09 February 2016

Kitab suci dalam genggaman

Akhir pekan kemarin saya menghadiri akad nikah seorang teman kantor di musala di Sidoarjo. Sudah tiga tahunan saya tidak melihat langsung akad nikah islami. Biasanya langsung ke resepsi di gedung atau rumah.

Ternyata lebih menarik dan berkesan menghadiri ritual keagamaan daripada pesta alias resepsi. Suasananya khusyuk penuh doa. Kita juga bisa lebih dekat dengan keluarga besar sang mempelai.

Seperti biasa, sebelum akad nikah, jamaah menyimak pembacaan ayat suci Alquran. Tidak panjang. Nah, yang bikin saya kaget, sang qori tidak membawa buku cetak seperti biasanya. Karena sudah hafal? Bukan. Mas 40an tahun itu merogoh ponsel Samsung di sakunya.

Dan... dia mulai melantunkan ayat suci sambil menatap layar HP. Suaranya merdu enak didengar. Selesai baca, HP dikantongi lagi. Menarik banget buat saya yang baru sekali ini melihat pengajian pakai Quran digital. Di masjid pula.

Kalau melihat teman-teman menyetel pengajian Quran via HP sih biasa. Dari dulu. Tapi yang kemarin ini bagi saya sangat menarik karena acaranya sangat resmi di masjid nan bagus itu.

Di lingkungan gereja Katolik malah tidak pernah lihat romo-romo menggunakan e-Bible saat memimpin ekaristi atau upacara pelepasan jenazah, doa lingkungan dsb. Padahal Alkitab digital lebih dulu hadir di jagat internet ketimbang kitab suci agama-agama lain. Alkitab berbahasa Indonesia juga sudah muncul tahun 1990an ketika pengguna internet masih sangat terbatas.

Saya sendiri sudah lama membaca Alkitab via internet. Lebih tepatnya bacaan misa harian berbahasa Inggris yang disediakan banyak situs. Mengapa bahasa Inggris? Ya, sekalian belajar lebih akrab dengan bahasa internasional itu.

Saya tentu tidak membaca versi King James yang kata-katanya super sulit untuk orang Indonesia - termasuk guru english itu. Saya memilih versi bahasa Inggris yang sederhana. Versi untuk non English speaking nation macam kita di Indonesia. Itu sering kita temukan kata-kata sulit.

Membaca Alkitab berbahasa Inggris itu jauh lebih enak ketimbang membaca majalah Time atau Newsweek. Mengapa? Kata-kata sulit bisa kita tebak dengan benar. Tidak perlu buka kamus. Bukankah kita sudah biasa membaca Alkitab bahasa Indonesia selama bertahun-tahun?

Ini dia kutipan bacaan Injil hari ini yang baru saya renungkan:

Gospel of Jesus Christ according to Saint Mark 7:1-13.

When the Pharisees with some scribes who had come from Jerusalem gathered around Jesus,
they observed that some of his disciples ate their meals with unclean, that is, unwashed, hands.

(For the Pharisees and, in fact, all Jews, do not eat without carefully washing their hands, keeping the tradition of the elders.
And on coming from the marketplace they do not eat without purifying themselves. And there are many other things that they have traditionally observed, the purification of cups and jugs and kettles and beds.)

Begitulah. Internet, gadget, ponsel dan aneka produk IT di satu sisi sering dikecam karena melena orang, bikin anak muda kecanduan, hura-hura, tapi di sisi lain manfaatnya luar biasa di bidang dakwah atau keagamaan.

Kini firman Tuhan ada di genggaman kita. Di kantong kita. Selamat membaca!

8 comments:

  1. Udah gitu masih banyak aja yg males aja buat baca pedoman agamanya sendiri

    ReplyDelete
  2. Yang paling berguna dengan adanya versi digital atau internet ialah kita dengan mudah bisa membandingkan 3 Injil synopsis, atau kalau mau 4 injil sekalian. Jadi kita tahu di mana persamaannya dan di mana ada perbedaannya.
    Misalnya, Injil Yohanes menempatkan peristiwan Yesus mengusir para penukar uang di bait Allah di bab ke-2 sebagai permulaan dari karya Yesus, sedangkan Markus, Mateus, dan Lukas (yang lebih awal ditulis) sepakat menuliskannya sebagai akhir karya Yesus, sebelum Yesus ditangkap.

