30 January 2016

Uang kecil tidak laku

Uang kecil Rp 100 dan Rp 200 sudah tidak laku? Gejala itu sudah lama terjadi di banyak tempat. Bahkan, uang Rp 500 pun sering dianggap tak ada gunanya lagi karena tidak bisa dipakai untuk membeli camilan yang paling sederhana.

Jajan pasar di Surabaya yang Rp 1000 pun sudah jarang. Maka surat kabar yang dulu mematok harga Rp 1000 kini dinaikkan 100 persen jadi Rp 2000. Para pengemis dan gelandangan pun akan uring-uringan kalau dikasih uang Rp 500.

Silakan Anda memberi koin Rp 100 kepada pengemis di Surabaya. Bisa dipastikan anda akan dimaki dengan "juancuuk". Tukang parkir di Sidoarjo saya lihat sudah lama menolak uang Rp 1000. "Sekarang seribu gak laku Cak," kata jukir di tengah kota Sidoarjo. Aneh, juru parkir liar kok malah memalak masyarakat dan jumlahnya naik makin lama makin banyak.

Ghifar Maulana, Jakarta Utara, menulis surat pembaca di Kompas tentang uang kecil yang tidak laku di Jakarta. Koin 200 ditolak karena dianggap tidak laku. "Ini berlaku di warung, pasar tradisional, khususnya di kawasan Sunter," tulis Ghifar.

Ada apa dengan rupiah, mata uang kita? Bukankah koin-koin itu kalau dikumpulkan jadi satu tas atau karung nominalnya cukup banyak? Mengapa uang kecil ditolak di mana-mana? Bahkan toko-toko menggantinya dengan permen?

Kalau dipikir-pikir, rakyat kecil yang menolak uang kecil juga tidak salah. Mereka tahu persis betapa hancurnya nilai rupiah dalam 10 tahun belakangan ini. Uang Rp 100.000 sudah lama kehilangan arti sejak kursnya jatuh di atas Rp 13.000 per USD. Kalau sampai tembus Rp 15.000 ya tambah hancur.

Pemerintah sebetulnya sangat sadar akan hancurnya nilai rupiah ini. Di era Presiden SBY sempat ada usulan untuk melakukan redenominasi mata uang. Tiga nol dicoret sehingga rupiah kelihatan "kuat" meskipun itu cuma psikologis saja. Wacana terus bergulir tapi pemerintah ragu-ragu menerapkannya.

Tapi redenominasi tak akan membuat rupiah jadi perkasa. Ia cuma menghilangkan nol yang banyak itu. Pemerintah yang punya menteri-menteri ekonomi yag hebat tentu lebih tahu caranya memperkuat ekonomi kita. Kalau gak tau juga ya buat apa ada pemerintah?

No comments:

Post a Comment