24 March 2016

Hotel rumahan pakai aplikasi?

Ribut-ribut bisnis ojek dan taksi berbasis aplikasi membuat saya teringat kompleks peziarahan Katolik di Jawa. Dulu saya biasa ziarah ke Puhsarang Kediri dan Sendangsono Jogjakarta. Dua tempat ziarah favorit umat Katolik di tanah Jawa.

Kalau tidak ikut rombongan, biasanya saya menginap di rumah penduduk dekat Gua Maria. Dari dulu banyak warga menyediakan satu sampai empat kamar kosong untuk disewakan. Tarifnya lebih murah ketimbang wisma atau hotel. Termasuk Wisma Bethlehem milik gereja.

Di Sendangsono saya menginap di rumah Pak Warno, di atasnya Gua Maria Lourdes yang terkenal itu. Beliau tidak patok tarif. Kita malah diajak makan bersama keluarganya. Ini membuat kita seakan bermalam di rumah sendiri. Benar-benar homestay.

Menyewakan kamar kosong untuk peziarah jelas menguntungkan warga Puhsarang. Dapat duit lumayan banyak. Apalagi Mei dan Oktober bulan ziarah umat Katolik ke gua-gua Maria. Kalau tidak disewakan, tak akan ada duit masuk. Inilah yang membuat bisnis penginapan sangat marak di Puhsarang.

Nah, belajar dari ojek dan taksi online, rasanya bisnis penginapan atau hotel rumahan bakal tumbuh. Si pengusaha tidak perlu capek-capek bangun hotel, investasi besar, menggaji karyawan dsb dsb. Tapi dia punya ribuan kamar. Dan tersebar di seluruh penjuru kota.

Cukup buka aplikasi. Siapa saja yang punya kamar kosong, minimal dua, bersih, kamar mandi bisa dalam bisa luar... silakan daftar. Lalu disurvei sebentar. Kemudian masuk jaringan aplikasi penginapan online.

Saya kira banyak warga perkotaan mau merelakan beberapa kamarnya untuk losmen sederhana. Apalagi buanyaaak rumah di Surabaya yang kosong karena ditinggal pemiliknya ke kota lain. Duit bisa mengalir terus setiap malam.

Kelebihan homestay berbasis online adalah kepastian kamar. Di Puhsarang kamar-kamar sering penuh pada bulan ziarah. Kita pun terpaksa bermalam di wisma yang tarifnya dua tiga kali lipat mahalnya.

Apakah pengusaha-pengusaha hotel konvensional akan mengamuk seperti taksi-taksi lama itu? Rasanya kok tidak. Sebab hotel-hotel itu punya segmen pasar sendiri-sendiri. Kamar-kamar online ini toh lebih cocok untuk para backpacker yang duitnya terbatas.

Mereka cuma butuh tidur dan mandi saja. Tidak perlu televisi, internet, dan hiburan lainnya. Wong namanya juga ziarah alias devosi... sambil misa malam Jumat Legi di Puhsarang.

1 comment:

  1. Yg pertama namanya AirBnB bung, didirikan di San Francisco. Yg di Indonesia tinggal nyontek saja.

    ReplyDelete