05 January 2016

Blog macet di NTT karena gaptek




Selama 10 hari, seperti biasa, saya mudik ke kampung halaman di Kabupaten Lembata NTT. Selama itu pula saya kehilangan sinyal untuk berselancar di jagat maya. Sampai sekarang wilayah NTT hanya bisa diangkau Telkomsel.

Maka ponsel BB saya yang pakai operator lain mati kutu di kampung. Ibarat HP mainan anak-anak saja. Padahal, saya hanya bisa mengetik dengan nyaman di BB yang tidak pakai layar sentuh. Mengetik di Samsung yang android itu, yang saya cemplungkan kartu Telkomsel, ternyata masih salah melulu meskipun saya sudah mencoba hampir dua tahun.

Tapi tidak apa-apa. Justru hidup tanpa sinyal seluler, kecuali Telomsel, itu pun di titik tertentu saja (dataran tinggi) banyak manfaatnya. Saya bisa kembali seperti masa anak-anak sebelum meninggalkan kampung halaman selepas lulus SD.

Saya jadi sangat dengan alam. Bercumbu dengan tanaman jagung yang masih setinggi 20an cm. Memetik daun kelor untuk sayur setiap hari. Kelor alias merungge memang sayuran yang paling populer di NTT yang kering itu. Saya juga makin betah menikmati rumah-rumah adat di Napaulun, kampung lama nenek moyang, yang cenderung tidak terurus itu.

Jauh dari hiruk pikuk kendaraan bermotor, suara angin, dedaunan yang bergoyang, binatang liar, burung-burung terasa begitu jelas. Itulah musik alam ciptaan Tuhan yang sejati. Tetirah dari jagat maya juga membebaskan saya untuk sesaat tidak terlibat dalam polemik berapa grup media sosial di Sidoarjo yang gak jelas juntrungannya.

Masa liburan usai sudah. Saatnya kerja kerja kerjaaaa.... Sinyal seluler kembali penuh sesak. Aku kembali larut dalam hiruk pikuk ala orang kota yang memang begitulah adanya.

Selamat tahun baru 2016. Salam sukses untuk sahabat-sahabat pembaca blog ini.

No comments:

Post a Comment