26 March 2016

Isu pribumi vs nonpribumi yang merusak

Isu pribumi dan nonpribumi marak lagi di media sosial. Di grup warga Sidoarjo. Seorang anggota yang asli Jombang, tapi ber-KTP Sidoarjo share berita agak lawas tentang majikan menganiaya pembantu. TKP di Surabaya Barat. Orang langsung ngeh itu perumahan elite, majikannya Tionghoa.

Bukankah kasusnya sudah ditangani polisi? Mengapa perlu diangkat isu pribumi vs nonpribumi? Toh siapa saja bisa stres, kalap, dan menganiaya orang lain. Entah pembantu, sopir, tetangga, teman, pacar, istri, anak dsb. Mengapa harus diangkat jadi topik diskusi yang merembet SARA?

Syukurlah, warga Sidoarjo makin dewasa. Tak terpancing isu rasial khas orde baru itu. Tapi ada juga beberapa member (pakai akun samaran) masih berpikiran rasis. Belum bisa lepas dari doktrin orba yang memang sangat anti Tionghoa.

Rezim orba bahkan mengharamkan bahasa Mandarin. Seni budaya Tionghoa dilarang. Lagu-lagu pop mandarin hanya boleh didengar di kamar. Kalau ketahuan bisa berhubungan dengan aparat. Kelenteng-Kelenteng-kelenteng pun mau dibongkar. Orang Tionghoa harus ganti agama. Anehnya, film-film kungfu Hongkong justru boleh diputar. Dan sangat digemari.

Kembali ke diskusi pribumi vs nonpribumi. Kita tidak perlu teori ilmu sosial, politik, sejarah dsb yang ndakik-ndakik. Kita kasih contoh nyata saja. Bingky Irawan tokoh Khonghucu di Sepanjang Kecamatan Taman Sidoarjo, sahabat almarhum Gus Dur. Pak Bingky jelas keturunan Tionghoa. Leluhurnya asal Fujian Tiongkok.

Nah, apakah Pak Bingky Irawan masih layak disebut nonpribumi? Wong leluhurnya sudah tinggal dan buka toko di Sepanjang sejak zaman Belanda. Beliau sendiri juga tidak punya hubungan dengan keluarga leluhurnya di Cungkuo. Selalu berjuang untuk demokrasi dan kemajuan warga Sidoarjo dan Jatim umumnya.

Tante Tok di pecinan kawasan Jalan Gajah Mada Sidoarjo. Apakah fair kalau beliau disebut nonpribumi? Sedangkan leluhurnya pun tinggal di Sidoarjo sejak 1930an. Beliau juga tidak pernah berpindah kota.

Sejak lahir sampai usia 70an tahun tetap setia di Sidoarjo. "Aku iki wong Darjo," kata tante yang ramah ini. Makanya tante ini selalu jadi jujukan saya ketika membuat cerita tentang suasana Sidoarjo masa lalu. "Biyen Darjo iku ndeso banget..."

Beda dengan Bingky Irawan dan Tante Tok, teman-teman grup yang mengangkat isu rasial ini semuanya pendatang. Umumnya tinggal di perumahan. Mana ada warga Darjo asli tinggal di perumahan-perumahan?

Penghuni perumahan ini berasal dari berbagai kota di Jatim: Jombang, Jember Banyuwangi Pacitan Ngawi dsb. Juga luar Jawa Timur dan luar Jawa. Ada pula yang ekspatriat. Sebab cukup banyak perusahaan asing di Darjo.

Bagi saya, para pendatang yang bukan asli Sidoarjo ini pantas disebut nonpribumi. Entah dia suku Tionghoa, Jawa, Sunda, Flores, Maluku, Sumatera, Kalimantan... dsb. Tidak peduli ras, agama, warna kulit, rambut, mata sipit atau bukan dsb.

Di Sidoarjo saya pun nonpribumi meskipun bukan Tionghoa. Saya pribumi di Flores Timur tapi di Sidoarjo saya nonpri. Mas Agus pribumi Jombang tapi nonpri di Sidoarjo. Begitu pula mbah Telo, Pak Hartono, Pak Ali... dan hampir 90 persen anggota grup medsos. Yang benar-benar asli alias pribumi Jenggolo sangat sangat sedikit.

Ahok itu pribumi di Belitung tapi nonpribumi di Jakarta. Baik pribumi maupun nonpribumi sama-sama berhak memilih dan dipilih sebagai pejabat. Yang penting sudah WNI atau warga negara Indonesia.

Ironisnya, beberapa teman sesama pendatang getol sekali mengangkat isu rasial ini untuk menyerang Tionghoa. Lupa bahwa Tionghoa Darjo seperti Tante Tok, Pak Bingky, Pak Gunawan, Pak Njoo... yang berada di pecinan Darjo itu sejatinya sudah sangat layak menyandang status pribumi semenjak beberapa generasi lalu.

Kita yang baru 10 tahun atau 20 tahun atau 30 tahun pegang KTP Sidoarjo sering merasa lebih pribumi dari warga Tionghoa di pecinan.

2 comments:

  1. Terima kasih Lambertus atas unek-uneknya yang sangat mengena. Kalau anaknya Hamzah Haz yang anggota DPR yang bernama Ivan Haz itu menganiaya karyawannya sampai benjut, gak ada isu pribumi non pribumi. Kalau anaknya Hatta Rajasa yang Cawapres menabrak orang sampai mati, atau anaknya Ahmad Dhani menabrak sampai banyak orang mati, gak ada ribut-ribut, padahal yang mati juga wong cilik.

    ReplyDelete
  2. Suwun cak... respons cepet buanget. Saya cuma berusaha melawan pola pikir rasis ala orba yg gak gampang dihilangkan di indonesia. Tapi secara umum orang2 muda lebih open minded dan progresif. Ndak gampang termakan isu rasial ..

    ReplyDelete