30 March 2016

Kaset terakhirku Godbless 36th

Inilah kaset pita terakhir yang saya beli. Godbless 36th. Album terakhir rock band lawas yang dimotori Achmad Albar, Ian Antono, Donny Fatah...

Wow.. sudah lama banget. Sebab album berisi 10 lagu ini dirilis tahun 2009. Saya sempat ketemu dan ngobrol dengan keluarga besar Godbless setelah album ini keluar. "Susah dijual," kata Ian Antono kepada saya di Surabaya.

Saat itu Mas Ian yang asli Arema arek Malang ini ditemani istrinya mbak Titik. Ada juga Albar yang tetap berjiwa muda dan senang gandeng cewek cakep. Juga mas Abadi Soesman, arema juga.

Album Godbless 36 ini benar-benar jeblok. Mungkin album paling gak laku sepanjang karir Albar dkk. Sebab industri musik tengah mengalami revolusi. Kaset yang analog sudah diganti digital. Belum lagi orang bisa dengan mudah share lagu via HP. Siapa yang mau beli kaset?

Manajemen Godbless sangat paham pasar. Dia bikin versi digital juga. Tapi tidak ada promosi di televisi. Maka begitulah nasib album studio terakhir Godbless itu. (Semoga masih sempat bikin single atau album lagi.)

Bagi saya yang gemar Godbless sejak SMA, Godbless adalah jaminan mutu. Ian Iyek Donny Abadi... dulu ada Yockie dan Set selalu total dalam menggarap musik. Gitaris Ian Antono sampai sekarang seng ada lawan... setidaknya menurut saya. Achmad Albar oke punya.

Hard rock ala Godbless selalu enak. Keras tapi melodius. Syair lagunya kelas tinggi. Wawasan mereka luas. Tidak melulu cinta kayak band2 kebanyakan. Karena itulah, saya selalu membeli kaset2 Godbless sejak dulu. Album Cermin dan Semut Hitam paling saya suka.

Sementara itu, industri musik berubah drastis. Musik hard rock ala Godbless dianggap tidak marketable. Beberapa band pop melejit tapi tak tahan lama. Beda dengan Godbless yang masih eksis dan terus ngebet di mana2.

Boleh dikata tak ada lagi produksi kaset. Semua serbadigital. YouTube menawarkan hampir semua lagu Godbless (dan band2 apa saja) yang selama ini tak kita miliki albumnya. Dunia baru yang instan, asyik tapi neraka buat seniman2 macam Godbless.

Sejak itulah saya tak lagi membeli kaset. Beberapa kali beli CD tapi tidak serutin zaman kaset. Apalagi tidak ada band atau artis baru yang benar2 saya sukai. Lagu2 begitu mudah datang dan pergi tanpa nyanthol di kepala.

Bahkan aku ndak mudheng lagu2 Agnes Monica yang konon go international itu. Tapi konsumsi lagu justru meningkat via HP dan komputer kerja di kantor. Biasanya nomor2 lama atau instrumental eksotis dari Tiongkok atau Tibet.

Mungkin karena gandrung musik pada era kaset, saya tidak merasakan kenikmatan saat mendengar lagu2 via komputer, laptop, atau HP. Oh ya, saya membeli kaset pertama kali di Malang Plaza. Yakni album Michael Jackson BAD.

28 March 2016

Kapan terakhir ke toko buku

Kapan terakhir kali anda ke toko buku? Pertanyaan Pak Herman saat diskusi ringan teman-teman seniman di Sidoarjo.

Semuanya gelagapan. Termasuk saya. Sudah terlalu lama saya tidak mampir ke Gramedia. Padahal dulu saya sangat rajin ke toko buku terbesar di Indonesia ini. Seminggu bisa tiga kali. Cuma membeli satu dua buku tapi mengintip buanyaak buku.

Kadang saya mampir ke toko buku tanpa membeli apa-apa. Keluar dari misa di Gereja Katolik Kayutangan Malang, pasti saya mampir ke Gramedia di depannya. Asyik sekali menikmati bacaan-bacaan gratis karena buku-buku di Gramedia boleh diintip.

Tanpa terasa, peradaban buku cetak perlahan-lahan tergerus oleh datangnya internet. Lebih-lebih smartphone beberapa tahun terakhir. Sekarang diskusi di media sosial justru lebih gencar ketimbang membaca buku. Kebutuhan ke toko buku hampir tidak ada lagi. Padahal Gramedia makin banyak buka cabang di kota kecil macam Sidoarjo.

Selamat datang peradaban baru! Peradaban internet yang sangat revolusioner. Saya takjub dengan fenomena yang luar biasa ini. Apa saja bisa kita temukan di internet berkat mbah Google. Tinggal kuat baca saja.

Sejak duduk di SMP di Larantuka, Kabupaten Flores Timur, NTT, saya terkagum-kagum dengan puisi WS Rendra dan Chairil Anwar. Saya pun berusaha mencari buku puisi Rendra Potret Pembangunan Dalam Puisi. Tidak ketemu.

Hijrah ke Jawa, kuliah dan bekerja pun buku puisi Rendra itu tidak saya temukan. Tak ada di Gramedia. Lapak buku-buku bekas pun tak ada. Sebab puisi-puisi Rendra memang banyak penggemarnya. "Sudah laku," kata Lia penjual buku bekas langganan saya di Jalan Semarang, Surabaya.
Akhirnya datang peradaban Google. Saya pun iseng mengetik Potret Pembangunan Dalam Puisi WS Rendra. Wow... berlimpah ruah puisi-puisi itu. Bahkan semua puisi Rendra dimuat di berbagai blog pribadi para penggemar sastra.

Maka saya pun meng-copy paste puisi-puisi lama itu. Tapi gairah saya untuk membaca, bahkan menghafal puisi Rendra, tak ada lagi. Saya justru lebih tergonda untuk ikut nimbung diskusi di grup teman-teman Sidoarjo. Sekalian mengintip trending topics di kota petis yang kini terkenal karena semburan lumpur Lapindo itu.

Kemarin saya bersepeda melintas di depan toko buku Gramedia Pucang, dekat samsat Surabaya. Tak ada lagi gairah untuk mampir. Apalagi saya lihat akhir-akhir ini banyak buku cetak yang sejatinya cuma hasil print out dari internet. Lebih konyol lagi hasil mencuri alias copy paste dari blog-blog atau situs tertentu.

"Kualitas buku sekarang jauh menurun. Dibandingkan sebelum ada internet," kata wartawan senior yang biasa jadi editor resensi buku di surat kabar.

Berkat internet, khususnya mbah Google, sekarang ini banyak orang yang tiba-tiba jadi ahli sembarang ilmu. Bisa menulis buku tentang budidaya kelor, fenomena Jokowi dan Ahok, tren hijab, hingga kiat-kiat menulis agar dimuat di media cetak.

Seorang motivator yang masih lumayan muda, jelang 40, pun rajin menerbitkan buku. Setelah saya baca isinya, ternyata semua hasil kerajinan googling di internet. Kemudian dioplos, dikasih komentar sedikit, dibumbui humor ala sinetron Jakarta, lalu diterbitkan. Foto-fotonya pun hasil mencuri di internet.

Syukurlah, para intelektual Barat masih setia menerbitkan buku dengan kecintaan, gairah, dan passion ala pra internet. Semua informasi diverifikasi ke sumber primer. Turun sendiri ke lapangan untuk wawancara, riset, motret dsb.

Buku-buku terjemahan dari Barat inilah yang masih sangat layak kita baca. Intelektual dalam negeri yang masih konsisten menulis dengan kedalaman pemikiran tidak banyak lagi. Dan kebetulan penulis-penulis serius ini dari kalangan romo-romo seperti Prof Frans Magnis Suseno SJ, Sindhunata, atau Prof Glinka SVD.

Pak Herman, budayawan senior Sidoarjo, mengatakan peradaban internet dan media sosial harus diterima sebagai dinamika kehidupan. Tidak bisa dibendung. Inilah zaman ketika buku-buku dan media cetak tak lagi jadi primadona seperti sebelum 2000.

"Mungkin suatu saat masyarakat tidak perlu membaca lagi," kata Herman yang tinggal di Waru. "Kalau semua sudah bisa online, ngapain capek-capek mencetak buku yang ongkosnya mahal?"

Wah, wah....

26 March 2016

Sinar Harapan dan Terbit memilih mati

Ada peristiwa besar yang luput dari perhatian masyarakat. Dua koran besar di Jakarta dengan sukarela memilih mati. Harian Sinar Harapan per 1 Januari 2016 dan harian terbit 1 Maret 2016.

Dua koran itu, khususnya Sinar Harapan, pernah berjaya pada masa Orde Baru. SH beberapa kali dibredel karena berani memuat berita2 yang dilarang rezim otoriter itu. SH juga dikenal dengan liputan2 mendalam dan investigative reporting. Omzet iklan SH hanya kalah dari Kompas.

SH alias Sinar Harapan akhirnya dibredel lagi pada 1986. Untuk selamanya. Kemudian muncul Suara Pembaruan sebagai pengganti SH tapi tidak sehebat SH. Peter A Rohi (FOTO pakai kaos merah) wartawan senior andalan SH kemudian menghidupkan lagi arwah SH setelah orba tumbang.

"Saya ingin SH menjadi koran yang berpengaruh dan independen," kata Om Peter Rohi kepada saya di Surabaya. Om asal Timur mantan KKO ini memang sejak dulu tinggal di Surabaya meski lebih banyak waktunya di Jakarta dan kota2 lain.

Bisa ditebak, SH, Terbit, dan media2 cetak lain kelimpungan di era internet, media sosial dan TV berita yang makin buanyaaak. Informasi tak lagi lewat majalah atau surat kabar seperti era pra internet. Ponsel modern menimbulkan gairah media sosial yang luar biasa.

Masyarakat makin kecanduan medsos. Sangat jarang orang Indonesia hari ini yang kecanduan koran atau buku. Koran gratisan pun sering tidak dibaca. Sebaliknya orang rela keluar duit untuk beli paket internet. Atau mampir cangkrukan di warkop untuk nebeng wi-fi.

