05 January 2016

NTT terbaik toleransi beragama



Di depot kecil di kompleks Bandara Eltari Kupang, saya membaca Kompas edisi 2 Januari 2016. Salah satu berita kecil di halaman dalam menarik perhatian saya. "NTT terbaik jalankan praktik toleransi beragama," begitu judul berita yang ditulis Kornelis Kewa Ama, jurnalis asal Adonara, Flores Timur.

Gubernur NTT Fransiskus Lebu Raya, juga asli Adonara, menerima penghargaan itu dari Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin. NTT bisa dianggap sebagai teladan untuk keharmonisan umat yang berbeda agama. "Sudah puluhan tahun NTT orang NTT hidup rukun meski berbeda agama karena menjunjung tinggi kearifan lokal," ujar Pak Gubernur.

Meski bisa bias, karena saya pun asli NTT, harus diakui bahwa kehidupan antarumat di NTT paling asyik dan harmonis. Tak usah jauh-jauh. Saat Natal di Desa Waowala, Kabupaten Lembata, 24-26 Desember 2015, umat Islam yang jumlahnya cukup banyak ikut jadi panitia resepsi. Bersama warga desa lain yang Katolik (di sana hanya ada dua agama: Katolik dan Islam), warga muslim ikut sibuk mempersiapkan makanan untuk menjamu jemaat dari 6 desa lain.

Tradisi menjamu jemaat yang mengikuti misa Natal dan Paskah sudah berlangsung sejak lama. Tidak ada seruan untuk mengharamkan selamat Natal dsb di NTT. Natal, Paskah, Lebaran jadi momentum untuk membangun kebersamaan. Juga makan besar karena pasti sembelih kambing, babi, sapi, ayam.

Sebaliknya, saat Lebaran pun umat Katolik yang mayoritas jadi panitia Idulfitri dan Iduladha. Umat Islam dari belasan desa itu ditempatkan di rumah-rumah orang Katolik karena salat dan perayaan Idulfitri bergiliran dari desa ke desa. Usai salat Id, umat Islam dijamu makan bersama di tenda-tenda yang sudah disiapkan. Semua orang ikut terlibat. Tak memandang Islam, Katolik, dsb.

Kearifan lokal yang disebut Gubernur Frans Lebu Raya ini merupakan tradisi Lamaholot di Flores Timur dan Lembata. Di wilayah lain macam Sikka, Ende, Manggarai pun tradisi silaturahmi tanpa sekat agama ini sangat dijunjung tinggi. Perbedaan agama bahkan menjadi hilang karena nilai-nilai lokal Lamaholot itu tadi.

Terlalu banyak contoh harmoni antarumat yang bisa diangkat di NTT. Kalau di Jawa sering ribut izin mendirikan gereja, izin dipersulit, di Lembata gereja atau masjid sepertinya tidak perlu repot urus izin. Umat Katolik ikut jadi panitia pembangunan masjid (langgar) di desa seperti di Mawa, Kecamatan Ile Ape. Semua orang, apa pun agamanya, ikut kerja bakti mengambil batu, pasir, dsb untuk bikin masjid bernama Nurul Jannah itu.

Karena itu, saya paling malas membaca artikel, pernyataan, pidato, atau seruan para tokoh di Jawa tentang toleransi beragama. Bukan apa-apa. Yang namanya toleransi itu sudah jadi napas hidup di bumi NTT.

Setahu saya setiap tahun hanya ada dua gubernur yang mengantar dan menjemput rombongan jamaah haji di Bandara Juanda Surabaya. Gubernur Jawa Timur Soekarwo dan Gubernur NTT Frans Lebu Raya yang beragama Katolik. Pakde Karwo memang harus melepas rombongan calon haji karena Bandara Juanda itu memang wilayahnya. Tapi gubernur NTT jelas terkait kearifan lokal dan kasih sayang sesama anak manusia yang berakar sangat lama.

Tiba di kampung halaman, Lembata misalnya, yang mayoritas Katolik, para haji itu kembali dijemput bupati yang juga Katolik. Kemudian dijemput lagi oleh warga desa setempat yang juga Katolik. Lalu makan bersama gule kambing yang lezat.

"Toleransi dan kerukunan itu jangan hanya dibicarakan tapi dipraktikkan," kata Udin Kamaludin, tokoh muslim NTT.

Salut untuk NTT!

2 comments:

  1. Di Jawa banyak ketegangan karena aliran2 baru dari Yaman, Saudi, dan aliran2 Kristen baru dari Amrik.

    ReplyDelete
  2. Di jawa pun makin jarang bupati atau walikota mengucapkan selamat natal karena dilarang oleh mui. Spanduk dan baliho selamat natal dari pemda juga tidak ada lagi di jawa. Beda banget dengan selamat idul fitri. Padahal orang nasrani pun penduduk sah kabupaten atau kota setempat. Anggaran untuk kegiatan natal bersama juga nggak ada lagi. Itulah kenyataan yang kita hadapi hari ini.

    ReplyDelete