15 February 2016

Ribut lagi soal Valentine

Kita di Indonesia, khususnya Jawa Timur, terlalu sering menghabiskan energi untuk berpolemik setiap bulan Februari. Tentang Valentine's Day. Halal haramnya perayaan di Barat yang disebut hari kasih sayang itu. Sumpek!

Media sosial, khususnya grup-grup netizen Sidoarjo, isinya 80 persen membahas Valentine. Tidak ada yang baru. Semua data, argumentasi, referensi... ternyata basi. Hasil copy paste di internet. Pesan lama yang di-share entah sudah berapa puluh atau ratus kali.

Ada teman yang menuduh umat kristiani, khususnya Katolik, merayakan Valentine. "Itu perayaan untuk memperingati kematian pastor Katolik. Tiap 14 Februari dirayakan orang nasrani. Makanya haram bagi umat Islam," begitu antara lain pendapat seorang anggota grup yang paling sering mengangkat isu-isu sensitif.

"Apakah anda sudah cek di paroki atau gereja katolik terdekat?" tanya saya di medsos itu. Dia tidak menjawab. Malah muncul lagi postingan lain yang lebih keras.

Saya kemudian jelaskan di grup itu bahwa tanggal 14 Februari 2016 umat Katolik di seluruh dunia justru sedang dalam masa puasa atau prapaskah. Injil yang dibahas pun tentang puasa. Sama sekali tidak ada urusan dengan Valentine. Tapi ya penjelasan yang faktual empiris macam ini tidak akan didengar oleh orang-orang yang sudah dirasuki prasangka buruk.

Tidak hanya rakyat biasa yang ribut soal Valentine. Dua minggu lalu kepala dinas pendidikan juga bikin surat edaran khusus. Isinya melarang semua sekolah di Sidoarjo merayakan Valentine. Sebab tidak sesuai dengan budaya kita. Valentine dianggap racun bagi anak-anak muda. Dianggap menyebarluaskan pergaulan bebas, seks bebas, dsb.

Di media massa pun pendapat MUI, ulama, selalu dikutip setiap Februari. Isinya sama dengan berita-berita di koran atau majalah tahun 1970an. Hari Valentine harus ditolak di Indonesia. Tahun depan, dua tahun lagi, 20 tahun lagi... sekian tahun lagi polemik soal Valentine ini dipastikan muncul lagi. Isinya sama tapi yang ngomong beda.

Syukurlah, banyak juga teman-teman yang memaknai hari kasih sayang dengan cara yang produktif. Mas Yanto dkk bikin gerakan pengijauan di Buduran. Menanam 500 pohon. Membersihkan sungai. Pasang spanduk larangan buang sampah sembarangan.

Mas Asoka bikin gerakan kasih sayang dengan menyebarkan virus literasi. Membawa perpustakaan kelilingnya ke kampung-kampung. Mengajak anak-anak untuk membaca buku-buku koleksinya. Gratis!

Mas Saiful juga bersih-bersih Candi Tawangalun bersama adik-adik SMK dari Sedati. Ada juga teman-teman muda yang memperkenalkan komunitas musik jazz di alun-alun. "Setiap hari ya Valentine. Hari kasih sayang itu bukan cuma 14 Februari," kata mas Saiful yang kecanduan rokok itu.

Orang-orang sederhana macam mas Saiful, Yanto, atau Asoka ini saya amati tidak tertarik dengan polemik Valentine. Mereka memilih take action! Kerja kerja kerjaaa....

1 comment:

  1. Yang ribut itu wong2 sing dodolan agama Bung Lambertus. Sama gereja di Amerika ya gak ada perayaan Valentine, itu kan pinter2nya restoran dan penjual bunga dan hotel untuk memasarkan dagangan mereka. Mosok wong Indonesia gak pinter2, sih.

    ReplyDelete