28 January 2016

Trotoar Jadi Pedestrian, Dirigen Jadi Konduktor

Makin banyak kata-kata lama yang menghilang dari media massa (sosial) sejak awal 2000. Masyarakat cenderung lebih suka serapan dari bahasa Inggris. Atau menggunakan bahasa Indonesia meskipun sangat mudah menemukan padanannya dalam bahasa Indonesia.

Kata KARCIS (dari bahasa Belanda) misalnya sudah jarang kita dengar. Orang kota di Jawa Timur lebih suka pakai TIKET. Kata MODE pun dirasa sudah ketinggalan zaman. Media massa lebih suka pakai FASHION atau dijawakan menjadi FESYEN.

Kata DIRIGEN pun mulai hilang diganti KONDUKTOR atau CONDUCTOR. Istilah dirigen biasanya dipakai para pelatih atau guru paduan suara yang senior. Adik-adik kita yang lahir 1990an ke atas bahkan asing dengan DIRIGEN. "Oh, dirigen itu ternyata conductor," ujar seorang mahasiswa anggota paduan suara.

Paduan suara di gereja, khususnya Katolik, khususnya di NTT, selalu disebut KOR (dari bahasa Belanda KOOR). Tapi belakangan ini kata KOR, yang sudah dibakukan Pusat Musik Liturgi (Katolik) sejak awal 1970an, makin tersisih. Diganti CHOIR. Makanya Paduan Suara Santo Paulus sekarang diganti St Paul Choir.
Ada satu kata lagi yang paling sering dipakai di koran-koran di Jawa Timur untuk menggantikan TROTOAR. Yakni PEDESTRIAN. Istilah trotoar sudah lama hilang dari masyarakat. Pedestrian itu dianggap sinonim dengan trotoar. "Coba kamu cek kamus dulu," ujar saya kepada seorang mahasiswa komunikasi di Sidoarjo yang magang wartawan.

Anak muda itu ngotot menyebut pedestrian sebagai tempat pejalan kaki. Sama dengan arti trotoar. "Apa gak salah nih?"

Coba kita simak kamus di internet atau Wikipedia. Penjelasan ensiklopedia ini: "A PEDESTRIAN is a person traveling on foot, whether walking or running."

Pedestrian itu orang yang bepergian dengan jalan kaki. Bisa jalan kaki, bisa berlari. Jelas bahwa pedestrian itu manusia yang melintas di trotoar. Keliru kalau pedestrian disamakan dengan trotoar. Kalau ngotot menggunakan pedestrian, yang dianggap lebih modern, mungkin lebih baik ditambahi JALUR. Menjadi JALUR PEDESTRIAN.

Anehnya, salah kaprah pedestrian, yang belum terlalu lama ini, merembet pula ke kalangan pejabat. Bapak kepala dinas yang satu itu sangat sering menyebut pedestrian sebagai ganti trotoar. "Bulan ini kami akan memperbaiki semua pedesrian di dalam kota," kata si pejabat.
Anehnya, koran-koran pun mengutip apa adanya omongan pejabat itu. Tidak ditambahi "jalur" agar tidak melenceng jauh dari bahasa Inggris.

1 comment:

  1. Kok aneh ya? Mudah sekali rakyat Indonesia melupakan akar dan jati dirinya sendiri. Jati diri kita itu Melayu, ditambah muatan budaya dari India, Arab, dan Belanda. Ada bahasa Indonesianya, kenapa tidak digunakan "jalur pejalan kaki" atau "jalur kaki lima". Kalau pedagang kaki lima bisa disingkat PKL, mengapa tidak bisa digunakan singkatan JPK atau JKL?

    ReplyDelete