25 February 2016

La Nyalla Menang, Menpora Kalah

Pemerintah akhirnya mencabut surat keputusan pembekuan PSSI. Begitu berita di koran-koran Surabaya pagi ini. Ketua PSSI La Nyalla Mattalitti langsung sujud syukur di Swiss.

PSSI dibekukan oleh Menpora Imam Nahrawi sejak tahun lalu. Gara-gara organisasi balbalan ini mengabaikan peringatan pemerintah. Kongres di Surabaya pun dianggap ilegal. Toh, PSSI yang selalu merujuk FIFA jalan terus. La Nyalla jadi ketua PSSI dalam kongres yang tak diakui itu. Maka La Nyalla dan PSSI-nya tak dianggap.

Sebagai gantinya, pemerintah membentuk tim transisi. Tim inilah yang dianggap sebagai PSSI sementara oleh Menpora Imam Nahrawi. Tapi, hebatnya, PSSI pimpinan La Nyalla tetap diakui FIFA di Swiss. Hehehe...

Singkat cerita, pencabutan SK 01307 ini menunjukkan bahwa pemerintah kalah. La Nyalla menang telak. La Nyalla yang jadi tim sukses Prabowo saat pemilihan presiden itu kembali membuktikan bahwa dirinya "seng ada lawan". Negara pun takluk kalau sudah berhadapan dengan pentolan Pemuda Pancasilan itu.

"La Nyalla kok dilawan? Tidak akan bisa! Dia itu petarung sejati. Tidak ada kata kalah dalam kamus La Nyalla," kata teman saya.

Karena itu, alih-alih melawan La Nyalla, pejabat-pejabat di Jatim biasanya merangkul pria yang juga ketua Kadin Jatim itu. Diajak kerja sama bikin proyek apa saja yang memunginkan. Sama-sama enak. Beda dengan Imam Nahrawi, menpora asal Sidoarjo, yang rupanya memilih "mengabaikan" La Nyalla.

"Saya sudah duga sejak dulu La Nyalla yang akan menang," kata sang senior yang banyak makan garam dalam urusan sepak bola.

Lantas, bagaimana dengan kongres luar biasa (KLB) PSSI yang disyaratkan pemerintah? Kedengarannya mudah seperti disampaikan Agum Gumelar, sang negosiator yang juga mantan ketua PSSI.

Tapi, jangan lupa ada faktor La Nyalla. Dia tentu tidak akan mau ada KLB yang tujuannya untuk menggantikan dirinya dan konco-konconya itu. Apalagi, setelah dipilih di Surabaya 18 Mei 2015, La Nyalla dan jajarannya praktis tidak bisa bekerja untuk mengurusi persepakbolaan nasional.

La, belum kerja kok sudah diganti? Ini bakal menjadi senjata La Nyalla dan timnya untuk menolak usulan KLB. Kalaupun ada KLB, bisa dipastikan La Nyalla tidak akan tinggal diam. Dia akan berusaha keras agar terpilih dalam KLB yang diusulkan enam bulan lagi itu. Ruwet maneh!

Makanya, pesan beberapa senior di Surabaya, "Sing waras ngalah ae!"

Sulit mengetik, tergoda grup medsos

Agak lama aku tidak ngeblog. Padahal begitu banyak bahan yang harus ditulis agar tidak hilang ditelan angin. Bahan-bahan dari kampung halaman belum direkam jadi tulisan, eh muncul begitu banyak kejadian di Sidoarjo dan Surabaya.

Banjir yang tak kunjung surut. Lapindo mau ngebor lagi. Teman-teman seniman mulai aktif lagi. Seniman-seniman tua yang karyanya masih laku. Masalah kafe yang dianggap tempat maksiat. Waria, gay, lesbian alias LGBT. Abah Saiful yang dilantik jadi bupati periode kedua. Parade mural di Dolly Surabaya dsb dsb.

Sayang, ponsel baru yang android, yang memang lebih canggih, sulit dipakai mengetik naskah panjang. Aku mencoba belajar dan belajar tapi tidak bisa lancar. Yang terjadi malah jari telunjuk kananku kemeng karena sering ngetik satu jari untuk nimbrung di beberapa grup diskusi masyarakat Sidoarjo.

