01 March 2016

Diberkati Banyak Uskup, toh Cerai - Cathy Sharon



Ada berita pendek di koran pagi ini. Cathy Sharon digugat cerai suaminya Eka Kusuma Putra. Sejak menikah pada 2012 nyaris tidak gosip jelek sang artis film nan ayu ini. Kelihatan aman dan lancar. Siapa sangka jadi begini?

Saya kaget dan tersenyum sendiri. Bukan apa-apa. Pernikahan Cathy Sharon di Kuta Bali itu sempat jadi bahan gunjingan teman-teman aktivis di lingkungan Katolik di Surabaya dan Sidoarjo. Sebab, menurut berita di media massa, pemberkatan pernikahan ini dihadiri banyak uskup dari seluruh Indonesia.

Berita di media massa saat itu menyebutkan, uskup-uskup yang memimpin misa penerimaan sakramen pernikahan itu adalah uskup Denpasar, uskup Padang, uskup Maumere, uskup Semarang, dan uskup Ende. "Kok bisa-bisanya bapak-bapak uskup itu menyempatkan datang, bahkan memimpin misa pernikahan artis? Sebegitu banyaknya?" begitu kicauan teman-teman.

Asal tahu saja, seorang uskup itu pemimpin tertinggi Gereja Katolik di sebuah keuskupan/dioses. Paroki-parokinya banyak. Reksa pastoralnya luar biasa. Di kampung halaman saya, pelosok Lembata, yang masuk Keuskupan Larantuka, belum tentu satu tahun sekali umat Katolik mendapat kunjungan uskupnya. Sebab beliau harus berkeliling paroki-paroki, ngurusi yayasan, sekolah-sekolah, komisi-komisi dsb dsb...

Biasanya uskup baru datang ke paroki-paroki di pelosok kalau ada sakramen krisma. Sebab sakramen penguatan ini hanya boleh diberikan oleh uskup. Paling cepat satu tahun sekali. Maka, sangat luar biasa bagi umat Katolik di NTT saat membaca berita bahwa pernikahan Cathy Sharon dihadiri begitu banyak uskup. Belum lagi romo-romo yang pasti banyak jumlahnya. Belum suster, frater, bruder....

Normalnya pemberkatan pernikahan di Katolik itu cukup dilayani seorang pastor. Bahkan, seorang diakon (calon pastor) pun boleh. Seorang uskup terlalu amat tinggi kalau hanya mengurusi pemberkatan nikah satu pasangan pengantin. Apalagi uskup-uskup dari Flores, seperti ditulis di berita online itu, jauh-jauh datang ke Bali demi memimpin misa pemberkatan nikah Cathy Sharon-Eka Kusuma.

Lha, berkunjung ke paroki-parokinya setahun sekali saja belum tentu dilakukan. Kok ini malah sempat-sempatnya ke luar wilayah keuskupannya? Memimpin misa pernikahan yang bukan tugas pokoknya? Ada apa dengan monsinyur-monsinyur itu? Begitu antara lain obrolan ngelantur di warung kopi. Isu ini pun lekas berlalu. Diganti isu-isu baru yang datang dari pergi.

Sampai akhirnya muncul berita pendek di koran itu. Cathy Sharon digugat cerai oleh suaminya. Sang suami menilai Cathy terlalu sibuk di luar, lupa tugasnya sebagai istri. Cathy balik menuduh suaminya punya affair... Alasan klasik.

Yah, kita ambil hikmahnya saja. Bahwa pernikahan yang langgeng itu tidak ditentukan oleh banyaknya rohaniwan, apalagi sekelas uskup, yang memimpin misa penerimaan sakramen pernikahan. Semegah apa pun, semeriah apa pun, belasan uskup datang, kalau pasangan suami istrinya tidak saling mendukung, memberi dan menerima... ya begitulah. Demikian omongan Tante Debora yang biasa mengurus KPP alias kursus persiapan perkawinan.

Di masa lalu, hingga 1990-an masih ada, pernikahan di pelosok Flores Timur dan Lembata itu banyak yang tidak diberkati di gereja. Namanya kawin kampung sesuai aturan adat Lamaholot. Urusan adat, belis gading, koda kiring (pembicaraan adat) sudah beres, tapi ada persoalan dengan aturan kanonik di gereja. Toh, pasutri-pasutri yang sering "dikucilkan" gereja (tidak boleh komuni, tidak boleh jadi pengurus stasi... dsb) ini justru hidup bahagia, rukun damai. Tidak pernah ada perceraian.

1 comment:

  1. Pak Lambertus sudah berkeluarga? Anak-anak muda yang sedang jatuh cinta dan kebelet kawin itu kurang mengerti bahwa pernikahan itu hanya awal suatu perjuangan untuk hidup bersama, bukan awal happy ending selamanya tanpa perjuangan.

    ReplyDelete