Apakah ini yang bikin SH dan Terbit bangkrut? Tidak juga. Peter A Rohi bilang kualitas surat kabar itu sendiri yang tidak bisa mengikuti perkembangan masyarakat yang makin well informed. Sehebat-hebatnya medsos, akurasi dan kedalamannya tentu tidak sebagus koran atau majalah.

Koran sore macam SH menurut Peter Rohi harus menampilkan berita-berita mendalam. Indepth reporting. Bukan berita-berita pendek ala portal online atau breaking news. "Orang ingin tahu ada apa di balik isu tertentu. Ini yang tidak ada di koran," begitu Peter menilai koran SH yang membuat reputasinya mencorong di jurnalistik Indonesia.

Mengapa SH tidak bikin liputan mendalam atau investigasi? "Beta sonde tahu. Saya sudah lama keluar," ujar Peter seraya memperlihatkan bundel SH di masa Presiden Gus Dur.

Peter A Rohi benar-benar kerja keras untuk SH. Termasuk membawa ribuan bukunya dari Surabaya untuk perpustakaan koran di awal terbit pasca reformasi. Dedikasi luar biasa. Tanpa dibayar oleh pengusaha alias penerbit. "Beta memang tidak pikir duit. Yang penting bekerja sebaik mungkin untuk jurnalistik."

Terlalu panjang cerita perjalanan SH era 2000an. Singkat kata, merugi terus menerus. Sulit bertahan di era baru ketika pemerintah tak bisa membredel pers. Justru pasar lah yang menentukan nasib media.

"Tapi media cetak masih punya masa depan," kata Peter A Rohi. Tak ada kata menyerah untuk jurnalis dewa yang sukses membongkar sejumlah skandal di tanah air pada era 80an dan 90an itu.

Peter benar. Sinar Harapan, Terbit, dan banyak lagi media cetak sudah masuk liang kubur. Tapi fakta menunjukkan omzet surat kabar justru naik... secara umum. Omzet iklan media2 online di Indonesia justru masih kecil.

"Jujur aja omzet edisi online satu tahun ternyata sama dengan omzet edisi cetak satu minggu," ujar pewarta senior di koran besar terbitan Jakarta.

Karena itu, pesan Peter A Rohi dari almarhum Sinar Harapan layak disimak. Content is the king! Kedalaman berita, investigative reporting... perlu diperbanyak media cetak. Sebab media cetak senantiasa akan ketinggalan dari online, apalagi breaking news televisi.

Selamat jalan sahabat Sinar Harapan dan Terbit. Kalian telah berjasa dalam peradaban jurnalisme cetak di Indonesia.

Ketemu buku misa Latin era 1960an

Beberapa hari lalu saya menemukan buku misa lama di lapak buku-buku bekas di Surabaya. Tahun terbit 1958. Saat itu ekaristi atau misa di seluruh dunia masih pakai bahasa Latin. Saya tak sempat mengalaminya. Pun tak pernah lihat bukunya.

Karena itu, gembira betul hati saya menemukan buku liturgi katolik yang bersejarah itu. Oh... ini to gaya misa tahun 1960an di Indonesia. Sejatinya sama saja dengan sekarang. Cuma beda bahasa.

Liturgi sekarang hanya menerjemahkan teks bahasa Latin itu. Yang paling berkesan buat saya adalah Exsultet untuk malam Paskah. Saya bandingkan dengan versi misa Vatikan di YouTube. Wow... cocok 100 persen kata-katanya dari awal sampai akhir.

Inilah bedanya versi Latin dengan Indonesia. Di sini versinya macam-macam. Yang di Puji Syukur agak beda dengan Mudah Bakti. Beda pula dengan Syukur kepada Bapa yang dulu dipakai di NTT khususnya Flores.

Kok bisa beda gitu? Bukankah teks aslinya sama-sama dari Vatikan? Ini juga menunjukkan bahwa bahasa Indonesia sangat tidak stabil. Terjemahan era 60an terasa kurang pas di tahun 2016. Beda dengan versi Inggris yang sangat mendekati versi Latin.

Apakah kita umat Katolik di Indonesia harus back to Latin mass? Tentu tidak. Sebaik-baiknya bahasa Latin masih lebih baik bahasa pribumi. Lagi pula siapa yang paham bahasa Latin yang dianggap bahasa mati itu?

Tapi setidaknya dengan memiliki buku lawas yang sangat langka ini, saya bisa mengikuti perjalanan liturgi katolik di Indonesia. Sekaligus bisa mengikuti misa di Vatikan via internet.

Isu pribumi vs nonpribumi yang merusak

Isu pribumi dan nonpribumi marak lagi di media sosial. Di grup warga Sidoarjo. Seorang anggota yang asli Jombang, tapi ber-KTP Sidoarjo share berita agak lawas tentang majikan menganiaya pembantu. TKP di Surabaya Barat. Orang langsung ngeh itu perumahan elite, majikannya Tionghoa.

Bukankah kasusnya sudah ditangani polisi? Mengapa perlu diangkat isu pribumi vs nonpribumi? Toh siapa saja bisa stres, kalap, dan menganiaya orang lain. Entah pembantu, sopir, tetangga, teman, pacar, istri, anak dsb. Mengapa harus diangkat jadi topik diskusi yang merembet SARA?

Syukurlah, warga Sidoarjo makin dewasa. Tak terpancing isu rasial khas orde baru itu. Tapi ada juga beberapa member (pakai akun samaran) masih berpikiran rasis. Belum bisa lepas dari doktrin orba yang memang sangat anti Tionghoa.

Rezim orba bahkan mengharamkan bahasa Mandarin. Seni budaya Tionghoa dilarang. Lagu-lagu pop mandarin hanya boleh didengar di kamar. Kalau ketahuan bisa berhubungan dengan aparat. Kelenteng-Kelenteng-kelenteng pun mau dibongkar. Orang Tionghoa harus ganti agama. Anehnya, film-film kungfu Hongkong justru boleh diputar. Dan sangat digemari.

Kembali ke diskusi pribumi vs nonpribumi. Kita tidak perlu teori ilmu sosial, politik, sejarah dsb yang ndakik-ndakik. Kita kasih contoh nyata saja. Bingky Irawan tokoh Khonghucu di Sepanjang Kecamatan Taman Sidoarjo, sahabat almarhum Gus Dur. Pak Bingky jelas keturunan Tionghoa. Leluhurnya asal Fujian Tiongkok.

Nah, apakah Pak Bingky Irawan masih layak disebut nonpribumi? Wong leluhurnya sudah tinggal dan buka toko di Sepanjang sejak zaman Belanda. Beliau sendiri juga tidak punya hubungan dengan keluarga leluhurnya di Cungkuo. Selalu berjuang untuk demokrasi dan kemajuan warga Sidoarjo dan Jatim umumnya.

Tante Tok di pecinan kawasan Jalan Gajah Mada Sidoarjo. Apakah fair kalau beliau disebut nonpribumi? Sedangkan leluhurnya pun tinggal di Sidoarjo sejak 1930an. Beliau juga tidak pernah berpindah kota.

Sejak lahir sampai usia 70an tahun tetap setia di Sidoarjo. "Aku iki wong Darjo," kata tante yang ramah ini. Makanya tante ini selalu jadi jujukan saya ketika membuat cerita tentang suasana Sidoarjo masa lalu. "Biyen Darjo iku ndeso banget..."

Beda dengan Bingky Irawan dan Tante Tok, teman-teman grup yang mengangkat isu rasial ini semuanya pendatang. Umumnya tinggal di perumahan. Mana ada warga Darjo asli tinggal di perumahan-perumahan?

Penghuni perumahan ini berasal dari berbagai kota di Jatim: Jombang, Jember Banyuwangi Pacitan Ngawi dsb. Juga luar Jawa Timur dan luar Jawa. Ada pula yang ekspatriat. Sebab cukup banyak perusahaan asing di Darjo.

Bagi saya, para pendatang yang bukan asli Sidoarjo ini pantas disebut nonpribumi. Entah dia suku Tionghoa, Jawa, Sunda, Flores, Maluku, Sumatera, Kalimantan... dsb. Tidak peduli ras, agama, warna kulit, rambut, mata sipit atau bukan dsb.

Di Sidoarjo saya pun nonpribumi meskipun bukan Tionghoa. Saya pribumi di Flores Timur tapi di Sidoarjo saya nonpri. Mas Agus pribumi Jombang tapi nonpri di Sidoarjo. Begitu pula mbah Telo, Pak Hartono, Pak Ali... dan hampir 90 persen anggota grup medsos. Yang benar-benar asli alias pribumi Jenggolo sangat sangat sedikit.

Ahok itu pribumi di Belitung tapi nonpribumi di Jakarta. Baik pribumi maupun nonpribumi sama-sama berhak memilih dan dipilih sebagai pejabat. Yang penting sudah WNI atau warga negara Indonesia.

Ironisnya, beberapa teman sesama pendatang getol sekali mengangkat isu rasial ini untuk menyerang Tionghoa. Lupa bahwa Tionghoa Darjo seperti Tante Tok, Pak Bingky, Pak Gunawan, Pak Njoo... yang berada di pecinan Darjo itu sejatinya sudah sangat layak menyandang status pribumi semenjak beberapa generasi lalu.

Kita yang baru 10 tahun atau 20 tahun atau 30 tahun pegang KTP Sidoarjo sering merasa lebih pribumi dari warga Tionghoa di pecinan.

24 March 2016

Kangen Misa Kamis Putih

"Tanggal merah hari Jumat itu libur apa?"

Begitu pertanyaan beberapa teman di Surabaya. Pertanyaan sama ini diajukan tahun-tahun lalu. Mungkin tahun depan nanya lagi... dst.

"Jumat Agung!" jawabku.

"Jumat Agung itu apa? Mengapa disebut agung?"

Ndak habis-habis pertanyaannya. Jawaban kita ndak akan nyanthol. Tahun depan nanya lagi. Padahal ada mbah Google yang tahu segalanya.

Ini Jawa bung! Bukan Flores NTT. Umat katolik di kampung halamanku di Flores Timur sana mempersiapkan pekan suci ini dengan istimewa. Ekaristi Kamis Putih.. Jumat Agung... Sabtu Suci... Minggu Paskah begitu meriahnya. Jauh lebih meriah ketimbang Natal.

