang Plaza. Yakni album Michael Jackson BAD.

No comments:

Post a Comment