09 January 2016

Klik berita koran sangat rendah

Akhir-akhir ini saya sering membaca berita surat kabar versi online meskipun masih sering membeli edisi kertas (cetak). Membaca di internet dan kertas punya plus minusnya sendiri. Bagi kita yang sudah bertahun-tahun membaca koran kertas, newspaper, tentu menikmati edisi cetak lebih asyik. Sebaliknya, edisi online sangat praktis, efisien, tapi juga punya banyak kelemahan.

Sabtu malam, 9/1/2016, jelang pukul 21.00, iseng-iseng saya memantau edisi print koran Kompas. Surat kabar yang oplahnya buanyaak ini, 500 ribuan, ternyata sangat mengenaskan di internet. Sangat sedikit orang yang membaca edisi print di internet (print.kompas.com).

Berita narapidana kabur, sebagai misal, hanya 70 klik (dibaca). Artikel bagus tentang tunabudaya tulisan Haidar Bagir 218 klik. Berita gonjang-ganjing Partai Golkar hanya 122 klik. Betapa jomplangnya pembaca koran kertas dengan koran online.

Jumlah klik berita-berita Kompas ini malah kalah dengan blog-blog populer. Melihat data sepintas ini, saya jadi sangat bahagia jika tulisan sederhana di blog saya bisa diklik 30-80 kali. Tak hanya Kompas, koran-koran lain yang bikin edisi internet pun kliknya rendah.

Ada apa ini? Bisa dipastikan, jutaan pengguna internet di Indonesia sebetulnya tidak berminat membaca berita-berita serius ala surat kabar atau majalah. Internet digunakan untuk hal-hal lain di luar urusan berita. Situs-situs berita macam detik.com atau okezone.com jauh lebih banyak kliknya daripada situs koran-koran yang edisi cetaknya sangat mapan.

Fakta ini juga menunjukkan bahwa sesungguhnya edisi internet tidak menggusur edisi cetak. Sangat sedikit pembaca koran kertas yang beralih ke edisi online. Profil pembaca media cetak dan media online bisa dipastikan sangat berbeda.

Yang jadi tantangan terbesar bagi media-media tradisional macam surat kabar dan majalah justru media sosial. Media sosial ini heboh luar biasa. Begitu banyak informasi yang dibagi, dikopi, dikomentari, dan dijadikan topik diskusi di media sosial.

Tinggal bagaimana para pengguna media sosial agar bisnis media cetak tetap bertahan di era tsunami informasi ini.

No comments:

Post a Comment