14 January 2016

Ketua Gafatar Sidoarjo Jual Rumah lalu Hijrah ke Kalimantan



Lama tak terdengar kabarnya, Ketua Gerakan Fajar Gafatar Sidoarjo Arif Muarifin kini sudah hengkang ke Kalimantan. Bung Arif, sapaan akrabnya, rela menjual rumahnya di Kecamatan Waru, Sidoarjo, untuk bergabung dengan ribuan anggota Gafatar lainnya yang tengah membuka lahan di Kalimantan.

Berikut petikan wawancara Lambertus Hurek dengan Arif Muarifin, yang juga mantan ketua Gafatar Jawa Timur.

Apa saja kegiatan Gafatar Sidoarjo dan Jawa Timur sekarang?


Tidak ada. Gafatar itu sudah membubarkan diri saat kongres pada Agustus 2015
lalu. Maka, otomatis semua kegiatan organisasi seperti bakti sosial,kampung Pancasila, budidaya pertanian juga tidak ada lagi. Saya pun bukan ketua lagi. Wong organisasinya tidak ada.

Mengapa bubar?


Itu keputusan kongres. Alasannya antara lain karena Gafatar tidak kunjung mendapat legalisasi atau pengakuan dari pemerintah. Kegiatan-kegiatan kami juga mulai dicurigai. Padahal yang kami lakukan itu kegiatan sosial untuk masyarakat luas. Akhirnya, kongres sepakat untuk membubarkan Gafatar.

Anda sekarang di mana?


Di Kalimantan.

Kabarnya para pengurus dan anggota Gafatar memutuskan hijrah ke Kalimantan untuk membuat semacam kampung Gafatar?


Tidak begitu. Kami tersebar di mana-mana, membaur bersama masyarakat. Kami di sini (Kalimantan) tidak membawa-bawa bendera Gafatar yang sudah bubar itu.

Investasi apa? Kabarnya Anda sampai menjual rumah untuk membiayai kegiatan Gafatar di Kalimantan?


Tidak benar. Saya menjual rumah (di kawasan Waru) ya untuk pengembangan ekonomi saya sendiri. Secara pribadi saya melihat ada peluang bisnis di Kalimantan. Nggak ada kaitan dengan Gafatar. Tujuan investasi ini ya untuk keluarga saya juga.

Berapa orang eks Gafatar dari Sidoarjo dan Jatim yang sudah hijrah ke Kalimantan?
Wah, saya nggak tahu karena tersebar di mana-mana. Perkiraan saya dari Sidoarjo sekitar 100 keluarga.

Apakah semua pengurus diminta ke Kalimantan?


Nggak juga. Teman-teman memang diajak (ke Kalimantan), tapi sifatnya sukarela. Yang nggak mau ya nggak apa-apa. Jadi, tidak benar tuduhan seakan-akan kami membawa lari orang ke Kalimantan. Memangnya kami ini punya kekuatan apa? Modalnya dari mana? Orang yang ke Kalimantan itu karena kemauannya sendiri. Saya juga tidak dipaksa ke Kalimantan.

Bisnis apa sih di Kalimantan?


Usaha yang ada kaitannya dengan ketahanan dan swasembada pangan. Makanya, butuh lahan yang luas. Di Jawa kan sulit mendapatkan lahan yang luas untuk pertanian. Teman-teman juga masih bisa melakukan kegiatan sosial di sini.

Belakangan muncul tuduhan bahwa kegiatan-kegiatan sosial yang dulu sering diadakan Gafatar itu cuma kedok untuk mencari pengikut dan simpatisan?


Silakan tanya ke masyarakat di kampung-kampung tempat kami baksos dulu. Apa benar kami melakukan hal yang aneh-aneh saat kegiatan sosial. Wong kami cuma mengadakan pengobatan gratis, kerja bakti, bersih-bersih saluran air, penghijauan, dan sebagainya. Kami juga ajak warga untuk mencintai NKRI, dengan deklarasi kampung Pancasila, sosialisasi UUD 1945, Bhinneka Tunggal Ika. Silakan tanya ke warga
setempat.

Sekarang ada tuduhan bahwa kelompok Gafatar itu memiliki paham keagamaan yang menyimpang dari ajaran agama Islam? Misalnya tidak wajib salat lima waktu?


Ah, nggak seekstrem itulah. Yang jelas, kami mengikuti ajaran yang bersumber dari Millah Ibrahim baik yang diajarkan Nabi Musa AS, Nabi Isa AS, maupun Nabi Muhammad SAW. Penjelasan soal keyakinan agama ini nggak bisa dibicarakan sepotong-sepotong lewat telepon. Ini membutuhkan pemahaman yang mendalam.

Bagaimana dengan tuduhan bahwa Bapak Ahmad Musadek merupakan pemimpin utama Gafatar?


Yang jelas, beliau Ustad Ahmad Musadek itu merupakan sumber inspirasi bagi kami. Semua kegiatan sosial kemasyarakatan dan pengembangan organisasi selama ini terinspirasi oleh beliau. (rek)

No comments:

Post a Comment