24 March 2016

Di NTT semua motor jadi ojek

Jauh sebelum ribut-ribut soal taksi berbasis aplikasi, dan ojek Golek, di NTT sudah lama berlaku taksi dan ojek plat hitam. Ini jadi solusi efektif problem ketiadaan angkutan umum. Kupang, ibukota provinsi NTT, yang memulai bisnis ojek dan taksi taksian itu.

NTT itu daerah termiskin di Indonesia. Jangan bayangkan ada taksi pakai argometer kayak di Surabaya. Mobil penumpang umum sangat sedikit. Maka kita akan kesulitan kalau turun di Bandara Eltari Kupang. Harus "koordinasi" dengan temain atau keluarga saat boarding agar dijemput.

Bagaimana kalau tidak punya keluarga di Kupang? Jangan khawatir. Hampir semua sepeda motor bisa dijadikan ojek. Anak-anak muda itu siap mengantar kita ke mana saja. Jauh dekat mereka siap. Cukup Rp 50 ribu kita bisa keliling Kota Kupang.

"Bung tolong catat beta punya nomor HP. Mungkin suatu saat perlu dijemput di bandara," kata tukang ojek yang selalu ramah.

Bagaimana kalau barang bawaan kita banyak? Tak mungkinlah naik ojek motor. "Tenang saja bung... ada taksi di sebelah. Bapak Anton kan punya oto," kata teman.

Oto alias mobil ini jelas bukan taksi beneran. Plat hitam. Tapi semua orang di wilayah RW itu sejak dulu menganggapnya taksi. Pak Anton siap antar jemput ke mana saja. Dan kapan saja. Mobil-mobil lain pun diberdayakan sebagai taksi plat hitam.

Orang NTT rupanya kurang paham bahwa mobil plat hitam bukan kendaraan umum. Tahunya ya kendaraan apa saja bisa dipakai mengangkut penumpang. Toh sama-sama-sama butuh. Dia butuh uang, kita butuh ke bandara on time schedule.

Di Kabupaten Lembata dan Flores Timur, ojek sepeda motor paling populer. Semua motor nganggur bisa diajak untuk mengangkut penumpang. Lumayan dapat duit ketimbang motor nganggur atau dipakai sendiri.

Ojek motor yang marak ini juga efektif menghancurkan bisnis kendaraan umum baba-nana Tionghoa yang sangat berjaya sampai awal 2000an. Orang desa seperti saya sangat lelah menunggu angkutan pedesaan yang cuma sekali hari dari kota ke kampung saya. Bahkan ketika saya kecil cuma seminggu sekali.

Dengan ojek, kita bisa ke kota kapan saja kita mau. Kota Larantuka dan Lewoleba yang dulu rasanya jauh kini terasa dekat. Cuma 40 menit dari kampungku. Saya pun tidak perlu lagi bermalam di ibukota kabupaten kalau hendak naik pesawat Susi Air ke Kupang.

Terima kasih tukang-tukang ojek di NTT.

Bagaimana dengan ojek atau taksi aplikasi internet?

Sulit hidup di NTT. Bukan apa-apa. Sinyal seluler sangat lemah, nyaris tidak ada. Itu pun cuma Telkomsel khususnya kartu As. Tidak ada operator lain yang bangun tower di pelosok NTT. Tanpa repot-repot cari sinyal, kita tinggal jalan kaki ke rumah tetangga yang punya motor atau mobil. Sangat efektif.

Hanya saja, demam ojek motor ini menghilangkan fungsi sosial mobil pribadi dan sepeda motor. Dulu ketika saya SD di pelosok Lembata, pengendara motor pasti berhenti untuk mengajak pejalan kaki untuk menumpang... kalau kosong di belakang. Diantar sampai ke rumahnya. Gratis.

Sekarang fungsi sosial berubah jadi fungsi ekonomi. Tak ada lagi yang mempersilakan kita membonceng gratisan. Kalau ikut ya bayar. Meskipun jaraknya tak sampai dua kilometer. Bisnis ojek... dan bisnis-bisnis lain memang tidak kenal saudara, teman, tetangga dsb.

Sekarang semua orang dianggap konsumen alias pembeli jasa. Bahkan, kalau masih kerabat, kita justru dituntut memberi duit lebih banyak ketimbang ojek yang bukan lingkaran dekat keluarga kita.

4 comments:

  1. Om, nama bandara di Kupang itu El Tari Kupang, bukan Lestari... :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Maaf... ngetiknya sih Eltari tapi sama samsung ditukar jadi Lestari secara otomatis. Sudah saya koreksi. Maklum baru belajar ngetuk di android.

      Fasilitas prediksi kata memang bagus tapi kadang menyesatkan. Terima kasih.

      Delete
  2. kalo di tempat kami, ojek lebih dikenal dgn nama RBT... bukan ring back tone, tapi "Rakyat Banting Tulang"... entah dari mana datangnya istilah itu...

    tapi kalo di kota2 seperti Medan, Siantar, Balige, gak ada ojek tapi adanya "becak mesin" atau becak yg pakai motor... khusus di Siantar becak seperti ini sudah jadi trademark karena menggunakan motor BSA peninggalan Inggris yg semakin langka...

    tahun kemarin waktu saya jalan2 ke Museum Angkut di kota Batu, saya senyum2 sendiri melihat ada motor BSA di sana... teringat becak Siantar... hehehehe...

    kalo di Balige, tempat kelahiran kakek saya, becak di sana pakai motor Vespa... terlihat agak "retro" yah??? tapi tetap tidak se-legendaris becak di Siantar...

    sayangnya di Medan, ibukota Sumut, becak mesin suka mematok harga seenaknya dan akhirnya tidak lagi menjadi daya tarik... kalo di Medan motornya ya standar, motor buatan Jepang... tidak seperti di Siantar... jadi lebih baik di Medan naik taksi yg pakai meter seperti BB atau Express...

    ReplyDelete
  3. Berapa no telp ojek di Kupang susah sekali cari ojek disini

    ReplyDelete