Keasyikan diskusi di media sosial, meskipun 90 persen isinya gak karuan, gedabrus, banyolan soal ngopi, cewek, hingga jancuk-jancukan.... Medsos ibarat rokok atau narkoba yang bikin kecanduan. Sehari tidak menengok postingan beberapa anggota kayak cak P rasanya mau kiamat. Saking lucu, satir, dan sangat berani melawan opini-opini radikal yang mulai menjamur di NKRI.

Mulai terangkit grup medsos + sulit mengetik akhirnya membuat blog ini rada sepi dari naskah-naskah baru. Toh, naskah-naskah lawas masih buanyaaak... sudah 2000 lebih.

Sekarang saya mulai mencoba menghidupkan lagi laptop lawas, buatan Tiongkok, yang sudah lama diabaikan. Sulit mengandalkan ponsel android yang baterainya lemot itu.

16 February 2016

MLTR bikin galau Surabaya

Michael Learn to Rock (MLTR) datang ke Surabaya membawa nostalgia. Lagu-lagu lama era 90an pun mengalun di Grand City Convention Hall, Senin 15 Februari 2015, membuai penonton yang usianya di atas 30 dan 40an.

Sekitar 20 lagu hit MLTR dibawakan Jascha Richter dan kawan-kawan. Aransemen, gaya menyanyi, nyaris sama dengan di kaset lawas itu. "Aku merasa muda lagi. Kayak zaman kuliah hehehe..," kata Fajar dari Sidoarjo, penggemar berat band pop manis asal Denmark ini.

Begitu gandrungnya, Fajar menyimpan hampir semua lagu MLMR di ponselnya. Dia juga selalu membawakan lagu-lagu MLMR saat berkaraoke bersama keluarga atau teman-teman kantornya.

"I won't forget 
the way you're kissing
The feelings so strong
were lasting for so long
But I'm not the man your ...."

Ah, lirik khas orang pacaran dari masa ke masa. MLMR memang datang untuk memeriahkan Hari Valentine yang resminya dilarang di Indonesia itu. Tur MLMR di Surabaya, Solo, dan Jakarta ini bertajuk Indonesia Valentine Tour 2006. Mas Fajar aslinya kurang sreg dengan Valentine's Day yang dianggap budaya Barat yang sangat merusak moral anak bangsa.

"Tema tur itu kan cuma nama aja. Yang penting, saya bisa melihat langsung penampilan MLMR di atas panggung," kata Fajar yang punya dua anak. (Bukan hasil pacaran di kampus dulu, tapi kecantol teman kerjanya.)

Jascha Richter, Mikkel Lentz, Kare Wanscher sejatinya sudah kehilangan popularitas di industri musik pop. Tak banyak orang di bawah 30 tahun di Jawa Timur yang kenal lagu-lagu mereka. Apalagi hafal dan merasakan sensasi lagu_lagu cinta manis nan galau itu. Tapi Jascha dkk masih tetap menjaga stamina, passion, dan kualitas pertunjukan MLTR.

"Orang Indonesia itu romatis. Fanatastik," ujar Jascha yang tak henti menebar senyum.

Penonton pun gemuruh. Yang romantis tentu yang gandrung MLTR kayak si Fajar atau mas Eko dari Krian itu. Mereka pernah merasakan sensasi lagu-lagu MLTR di kamar kos yang sempit sembari membaca diktat kuliah stensilan yang dijual dosen.

"I won't forget 
the way you're kissing..."

15 February 2016

Ribut lagi soal Valentine

Kita di Indonesia, khususnya Jawa Timur, terlalu sering menghabiskan energi untuk berpolemik setiap bulan Februari. Tentang Valentine's Day. Halal haramnya perayaan di Barat yang disebut hari kasih sayang itu. Sumpek!

Media sosial, khususnya grup-grup netizen Sidoarjo, isinya 80 persen membahas Valentine. Tidak ada yang baru. Semua data, argumentasi, referensi... ternyata basi. Hasil copy paste di internet. Pesan lama yang di-share entah sudah berapa puluh atau ratus kali.

