28 January 2016

Bahasa Arab yang bikin masalah

Ciputra Alim, pengusaha Tionghoa Sidoarjo, tak menyangka harus berurusan dengan polisi. Front Pembela Islam (FPI) pun sudah mengadukan dirinya ke Polda Jatim. Gara-gara panci yang diproduksi di Desa Kedungturi, Kecamatan Taman, bertuliskan ALHAMDU ALLAH (maksudnya sih ALHAMDULILLAH).

Ciputra Alim tidak menyangka label di panci yang dulu bermerek Paramount itu bikin geger seluruh Jawa Timur. Sebab, aksara Arab itu salah eja dan -- ini yang gawat -- dianggap melecehkan agama Islam. Waduh, waduh... waduh! Kalau FPI sudah turun tangan bisa berabe!

"Saya salah. Saya minta maaf kepada semua umat Islam," kata Ciputra Alim pada hari Rabu (28/1/2016) di Sidoarjo.

Pengusaha yang hemat bicara itu bilang label ALHAMDULILLAH justru diusulkan para pekerjanya yang hampir semuanya muslim. Mereka bersyukur bisa bekerja lagi setelah pabrik panci itu bangkrut dan tutup selama 12 tahun. Maka mereka bersyukur kepada Tuhan dengan memasang label bahasa Arab yang disoal itu.

Manusia memang sudah selayaknya mengucap syukur kepada Tuhan. Syukur terus-menerus. Alhamdulillah tak putus-putus! Haleluya berkali-kali! Tapi kalau pasang label di panci, ejaan Arabnya, meleset pula ya beginilah akibatnya. Ciputra harus berurusan dengan polisi. Digertak FPI. Dipanggil MUI Sidoarjo, Gresik, Pasuruan, Jember dsb.

Fokus untuk mengurus pabrik panci jadi terbelah. Ribuan panci yang sudah telanjur beredar harus ditarik kembali. Berapa duit yang harus dikeluarkan? Bukan tidak mungkin pabrik yang baru menggeliat itu tidur lagi seperti dulu. Dan ujung-ujungnya karyawan diputus kontrak kerja.

Sebelum kasus panci di Sidoarjo, ada kasus sandal di Gresik, yang juga sangat heboh di Jatim karena dianggap melecehkan agama. Kasus yang muncul hanya karena kecerobohan pengusaha. Ketidaktahuan Ciputra Alim bahwa menempelkan aksara Arab di tempat sembarangan merupakan masalah besar di Indonesia.

Belum lama ini Agnes Monica pun dipermasalahkan karena busana panggungnya ada aksara Arab. Heboh di internet karena dianggap melecehkan agama Islam. Padahal, tulisan Arab itu artinya persatuan. Saya pun geleng-geleng kepala. Isunya tak sampai meluas ke mana-mana.

Agnes sih tidak salah. Tapi tidak sensitif. