24 March 2016

Kangen Misa Kamis Putih

"Tanggal merah hari Jumat itu libur apa?"

Begitu pertanyaan beberapa teman di Surabaya. Pertanyaan sama ini diajukan tahun-tahun lalu. Mungkin tahun depan nanya lagi... dst.

"Jumat Agung!" jawabku.

"Jumat Agung itu apa? Mengapa disebut agung?"

Ndak habis-habis pertanyaannya. Jawaban kita ndak akan nyanthol. Tahun depan nanya lagi. Padahal ada mbah Google yang tahu segalanya.

Ini Jawa bung! Bukan Flores NTT. Umat katolik di kampung halamanku di Flores Timur sana mempersiapkan pekan suci ini dengan istimewa. Ekaristi Kamis Putih.. Jumat Agung... Sabtu Suci... Minggu Paskah begitu meriahnya. Jauh lebih meriah ketimbang Natal.

Di Surabaya dan Sidoarjo juga sangat meriah. Petugas liturgi, pasio, paduan suara... lebih bagus ketimbang di NTT. Tapi itu cuma di lingkungan gereja katolik thok. Keluar dari gereja tak ada apa-apanya. Tak heran teman-teman justru banyak bikin acara saat libur Jumat Agung dan Sabtu malam.

"Bung jangan lupa malam minggu ada show wayang. Ada kajian film pendek dsb...," kata beberapa teman di Sidoarjo.

Teman berpendidikan tinggi itu tidak tahu kalau malam minggu itu vigili Paskah. Ekaristi paling wajib untuk umat Katolik. Upacara cahaya. Exsultet. Pembaruan janji permandian... Misa paling lama tapi berkesan dalam liturgi gereja. Akankah saya memilih nonton film atau wayang kulit? Hehehe....

Begitulah. Kekristenan atau kekatolikan masih asing di Jawa Timur. Orang tahunya nasrani thok. Tanpa tahu hari besarnya selain Natal 25 Desember. Tidak kenal Minggu Palem. Kamis Putih. Jumat Agung. Malam Paskah. Minggu Paskah.

Saya sendiri sudah lama tidak bisa ikut ekaristi Kamis Putih. Wong malam hari harus bekerja. Sementara misa selalu malam. Pulang kantor misa sudah selesai. Apa boleh buat, saya hanya bisa ikut teguran tengah malam. Masih untung liturgi Jumat Agung dan Sabtu Paskah selalu ikut.

Karena itu, saya selalu kangen lagu UBI CARITAS ET AMOR DEUS IBI EST. Versi Indonesia : Jika ada cinta kasih... hadirkan Tuhan!

Lagu ini hanya dinyanyikan setahun sekali, ya saat Kamis Putih itulah. Dinyanyikan saat upacara pengasuhan kaki. Imam membasuh kaki 12 orang simbol para rasul saat perjamuan terakhir. Melihat lukisan the Last Supper, saya selalu teringat lagu bagus ini.

CONGREGAVIT NOS IN UNUM
CHRISTI AMOR
EXSULTEMUS ET IN IPSO
JUCUNDEMUR

9 comments:

  1. Lain kali ikut misa Vatikan lewat internet saja Bung.

    ReplyDelete
  2. Misa di vatikan dan misa prakonsili kedua sudah sering lihat. Pake bahasa latin dan terasa teduh banget.. Tapi tetap beda dengan hadir langsung di ekaristi.

    Oh ya... ada berkah setelah nulis curhat ini. Malamnya kerja tuntas jam 8pm sehingga saya bisa ikut misa kamis putih di sidoarjo yg start kedua 9pm. Berkesan karena 7 tahun berturut gak sempat ikut kamis putih.

    Sayang... lagu UBI CARITAS malah tidak dinyanyikan koor. Diganti Perintah Baru Terimalah...

    Gak apa2 sing penting iso melu pekan suci. Met libur untuk mas di Amrik.

    ReplyDelete
  3. Di USA tidak libur pada hari Jumat Agung. Hari ini tetap kerja, walaupun kalau mau ke misa atau kebaktian tengah hari diperbolehkan.