Di Surabaya dan Sidoarjo juga sangat meriah. Petugas liturgi, pasio, paduan suara... lebih bagus ketimbang di NTT. Tapi itu cuma di lingkungan gereja katolik thok. Keluar dari gereja tak ada apa-apanya. Tak heran teman-teman justru banyak bikin acara saat libur Jumat Agung dan Sabtu malam.

"Bung jangan lupa malam minggu ada show wayang. Ada kajian film pendek dsb...," kata beberapa teman di Sidoarjo.

Teman berpendidikan tinggi itu tidak tahu kalau malam minggu itu vigili Paskah. Ekaristi paling wajib untuk umat Katolik. Upacara cahaya. Exsultet. Pembaruan janji permandian... Misa paling lama tapi berkesan dalam liturgi gereja. Akankah saya memilih nonton film atau wayang kulit? Hehehe....

Begitulah. Kekristenan atau kekatolikan masih asing di Jawa Timur. Orang tahunya nasrani thok. Tanpa tahu hari besarnya selain Natal 25 Desember. Tidak kenal Minggu Palem. Kamis Putih. Jumat Agung. Malam Paskah. Minggu Paskah.

Saya sendiri sudah lama tidak bisa ikut ekaristi Kamis Putih. Wong malam hari harus bekerja. Sementara misa selalu malam. Pulang kantor misa sudah selesai. Apa boleh buat, saya hanya bisa ikut teguran tengah malam. Masih untung liturgi Jumat Agung dan Sabtu Paskah selalu ikut.

Karena itu, saya selalu kangen lagu UBI CARITAS ET AMOR DEUS IBI EST. Versi Indonesia : Jika ada cinta kasih... hadirkan Tuhan!

Lagu ini hanya dinyanyikan setahun sekali, ya saat Kamis Putih itulah. Dinyanyikan saat upacara pengasuhan kaki. Imam membasuh kaki 12 orang simbol para rasul saat perjamuan terakhir. Melihat lukisan the Last Supper, saya selalu teringat lagu bagus ini.

CONGREGAVIT NOS IN UNUM
CHRISTI AMOR
EXSULTEMUS ET IN IPSO
JUCUNDEMUR

Hotel rumahan pakai aplikasi?

Ribut-ribut bisnis ojek dan taksi berbasis aplikasi membuat saya teringat kompleks peziarahan Katolik di Jawa. Dulu saya biasa ziarah ke Puhsarang Kediri dan Sendangsono Jogjakarta. Dua tempat ziarah favorit umat Katolik di tanah Jawa.

Kalau tidak ikut rombongan, biasanya saya menginap di rumah penduduk dekat Gua Maria. Dari dulu banyak warga menyediakan satu sampai empat kamar kosong untuk disewakan. Tarifnya lebih murah ketimbang wisma atau hotel. Termasuk Wisma Bethlehem milik gereja.

Di Sendangsono saya menginap di rumah Pak Warno, di atasnya Gua Maria Lourdes yang terkenal itu. Beliau tidak patok tarif. Kita malah diajak makan bersama keluarganya. Ini membuat kita seakan bermalam di rumah sendiri. Benar-benar homestay.

Menyewakan kamar kosong untuk peziarah jelas menguntungkan warga Puhsarang. Dapat duit lumayan banyak. Apalagi Mei dan Oktober bulan ziarah umat Katolik ke gua-gua Maria. Kalau tidak disewakan, tak akan ada duit masuk. Inilah yang membuat bisnis penginapan sangat marak di Puhsarang.

Nah, belajar dari ojek dan taksi online, rasanya bisnis penginapan atau hotel rumahan bakal tumbuh. Si pengusaha tidak perlu capek-capek bangun hotel, investasi besar, menggaji karyawan dsb dsb. Tapi dia punya ribuan kamar. Dan tersebar di seluruh penjuru kota.

Cukup buka aplikasi. Siapa saja yang punya kamar kosong, minimal dua, bersih, kamar mandi bisa dalam bisa luar... silakan daftar. Lalu disurvei sebentar. Kemudian masuk jaringan aplikasi penginapan online.

Saya kira banyak warga perkotaan mau merelakan beberapa kamarnya untuk losmen sederhana. Apalagi buanyaaak rumah di Surabaya yang kosong karena ditinggal pemiliknya ke kota lain. Duit bisa mengalir terus setiap malam.

Kelebihan homestay berbasis online adalah kepastian kamar. Di Puhsarang kamar-kamar sering penuh pada bulan ziarah. Kita pun terpaksa bermalam di wisma yang tarifnya dua tiga kali lipat mahalnya.

Apakah pengusaha-pengusaha hotel konvensional akan mengamuk seperti taksi-taksi lama itu? Rasanya kok tidak. Sebab hotel-hotel itu punya segmen pasar sendiri-sendiri. Kamar-kamar online ini toh lebih cocok untuk para backpacker yang duitnya terbatas.

Mereka cuma butuh tidur dan mandi saja. Tidak perlu televisi, internet, dan hiburan lainnya. Wong namanya juga ziarah alias devosi... sambil misa malam Jumat Legi di Puhsarang.

Di NTT semua motor jadi ojek

Jauh sebelum ribut-ribut soal taksi berbasis aplikasi, dan ojek Golek, di NTT sudah lama berlaku taksi dan ojek plat hitam. Ini jadi solusi efektif problem ketiadaan angkutan umum. Kupang, ibukota provinsi NTT, yang memulai bisnis ojek dan taksi taksian itu.

NTT itu daerah termiskin di Indonesia. Jangan bayangkan ada taksi pakai argometer kayak di Surabaya. Mobil penumpang umum sangat sedikit. Maka kita akan kesulitan kalau turun di Bandara Eltari Kupang. Harus "koordinasi" dengan temain atau keluarga saat boarding agar dijemput.

Bagaimana kalau tidak punya keluarga di Kupang? Jangan khawatir. Hampir semua sepeda motor bisa dijadikan ojek. Anak-anak muda itu siap mengantar kita ke mana saja. Jauh dekat mereka siap. Cukup Rp 50 ribu kita bisa keliling Kota Kupang.

"Bung tolong catat beta punya nomor HP. Mungkin suatu saat perlu dijemput di bandara," kata tukang ojek yang selalu ramah.

Bagaimana kalau barang bawaan kita banyak? Tak mungkinlah naik ojek motor. "Tenang saja bung... ada taksi di sebelah. Bapak Anton kan punya oto," kata teman.

Oto alias mobil ini jelas bukan taksi beneran. Plat hitam. Tapi semua orang di wilayah RW itu sejak dulu menganggapnya taksi. Pak Anton siap antar jemput ke mana saja. Dan kapan saja. Mobil-mobil lain pun diberdayakan sebagai taksi plat hitam.

Orang NTT rupanya kurang paham bahwa mobil plat hitam bukan kendaraan umum. Tahunya ya kendaraan apa saja bisa dipakai mengangkut penumpang. Toh sama-sama-sama butuh. Dia butuh uang, kita butuh ke bandara on time schedule.

Di Kabupaten Lembata dan Flores Timur, ojek sepeda motor paling populer. Semua motor nganggur bisa diajak untuk mengangkut penumpang. Lumayan dapat duit ketimbang motor nganggur atau dipakai sendiri.

Ojek motor yang marak ini juga efektif menghancurkan bisnis kendaraan umum baba-nana Tionghoa yang sangat berjaya sampai awal 2000an. Orang desa seperti saya sangat lelah menunggu angkutan pedesaan yang cuma sekali hari dari kota ke kampung saya. Bahkan ketika saya kecil cuma seminggu sekali.

Dengan ojek, kita bisa ke kota kapan saja kita mau. Kota Larantuka dan Lewoleba yang dulu rasanya jauh kini terasa dekat. Cuma 40 menit dari kampungku. Saya pun tidak perlu lagi bermalam di ibukota kabupaten kalau hendak naik pesawat Susi Air ke Kupang.

Terima kasih tukang-tukang ojek di NTT.

Bagaimana dengan ojek atau taksi aplikasi internet?

Sulit hidup di NTT. Bukan apa-apa. Sinyal seluler sangat lemah, nyaris tidak ada. Itu pun cuma Telkomsel khususnya kartu As. Tidak ada operator lain yang bangun tower di pelosok NTT. Tanpa repot-repot cari sinyal, kita tinggal jalan kaki ke rumah tetangga yang punya motor atau mobil. Sangat efektif.

Hanya saja, demam ojek motor ini menghilangkan fungsi sosial mobil pribadi dan sepeda motor. Dulu ketika saya SD di pelosok Lembata, pengendara motor pasti berhenti untuk mengajak pejalan kaki untuk menumpang... kalau kosong di belakang. Diantar sampai ke rumahnya. Gratis.

Sekarang fungsi sosial berubah jadi fungsi ekonomi. Tak ada lagi yang mempersilakan kita membonceng gratisan. Kalau ikut ya bayar. Meskipun jaraknya tak sampai dua kilometer. Bisnis ojek... dan bisnis-bisnis lain memang tidak kenal saudara, teman, tetangga dsb.

Sekarang semua orang dianggap konsumen alias pembeli jasa. Bahkan, kalau masih kerabat, kita justru dituntut memberi duit lebih banyak ketimbang ojek yang bukan lingkaran dekat keluarga kita.

Emilia Contessa itu siapa?

Emilia Contessa kemarin berkunjung ke sebuah home industry di Taman Sidoarjo. Penyanyi lawas 80an dan 70an itu ingin melihat perusahaan milik Pak Eka yang semua karyawannya difabel.

Orang-orang yang fisiknya tak sempurna tapi kreatif. Bikin lukisan kaca, perabot rumah tangga dsb. Kapasitas Emilia yang asli Banyuwangi saat itu anggota dewan perwakilan daerah (DPD).

"Emilia Contessa itu siapa pak? Katanya mantan penyanyi ya..," tanya Devi wartawan yang baru wisuda bulan lalu.

Oh Tuhan... gadis kota yang gaul ini ternyata tidak tahu Emilia Contessa. Meliput ke UKM difabel, ngobrol sama bu Emilia... tapi tidak tahu siapa wanita berbadan subur yang kini politikus itu.

