08 February 2016

Ngobrol di belakang panggung dangdut

Sudah lama saya tidak ngurusin dangdut. Apalagi nongkrong di belakang panggung. Melihat persiapan penyanyi sebelum tampil dengan goyang dan senyum menawan.

Betapa bedanya panggung depan dan panggung belakang. Di depan kita melihat semua yang indah permai. Cakep, genit, merdu, goyang yang hot yang bikin beberapa penonton begitu mudah naik ngawur. Merasa sudah memiliki biduanita meski cuma lima menit.

Di belakang, backdrop, si artis kembali jadi manusia biasa. Grogi, sibuk menutup jerawat, minum obat, air putih dsb. Sang penyanyi  (pasti wanita karena sudah lama pria tidak laku di dangdut koplo) juga curhat macam-macam. Tentang order yang sepi, kurang saweran, konflik dengan teman sesama biduan dsb.

La kok cuma segini? Biduanita lokal itu sambat karena jatahnya terlalu sedikit. Padahal dia merasa sudah kerja keras, mandi keringat, bikin penonton heboh.

Disyukuri ajalah. Temanku malah gak tau manggung. Gak payu, kata saya sedikit berbohong. Teman mana yang penyanyi dangdut? Hehehe....

Keringat masih basah di wajah sang nona yang tidak terlalu manis. Sibuklah dia bercermin. Oles lagi bedak. Minyak wangi. "Aku nyanyi dulu ya," katanya.

Orkes mulai memainkan intro lagu dangdut lawas Terajana ciptaan Rhoma Irama. Yang minta pejabat penting di kotaku. "... iramanya melayu dubai sedap sekali....."

Malamnya sang biduanita ngamen di dua tempat. Malam tahun baru Imlek. Sawerannya buanyak ya? "Waduh, tahun ini seret," katanya.

Selamat kerja cari duit di panggung dangdut. Semoga tahun monyet api membawa rezeki berlimpah.

1 comment:

  1. Profesi penyanyi, seniman, olahragawan profesional itu sama dalam satu hal: hanya mereka yang top saja yang bisa hidup mewah. Yang lainnya pas-pasan.

    ReplyDelete