10 January 2016

Larantuka Lewonamang, Nagi Tua Punya Nama

Sejak Lembata jadi kabupaten sendiri di awal reformasi, hubungan orang Lembata dengan Larantuka seakan terputus. Sangat jarang orang Lembata yang bepergian ke Larantuka. Kecuali ada urusan yang sangat-sangat penting.

Lembata punya pelabuhan, bandara, dan hampir semua fasilitas yang sama dengan Larantuka, ibukota Kabupaten Flores Timur, NTT. Urusan dinas, sembako, BBM, dsb bisa diselesaikan di Lewoleba, kota sederhana yang jadi ibukota Kabupaten Lembata, hasil pemekaran Flores Timur.

Syukurlah, hubungan Lembata dengan Flores Timur, yang sama-sama etnis Lamaholot, doyan makan jagung titi dan sayur kelor (motong alias merungge), masih sedikit terjaga karena sama-sama masuk Keuskupan Larantuka. Dan hampir mustahil Lembata membuat keuskupan sendiri yang terpisah dari Dioses Larantuka di Bukit San Dominggo itu.

Dulu, kami, perantau asal Lembata, harus singgah dulu di pelabuhan atau bandara Larantuka sebelum naik kapal motor kecil ke Lembata. Sekitar 2,5 sampai 3,5 jam. Naik feri pun harus turun di Waibalun, dekat Larantuka. Tapi sekarang Lembata punya dermaga feri yang justru lebih bagus ketimbang Larantuka di Waijarang.

Begitulah. Referensi saya tentang Larantuka pun akhirnya hilang. Sebab saya memang tidak pernah mampir lagi di kota tua yang berbahasa Nagi alias Melayu Larantuka nan unik itu. Saya hanya bisa memantau Larantuka via media massa dan YouTube.

Lagu-lagunya itu lho yang bikin saya kangen. Khususnya lagu Bale Nagi dan Ema Sayang. Setiap kali menikmati dua lagu itu, berbahasa Nagi, saya melihat video kota Larantuka yang pernah menjadi tempat sekolah saya selama 4 tahun. Khususnya di San Dominggo, dekat keuskupan. Mengenang pastor-pastor tua yang dulu "sangat berkuasa" di Keuskupan Larantuka. Khususnya Monsinyur Darius Nggawa, uskup saat itu, yang sangat kebapakan dan khotbahnya paling enak di NTT (menurut saya).

Saat mudik ke kampung halaman akhir Desember 2015, saya kebetulan duduk di samping seorang pria asal Larantuka. Lamat-lamat saya dengar lagu lama karya Bapak Mateus Wari Weruin (almarhum) berjudul Larantuka Kota Reinha. Iramanya dolo-dolo, syair berbahasa Nagi. Menceritakan ketaatan orang Larantuka pada imannya di bawah lindungan Reinha Rosari alias Bunda Maria.

Pak Wari ini komposer lagu-lagu liturgi sekaligus guru musik dan dirigen terkenal di Larantuka. Salah satu karya monumentalnya adalah Misa Dolo-Dolo yang sangat terkenal di kalangan umat Katolik Indonesia sampai sekarang. Di tangan Pak Wari, lagu dolo-dolo terasa sangat hidup. Merangsang orang Lamaholot untuk bernyanyi dan menari bersama.

Saya pun menikmati lagu dolo-dolo ciptaan Pak Wari itu. Membuka kenangan lama yang sudah lama berlalu. "Larantuka lewo namang. Nagi tua punya nama. Tuan Reinha Tuan Ana. Torang mati di kaki Tuan," begitu syair yang melukiskan dahsyatnya iman umat Katolik di Larantuka tempo doeloe di awal pekabaran Injil di bumi Lamaholot.

Saya pun berselancar di YouTube. Ketemu! Tiga nenyora dan satu no bernyanyi dalam vocal group. Lumayan enak meskipun suara si no (pria) tenggelam dikeroyok tiga gadis. Tapi lumayan enak untuk nostalgia, mengenang Kota Reinha alias Larantuka.

LARANTUKA KOTA REINHA

By Mateus Wari Weruin/FK Fernandez

Misi Solor telah lenyap
Benteng Lohayong saksi nyata
Kaka aring pindah agama
Bale serang kota reinha
Larantuka Sikka Paga
Lagi Wure dengan Konga
Siap siaga dalam bertahan
Berdiri teguh di dalam iman

Refren:

Larantuka lewo namang
Nagi tua punya nama
Tuan Reinha Tuan Ana
Torang mati di kaki Tuan

Raja dengan Conferia
Keka dinde renu semua
Tiap hari tetap berdoa
Dalam tori dalam kapela
Angkat hati pada Allah
Serah diri pada Reinha
Kru dan kontas ganti ajimat
Rela mati untuk agama

Larantuka lewonamang...

Pesa penya san dominggo
Tempa somba dudo mendeko
Kapal musuh di ujung tanjo
Bapa sentidu mama besindo
Hela genta memberi segna
Rede genda tamba semangat
Asa pesa sambil permesa
Tiro tiro jo lalu ponta

Larantuka lewonamang...

Tuan panje tuan andara
Minta berkat dari allah
Tuan sisu kapiten jantera
Kumpu renu kipa belanda
Lia tuan reinha datang
Lindo nagi larantuka
Lagi anyo di guarda
Dengan pedang api bernyala

Larantuka lewonamang...

(Album Rohani Bersama Bunda 2)

No comments:

Post a Comment