"Bacalah di google.... Tabletmu itu jangan untuk medsos tok... Aneh, anakmu ora kenal Emilia Contessa. Opo maneh yang bukan seleb," kataku agak kesal.

"Pernah dengar Denada?" tanya saya lagi. Sedikit memberi petunjuk siapa gerangan Emilia Contessa. Denada tak lain putri Emilia Contessa. Penyanyi rap yang belakangan terjun ke dangdut. Suara Denada kalah jauuuuh dari mamanya.

Oh Tuhan... lagi-lagi tidak nyambung. Reporter baru itu pun gak nyambung. Denada iku sopo? Ya, informasinya di Google. Ada semua.

Saya pun geli, jengkel, tapi akhirnya jadi sadar dengan perubahan zaman dan selera. Betapa penyanyi Emilia yang alto, suara besar, juara festival nasional... kini tak ada jejak musiknya. Di kalangan anak muda macam Devi, Emilia tak lebih anggota DPD biasa.

Jangankan Emilia Contessa, Denada yang masih lumayan muda pun tak berjejak. Padahal pak Totok di warung tetangga sering banget menyanyikan "angin yang berhembus di akhir November..."

Saya pun masih menyimpan lagu rohani kristiani di ponsel suara E milia Contessa. "Tuhan... masihkah gerangan sembahku Kauterima..." Nomor gospel yang dulu terkenal banget di kampung saya.

Oh ya, Emilia pernah bikin album gospel saat masih jadi istri papanya Denada. Setelah cerai nikah lagi, kembali ke Islam. Cerita ringan macam itu tentu tak diketahui generasi Devi. Apalagi generasi yang lahir setelah 2005.

Saya belum tanya Bob Tutupoly, Broery Marantika, Muchsin dan Titiek Sandora, Harvey Malaihollo... dst. Kalau Rhoma Irama sih mungkin Devi dan teman sebaya tahu. Tapi Emilia Contessa?

Fakta sederhana ini memperlihatkan betapa seniman-seniman musik Indonesia begitu cepat hilang dari memori kolektif bangsa. Artis-artis datang dan pergi begitu cepat. Easy come easy go...

Jangankan Emilia Contessa, penyanyi-penyanyi era 2000an pun tak berjejak. Gak nyanthol blas di ingatan manusia Indonesia hari ini. Devi dkk tidak tahu kalau Putri Vinata yang baru dijebloskan ke penjara (kasus narkoba) itu pernah ngetop banget dengan goyang kayang. Saat Inul Daratista melejit dengan goyang ngebor.

Betapa kontrasnya dengan di Amerika atau Eropa. Madonna yang segenerasi Emilia Contessa masih keliling dunia. Eyang Mick Jagger yang lebih tua tetap eksis dan digemari bocah-bocah belasan tahun.

Rod Stewart.. Bon Jovi... Deep Purple... Scorpion... Bahkan generasi super lawas kayak Armstrong pun masih dirayakan musiknya meskipun orangnya sudah lama tiada. Industri pop di Barat selalu menjalin benang merah dengan seniman-seniman lawas.

Di Indonesia... seniman legendaris tak ubahnya pensiunan PNS, nelayan, petani, wartawan... atau pedagang batu akik. Apalagi artis-artis-artis yang cuma modal goyang heboh sesaat.

Karena itu, tidak salah kalau artis-artis lama memilih jalan politik untuk eksis. Emilia Contessa, Tetty Kadi, Nurul Arifin, Tantowi Yahya, Rhoma Irama, Pasha Ungu... dan yang heboh sekarang adalah Ahmad Dhani. Popularitas di jagat hiburan berlalu begitu cepat.

Mungkin lima tahun lagi anak-anak muda perlu masuk ke Google untuk mencari informasi siapa gerangan Ahmad Dhani, Milan Kwok, Maya Ratu, Inul, Padi, dsb.

22 March 2016

Keroncong Perlu Revolusi

Kemarin saya membaca pengumuman dari pak Musafir Isfanhari tentang lomba grup keroncong di Surabaya. Lomba diadakan pada 23 April 2016. Lumayan... banyak yang tertarik. Termasuk mbak Sri Mulyani penata tari dari Sidoarjo.

Saya geleng kepala dan tersenyum sendiri. Bukan apa-apa. Tujuh lagu yang ditawarkan panitia langgam/keroncong lawas. Bahkan super lawas kayak Di Bawah Sinar Bulan Purnama. Langgam klasik ciptaan Maladi pada masa penjajahan, 1940an.

Kemudian Tanah Airku, Janjimu, Semanggi Surabaya, Lenggang Surabaya, Tanjung Perak... Jembatan Merah. Semuanya lagu lawas.

Apakah tidak ada komposisi baru? Mengapa lomba ini tidak dipakai untuk memperkenalkan lagu-lagu keroncong edisi 2016? Apa sih susahnya bikin lagu keroncong yang sudah punya rumus itu? Jumlah bar sekian. Irama 4/4. Ada interlude dst...

Kalau para praktisi dan pembina musik keroncong masih seperti ini ya mandeg. Tidak ada greget. Lagu-lagunya masih corak 40an dan 50an, sementara zaman sudah jauh berubah. Tidak ada revolusi keroncong. Beda dengan Rhoma Irama yang merevolusi musik melayu menjadi dangdut pada 1970 bersama Soneta.

Dangdut alias orkes melayu kemudian menjadi sangat dinamis. Pakem-pakem lama ditinggalkan. Dimasuki rock ala bang Rhoma. Belakangan aipongan hingga koplo yang ngetren sejak era Inul pada 2003 hingga sekarang.

Rhoma Irama pun bingung karena revolusi dangdut justru membuat dangdut makin liar. Padahal pak haji ini menginginkan dangdut menjadi the sound of Islam. Hehehe....

Nah, keroncong ini tidak ada figur revolusioner ala Rhoma. Dulu ada mendiang Gesang yang dianggap maestro keroncong. Tapi Gesang simbol status quo. Sementara keroncong justru butuh orang-orang yang mendobrak status quo itu. Pernah ada gebrakan keroncong rock dan keroncong dangdut tapi layu sebelum berkembang.

Orang-orang keroncong macam bu Nurhayati di Sidoarjo justru pemuja keroncong gaya asli. Salah cengkok sedikit aja dia berteriak. Makanya murid-murid vokalnya kabur semua. Begitu pula pak Totok Siring, Sidoarjo, yang getol merawat lagu-lagu keroncong sulit macam Segenggam Harapan.

Saya pun bertanya kepada pak Musafir Isfanhari mengapa tidak ada lagu-lagu keroncong baru di lomba ini. Dosen musik di Universitas Negeri Surabaya ini menjawab lewat medsos:

"Hal itu juga sudah saya tanyakan ke panitya lomba. Jawaban panitya, lomba ini khususnya untuk menggaet pemusik keroncong remaja yg masih kesulitan membedakan mana keroncong mana stambul dan mana langgam.

"Karena itu dipilihkan lagu yg setidaknya sudah diakrabi oleh para pemula tadi."

Baiklah kalau begitu. Mudah-mudah ke depan ada revolusi keroncong. Revolusi mental pun berlaku di musik. Kalau tidak keroncong tinggal menjadi klangenan orang-orang tua... dan masuk museum musik Indonesia.





Dikirim dari ponsel cerdas Samsung Galaxy saya.

Budaya Mahasiswa NTT di Jawa

Pola pergaulan mahasiswa asal NTT rupanya menarik perhatian Nurcholis Sunuyeko. Kebetulan Pak Nur rektor IKIP Budi Utomo, Malang. Cukup banyak mahasiswa NTT yang kuliah di kampus itu.

"Mahasiswa NTT itu unik. Punya pola pergaulan yang khas," katanya.

Sekejap kelihatan sedikit eksklusif tapi sebetulnya luwes. Mudah bergaul dengan sesama mahasiswa maupun penduduk tempatan.

Maka, ketika mengambil program doktoral, pak Nur pun meneliti pola pergaulan perantau-perantau muda asal Flores Sumba Timor dan Alor alias Flobamora di Kota Malang. Oh ya.. Nusa Tenggara Timur lebih populer disebut Flobamora oleh orang NTT sendiri. Ada lagu "kebangsaan" berjudul Flobamora yang sangat terkenal.

Hasilnya? Menurut Nurcholis, mahasiswa NTT biasanya pada satu semester awal masih suka bergaul dengan kelompok sendiri. Setelah itu mereka akan berbaur dengan mahasiswa dari luar daerahnya.

Orang NTT pun cepat beradaptasi dengan budaya setempat. Termasuk mulai membiasakan diri belajar bahasa Jawa meski tidak mudah. Apalagi bahasa Jawa punya ragam kasar hingga sangat halus.

Proses adaptasi mahasiswa asal Flobamora tidak membutuhkan waktu lama. Berdasar pengalamanku, mahasiswa NTT biasanya segera mencari indekos baru di berbagai tempat. Tidak lagi bersama orang-orang-orang sedaerah. Mereka hanya bertemu sesekali di gereja, kampus, atau acara lain yang jarang digelar.

Ini pula yang menyebabkan ikatan-ikatan keluarga NTT di Jawa (biasanya tiap kabupaten bikin perkumpulan) tidak sesolid perkumpulan dari Batak atau Toraja atau Minangkabau. Bahkan acara Natal bersama atau Paskah masyarakat NTT sulit diadakan di Jawa.

"Kita kan sudah adakan di gereja masing-masing," begitu alasan teman. Arisan-arisan keluarga NTT pun buyar satu per satu.

Singkatnya, Nurcholis akhirnya dinyatakan berhak mendapatkan gelar doktor ilmu sosial. "Sangat memuaskan," kata Prof Dr Anwar Sanusi, ketua tim penguji.

Nurcholis menjadi doktor ke-200 yang dihasilkan Universitas Merdeka Malang. Salah satu kampus yang sejak dulu menjadi jujukan mahasiswa NTT selain Widya Karya Malang dan Dharma Cendika Surabaya.

21 March 2016

Kor Santri vs Kor Gereja

Festival paduan suara khusus santri di lingkungan Nahdlatul Ulama (NU) kemarin diadakan di Sidoarjo. Lomba seni suara ini dibuka Bupati Sidoarjo Saiful Ilah yang juga ketua PKB Sidoarjo sekaligus tokoh NU di Sidoarjo dan Jawa Timur.