    Hanya sekolah sekolah biasanya libur satu minggu, sebelum atau setelah Hari Paskah, tergantung sekolahnya. Tetapi liburan itu dinamai Spring Break (liburan musim semi), bukan religius (kecuali sekolah Katolik atau Kristen). Begitulah di negara sekuler.

    ReplyDelete
  4. Wah menarik ini. Tidak ada libur Jumat Agung di USA. Gereja2 jelas sepi kalau orang bekerja sampai malam. Soalnya liturgi resmi jumat agung selalu jam 15.00... di Indonesia.

    ReplyDelete
  5. Di USA, liturgi Jumat Agung biasanya dilakukan pukul 12 siang, dengan roti komuni yang dikonsekrasi pada hari Kamis Putih sebelumnya (sama seperti Gereja Katolik manapun). Pada hari Paskah, gereja-gereja selalu penuh, karena orang-orang Katolik yang tidak datang pada hari Minggu biasa pada berdatangan.

    ReplyDelete
  6. USA ini sekuler tapi sangat gencar mengekspor gereja2 aliran haleluyah yg entertaining dengan teologi sukses ke seluruh dunia. Begitu pula mormon.. advent.. hingga saksi2 jehovah. Metode penginjilan door to door kayak jualan produk MLM inilah yg bikin isu kristenisasi berembus kuat di indonesia. Pendeta2 haleluyah itu suka merujuk pendeta2 evangelis di USA..

    ReplyDelete
  7. Kalau ada ekspor tentunya ada yang mengimpor, hehehe. Itu tandanya masih ada kehausan spiritual, dan Gereja-Gereja yang sudah membumi tidak mampu memuaskan dahaga tersebut. Dunia yang cepat berubah di jaman modern ini membuat orang-orang ingin kepastian: sembuh, kaya, jodoh, anak, naik pangkat, lulus ujian. Gereja-gereja yang baru muncul itu menawarkan kepastian. Sebut saja nama Yesus (!) maka engkau akan diselamatkan. Diselamatkan bisa diartikan macam-macam, dari kehidupan kekal, sampai diselamatkan dari kematian karena sembuh dari sakit kanker, atau sekedar lulus ujian. Yesus dianggap seperti mBah Jugo.

    ReplyDelete
  8. Omong-omong soal Kamis Putih, jadi penasaran dengan perayaan Minggu Palma di NTT. Di sana pakai daun apa ya? Kalau di Jawa terutama di Malang yang saya tahu pakai daun palem kuning. Sedangkan yang pernah saya baca di Filipina sana mereka memakai janur kelapa. Apa di NTT sana pakai daun lontar ya?
    Kalau menurut https://en.wikipedia.org/wiki/Palm_Sunday malah saya duga di masa Yesus itu mereka menggunakan daun buah kurma yang banyak tumbuh di sana. Seorang warga Filipina yang pernah mengikuti perayaan Minggu Palma di Surabaya malah agak terkejut ketika umat Katolik di sini memakai daun palem yang "polosan" sebab di Filipina sana mereka memakai janur kuning yang dianyam dan dihias sedemikian rupa, padahal kalau melihat budaya di Indonesia(Jawa dan Bali) kan kita banyak memakai ornamen janur berupa penjor, kembar mayang dsb.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sudah sering saya bahas minggu palma di NTT khususnya kabupaten flores timur dan lembata asal saya. Minggu Palem atau biasa disebut Minggu Daun-Daun pake daun tanaman famili palma. Paling buanyak pake daun pinang dan enau yg diambil di hutan. Makanya anak2 SD biasa dikerahkan ke hutan untuk memotong daun2 palem utk misa besok pagi.
      Selalu ada peranakan jalan kaki sejauh dua sampai lima kilometer sambil nyanyi hosanna dsb.. di Surabaya yg saya alami bertahun2 tidak ada perarakan. Umat cuma pegang daun palem utk diberkati.. dan selesai. Sistem surabaya ini sangat efisien tapi kehilangan unsur teatrikal dan karnaval.

      Delete