05 January 2016

Natal di Waowala Lembata yang Mengenyangkan




Di kampung halaman saya, yang mayoritas Katolik, perayaan Natal dan Paskah sejak dulu selalu meriah dan merakyat. Tak ada sinterklas. Tak ada pohon terang. Tak ada lagu-lagu Natal yang ramai di mana-mana.

Kor atau paduan suara pun tidak mungkin sebagus punyanya mas Yulius di Katedral Surabaya atau bung Sipri di Paroki Karangpilang yang ciamik soro. Kor-kor desa itu ya pokoke muni. Pokoknya bisa memawakan lagu-lagu ordinarium misa dan sebagainya. Kualitas petugas liturgi pun jelas kalah dengan umat Katolik di Jawa yang super minoritas.

Yang membedakan adalah kebersamaan dan kekeluargaan antarumat, bahkan antaragama. Di Jawa Timur, selesai misa Natal yang panjang semua orang buru-buru pulang ke rumah, mall, tempat hiburan, dsb. Jabat tangan selamat Natal hanya sebatas di antara keluarga atau teman-teman dekat. Sementara ribuan jemaat yang ikut misa itu kebanyakan tidak saling kenal, tak saling sapa, kecuali saat salam damai. Itu pun hanya bersalaman dengan dua tiga orang yang duduk di kiri kanan depan belakang.

Nah, ekaristi Natal 2015 ini dipusatkan di Gereja Stasi Waowala, Paroki Tokojaeng, Lembata. Masyarakat dari 7 desa ikut misa bersama di Waowala. Tahun lalu di Stasi/Desa Mawa, tahun sebelumnya di Stasi Atawatung. Diputar bergantian setiap tahun. Kebetulan tahun ini pastor yang memimpin perayaan Natal merupakan imam baru asal kampung halaman kami, Pater Ferdinandus Nuho SVD.

Ini kejutan bagi saya. Sebab baru kali ini saya ikut misa di NTT yang dipimpin romo kongregasi SVD (Societes Verbi Divini). Romo-romo SVD ini sudah sangat lama menyerahkan Kabupaten Lembata dan Flores Timur kepada romo-romo diosesan alias projo. Umat yang lama jelas sangat kangen dengan imam-imam SVD yang merakyat itu.

Pater Ferdinandus sendiri awal 2016 ini dikirim sebagai misionaris di Afrika. Gantianlah! Kalau waktu saya kecil pater-pater misionaris dari Eropa yang dikirim ke Lembata, sejak 20 tahun terakhir pater-pater asal Lembata yang SVD dikirim ke Afrika, Amerika Latin, Eropa dsb. "Dunia adalah paroki kami," begitu jargon SVD yang saya ingat sejak SD.

Perayaan ekaristi malam Natal dan 25 Desember 2015, pagi, lancar dan ramai. Listrik PLN (yang baru masuk Lembata tahun 2000an) jeglek beberapa kali. Tapi homili (khotbah) pastor muda ini sangat berkualitas. Pantaslah Pater Ferdinandus diutus sebagai misionaris di luar negeri. Ini juga menunjukkan bahwa SVD berhasil menjaga standar mutu imam-imamnya sejak prakemerdekaan Indonesia.

Yang paling asyik di Lembata -- dan tidak ada di Surabaya, Sidoarjo, Malang, Jember dan Jawa umumnya -- adalah acara makan bersama setelah misa. Pemerintah desa Waowala dan dewan stasi telah menyiapkan 4 tenda. Juga menyembelih kambing, babi, ayam, tak ketinggalan ikan laut nan segar untuk menjamu para tamu dari 6 desa tetangga tadi.

Semua orang, tua muda, anak-anak, siapa saja, digiring menuju ke tenda yang sudah disediakan tadi. Saya kebagian tenda di halaman rumah keluarga muslim. Orang-orang Islam setempat pun sangat sibuk melayani kami yang baru selesai mengikuti misa Natal pagi, 25 Desember 2015. Karena itu, makanan yang disediakan di sini 100 persen halal alias tanpa babi. Tapi ada tuak yang dicampur raha (kulit kayu) untuk jamu rada pahit. Ikan segar yang digoreng di rumah keluarga muslim ini enak sekali.

Suasana benar-benar mirip pesta rakyat. Jalan kaki sekitar 300 meter, saya kembali digiring ke tenda kedua. "Waduh, saya sudah makan di tenda sebelah," kata saya berkelit.

"Itu kan tenda sebelah. Di sini kan belum," kata seorang pengurus desa sembari menggandeng saya dan jemaat lain masuk ke tenda.

Yang ini tenda yang menyediakan daging babi. Ada juga minuman tradisional tuak (nira pohon siwalan) yang baru disadap. Makanlah lagi kami di situ. Perut pun makin penuh. Tentu tidak mungkin lagi mampir ke dua tenda sisanya atau ke rumah warga. Pesta rakyat Natal ini, maksudnya makan besar dan minum, berlangsung sampai sore.

Kemeriahan Natal ala orang kampung di Lembata inilah yang selalu mendorong para perantau untuk mudik meskipun tiket pesawat Surabaya-Kupang sudah melonjak sekitar 200 persen dibandingkan 5 tahun lalu di bulan Desember. Frans Hurek yang sudah karatan di Sabah Malaysia Timur pun menyempatkan diri datang bersama istrinya.

"Bae (baik) tidak bae, Natal di kampung lebih bae," kata perantau yang lain.

No comments:

Post a Comment