Layaknya lomba atau festival paduan suara di tempat lain, festival paduan suara yang diadakan IPNU/IPPNU di Sidoarjo ini berlangsung meriah. Peserta berusaha tampil bagus dengan vokal yang harmonis. Kostumnya pun anggun.

"Selamat berlomba dan ukirlah prestasi setinggi-tingginya," kata Cak Nur, wakil bupati Sidoarjo yang juga santri senior.

Lomba paduan suara ini juga mendapat dukungan yang luas dari teman-teman peserta. Mereka datang untuk menikmati penampilan para peserta. Luar biasa!

Suasananya mirip lomba kor atau paduan suara di paroki atau gereja-gereja. Ini juga membuktikan bahwa paduan suara merupakan seni musik vokal yang universal. Kor atau choir atau paduan suara tak lagi identik dengan kristiani atau nasrani.

Semua orang yang punya suara bisa menyanyi. Asalkan punya kemauan dan dibimbing oleh dirigen atau pelatih yang sedikit banyak tahu ilmu membentuk suara dan conducting. Image masa lalu bahwa kor itu keseniannya orang Kristen/Katolik pun lenyap setelah melihat festival paduan suara ini.

Sejak 1980an, lebih-lebih 1990an, paduan suara memang mewabah di sekolah-sekolah dan perguruan tinggi. Kampus-kampus punya UKM (unit kegiatan mahasiswa) yang disebut PSM: paduan suara mahasiswa. Sulit membayangkan ada perguruan tinggi di Indonesia yang tak punya paduan suara.

PSM ini bertugas untuk membawakan himne, mars, lagu-lagu nasional dan daerah saat wisuda, dies natalis, dan sebagainya. Duit untuk pembinaan paduan suara tidak sedikit. Sebab anggota paduan suara biasanya lebih dari 100 orang. Konsumsinya saja berapa? Belum kostum, akomodasi, transportasi kalau ada perlombaan atau festival. Apalagi lombanya di luar negeri.

Saya perhatikan kualitas paduan suara di lingkungan sekolah-sekolah dan perguruan tinggi Islam meningkat luar biasa dalam 10 tahun terakhir. Kalau dulu jarang masuk 10 besar, sekarang kor-kor anak muda muslim ini justru selalu masuk unggulan. Bahkan dapat medali emas, perak, atau perunggu.

Beberapa waktu lalu paduan suara sebuah SMA di Pasuruan, yang semua penyanyi sopran dan alto pakai jilbab, menjadi the best dalam festival paduan suara di Tiongkok. Bung Andre, guru bahasa Mandarin, yang mendampingi siswa-siswi sekolah negeri yang sangat islami itu (wajib berjilbab dsb), terkaget-kaget.

"Anak-anak muda Islam sekarang jago-jago paduan suara. Lama-lama orang tidak lagi belajar paduan suara di kalangan gereja tapi ke sekolah-sekolah islami," kata teman yang Buddhis itu.

Hehehe... Musik itu universal. Tidak dibatasi sekat agama, ras, asal usul apa pun. Tuhan memberikan talenta kepada semua orang. Begitu jawaban saya untuk bung Andre alias Rong Xiang itu.

Pada 1990an, paduan suara mahasiswa Universitas Katolik Parahyangan Bandung selalu menjadi the best di Indonesia. Saking seringnya juara di tanah air, paduan suara yang didirigeni Avip Priyatna ini akhirnya lebih suka ikut festival di luar negeri. Hasilnya pun selalu juara.

Asal tahu saja, Avip Priyatna ini bukan aktivis musik liturgi Katolik atau anggota kor gereja. Agamanya Islam. Sampai sekarang pun Avip Priyatna tetap membina paduan suara dan orkes simfoni kelas wahid di tanah air.

Ketika mampir ke dua kampus negeri di Surabaya, ITS dan Unair, saya pun kembali menemukan gadis-gadis berjilbab (atau berhijab) sibuk berlatih vokal. Atau mempelajari partitur baru untuk festival paduan suara. Sebaliknya, ketika mampir ke markas mahasiswa Katolik dan Protestan (GMKI), saya hampir tidak pernah melihat adik-adik mahasiswa ini berlatih paduan suara.

"Sekarang lagi sibuk mendalami teorinya Abraham Maslow," kata seorang aktivis PMKRI sembari menunjukkan sebuah buku tebal penuh coretan stabilo.

Kapan latihan paduan suara? "Waduh, paduan suara itu urusan seksi liturgi. Kita jangan terlalu asyik dengan urusan seputar altar Bung!" jawabnya membuat saya tertawa kecil.

Aku teringat omongan teman-teman lama di PMKRI dulu. Jadilah garam dan terang dunia! Jangan cuma sibuk di gereja, abai pada perkembangan sosial politik budaya ekonomi... di masyarakat. Hehehe....

Kopdar medsos tidak efektif

Teman-teman grup medsos kemarin bikin acara kopi darat alias kopda di alun-alun Sidoarjo. Maksudnya sih agar grup yang anggotanya ribuan itu (tapi yang aktif betul cuma 20an) bisa tatap muka. Sebab selama ini mereka cuma guyon, perang gambar, diskusi dsb di dumay alias dunia maya.

Lumayan. Yang ikut kopdar 50 sampai 60 orang. Ngobrol sembari menikmati jajan pasar rebusan. Dipandu senior member, konco2 ini membahas usulan untuk Sidoarjo.

Soal banjir yang parah. Jalan rusak. Parkir langganan. PKL. Usaha kecil menengah. Sampah. SKPD... dan sebagainya. Meski sudah lama ngobrol di medsos, banyak peserta yang kikuk ketika kopi darat. Ndak ceplas-ceplos kayak di dumay.

Tapi jangan khawatir. HP sekarang bisa jadi teman bagus untuk mengalihkan perhatian. Bisa ngobrol di medsos, BBM-an dsb. Dan rupanya lebih banyak orang yang asyik main ponsel ketimbang diskusi. Hanya beberapa pentolan grup yang serius membahas program.

Edi Siswanto menulis di grup itu: "Sakno sing ngomong ra dihargai.... malah asik dg hpnya....apa guna kopdar......."

"Di rumah main HP, di tempat krj main HP, temu temen masih juga main HP.....enak di kamar ae.... Apalagi masuk toilet atau WC umum juga pakai hp..."

Beberapa anggota lain juga menulis status senada. Tapi mau gimana lagi? Grup medsos memang selalu begitu. Orang-orangnya memang pemain medsos yang gila-gilaan. Cerita apa saja di grup. Termasuk urusan tetangga atau rumah tangga yang tidak ada kaitan dengan visi misi grup.

Sebelumnya kopi darat juga dilakukan grup medsos yang lain. Ngelencer ke tempat wisata, diskusi budaya, sarasehan... Sama saja hasilnya. Yang datang segelintir. Itu pun lebih banyak yang main HP ketimbang fokus dalam diskusi. Tak lama kemudian bubarkan grup yang punya 10 ribuan anggota itu.

Sang pendiri grup pun kehilangan selera makan. Dia tak menyangka kalau grup medsos itu lebih banyak dipakai untuk guyon, godain wanita, perang gambar yang tidak sopan... hingga SARA. "Kalau begini caranya ya tak buat grup lawak ae," katanya.

Grup medsos yang saya lihat di Sidoarjo adalah forum kesenian. Diskusi nya serius tapi santai. Buanyaaak guyon tapi guyon yang ada kaitan dengan topik. Bukan guyonan ngeres yang sama sekali keluar dari isu pokok.

Mengapa teman2 kesenian ini bisa asyik diskusi di medsos? Karena mereka-mereka ini sudah berteman di dunia nyata. Sering diskusi, bikin pameran, ngopi bareng dsb. Karena itu, grup medsos justru semakin efektif untuk mempererat silaturahmi.

Dari obrolan ringan di medsos, mas Jagat dkk sering bikin kegiatan seni budaya di Sidoarjo. Begitu juga gagasan mas Jumaadi dari Australia bisa langsung direspons jadi aksi nyata. Teman-teman lama yang sudah tidak bertemu 10 tahun bisa ketemuan lagi.

Kasus main HP saat kopdar yang diceritakan mas Edi tadi kian membuktikan betapa susahnya grup medsos yang heterogen bisa efektif. Lebih baik grup-grup kecil yang seleranya sama, minat sama, daripada grup besar dengan ribuan anggota tapi tidak jelas juntrungannya.

20 March 2016

Amdo Brada main-main dengan bambu

Melihat begitu banyak bambu yang tidak terpakai, Amdo Brada pun
tertarik untuk membuat karya seni. Perupa senior itu saat ini tengah menyiapkan seni instalasi dari ribuan potong bambu. Seniman 56 tahun yang dijuluki kepala suku Pasar Seni itu mengaku mulai tertarik mencoba membuat seni instalasi daur ulang.

"Jujur aja, sekarang ini lukisan-lukisan sudah terlalu banyak. Over product. Makanya, saya mencoba mencari alternatif baru dengan memanfaatkan bambu. Barangkali saya bisa enjoy," ujar Amdo Brada di studionya di kawasan Pondok Mutiara, Sidoarjo, kemarin.

Tidak sulit mencari bambu-bambu kering di Sidoarjo. Harganya pun relatif murah. Bambu-bambu ini dipotong masing-masing satu ruas, ada juga yang dua ruas, untuk dibentuk menjadi instalasi tertentu. "Hasilnya seperti apa, saya juga belum tahu. Proses kerja saya itu mengalir begitu saja sambil ngopi-ngopi dan menikmati musik
keroncong," ujarnya seraya tersenyum.

Pelukis yang juga tengah memamerkan karya-karyanya di BG Junction Mall Surabaya itu memang penggemar berat lagu-lagu keroncong. Setiap kali melukis atau membuat karya seni tiga dimensi (trimatra), lagu-lagu keroncong lawas selalu mengalun di ruang kerjanya. Begitu pula saat membuat seni instalasi bambu ini. Hanya saja, kalau biasanya lukisan-lukisannya yang bernuansa etnik cepat selesai, Amdo tidak bisa memperkirakan kapan karya terbarunya ini rampung.

