06 January 2016

Kawin Kampung dan Kawin Lari di Flores Timur




Masih dalam suasana Natal 2015 yang meriah di kampung halaman, pantai utara Kabupaten Lembata, pinggir Laut Flores, tiba-tiba muncul berita mengagetkan. Seorang pemuda 19 tahun, sebut saja P, menghamili gadis sebaya di desa tetangga. Usia kandungan sudah tiga bulan.

Sesuai adat Lamaholot, etnis di Kabupaten Flores Timur dan Lembata, solusinya ada dua: dijadikan istri alias dinikahi atau cukup membayar belis (maskawin) berupa gading gajah. Opsi pertama paling diinginkan keluarga besar satu marga, misalnya Hurek Making.

"Kita rugi besar kalau cuma pate bala (membayar gading) tapi tidak dinikahi. Sia-sia gading keluar dari suku lango," kata seorang petinggi suku Hurek.

Lagi pula, stok gading di Lembata saat ini benar-benar langka. Akibatnya, masih banyak suami yang punya utang adat berupa maskawin gading gajah itu. Sampai mati, hingga anak cucu, utang adat ini akan selalu ditagih oleh petinggi marga sang istri alias opulake.

Sistem belis gading yang luar biasa langka dan ketat ini juga sekaligus mengikat para laki-laki etnis Lamaholot agar tidak berpoligami. Sebab, pada dasarnya setiap laki-laki hanya dijatah satu gading. Kalau mau tambah istri ya silakan cari gading sendiri sampai mati! Dan itu akan merusak sistem adat Lamaholot yang sampai sekarang dikawal dengan sangat ketat.

"Saya mau menikahi dia," kata adik P kepada para pemuka adat. "Saya yang tanggung jawab."

Plong! Jawaban positif ini membuat urusan adat menjadi mulus. Toh sudah biasa zaman dulu, ketika orang kampung belum mengenal agama Katolik dan Islam, banyak wanita hamil sebelum upacara pernikahan resmi. Orang-orang kampung justru lebih ribut jika pasangan suami istri yang menikah resmi, pesta besar-besaran, tapi ternyata tidak punya anak. Atau, tidak punya anak laki-laki. Siapa yang jadi penerus adat patriarkistis itu?

"Keluarga besar sudah koda kiring (bicara adat) untuk mengurus persoalan ini. Tidak ada masalah," kata seorang bibi saat saya hubungi lewat ponsel kemarin.

Intinya, si P sudah pasti akan menikahi gadis yang telah dihamilinya itu. Maskawin berupa gigi gajah yang panjang itu akan diserahkan ke opulake (keluarga wanita) kelak di kemudian hari. Suatu saat kalau sudah ada gading baru dibayar belisnya. Tapi wanita itu akan diantar masuk ke keluarga P, jadi anggota suku/marga si pria.

"Persoalannya menjadi lain kalau anak P ini tidak mau kawin dengan nona itu," kata si bibi yang sangat ahli soal adat Lamaholot.

Lalu, bagaimana dengan urusan agama atau gereja?

Itu urusan belakangan hehehe.... Orang Flores Timur dan Lembata, meskipun sejak dulu beragama Katolik, kebanyakan lebih mendahulukan penyelesaian secara adat. Inilah yang disebut KAWIN KAMPUNG. Pastor-pastor lama yang berasal dari Eropa biasanya pusing tujuh keliling dengan budaya kawin kampung tempo doeloe yang ternyata masih dijumpai sampai sekarang. Sebab pasangan yang sudah kawin kampung sangat layak hidup bersama layaknya suami istri meskipun belum diberkati di gereja.

Sistem kawin kampung ala Lamaholot jelas bertentangan dengan hukum kanonik perkawinan Katolik. Gereja sangat menekankan sebuah pernikahan ideal yang monogamis, tidak terceraikan, pantang berhubungan seks sebelum menikah, tidak boleh punya ikatan darah yang sangat dekat.

Tapi bagaimana kalau pelaku-pelaku kawin kampung ini banyak sekali? Dan sudah menjadi budaya masyarakat tradisional macam Lamaholot yang baru mengenal Katolik beberapa generasi? Apakah mereka-mereka ini akan dikucilkan? Tidak boleh terima komuni? Tak boleh terima sakramen-sakramen?

"Bukankah Yesus datang untuk menyembuhkan orang sakit? Orang-orang sakit itulah yang justru sangat membutuhan dokter. Bukan orang sehat," begitu argumentasi para sesepuh kampung saat berdiskusi dengan pastor.

Maka, para pasutri kawin kampung ini suatu saat akan "diputihkan" di melalui pemberkatan pernikahan di gereja. Diberkati ramai-ramai lewat pernikahan massal. Bukan pemberkatan satu pasang mempelai layaknya penerimaan sakramen pernikahan yang normal.

Orang-orang kampung biasa menyebut pernikahan yang normal (ideal) sebagai KAWIN MULIA. Pasangan kawin mulia ini berhak menerima sakramen pernikahan secara eksklusif, misa panjang dan lengkap. Mereka juga biasanya dipestakan besar-besaran di lapangan dan sangat meriah. Pemberkatan nikah massal biasanya cuma sekadar makan-makan ringan karena toh mereka sudah punya anak dan sudah lama tinggal serumah.

Saya masih ingat, saat masih kecil, Pater Petrus M. Geurtz SVD asal Belanda sangat gencar melakukan penyuluhan dan penyadaran untuk mengikis tradisi kawin kampung yang tidak gerejawi itu. Hasilnya lumayan. Angka kawin kampung turun, kawin mulia naik tajam. Tapi setelah pastor-pastor misionaris berpulang, diganti pastor-pastor muda yang justru asli Lamaholot, angka kawin kampung naik lagi. Maklum, romo-romo pribumi lebih permisif dengan tradisi nenek moyangnya meskipun bertentangan dengan hukum gereja.

Oh ya, kawin kampung di Flores Timur dan Lembata tidak selalu karena si wanita sudah hamil duluan. Ada juga si wanita yang nekat kabur ke rumah keluarga pacarnya, tidak mau pulang, karena orangtuanya tidak setuju dengan si laki-laki. Ini semacam cerita KAWIN LARI di sinetron atau filem.

Kawin lari hanya dilakukan si wanita (yang belum hamil) yang sudah sangat cinta pada kekasihnya. Kalau laki-laki sih tidak perlu kawin lari segala. Begitu si pacar hamil, otomatis proses kawin kampung, urusan adat, langsung ditangani kedua keluarga besar.

Biasanya wanita yang nekat seperti ini tidak akan pulang meskipun diancam macam-macam. Dia hanya ingin jadi istri si pria pujaannya itu. Kalau sudah begitu, pihak keluarga besar suku si pria langsung merespons dengan mengurus koda kiring, bahas gading, dsb. Kawin kampung jadi solusi yang efektif. Kalau wanita itu tidak dilindungi, tidak ada solusi adat, bisa jadi nyawa wanita nekat itu akan terancam.

Biasanya, setelah punya anak, beberapa tahun kemudian, hubungan dengan orangtuanya akan pulih. Tapi ada juga orangtua yang melakukan ritual PORO KOLI alias memutus hubungan keluarga dengan anak kandungnya untuk selamanya.

1 comment:

  1. Saya pikir di Kabupaten Sikka juga banyak kasus serupa.
    Biasanya belis untuk wanita yang kawin lari lebih kecil daripada belis pernikahan yang diurus melalui "pintu besar".

    ReplyDelete