15 January 2016

Mesin ketik tua di pasar loak

Ada mesin ketik tua di lapak pasar loak Pucang Surabaya. Tak ada yang melirik. Sudah dua bulan lebih belum laku. Tapi si penjual tetap saja memajang di lapak baju bekas, baju, elektronik dsb yang serba bekas itu.

Di era digital ini siapa yang peduli mesin ketik lawas? Tak tik tak tik yang bunyinya khas itu? Ketika komputer biasa dan laptop pun mulai ditinggalkan karena dirasa kurang praktis?

Mesin ketik itu rupanya sudah jadi barang antik. Hanya punya nilai buat kolektor dan penggemar peradaban macam bung Leo mantan editor Radio Nederland. Atau penulis Remy Sylado yang masih sangat produktif menulis buku-buku tebal dengan mesin tik lawas.

Saya jadi ingat masa anak-anak di pelosok NTT. SD kami hanya punya satu mesin tik Brother. Mesin tulis itu layaknya barang mewah yang hanya bisa kami lihat dan kagumi. Hanya guru tertentu yang memakai untuk mengetik surat dsb.

Di desa saya cuma ada dua mesin ketik. Satunya lagi milik desa, sumbangan pemerintah karena Golkar menang 100 persen. Betapa bangganya desa kami punya mesin ketik mengingat banyak desa lain di kabupaten Flores Timur saat itu tidak punya.

Wow... betapa hebatnya anak-anak sekarang. Begitu lahir sudah main tablet dan aneka gadget nan canggih. Langsung kenal QWERTY tanpa perlu mengikuti proses yang panjang dan bertahap ala generasi saya.

Sambil berlalu dari lapak loak ini saya terus merenung. Ternyata buku-buku atau naskah yang dihasilkan lewat mesin ketik lawas itu justru jauh lebih bermutu ketimbang buku-buku di era digital. Ini pula yang membuat saya takjub dengan Sukarno, Hatta, Sjahrir, Muhammad Jamin, Tan Malaka, STA, Iwan Simatupang, HB Jason.... dan tentu saja Pramoedya Ananta Tour.

1 comment:

  1. Bung jangan remehkan buku buku sastra mutakhir seperti tulisan Eka Kurniawan, atau karya multimedia dan filem dari Mira Lesmana, atau musik modern dari anak2 milennial yang ada di Soundcloud. Jaman yang berbeda dengan teknologi berbeda melahirkan seniman2 dan pemimpin2 dengan karya yang sesuai dengan tuntutan jaman. Indonesia setelah ditindas Orde Baru 32 tahun lebih sekarang memasuki jaman keemasan kreativitas. Jangan terlalu dibelenggu masa lalu!

    ReplyDelete