"Seni instalasi itu menyedot energi. Beda dengan melukis di atas kanvas," ujarnya.

Meski tergolong serius, Amdo Brada menganggap karya instalasi yang tengah digarapnya ini ibarat orang yang sedang asyik bermain-main. Santai tapi serius. "Saya itu sebetulnya lagi main-main daur ulang. Nek jenuh ngelukis yo gawe green art. Pokoke keroncongan terus," ujar pria yang perancang sejumlah taman di Sidoarjo itu.

Bagi Amdo, seorang seniman tidak boleh berhenti berkarya "selama hayat masih dikandung badan". Sebab, bahan-bahan dan ide untuk membuat karya seni sebetulnya sangat berlimpah di negeri ini.

"Makanya, kita harus berbuat. Sakjane aku ini wis loyo, tapi yo masih bisa kerja," katanya santai.

16 March 2016

Terkenang JS Badudu

Judul berita di koran Kompas pagi ini Lokasi Dadap Ditertibkan. Cerita tentang kompleks pelacuran di Tangerang Banten. Pemda setempat mau menutup kompleks itu.

Judul ini sangat umum. Klise. Hampir semua media menulis begitu. Kecuali majalah Tempo yang sangat tertib dan peduli bahasa. Kompas yang media besar sering tidak teliti memelototi kata-kata.

Lokalisasi itu apa?

Bisakah berdiri sendiri tanpa kata lain di belakang? Misalnya lokalisasi pedang sayur: tempat khusus yang disediakan untuk pedagang sayur. Lokalisasi pengungsi: pengungsi dikumpulkan di satu tempat. Begitu pula lokalisasi prostitusi atau pelacuran.

Tapi mau bagaimana lagi? Sudah kadung kaprah. Menyebut lokalisasi orang langsung membayangkan Dolly dan Jarak di Surabaya.. dulu. Lokalisasi seakan identik dengan pelacuran, germo, PSK dan seterusnya. Lama-lama orang enggan memakai kata lokalisasi yang asosiasinya seperti itu.

Lokalisasi Dasar ditertibkan. Kata ditertibkan mirip diamankan dalam berita-berita kriminalitas. Maksud diamankan itu ya ditangkap atau ditahan. Padahal arti harfiahnya membuat aman. Bisa juga memberikan rasa aman.

Mengamankan seperti apa? Sederhananya begini. Teman kita ketinggalan ponsel di kafe atau kantor. Kita bawa dan simpan agar tidak hilang. "Saya mengamankan ponsel Ali."

Tapi kalau polisi mengamankan pelaku pencurian?

Bisa saja. Biar tidak digebuk massa. Tapi sejatinya yang paling sederhana dan enak: Polisi menahan tersangka kasus pencurian.

Kembali ke penertiban lokalisasi. Istilah ini pun ngambang. Seakan-akan ada lokalisasi yang tertib dan tidak tertib. Padahal berita di halaman 28 itu menceritakan bahwa kompleks itu segera ditutup. Rumah-rumah bordil (bukan bordir) akan dibongkar. Sebanyak 727 PSK dilatih agar beralih profesi.

Mengapa judul berita tidak dibuat lugas saja? Misalnya: Lokalisasi Dadap Ditutup Bulan Depan. Mengapa pakai istilah ditertibkan yang kabur maknanya itu?

Sayang, Indonesia baru ditinggal empu bahasa Indonesia Prof JS Badudu. Beliau paling konsisten, tak kenal lelah, dan jeli membedah bahasa jurnalistik kita sejak 1970an sampai jelang ajal di usia 90 tahun. Pak Badudu pasti mengganti kata depan di dengan pada. (Yang benar: pada usia 90 tahun, bukan di usia 90 tahun.)

Ah.. jadi kangen membaca kolom-kolom-kolom JS Badudu: Inilah bahasa yang benar!

15 March 2016

Tari Oncor Tambayu karya Sri Mulyani



Tari Oncor Tambayu ditampilkan di Pendapa Delta Wibawa, Sidoarjo, belum lama ini. Disaksikan Bupati Sidoarjo Saiful Ilah, Wabup Nur Ahmad Syaifuddin, Ketua DPRD Sidoarjo Sullamul Hadi Nurmawan, dan pejabat-pejabat SKPD, gadis-gadis muda tampak anggun dan lincah membawakan tari karya Sri Mulyani itu.

Enam gadis remaja menjunjung oncor (obor bambu), mengambil oncor, kemudian menggerakkan lampu penerangan tradisional itu. Sri Mulyani ingin mengajak penonton untuk menengok sejenak keseharian para petambak di pesisir timur yang biasa membawa oncor ke tambak.

Di era modern ini, oncor bambu berbahan bakar minyak sudah diganti senter atau lampu ponsel. Bahkan, areal tambak pun semakin berkurang karena berubah menjadi perumahan, industri, atau pergudangan. Namun, Tari Oncor Tambayu ini setidaknya mengingatkan warga Kota Delta akan ikon udang dan bandeng, dua hasil tambak di Kabupaten Sidoarjo.

"Persiapannya sangat menyenangkan. Anak-anak sangat antusias meskipun rumah mereka jauh dari tempat latihan. Semangat mereka untuk berlatih luar biasa," kata Sri Mulyani.

Wanita kelahiran 17 Mei 1974 ini tak asing lagi di jagat tari-menari di Jawa Timur. Sri Mulyani pernah melanglang buana untuk menggelar karya tarinya. Hampir semua karyanya mengangkat aktivitas keseharian warga Sidoarjo. Mulai Tari Tayub Tambak, Kuntulan Kenthong Korek, Putri Pringel, Jaran Jondil, Ngereng Lajer, Aradea, Oncat TandaWurung, Jaran Jondhil, Panji Klaras Keboan Sikep, hingga Oncor Tambayu.

Lebih dari 50 tari telah dia ciptakan. Dan, hebatnya, sebagian besar tarian itu dipentaskan di festival-festival nasional, bahkan internasional. Biasanya Sri blusukan ke desa-desa untuk melihat langsung kesibukan warga tambak, khususnya kaum wanitanya. Para petambak di kawasan pesisir seperti Desa Tambakoso, Kecamatan Waru, selalu mengadakan syukuran di tambak pada malam hari dengan diiringi cahaya obor yang dibawa oleh gadis-gadis cantik.

Lalu, mulailah karyawan Bank UMKM Jawa Timur ini merancang aneka gerakan dan iringan musiknya. Sri juga selalu berusaha menanamkan filosofi tarian kepada para penarinya. Oncor Tambayu, menurut dia, bukan sekadar cahaya penerang dalam gelap, tetapi simbol penerang dalam ajaran kehidupan.

"Oncor deling sanepane eling. Pring apus sanepane. Ojo seneng apus-apus. Ilingo mring Gustine," kata sarjana seni tari lulusan STKW Surabaya itu.

11 March 2016

Annisa Nur Rachmawati Bintang Voli Sidoarjo di Markas Kowal



Cedera berkepanjangan membuat cita-cita Annisa Nur Rachmawati menjadi pemain bola voli andalan tim nasional Indonesia tak kesampaian. Padahal jalan ke sana sudah sangat dekat. Gadis manis asli Sidoarjo ini berhasil membawa timnya merebut medali emas pada pekan olahraga pelajar nasional (popnas) di Riau, 2012.

Saat itu tim Jawa Timur yang dimotori Anis, sapaan akrab wanita yang mengaku hobi mencari pahala ini, melibas lawan-lawan tangguh dari provinsi lain. Penampilan gemilang Anis pun membuat ngiler banyak klub voli di Indonesia. Bintang Sparta VC Sidoarjo ini pun jadi rebutan. Jatim tentu saja tak ingin kehilangan atlet andalan yang sangat taktis di lapangan itu.

Tak lama kemudian Anis seolah hilang di kancah bola voli nasional. Padahal beberapa pemain asal Sidoarjo tengah berjaya di pentas nasional. Salah satunya Maya Kurnia Indri yang cakep itu. Ke mana gerangan Anis? "Sudah diterima di Kowal," kata Pak Kamal, pelatih Sparta yang berjasa memoles bakat Anis sejak bocah cilik.

Ya.. Tahun 2012 itu, selepas popnas di Riau, Annisa Nur Rachmawati resmi bergabung dengan TNI Angkatan Laut setelah menempuh pendidikan di Surabaya. Materi tes yang sering dianggap berat itu ternyata mudah dilalui Anis yang bintang voli itu. "Alhamdulillah, saya sekali tes masuk," kata perempuan bertinggi badan 170 sentimeter itu.

Sebagai kowal, pihak TNI AL tentu saja ingin agar Anis ikut mengharumkan nama korps Angkatan Laut itu lewat bola voli. Apalagi ada beberapa pemain muda jempolan yang juga sudah bergabung dengan kowal. Sayang, Anissa mengalami cedera ligamen yang sangat serius. Cedera yang mengakhiri karirnya di lapangan voli.

"Ligamen di lutut pecah. Sampai saat ini masih trauma buat latihan lagi," katanya. "Maka, sekarang saya pensiun karena cedera yang traumanya tidak berkesudahan. Sekarang saya mengabdi kepada negara..," begitu kata-kata Anis di salah satu akun media sosialnya.

Anis mulai tertarik menekuni bola voli sejak kelas 4 sekolah dasar di Sidoarjo. Dia bergabung dengan Sparta VC yang tempat latihannya di pojok selatan-barat alun-alun itu. Latihan fisik, teknik, dan taktik yang sangat keras tidak menyurutkan semangat Anis untuk berlatih. Pada 2006 Anis terpilih memperkuat tim Liga Remaja Kabupaten Sidoarjo.

"Kemampuan Anis itu bahkan menyamai kakak-kakaknya yang di SMP. Padahal dia masih anak SD," kata Pak Kamal, pelatih yang banyak mencetak pemain-pemain bola voli top dari Sidoarjo.

Sejak itulah Anis selalu masuk dalam tim utama bola voli putri Kabupaten Sidoarjo. Mereka nyaris tidak pernah kalah di berbagai kejuaraan tingkat Provinsi Jawa Timur. Sampai sekarang pun tim putra-putri Sidoarjo selalu memborong medali emas dalam pekan olahraga provinsi alias porprov.

