15 January 2016

Orang lama ingin junta militer

Sambil menonton liputan teror bom di Jakarta, seorang bapak 60an tahun bikin analisis panjang. Analisisnya diamini tiga bapak lain yang sama-sama sepuh. Suasana di depot mi dan es degan di dekat kampus UPN Surabaya itu pun makin meriah di siang bolong.

"Sudahlah, dari dulu saya sudah bilang belum waktunya sipil jadi presiden. Paling aman itu tentara," kata bapak yang tinggal di kawasan Waru Sidoarjo.

"Dulu, zaman SBY, gak ada bom kayak gini," tambahnya.

"Siapa bilang gak ada bom?" saya menyela. "Zaman SBY, 2004-2014, itu juga banyak kejadian bom. Silakan diingat baik-baik."

Bapak berkacamata itu terdiam sesaat. Kelihatannya tidak suka argumentasinya saya mentahkan. "Paling aman itu zaman Pak Harto," kata saya menghibur beliau. Tidak enak juga menyerang orang tua yang sedang semangat-semangatnya menyerang kepemimpinan sipil.

"Oh iya, zaman Pak Harto itu paling aman dan damai. Gak ada bom, cari uang gampang, bensin murah, gak seperti sekarang. Gak ada bom-boman dan kekacauan kayak di TV itu," ujarnya bersemangat.

Bapak-bapak yang lain pun mengiyakan. Mengganggap militer paling cocok memimpin Indonesia. Pak Harto dinilai paling hebat karena bisa menciptakan stabilitas ekonomi, keamanan, dsb.

Sebetulnya saya ingin menyampaikan pendapat berbeda. Sisi gelap rezim Orde Baru yang otoriter an antidemokrasi itu. Semua bupati, wali kota, gubernur, menteri-menteri dijabat tentara aktif. Tapi situasi di warkop tidak kondusif untuk berdebat.

Di warkop kita harus ikut arus pendapat yang dominan. Melawan pendapat dominan terang-terangan, apalagi tiyang sepuh, orang tua, jelas tidak sopan. Kita bakal menjadi persona non grata alias orang yang tidak disukai. Maka, kita cukup melawan di dalam hati.

Pendapat para tiyang sepuh di Surabaya ini sejatinya masih berkembang di mana-mana. Intinya, sipil belum saatnya jadi kepala negara. Militer yang paling cocok jadi presiden untuk Indonesia yang luas, penduduknya banyak, dan ruwet itu. Sampai kapan?

"Ya, sampai situasinya memungkinan," kata bapak dari Sidoarjo itu. Menurut dia, risikonya terlalu tinggi kalau sipil macam Jokowi yang jadi presiden. Wibawa dan power-nya lemah.

Tentu saja pendapat ini antidemokrasi. Di mana-mana yang namanya junta militer ala Orde Baru tidak bisa dibenarkan. Myanmar pun rupanya mulai kapok diperintah militer. Thailand juga begitu. Kecuali di Korea Utara yang tampaknya masih akan lama prosesnya.

Tapi mengubah mindset atau (istilah Jokowi) revolusi mental niscaya sangat tidak gampang di Indonesia. Jangankan orang-orang awam di warkop, para politisi koalisi merah putih pun menganggap Prabowo lebih layak jadi presiden karena eks militer, mantan danjen kopassus.

Apakah presidennya militer lantas dijamin aman, damai, bebas teror? Nggak juga. Kerusuhan Situbondo dan Tasikmalaya misalnya terjadi pada zaman Pak Harto. Puluhan tempat ibadah dibakar tanpa bisa dicegah oleh polisi dan tentara. Termasuk tempat-tempat ibadah yang dekat dengan kantor polisi dan markas tentara.

Syukurlah, media sosial yang dikuasai anak-anak muda kelahiran di atas 1990 tak ada suara yang menginginkan junta militer berkuasa. Anggap saja suara orang tua di warkop mi ini cuma mimpi di siang bolong.

