22 January 2016

Bahasa Indonesia yang makin keminggris

Makin lama gaya bahasa orang Indonesia makin nginggris. Bahasa Indonesia yang sedikit-sedikit dicampur ungkapan bahasa Inggris sebagai bumbu atau penyedap. Sekaligus ingin menunjukkan bahwa orangnya bisa ber-English ria.

Fenomena nginggris ini sangat terasa sejak 20 tahun terakhir. Dulu, tahun 1950an hingga awal 1970an gaya bahasa rakyat elite Indonesia kemelondo: sedikit-sedikit dioplos bahasa Belanda. Lihatlah kalimat-kalimat Bung Karno dan menteri-menteri awal Orde Baru yang selalu ada oplosan ungkapan berbahasa Belanda. Setelah Belanda pergi, kita tetap saja berkiblat ke Barat, tapi kali ini Londo-nya ganti Amerika.

Mengapa penyakit NGINGGRIS dan KEMELONDO sulit dihapus di Indonesia?

Sudah banyak kajian yang dibuat doktor-doktor bahasa, munsyi, pusat bahasa, atau cuma obrolan kelas warung kopi. Mulai dari sejarah sebagai bangsa jajahan, mental rendah diri kas Inlander, snobisme, hingga mode sesaat. Kalau gak nginggris ketinggalan zaman. Kalau gak kemelondo dianggap bodoh. Orang yang berbahasa daerah malah jadi bahan guyonan di sinetron. Bahasanya para pembantu yang status sosialnya sangat rendah.

Pagi ini saya membaca ulasan bung Joss Wibisono di media sosial. Mantan redaktur Radio Nederland Seksi Indonesia ini mengutip kajian mendiang Ben Anderson PhD, indonesianis asal Amerika Serikat, yang belum lama ini jasadnya dikremasi di Kembang Kuning, Surabaya. Ben mengingatkan bahwa pola penjajahan Belanda di Hindia Belanda itu paling unik di dunia. Beda dengan kolonialisme di tempat-tempat lain.

Selama 200 tahun, Ben Anderson bilang, Hindia (Indonesia) diperintah oleh sebuah perusahaan dagang yang bernama VOC. Bukan pemerintahan nasional. Dan VOC yang tidak mau buang-buang duit untuk menjadikan bahasa Belanda sebagai bahasa jajahannya. VOC ambil jalan pintas dengan mengambil bahasa setempat (bahasa Melayu) sebagai bahasa pemerintahan. Bahasa Melayu Pasar sudah lama jadi lingua ranca di Nusantara.

"Inilah satu2nja djadjahan di dunia jang saya tahu jang diperintah terutama bukan oleh bahasa Eropa. Ini menundjukkan keanehannja," kata Ben Anderson yang diterjemahkan Joss Wibisono.

Opa Ben dan Joss dikenal sebagai penganjur utama ejaan Suwandi dan menolak EYD bikinan rezim Orde Baru. Mendiang Ben sangat fasih berbicara dalam bahasa Melayu pasar ala Tionghoa atau rakyat di Indonesia Timur macam Maluku, Papua, NTT, atau Manado.

Ketika pemerintah Kerajaan Belanda mengambil alih Nusantara dari tangan VOC pada abad ke-19, negara ini sangat miskin untuk standar Eropa waktu itu. Tingkat harapan hidup orang Belanda tahun 1860 sama dengan wong cilik di Nusantara. Belanda tidak punya uang untuk program menjadikan bahasa Belanda sebagai bahasa resmi di Nusantara. Apalagi Nusantara ini sangat luas.

Pemerintah Belanda kemudian membuka sekolah-sekolah yang mengajarkan bahasa Belanda pada awal abad ke-20. Tapi bahasa Melayu sudah digunakan selama 200 tahun sebagai bahasa pergaulan di Nusantara. Itu berarti orang Indonesia tidak perlu berjuang untuk membuat bahasa nasional sebagai antitesis bahasa penjajah. Lantaran waktu itu bahasa Melaju memang tidak disaingin oleh bahasa Londo.

Joss Wibisono menyimpulkan: "Artinja, kita akan gampang melepas bahasa kita dan menggantinja dengan bahasa laen, seperti sikap keminggris jang belakangan ini begitu meluas."

No comments:

Post a Comment