Ada teman yang menuduh umat kristiani, khususnya Katolik, merayakan Valentine. "Itu perayaan untuk memperingati kematian pastor Katolik. Tiap 14 Februari dirayakan orang nasrani. Makanya haram bagi umat Islam," begitu antara lain pendapat seorang anggota grup yang paling sering mengangkat isu-isu sensitif.

"Apakah anda sudah cek di paroki atau gereja katolik terdekat?" tanya saya di medsos itu. Dia tidak menjawab. Malah muncul lagi postingan lain yang lebih keras.

Saya kemudian jelaskan di grup itu bahwa tanggal 14 Februari 2016 umat Katolik di seluruh dunia justru sedang dalam masa puasa atau prapaskah. Injil yang dibahas pun tentang puasa. Sama sekali tidak ada urusan dengan Valentine. Tapi ya penjelasan yang faktual empiris macam ini tidak akan didengar oleh orang-orang yang sudah dirasuki prasangka buruk.

Tidak hanya rakyat biasa yang ribut soal Valentine. Dua minggu lalu kepala dinas pendidikan juga bikin surat edaran khusus. Isinya melarang semua sekolah di Sidoarjo merayakan Valentine. Sebab tidak sesuai dengan budaya kita. Valentine dianggap racun bagi anak-anak muda. Dianggap menyebarluaskan pergaulan bebas, seks bebas, dsb.

Di media massa pun pendapat MUI, ulama, selalu dikutip setiap Februari. Isinya sama dengan berita-berita di koran atau majalah tahun 1970an. Hari Valentine harus ditolak di Indonesia. Tahun depan, dua tahun lagi, 20 tahun lagi... sekian tahun lagi polemik soal Valentine ini dipastikan muncul lagi. Isinya sama tapi yang ngomong beda.

Syukurlah, banyak juga teman-teman yang memaknai hari kasih sayang dengan cara yang produktif. Mas Yanto dkk bikin gerakan pengijauan di Buduran. Menanam 500 pohon. Membersihkan sungai. Pasang spanduk larangan buang sampah sembarangan.

Mas Asoka bikin gerakan kasih sayang dengan menyebarkan virus literasi. Membawa perpustakaan kelilingnya ke kampung-kampung. Mengajak anak-anak untuk membaca buku-buku koleksinya. Gratis!

Mas Saiful juga bersih-bersih Candi Tawangalun bersama adik-adik SMK dari Sedati. Ada juga teman-teman muda yang memperkenalkan komunitas musik jazz di alun-alun. "Setiap hari ya Valentine. Hari kasih sayang itu bukan cuma 14 Februari," kata mas Saiful yang kecanduan rokok itu.

Orang-orang sederhana macam mas Saiful, Yanto, atau Asoka ini saya amati tidak tertarik dengan polemik Valentine. Mereka memilih take action! Kerja kerja kerjaaa....

09 February 2016

Kitab suci dalam genggaman

Akhir pekan kemarin saya menghadiri akad nikah seorang teman kantor di musala di Sidoarjo. Sudah tiga tahunan saya tidak melihat langsung akad nikah islami. Biasanya langsung ke resepsi di gedung atau rumah.

Ternyata lebih menarik dan berkesan menghadiri ritual keagamaan daripada pesta alias resepsi. Suasananya khusyuk penuh doa. Kita juga bisa lebih dekat dengan keluarga besar sang mempelai.

Seperti biasa, sebelum akad nikah, jamaah menyimak pembacaan ayat suci Alquran. Tidak panjang. Nah, yang bikin saya kaget, sang qori tidak membawa buku cetak seperti biasanya. Karena sudah hafal? Bukan. Mas 40an tahun itu merogoh ponsel Samsung di sakunya.

Dan... dia mulai melantunkan ayat suci sambil menatap layar HP. Suaranya merdu enak didengar. Selesai baca, HP dikantongi lagi. Menarik banget buat saya yang baru sekali ini melihat pengajian pakai Quran digital. Di masjid pula.

Kalau melihat teman-teman menyetel pengajian Quran via HP sih biasa. Dari dulu. Tapi yang kemarin ini bagi saya sangat menarik karena acaranya sangat resmi di masjid nan bagus itu.

