25 February 2016

Sulit mengetik, tergoda grup medsos

Agak lama aku tidak ngeblog. Padahal begitu banyak bahan yang harus ditulis agar tidak hilang ditelan angin. Bahan-bahan dari kampung halaman belum direkam jadi tulisan, eh muncul begitu banyak kejadian di Sidoarjo dan Surabaya.

Banjir yang tak kunjung surut. Lapindo mau ngebor lagi. Teman-teman seniman mulai aktif lagi. Seniman-seniman tua yang karyanya masih laku. Masalah kafe yang dianggap tempat maksiat. Waria, gay, lesbian alias LGBT. Abah Saiful yang dilantik jadi bupati periode kedua. Parade mural di Dolly Surabaya dsb dsb.

Sayang, ponsel baru yang android, yang memang lebih canggih, sulit dipakai mengetik naskah panjang. Aku mencoba belajar dan belajar tapi tidak bisa lancar. Yang terjadi malah jari telunjuk kananku kemeng karena sering ngetik satu jari untuk nimbrung di beberapa grup diskusi masyarakat Sidoarjo.

Keasyikan diskusi di media sosial, meskipun 90 persen isinya gak karuan, gedabrus, banyolan soal ngopi, cewek, hingga jancuk-jancukan.... Medsos ibarat rokok atau narkoba yang bikin kecanduan. Sehari tidak menengok postingan beberapa anggota kayak cak P rasanya mau kiamat. Saking lucu, satir, dan sangat berani melawan opini-opini radikal yang mulai menjamur di NKRI.

Mulai terangkit grup medsos + sulit mengetik akhirnya membuat blog ini rada sepi dari naskah-naskah baru. Toh, naskah-naskah lawas masih buanyaaak... sudah 2000 lebih.

Sekarang saya mulai mencoba menghidupkan lagi laptop lawas, buatan Tiongkok, yang sudah lama diabaikan. Sulit mengandalkan ponsel android yang baterainya lemot itu.

3 comments:

  1. Bagaikan desaku yang permai, tulisanmu selalu kurindukan.

    ReplyDelete
  2. ngetik nya pindah ke medsos.. :D
    nice artikel

    ReplyDelete
  3. ia kadang medsos emang bikin nggak produktif

    ReplyDelete