"Saya ini sebetulnya ingin selalu bermain (di level tinggi). Tapi rupanya trauma yang saya alami ini belum bisa hilang," katanya.

Cedera memang momok paling menakutkan atlet-atlet profesional. Tapi cedera pula telah membuat Anis semakin larut untuk "mengabdi kepada negara" (kata-kata yang selalu dia ulang) lewat kowal.

Selamat mengabdi, Nis!

08 March 2016

Beda Oom di Jawa dan Flores

Sakit rasanya aku dipanggil oom. Begitu kira2 kalimat seorang terkenal yang saya baca di koran tadi.

Kenapa sakit? Tidak dijelaskan. Tapi sudah pasti karena dia tidak suka dianggap tua. Merasa selalu muda. Forever young... I want to be forever young... Begitu syair lagu lama yang melodinya enak nian. Kesukaan teman kuliahku dulu.

Komponis dan pianis kelas wahid Slamet Abdul Sjukur pun tidak suka dipanggil bapak atau pak. Almarhum yang sudah 70an tahun ingin disapa mas Slamet. Sampai tutup usia jelang 80 tahun.

Di Jawa Timur sebagian besar orang juga kurang suka dipanggil om atau pakde atau paklik atau paman atau bapak. Mereka lebih suka disapa mas atau cak atau kang... Om-Om itu kesannya tua. Padahal ya memang sudah di atas 40 atau 50 tahun.

"Panggil aku bung," kata kenalan yang seniman musik.

Bahkan muridnya yang SD pun memanggil guru jelang 50 ini dengan bung.... Kayak bung Karno aja. Hehehe. .. Oh ya Soekarno budayawan senior di Porong dekat Lapindo pun terkenal dengan Bung Karno. Usainya di atas 70.

Lain di Jawa, khususnya Surabaya Sidoarjo Gresik Malang... lain pula di NTT. Khususnya kabupaten Flores Timur dan Lembata yang etnis Lamaholot. Panggilan paman atau om atau bapa kecil (lawannya mama kecil alias tante) justru bernilai sangat tinggi. Bahasa Lamaholotnya opu, nana, ama, atau ama kaka.

Kata sandang om atau paman atau opu atau nana di bumi Lamaholot tidak ada urusan umur. Tapi hubungan kekerabatan atau silsilah seseorang. Juga posisi kita dalam struktur adat istiadat. Seorang anak kecil SD pun wajib dipanggil om atau nana kalau dia keturunan marga ibu kandung kita. Om cilik alias paklik itu sangat dihormati karena sukunya yang memberikan wanita yang melahirkan keturunan untuk suku kami.

Jenazah seorang Lamaholot tidak bisa dikuburkan jika para om alias opulake tidak datang ke rumah duka. Apa pun permintaan om-om harus dituruti. Inilah ketentuan adat Lamaholot turun temurun.

Maka betapa bangganya orang Flores Timur disapa om atau opu atau nana atau paman. Kita justru tersinggung dipanggil kakak atau abang oleh orang yang jelas-jelas ibunya dari marga kita. Sebaliknya kita yang berstatus om atau paman, dalam adat Lamaholot, berkewajiban memberikan tumpangan atau perlindungan kepada para keponakan itu.

Begitulah. Lain lubuk lain ikan. Maka kalau dipanggil om atau paman, saya sih tenang aja. Yang gak senang itu biasanya om-om senang di Jawa yang selalu merasa muda dan... kadang suka n gopi2 dengan cewek seusia anaknya.

Wkwkwkwk.... belajar ketawa ala amrik!

07 March 2016

Sang maestro Ireng Maulana, selamat jalan!



Satu lagi empu (maestro) musik kembali ke pangkuan sang Pencipta. Ireng Maulana meninggal dunia dalam usia 71 tahun. Kita kembali kehilangan seoranh tokoh yang total mengabdi di dunia musik hingga akhir hayatnya.

Saya sendiri begitu gandrung melihat permainan Ireng Maulana All Stars di TVRI yang khas itu. Lagu apa saja, pop Indonesia, keroncong, Barat, gospel, lagu daerah... di tangan Ireng Maulana terasa lain. Jadi enak dan berkelas. Jazzy. Jazz tapi tidak berat. Bisa dinikmati siapa saja sambil goyang kaki dan bersenandung.

Di acara Berpacu Dalam Melodi itu, Ireng Maulana yang sudah malang melintang di rekaman dan panggung kian akrab di hati orang Indonesia. Maklum, waktu itu hanya ada satu televisi. Kita semua mau tidak mau harus menikmati sajian apa saja dari TVRI.

Syukurlah, Ireng Maulana, Benny Mustapha, Bill Saragih, dll punya tempat di televisi plat merah itu. Dan sejak itu saya mulai tertarik dengan jazz ringan. Saya pun mencari kaset-kaset yang musiknya digarap Ireng Maulana. Margie Siegers, Rafika Duri, Ermy Kullit.. Irama bosas atau bosanova. Lagunya santai, gak ngoyo, dengan petikan gitar yang menuntut keterampilan tingkat dewa.

"Wow, gayamu kayak Ireng Maulana!" begitu saya biasa memuji teman mahasiswa yang bisa memetik gitar dengan chord-chord jazz yang rada rumit. "Wualah... belum apa-apa," sahut Bambang teman yang gitaris top saat itu.

Sebetulnya saya suka semua jenis lagu. Termasuk lagu-lagu Dian Piesesha, Obbie Messakh, Lydia Natalia dkk dari JK Records yang biasa dicela sebagai lagu cengeng. Bagaimana tidak suka jika masyarakat NTT memang gandrung lagu-lagu manis seperti itu. Tapi ketika lagu Tak Ingin Sendiri diaransemen ulang Ireng Maulana dan dimainkan Ireng Maulana All Stars, nuansa lagu ciptaan Pance Pondaag itu jadi berbeda sama sekali.

Ermy Kullit sang vokalis kesayangan Ireng Maulana membawakannya dengan gaya yang berbeda. Di Balai Pemuda Surabaya, beberapa tahun lalu, saya pun duduk berdekatan dengan Ermy Kullit dan Ireng Maulana. Ngobrol santai layaknya teman atau kenalan lama. Wow, luar biasa rasanya bisa dekat dengan musisi idola di masa remaja. Seperti tidak percaya saja rasanya.

Beberapa waktu kemudian saya kembali ngobrol (bukan wawancara formal) dengan Ireng Maulana yang saat itu tampil di Gereja Katedral Hati Kudus Yesus Surabaya. Ireng Maulana bersama R Tony Suwandi dan Didik SSS, Embong Rahardjo tampil mengisi musik saat perayaan ekaristi (misa). Pak Ireng dkk lagi menggalang dana untuk membantu sebuah seminari di Jakarta.

Wow... Saya pun semakin mengagumi sang maestro jazz ini. Lagu-lagu liturgi Katolik dalam buku Puji Syukur yang sederhana itu terasa sangat lain. Berbobot kelas tinggi. Saya pun beringsut (dengan dalih mau motret untuk media) hanya untuk melihat Ireng Maulana dari jarak sangat dekat. Kok bisa gitar biasa itu bisa berbunyi luar biasa saat dipetik Ireng Maulana?

Pak Ireng selalu tersenyum ketika disalami umat selepas misa. Beliau sama sekali tak membuat jarak lantaran statusnya sebagai musisi papan atas Indonesia. "Talenta (musik) ini dari Tuhan, maka saya kembalikan kepada Tuhan," kata Ireng Maulana kepada saya.

Talenta apa pun, kata Ireng Maulana mengutip cerita Injil tentang talenta, harus dikembangkan. Tidak boleh dipendam di dalam tanah. Dan harus dikembangkan dengan sepenuh hati dan jiwa. Totalitas bermusik, ngejes, menggeluti bosas, dixie dsb... inilah yang membuat Ireng Maulana menjadi musisi legendaris Indonesia.

"Pak Ireng, saya mau foto sama sampeyan," kataku.

"Oh, silakan," balasnya seraya tersenyum.

Maka, ketika membaca teks berjalan di televisi tentang kematian Ireng Maulana, saya pun terdiam lama.... Tak terasa air mataku jatuh mengenang persahabatan yang tulus antara sang maestro dan pengagumnya itu. Saya langsung teringat fotoku bersama Ireng Maulana di Gereja Katedral Surabaya.

Selamat jalan sang maestro Ireng Maulana! Selamat beristirahat dalam damai bersama sang Maestro dari segala Maestro di alam yang abadi!

03 March 2016

Bimbingan Belajar (Bimbel) Mengalahkan Sekolah

Lembaga kursus yang disebut bimbingan belajar (bimbel) sudah ada di Indonesia sejak 1980an. Bimbel biasanya ramai menjelang skalu, sipenmaru, UMPTN, SNM PTN, atau nama-nama lain sejenis. Alias ujian masuk perguruan tinggi negeri. Orang Indonesia memang punya hobi gonta-ganti nama meski substansinya sama.

Cuma dalam belasan tahun terakhir, tepatnya di atas 2000, bimbel menjadi lembaga bisnis yang berkembang luar biasa. Tengok saja di Surabaya, Sidoarjo, Gresik. Bimbel-bimbel lama dan baru buka cabang di mana-mana. Ruko-ruko yang mangkrak bertahun-tahun berubah jadi ramai sekali berkat bimbel.

Tempat kerja saya kebetulan bertetangga dengan bimbel laris. Wuih... ramai terus setiap hari. Malah lebih ramai dengan pelajar-pelajar ketimbang di sekolah formal. Anak-anak bimbel ini yang paling banyak makan ruang parkir. Belum ditambah orang tua, saudara, kerabat, atau pembantu yang mengantar peserta bimbel. Ruko di dekat stadion lawas dan museum itu pun jadi ramai luar biasa.

Saya yang tak pernah makan bimbel, kecuali kursus bahasa Inggris di dekat Alun-Alun Bunder Kota Malang, dekat sekolah saya di SMAN 1 Malang dulu, hanya bisa geleng-geleng kepala. Bimbel sudah jadi fenomena di tanah air tercinta. Bimbel bahkan sudah jadi kebutuhan buat para pelajar kita.

