30 January 2016

Bandara Bawean menjanjikan harapan

Sabtu 30 Januari 2016, Lapangan Terbang Harun Tahir, Bawaan Gresik, diresmikan Menteri Perhubungan Ignasius Jonan. Inilah momentum bersejarah bagi rakyat Bawean yang sejak Indonesia merdeka terisolasi dari Jawa. Meskipun masuk Kabupaten Gresik, tetangga terdekat Kota Surabaya, Bawean terkesan seperti negeri yang jauh di Maluku atau Papua atau Natuna.

Selama ini warga Bawaan hanya dilayani kapal laut yang jumlahnya terbatas. Butuh waktu empat jam bahkan lebih. Itu pun tak selalu ada. Orang Bawaan sering terkatung-katung di Gresik karena tak ada kapal yang berani berlayar. Ombak kelewat besar. Bahaya!Maka beroperasinya bandara kecil ini layak disyukuri. Surabaya ke Bawean cukup 40 menit. Tarifnya pun lumayan murah karena disubsidi. Pejabat Gresik pun bisa blusukan ke sana dengan mudah.

Sebagai putra NTT, yang hampir setiap kabupaten punya bandara kecil, sejak lama saya mempertanyakan keanehan Jawa Timur. Provinsi kaya dengan 45 juta penduduk. Dengan pulau-pulau terpencil cukup banyak macam Bawean dan pulau-pulau di Sumenep Madura. Mengapa tidak dari dulu bikin bandara perintis? Mengapa tidak pernah dipikirkan gubernur dan parlemen? Mengapa tunggu tahun 2015-2026, setelah 70 tahun Indonesia merdeka, baru bikin bandara?

Berapa sih biaya pembangunan bandara kecil? Pasti jauh lebih murah ketimbang biaya ngelencer, studi banding, atau jalan-jalan pejabat dan keluarganya. Tapi mengapa mengapa mengapa.....?

Pulau Bawean punya dua kecamatan. Statusnya bukan kabupaten sendiri. Sejak dulu orang Bawean lebih banyak merantau ke Malaysia dan Singapura sehingga jarang terlibat dalam proses pembuatan kebijakan publik di pemerintahan dan dewan. Mereka seperti orang Tionghoa yang apolitis. Yang penting bisa kerja di luar negeri, bisa mudik lebaran, dsb.

Inilah bedanya Bawean dan Kepulauan Sumenep di Jatim dengan Alor, Lembata, Larantuka, Labuanbajo, Rote, Sumba dsb di NTT. Tempat-tempat di NTT ini sejak dulu sudah jadi kabupaten sendiri. Lembata meskipun belakangan baru jadi kabupaten mandiri (lepas dari Flores Timur), tapi sejak dulu sudah punya embrio sebagai daerah otonom.

Ketika pemerintah pusat membuka penerbangan perintis pada 1970an dan 1980an, kabupaten-kabupaten di NTT ini sangat antusias. Siapa yang tidak senang melihat kapal terbang? Meskipun kapal terbang waktu itu TO bekas milik Merpati yang suaranya sangat bising itu. Meskipun tidak ada penerbangan berjadwal. Meskipun lapangan terbang itu sering jadi tempat merumput kambing dan sapi karena nganggur bertahun-tahun.

Nah, ketika masuk reformasi, deregulasi bisnis penerbangan, NTT boleh dibilang paling siap. Bandara-bandara kecil yang jumlahnya 15 atau 20 ini tinggal dibenahi sedikit saja. Landas pacu diperbaiki dan diperpanjang. Lalu maskapai-maskapai baru macam Susi Air dan Trans Nusa pun mengisi peluang bisnis pesawat komuter jarak pendek itu.

Susi Air mengandalkan pesawat dengan 14 penumpang (termasuk 2 awak), sementara Trans Nusa yang milik pengusaha Tionghoa NTT menyediakan pesawat yang lebih besar. Maka bisnis penerbangan skala kecil di NTT tumbuh sangat pesat. Saat musim libur akhir tahun, kita tak akan dapat tiket jika tidak booking jauh hari sebelumnya.

Sebaliknya di Jatim, yang dikuasai peradaban darat, sama sekali tidak tertarik mengembangkan bandara di kawasan terpencil atau kota yang terlalu jauh dari Surabaya. Buat apa bandara kalau kita bisa naik mobil? Bukankah pejabat-pejabat itu selalu dikawal tim khusus?

Syukurlah, beberapa tahun lalu mulai ada kesadaran akan pentingnya bandara-bandara kecil. Dibangunlah bandara di Sumenep, Jember, disusul Banyuwangi. Bandara militer di Malang, Lanud Abdulrachman Saleh, pun mulai dikomersialkan. Kemudian mulai digagas bandara di Bawean yang akhirnya diresmikan hari ini.

Belajar dari jatuh bangun belasan bandara perintis di NTT, Bandara Harun Tahir di Bawean ini punya nilai strategis dan ekonomis yang luar biasa. Mungkin di tahun-tahun awal perusahaan penerbangan Airfast belum bisa laba. Apalagi jadwal rutinnya cuma dua kali seminggu. Mungkin maskapai memilih tarik diri ketika tidak mencapai skala keekonomian.

Tidak apa-apa. Biarkan saja bandara itu ditumbuhi rumput liar karena tak ada penerbangan. Jangan pernah diokupasi untuk pembangunan perumahan atau peruntukan lain. Percayalah, seperti di NTT, suatu ketika bandara perintis itu akan menjadi bandara komersial yang sangat efektif ketika iklim ekonominya membaik.

Dan, jangan lupa, Bawean sebagai pulau eksotis senantiasa memiliki daya tarik bagi wisatawan domestik dan internasional. Semoga Lapter Harun Tahir ini membawa kemaslahatan bagi saudara-saudari kita di Pulau Bawean!

No comments:

Post a Comment