28 March 2016

Kapan terakhir ke toko buku

Kapan terakhir kali anda ke toko buku? Pertanyaan Pak Herman saat diskusi ringan teman-teman seniman di Sidoarjo.

Semuanya gelagapan. Termasuk saya. Sudah terlalu lama saya tidak mampir ke Gramedia. Padahal dulu saya sangat rajin ke toko buku terbesar di Indonesia ini. Seminggu bisa tiga kali. Cuma membeli satu dua buku tapi mengintip buanyaak buku.

Kadang saya mampir ke toko buku tanpa membeli apa-apa. Keluar dari misa di Gereja Katolik Kayutangan Malang, pasti saya mampir ke Gramedia di depannya. Asyik sekali menikmati bacaan-bacaan gratis karena buku-buku di Gramedia boleh diintip.

Tanpa terasa, peradaban buku cetak perlahan-lahan tergerus oleh datangnya internet. Lebih-lebih smartphone beberapa tahun terakhir. Sekarang diskusi di media sosial justru lebih gencar ketimbang membaca buku. Kebutuhan ke toko buku hampir tidak ada lagi. Padahal Gramedia makin banyak buka cabang di kota kecil macam Sidoarjo.

Selamat datang peradaban baru! Peradaban internet yang sangat revolusioner. Saya takjub dengan fenomena yang luar biasa ini. Apa saja bisa kita temukan di internet berkat mbah Google. Tinggal kuat baca saja.

Sejak duduk di SMP di Larantuka, Kabupaten Flores Timur, NTT, saya terkagum-kagum dengan puisi WS Rendra dan Chairil Anwar. Saya pun berusaha mencari buku puisi Rendra Potret Pembangunan Dalam Puisi. Tidak ketemu.

Hijrah ke Jawa, kuliah dan bekerja pun buku puisi Rendra itu tidak saya temukan. Tak ada di Gramedia. Lapak buku-buku bekas pun tak ada. Sebab puisi-puisi Rendra memang banyak penggemarnya. "Sudah laku," kata Lia penjual buku bekas langganan saya di Jalan Semarang, Surabaya.
Akhirnya datang peradaban Google. Saya pun iseng mengetik Potret Pembangunan Dalam Puisi WS Rendra. Wow... berlimpah ruah puisi-puisi itu. Bahkan semua puisi Rendra dimuat di berbagai blog pribadi para penggemar sastra.

Maka saya pun meng-copy paste puisi-puisi lama itu. Tapi gairah saya untuk membaca, bahkan menghafal puisi Rendra, tak ada lagi. Saya justru lebih tergonda untuk ikut nimbung diskusi di grup teman-teman Sidoarjo. Sekalian mengintip trending topics di kota petis yang kini terkenal karena semburan lumpur Lapindo itu.

Kemarin saya bersepeda melintas di depan toko buku Gramedia Pucang, dekat samsat Surabaya. Tak ada lagi gairah untuk mampir. Apalagi saya lihat akhir-akhir ini banyak buku cetak yang sejatinya cuma hasil print out dari internet. Lebih konyol lagi hasil mencuri alias copy paste dari blog-blog atau situs tertentu.

"Kualitas buku sekarang jauh menurun. Dibandingkan sebelum ada internet," kata wartawan senior yang biasa jadi editor resensi buku di surat kabar.

Berkat internet, khususnya mbah Google, sekarang ini banyak orang yang tiba-tiba jadi ahli sembarang ilmu. Bisa menulis buku tentang budidaya kelor, fenomena Jokowi dan Ahok, tren hijab, hingga kiat-kiat menulis agar dimuat di media cetak.

Seorang motivator yang masih lumayan muda, jelang 40, pun rajin menerbitkan buku. Setelah saya baca isinya, ternyata semua hasil kerajinan googling di internet. Kemudian dioplos, dikasih komentar sedikit, dibumbui humor ala sinetron Jakarta, lalu diterbitkan. Foto-fotonya pun hasil mencuri di internet.

Syukurlah, para intelektual Barat masih setia menerbitkan buku dengan kecintaan, gairah, dan passion ala pra internet. Semua informasi diverifikasi ke sumber primer. Turun sendiri ke lapangan untuk wawancara, riset, motret dsb.

Buku-buku terjemahan dari Barat inilah yang masih sangat layak kita baca. Intelektual dalam negeri yang masih konsisten menulis dengan kedalaman pemikiran tidak banyak lagi. Dan kebetulan penulis-penulis serius ini dari kalangan romo-romo seperti Prof Frans Magnis Suseno SJ, Sindhunata, atau Prof Glinka SVD.

Pak Herman, budayawan senior Sidoarjo, mengatakan peradaban internet dan media sosial harus diterima sebagai dinamika kehidupan. Tidak bisa dibendung. Inilah zaman ketika buku-buku dan media cetak tak lagi jadi primadona seperti sebelum 2000.

"Mungkin suatu saat masyarakat tidak perlu membaca lagi," kata Herman yang tinggal di Waru. "Kalau semua sudah bisa online, ngapain capek-capek mencetak buku yang ongkosnya mahal?"

Wah, wah....

6 comments:

  1. Jadi, kapan terakhir kali Mas Hurek ke toko buku?
    hehe.
    Salam
    -Doan Widhiandono-

    ReplyDelete
  2. Hehehe.. cak Dian iso ae. Terakhir beli buku Djadi Galajapo 30 Tahun Mbanyol di gramedia pucang.

    bikinyi bigis din lici sikili hihihi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Salah ketik gara2 android. Yang benar DOAN.. bukan Dian. Dengan demikian kesalahan kami perbaiki. Meniru ralat berita di koran hehe..

      Delete
  3. wah, berarti sampeyan harus beli Oleh-Oleh Jurnalis, catatan traveling di 20 kota pada 11 negara. Ada kisah semana santa dari larantuka juga. Haha...
    Cak, aku golek buku Dangdut karya Prof Andrew Weintraub nang endi ya? kamsia
    -dos-

    ReplyDelete
    Replies
    1. Buku itu terbitan Gramedia. Silakan cari sendiri bung dos. Kebetulan prof itu dulu sering ajak saya menemui beberapa pentolan orkes melayu waktu cari bahan2 di Surabaya. Saya punya bukunya tapi dipinjam wong Darjo. Belum dikembalikan.

      Salam semanga santa. Kenangan semasa SMP di san dominggo larantuka hehe

      Delete
  4. Om, sudah terima gift dari saya ya? semoga bermanfaat.
    -doan-

    ReplyDelete