08 March 2016

Beda Oom di Jawa dan Flores

Sakit rasanya aku dipanggil oom. Begitu kira2 kalimat seorang terkenal yang saya baca di koran tadi.

Kenapa sakit? Tidak dijelaskan. Tapi sudah pasti karena dia tidak suka dianggap tua. Merasa selalu muda. Forever young... I want to be forever young... Begitu syair lagu lama yang melodinya enak nian. Kesukaan teman kuliahku dulu.

Komponis dan pianis kelas wahid Slamet Abdul Sjukur pun tidak suka dipanggil bapak atau pak. Almarhum yang sudah 70an tahun ingin disapa mas Slamet. Sampai tutup usia jelang 80 tahun.

Di Jawa Timur sebagian besar orang juga kurang suka dipanggil om atau pakde atau paklik atau paman atau bapak. Mereka lebih suka disapa mas atau cak atau kang... Om-Om itu kesannya tua. Padahal ya memang sudah di atas 40 atau 50 tahun.

"Panggil aku bung," kata kenalan yang seniman musik.

Bahkan muridnya yang SD pun memanggil guru jelang sekte ini dengan bung.... Kayak bung Karno aja. Hehehe. .. Oh ya Soekarno budayawan senior di Porong dekat Lapindo pun terkenal dengan Bung Karno. Usainya di atas 70.

Lain di Jawa, khususnya Surabaya Sidoarjo Gresik Malang... lain pula di NTT. Khususnya kabupaten Flores Timur dan Lembata yang etnis Lamaholot. Panggilan paman atau om atau bapa kecil (lawannya mama kecil alias tante) justru bernilai sangat tinggi. Bahasa Lamaholotnya opu, nana, ama, atau ama kaka.

Kata sandang om atau paman atau opu atau nana di bumi Lamaholot tidak ada urusan umur. Tapi hubungan kekerabatan atau silsilah seseorang. Juga posisi kita dalam struktur adat istiadat. Seorang anak kecil SD pun wajib dipanggil om atau nana kalau dia keturunan marga ibu kandung kita. Om cilik alias paklik itu sangat dihormati karena sukunya yang memberikan wanita yang melahirkan keturunan untuk suku kami.

Jenazah seorang Lamaholot tidak bisa dikuburkan jika para om alias opulake tidak datang ke rumah duka. Apa pun permintaan om-om harus dituruti. Inilah ketentuan adat Lamaholot turun temurun.

Maka betapa bangganya orang Flores Timur disapa om atau opu atau nana atau paman. Kita justru tersinggung dipanggil kakak atau abang oleh orang yang jelas-jelas ibunya dari marga kita. Sebaliknya kita yang berstatus om atau paman, dalam adat Lamaholot, berkewajiban memberikan tumpangan atau perlindungan kepada para keponakan itu.

Begitulah. Lain lubuk lain ikan. Maka kalau dipanggil om atau paman, saya sih tenang aja. Yang gak senang itu biasanya om-om senang di Jawa yang selalu merasa muda dan... kadang suka n gopi2 dengan cewek seusia anaknya.

Wkwkwkwk.... belajar ketawa ala amrik!

1 comment:

  1. Sama om, saya sukanya dipanggil mas. wkwk.
    Nice post. Salam kenal.

    ReplyDelete