24 March 2016

Emilia Contessa itu siapa?

Emilia Contessa kemarin berkunjung ke sebuah home industry di Taman Sidoarjo. Penyanyi lawas 80an dan 70an itu ingin melihat perusahaan milik Pak Eka yang semua karyawannya difabel.

Orang-orang yang fisiknya tak sempurna tapi kreatif. Bikin lukisan kaca, perabot rumah tangga dsb. Kapasitas Emilia yang asli Banyuwangi saat itu anggota dewan perwakilan daerah (DPD).

"Emilia Contessa itu siapa pak? Katanya mantan penyanyi ya..," tanya Devi wartawan yang baru wisuda bulan lalu.

Oh Tuhan... gadis kota yang gaul ini ternyata tidak tahu Emilia Contessa. Meliput ke UKM difabel, ngobrol sama bu Emilia... tapi tidak tahu siapa wanita berbadan subur yang kini politikus itu.

"Bacalah di google.... Tabletmu itu jangan untuk medsos tok... Aneh, anakmu ora kenal Emilia Contessa. Opo maneh yang bukan seleb," kataku agak kesal.

"Pernah dengar Denada?" tanya saya lagi. Sedikit memberi petunjuk siapa gerangan Emilia Contessa. Denada tak lain putri Emilia Contessa. Penyanyi rap yang belakangan terjun ke dangdut. Suara Denada kalah jauuuuh dari mamanya.

Oh Tuhan... lagi-lagi tidak nyambung. Reporter baru itu pun gak nyambung. Denada iku sopo? Ya, informasinya di Google. Ada semua.

Saya pun geli, jengkel, tapi akhirnya jadi sadar dengan perubahan zaman dan selera. Betapa penyanyi Emilia yang alto, suara besar, juara festival nasional... kini tak ada jejak musiknya. Di kalangan anak muda macam Devi, Emilia tak lebih anggota DPD biasa.

Jangankan Emilia Contessa, Denada yang masih lumayan muda pun tak berjejak. Padahal pak Totok di warung tetangga sering banget menyanyikan "angin yang berhembus di akhir November..."

Saya pun masih menyimpan lagu rohani kristiani di ponsel suara E milia Contessa. "Tuhan... masihkah gerangan sembahku Kauterima..." Nomor gospel yang dulu terkenal banget di kampung saya.

Oh ya, Emilia pernah bikin album gospel saat masih jadi istri papanya Denada. Setelah cerai nikah lagi, kembali ke Islam. Cerita ringan macam itu tentu tak diketahui generasi Devi. Apalagi generasi yang lahir setelah 2005.

Saya belum tanya Bob Tutupoly, Broery Marantika, Muchsin dan Titiek Sandora, Harvey Malaihollo... dst. Kalau Rhoma Irama sih mungkin Devi dan teman sebaya tahu. Tapi Emilia Contessa?

Fakta sederhana ini memperlihatkan betapa seniman-seniman musik Indonesia begitu cepat hilang dari memori kolektif bangsa. Artis-artis datang dan pergi begitu cepat. Easy come easy go...

Jangankan Emilia Contessa, penyanyi-penyanyi era 2000an pun tak berjejak. Gak nyanthol blas di ingatan manusia Indonesia hari ini. Devi dkk tidak tahu kalau Putri Vinata yang baru dijebloskan ke penjara (kasus narkoba) itu pernah ngetop banget dengan goyang kayang. Saat Inul Daratista melejit dengan goyang ngebor.

Betapa kontrasnya dengan di Amerika atau Eropa. Madonna yang segenerasi Emilia Contessa masih keliling dunia. Eyang Mick Jagger yang lebih tua tetap eksis dan digemari bocah-bocah belasan tahun.

Rod Stewart.. Bon Jovi... Deep Purple... Scorpion... Bahkan generasi super lawas kayak Armstrong pun masih dirayakan musiknya meskipun orangnya sudah lama tiada. Industri pop di Barat selalu menjalin benang merah dengan seniman-seniman lawas.

Di Indonesia... seniman legendaris tak ubahnya pensiunan PNS, nelayan, petani, wartawan... atau pedagang batu akik. Apalagi artis-artis-artis yang cuma modal goyang heboh sesaat.

Karena itu, tidak salah kalau artis-artis lama memilih jalan politik untuk eksis. Emilia Contessa, Tetty Kadi, Nurul Arifin, Tantowi Yahya, Rhoma Irama, Pasha Ungu... dan yang heboh sekarang adalah Ahmad Dhani. Popularitas di jagat hiburan berlalu begitu cepat.

Mungkin lima tahun lagi anak-anak muda perlu masuk ke Google untuk mencari informasi siapa gerangan Ahmad Dhani, Milan Kwok, Maya Ratu, Inul, Padi, dsb.

No comments:

Post a Comment