Kalau dulu bimbel hanya sekadar kursus singkat latihan soal ebtanas atau sipenmaru atau UMPTN, sekarang anak-anak SD dan SMP pun ikut bimbel. "Karena kebutuhan. Kalau gak ikut bimbel ya kalah bersaing," ujar mbak Dewi dari Sukodono yang mengantar putrinya pelajar SMP negeri.

Dengan ikut bimbel, nilai ujian nasional (unas) bisa tinggi. Itulah tiket untuk bisa diterima di SMA negeri. Apalagi SMA-SMA negeri favorit di Sidoarjo macam SMAN 1, 2, 3, dan SMAN Krian. Kalau unasnya jelek, ya terpental dari negeri. Biayanya pasti mahal. "Sistem pendidikan sekarang memang lain dengan zaman kita," kata mbak ini tersenyum pahit.

Biaya bimbel pasti muahaaal ketimbang biaya sekolah negeri yang katanya gratisan itu. Tapi ya itu tadi... ortu harus bondo demi masa depan anak. Investasi pendidikan katanya.

Kalau tidak ikut bimbel yang mahal, biasanya diiming-imingi lolos PTN atau SMA dan SMP negeri, para pelajar ini memilih ikut bimbel paket hemat yang diadakan sekolahnya. Guru-guru pun berubah peran sebagai coach spesialis kisi-kisi ujian. Honor mengajar bimbel atau les privat bisa lebih tinggi ketimbang gaji resmi... kalau mengajar banyak sesi.

Lalu, kapan anak-anak belasan tahun ini main bola, bulutangkis, voli, basket dsb? Latihan musik atau paduan suara? Atau sekadar membersihkan rumah, cuci baju, cuci piring...? Tidak ada.

Sebagian besar energi para remaja kita ini sudah tersedot ke sekolah, bimbel, les ini itu. Malam menjelang, badan capek, lesu, ngantuk. Tidur. Pagi-pagi bangun, sarapan, berangkat sekolah, macet di jalan. Kadang tidak sempat pulang ke rumah, apalagi yang rumahnya di Jabon atau Krembung, langsung masuk kelas bimbel. Begitu seterusnya sampai dinyatakan lulus SMA.

Sembari ngopi dan baca koran, saya selalu memperhatikan tingkah pola siswa-siswi peserta bimbel di Sidoarjo. Lamat-lamat muncul suara serak rusak penyanyi legendaris Louis Armstrong: ".... They learn much more than I ever know..."

01 March 2016

La Nyalla: Apa Salahku?

La Nyalla: Apa salahku? Silakan buktikan kalau aku punya salah!

Begitu pernyataan La Nyalla, ketua PSSI, yang tidak diakui pemerintah itu. Ia menanggapi wacana kongres luar biasa PSSI yang digulirkan pemerintah. Syarat untuk mencabut keputusan membekukan PSSI.

"Sebetulnya hanya satu yang dimaui pemerintah: La Nyalla tidak lagi jadi ketua PSSI," kata La Nyalla yang juga pentolan Pemuda Pancasila itu.

Syukurlah, La Nyalla akhirnya iso rumangsa... bisa merasa apa yang dimaui pemerintah. Juga pendukung tim-tim sepakbola, khususnya Bonek di Surabaya. Mungkin banyak juga rakyat yang sudah lama jengah dengan sepak terjang pemain-pemain lama di bisnis balbalan.

Warga negara internet alias netizen jauh lebih banyak yang menolak La Nyalla sebagai ketua umum PSSI. Dus, bukan cuma pemerintah yang gak suka La Nyalla, bekas tim sukses Prabowo, duduk di kursi nomor satu organisasi balbalan. Tapi semua tahu FIFA justru mendukung PSSI yang tidak diakui pemerintah itu.

Bagaimana mungkin pemerintah mengakui La Nyalla? Wong kongres PSSI di Surabaya digelar setelah Menpora Imam Nahrawi membekukan PSSI lama yang dipimpin Djohar Arifin! Otomatis produk kongres di Surabaya tahun lalu tidak sah. Menpora kemudian membentuk tim transisi yang bertugas sebagai pengurus PSSI sementara.

Kunci penyelesaian kisruh sepakbola kita sebetulnya ada di La Nyalla. Iso rumongso. Andaikan La Nyalla dan pengurus PSSI mengundurkan diri demi sepakbola nasional, selesailah masalahnya. Tapi rupanya La Nyalla dkk berusaha mati-matian untuk mempertahankan kekuasaan di PSSI.

Semangat "berkorban" untuk kebaikan bersama inilah yang hilang di tanah air. Dan itu sejak PSSI dipimpin Nurdin Halid. Biarpun dipenjara, Nurdin tetap berstatus ketua umum PSSI. Tidak mau mundur. Alih-alih meletakkan jabatan, La Nyalla dan konco-konconya malah meminta Menpora Imam Nahrawi yang mundur. Hehehe....

Induk organisasi olahraga, apalagi sepakbola, memang harus independen. Bebas dari pengaruh pemerintah. Tapi di Indonesia semua cabang olahraga mutlak membutuhkan bantuan pemerintah. Apalagi yang namanya balbalan. Mana ada klub yang punya stadion sendiri? Semua stadion baik yang berstandar nasional/internasional maupun lapangan-lapangan bola di kampung adalah fasilitas umum milik negara (pemerintah). Kalau si empunya stadion marah, tidak mengizinkan, tim-tim sepakbola itu mau main di mana?

Di daerah-daerah hampir semua ketua pengurus cabang olahraga adalah pejabat pemerintah. Ini menunjukkan bahwa tanpa pemerintah olahraga tidak akan jalan. Meskipun didukung FIFA, La Nyalla dkk tidak akan bisa bekerja menggerakkan bola kaki di Indonesia kalau berselisih jalan dengan pemerintah.

Kalau La Nyalla gak gelem mundur yo wis.... Sing penting yo diakui FIFA.

Diberkati Banyak Uskup, toh Cerai - Cathy Sharon



Ada berita pendek di koran pagi ini. Cathy Sharon digugat cerai suaminya Eka Kusuma Putra. Sejak menikah pada 2012 nyaris tidak gosip jelek sang artis film nan ayu ini. Kelihatan aman dan lancar. Siapa sangka jadi begini?

Saya kaget dan tersenyum sendiri. Bukan apa-apa. Pernikahan Cathy Sharon di Kuta Bali itu sempat jadi bahan gunjingan teman-teman aktivis di lingkungan Katolik di Surabaya dan Sidoarjo. Sebab, menurut berita di media massa, pemberkatan pernikahan ini dihadiri banyak uskup dari seluruh Indonesia.

Berita di media massa saat itu menyebutkan, uskup-uskup yang memimpin misa penerimaan sakramen pernikahan itu adalah uskup Denpasar, uskup Padang, uskup Maumere, uskup Semarang, dan uskup Ende. "Kok bisa-bisanya bapak-bapak uskup itu menyempatkan datang, bahkan memimpin misa pernikahan artis? Sebegitu banyaknya?" begitu kicauan teman-teman.

Asal tahu saja, seorang uskup itu pemimpin tertinggi Gereja Katolik di sebuah keuskupan/dioses. Paroki-parokinya banyak. Reksa pastoralnya luar biasa. Di kampung halaman saya, pelosok Lembata, yang masuk Keuskupan Larantuka, belum tentu satu tahun sekali umat Katolik mendapat kunjungan uskupnya. Sebab beliau harus berkeliling paroki-paroki, ngurusi yayasan, sekolah-sekolah, komisi-komisi dsb dsb...

Biasanya uskup baru datang ke paroki-paroki di pelosok kalau ada sakramen krisma. Sebab sakramen penguatan ini hanya boleh diberikan oleh uskup. Paling cepat satu tahun sekali. Maka, sangat luar biasa bagi umat Katolik di NTT saat membaca berita bahwa pernikahan Cathy Sharon dihadiri begitu banyak uskup. Belum lagi romo-romo yang pasti banyak jumlahnya. Belum suster, frater, bruder....

Normalnya pemberkatan pernikahan di Katolik itu cukup dilayani seorang pastor. Bahkan, seorang diakon (calon pastor) pun boleh. Seorang uskup terlalu amat tinggi kalau hanya mengurusi pemberkatan nikah satu pasangan pengantin. Apalagi uskup-uskup dari Flores, seperti ditulis di berita online itu, jauh-jauh datang ke Bali demi memimpin misa pemberkatan nikah Cathy Sharon-Eka Kusuma.

Lha, berkunjung ke paroki-parokinya setahun sekali saja belum tentu dilakukan. Kok ini malah sempat-sempatnya ke luar wilayah keuskupannya? Memimpin misa pernikahan yang bukan tugas pokoknya? Ada apa dengan monsinyur-monsinyur itu? Begitu antara lain obrolan ngelantur di warung kopi. Isu ini pun lekas berlalu. Diganti isu-isu baru yang datang dari pergi.

Sampai akhirnya muncul berita pendek di koran itu. Cathy Sharon digugat cerai oleh suaminya. Sang suami menilai Cathy terlalu sibuk di luar, lupa tugasnya sebagai istri. Cathy balik menuduh suaminya punya affair... Alasan klasik.

Yah, kita ambil hikmahnya saja. Bahwa pernikahan yang langgeng itu tidak ditentukan oleh banyaknya rohaniwan, apalagi sekelas uskup, yang memimpin misa penerimaan sakramen pernikahan. Semegah apa pun, semeriah apa pun, belasan uskup datang, kalau pasangan suami istrinya tidak saling mendukung, memberi dan menerima... ya begitulah. Demikian omongan Tante Debora yang biasa mengurus KPP alias kursus persiapan perkawinan.

Di masa lalu, hingga 1990-an masih ada, pernikahan di pelosok Flores Timur dan Lembata itu banyak yang tidak diberkati di gereja. Namanya kawin kampung sesuai aturan adat Lamaholot. Urusan adat, belis gading, koda kiring (pembicaraan adat) sudah beres, tapi ada persoalan dengan aturan kanonik di gereja. Toh, pasutri-pasutri yang sering "dikucilkan" gereja (tidak boleh komuni, tidak boleh jadi pengurus stasi... dsb) ini justru hidup bahagia, rukun damai. Tidak pernah ada perceraian.