6 comments:

  1. Orang-orang tua itu nostalgia yang bodoh. Era Orde Baru, negara banyak sekali melakukan kekerasan terhadap warga negara, dengan dalih stabilitas nasional. Dimulai dengan golongan kiri yang disamaratakan dengan komunis. Dibunuh, dipenjarakan, dianiaya, dan dibuang ke pulau tanpa pengadilan. Lalu golongan Tionghoa yang dilarang menggunakan namanya sendiri, dicap komunis (wong pedagang kapitalis dicap komunis). Kaum Islam diobok-obok. Mahasiswa ditekan. Aktivis diculik. Orang Buddha diharuskan memodifikasi keyakinannya.

    Yang enak itu hanya kroninya Suharto, segelintir konglomerat, jenderal-jenderal. Orang biasa gak enak blas.

    Disogok bensin murah sudah senang, oalah. Dulu waktu perang kemerdekaan semboyannya "Merdeka atau Mati". Sekarang semboyannya "Lebih Baik Bensin Murah daripada Merdeka".

    Tiyang sepuh di warung kopi pun perlu pendidikan agar otaknya bersih dari kotoran indoktrinasi Orde Baru.

    ReplyDelete
  2. om hurek, bagi saya seorang Kristen Batak, zaman Pak Harto adalah zaman kekelaman... karena pada masa inilah, apa yg sering dilawan oleh lembaga2 HAM di seluruh dunia yaitu campur tangan pemerintah dalam organisasi keagamaan, nyata terjadi...

    konflik hebat di HKBP yg kemudian berujung pada penutupan gereja2 HKBP yg "membelot" dari pemerintah karena tetap setia pada Ephorus yg "bener" (bukan ephorus yg didukung oleh pemerintah), semua karena pemerintah Orde Baru sudah masuk terlalu jauh sampai harus mengintervensi urusan keagamaan seperti menunjuk seseorang menjadi pemimpin organisasi...

    target utama pemerintah sebenarnya adalah Nahdlatul Ulama, ormas keagamaan terbesar di Indonesia... gagal mengobok-obok NU, akhirnya pemerintah berhasil menduduki HKBP yg berpusat di kota kecil, di Tarutung, yg berjarak 10 jam perjalanan darat dari Medan...

    orang tua saya akhirnya keluar dari HKBP karena tidak tahan dgn semua yg saat itu terjadi di gereja Protestan terbesar di Indonesia & Asia Tenggara itu... tapi sebagian orang Batak yg lain tetap bertahan dgn beribadah di gereja-gereja tenda, karena gedung gereja mereka disegel oleh pemerintah...

    saya terus berdoa semoga hal seperti ini tidak terjadi lagi... dan bagi gereja2 manapun di dunia ini yg sedang menjadi korban intervensi pemerintah, seperti gereja Katolik di Tiongkok, agar Tuhan tetap beserta mereka dan membebaskan mereka dari belenggu "penjajahan" oleh pemerintah mereka...

    ReplyDelete
  3. Terima kasih atas komentar yang mencerahkan.
    Itu sebabnya, saya bilang orba itu junta militer seperti di myanmar. Semua pejabat penting mulai bupati gubernur presiden harus militer. Ada kuota yang sangat banyak untuk militer di parlemen. Hanya golkar bentukan dan binaan militer yang boleh menang. Dua partai lain hanya hiasan. Itu pun ketua dan pengurusnya harus direkom penguasa militer.
    Tapi kejelekan junta militer orba ini sering dilupakan orang indonesia yang frustasi melihat elite politik dan pejabat sekarang. Orang juga kagum dengan malaysia dan singapura yang antidemokrasi tapi sangat maju. Buat apa demokrasi kalau rakyat lapar?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dengan adanya demokrasi kita mempunyai kebebasan utk memperjuangkan nasib kita sendiri secara ekonomi. Boleh memilih pemimpin jujur dan berprestasi seperti Ahok Jokowi Risma Ridwan Kamil.

      Delete
  4. Selamat pagi Bang Hurek....
    Semoga masih ingat sama saya, Guk Setya ..
    piye kabare ? enak jamane sopo tho ?? hahaha

    Lama ta jumpa ya Bang ? semoga tetap bersahaja dan selalu mengungkap tabir hari ini ...

    Semangat Bang..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hihihi yuk Setya dari masangan. Masih ingatlah. Duta wisata yang kreatif dan komunikatif yang pernah saya temui di sidoarjo. Lama banget kita tak bertemu. Terakhir di pameran buddhis di surabaya beberapa tahun lalu. Salam kerja kerja kerjasama...

      Delete