Di lingkungan gereja Katolik malah tidak pernah lihat romo-romo menggunakan e-Bible saat memimpin ekaristi atau upacara pelepasan jenazah, doa lingkungan dsb. Padahal Alkitab digital lebih dulu hadir di jagat internet ketimbang kitab suci agama-agama lain. Alkitab berbahasa Indonesia juga sudah muncul tahun 1990an ketika pengguna internet masih sangat terbatas.

Saya sendiri sudah lama membaca Alkitab via internet. Lebih tepatnya bacaan misa harian berbahasa Inggris yang disediakan banyak situs. Mengapa bahasa Inggris? Ya, sekalian belajar lebih akrab dengan bahasa internasional itu.

Saya tentu tidak membaca versi King James yang kata-katanya super sulit untuk orang Indonesia - termasuk guru english itu. Saya memilih versi bahasa Inggris yang sederhana. Versi untuk non English speaking nation macam kita di Indonesia. Itu sering kita temukan kata-kata sulit.

Membaca Alkitab berbahasa Inggris itu jauh lebih enak ketimbang membaca majalah Time atau Newsweek. Mengapa? Kata-kata sulit bisa kita tebak dengan benar. Tidak perlu buka kamus. Bukankah kita sudah biasa membaca Alkitab bahasa Indonesia selama bertahun-tahun?

Ini dia kutipan bacaan Injil hari ini yang baru saya renungkan:

Gospel of Jesus Christ according to Saint Mark 7:1-13.

When the Pharisees with some scribes who had come from Jerusalem gathered around Jesus,
they observed that some of his disciples ate their meals with unclean, that is, unwashed, hands.

(For the Pharisees and, in fact, all Jews, do not eat without carefully washing their hands, keeping the tradition of the elders.
And on coming from the marketplace they do not eat without purifying themselves. And there are many other things that they have traditionally observed, the purification of cups and jugs and kettles and beds.)

Begitulah. Internet, gadget, ponsel dan aneka produk IT di satu sisi sering dikecam karena melena orang, bikin anak muda kecanduan, hura-hura, tapi di sisi lain manfaatnya luar biasa di bidang dakwah atau keagamaan.

Kini firman Tuhan ada di genggaman kita. Di kantong kita. Selamat membaca!

08 February 2016

Ngobrol di belakang panggung dangdut

Sudah lama saya tidak ngurusin dangdut. Apalagi nongkrong di belakang panggung. Melihat persiapan penyanyi sebelum tampil dengan goyang dan senyum menawan.

Betapa bedanya panggung depan dan panggung belakang. Di depan kita melihat semua yang indah permai. Cakep, genit, merdu, goyang yang hot yang bikin beberapa penonton begitu mudah naik ngawur. Merasa sudah memiliki biduanita meski cuma lima menit.

Di belakang, backdrop, si artis kembali jadi manusia biasa. Grogi, sibuk menutup jerawat, minum obat, air putih dsb. Sang penyanyi  (pasti wanita karena sudah lama pria tidak laku di dangdut koplo) juga curhat macam-macam. Tentang order yang sepi, kurang saweran, konflik dengan teman sesama biduan dsb.

La kok cuma segini? Biduanita lokal itu sambat karena jatahnya terlalu sedikit. Padahal dia merasa sudah kerja keras, mandi keringat, bikin penonton heboh.

Disyukuri ajalah. Temanku malah gak tau manggung. Gak payu, kata saya sedikit berbohong. Teman mana yang penyanyi dangdut? Hehehe....

Keringat masih basah di wajah sang nona yang tidak terlalu manis. Sibuklah dia bercermin. Oles lagi bedak. Minyak wangi. "Aku nyanyi dulu ya," katanya.

Orkes mulai memainkan intro lagu dangdut lawas Terajana ciptaan Rhoma Irama. Yang minta pejabat penting di kotaku. "... iramanya melayu dubai sedap sekali....."

Malamnya sang biduanita ngamen di dua tempat. Malam tahun baru Imlek. Sawerannya buanyak ya? "Waduh, tahun ini seret," katanya.

Selamat kerja cari duit di panggung dangdut. Semoga tahun monyet api membawa rezeki berlimpah.