    Para ahli sejarah Injil sepakat bahwa tindakan Yesus memberantaki pelataran Bait Allah itulah yang membuatNya ditangkap dan dihukum mati, karena dianggap menghina agama Yahudi, walaupun dari awalnya Yesus sudah tidak disukai.

    Sedangkan Yohannes seakan-akan membuat filem dengan adegan yang paling mencekam, kemudian sisa filemnya digunakan untuk menerangkan adegan tersebut.

    Kita juga jadi tahu bahwa silsilah Yesus di Mateus dan Lukas itu tidak sama. Lho kok? Maka kita tergugah untuk mempelajari bahwa buku-buku Injil itu ditulis pada masa yang berbeda dan dengan tujuan mencerahkan pembaca yang lain pula.

    Bahkan kronologi perjamuan akhir, penyaliban, dan kematian Yesus pun tidak 100% sama urutannya.

    Misalnya, lihat:
    http://www.bible-researcher.com/parallels.html
    http://catholic-resources.org/Bible/Four_Gospel_Chart.htm

    Salam Rabu Abu, selamat menjalankan ibadah puasa.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Luar biasa ulasan mas dari amrik ini. Pemahamannya sangat mendalam. Sudah selevel romo.

      Bahasan tentang injil sinoptik membuat saya jadi ingat pak pedo guru agama katolik di SMPK Pankratio larantuka NTT dulu. Injil sinoptik ini selalu keluar saat ujian baik di sma hingga perguruan tinggi.

      Matur suwun. Salam tahun monyet api. Gongxi fa cai!

      Delete
    2. Yang luar biasa itu para sarjana dan cendekia yang sudah mempelajari Injil dan Alkitab. Saya hanya membaca buku-buku, melihat filem dokumenter.


      Romo-romo itu pun tahu karena harus mengambil kelas sejarah Injil pada waktu sekolah seminari, tetapi tidak mengajarkan kpd umat apa yang sudah 100 tahun dipelajari oleh para cendekia tersebut. Mungkin karena takut iman umat menjadi goyah, seperti saya, hehehehe.

      Delete
    3. Konco sampean sesama sinlui soe tjen PhD di london tiap hari dibully gara2 mengkritik habis perkembangan kanon kitab suci. Membahas tema ini pancen menarik tapi selalu jadi kontroversi di indonesia. Semoga sampean tetap kritis dan tjerdas.

      Delete
  3. kalo menurut saya pribadi om, membaca kitab suci via gawai alias gadget cukuplah pada saat perenungan sendiri, misalnya renungan sebelum tidur...

    kalo dalam ibadah, jangan lah... karena mengurangi kekhusyukan... bayangin lagi membaca kitab suci tiba2 masuk panggilan telpon lah, SMS lah, BBM lah... atau ngakunya lagi baca kitab suci ternyata lagi buka kitab kamasutra... hahahaha...

    btw selamat memasuki Prapaskah untuk om hurek dan semua saudara2 Kristiani... kiranya kita dapat membersihkan diri dan hati kita menyambut kebangkitan-Nya... Tuhan memberkati...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama mas nababan. Makanya saya heran ada yg pake kitab suci digital di sebuah ritual yg resmi. Inilah yg mendorong saya membuat catatan ini. Makasih.

      Delete
  4. Dia seorang atheis yang aktivis dalam arti mau melawan apa yang dianggapnya ketidakadilan yang dilakukan oleh institusi keagamaan. Sedangkan saya percaya akan Tuhan tetapi agnostik dan wallahualam akan bentukNya, apakah dia itu zat, ruh, mahluk, gaya universal yang mengatur entropi alam semesta (?), cinta yang berkesinambungan (?), entahlah . Saya anggap agama itu masih berguna pada tatanan masyarakat tertentu, tetapi tidak boleh masuk ke politik sama sekali. Dan saya bukan aktivis, hanya orang biasa yang sekali-kali berbagi pikiran.

    ReplyDelete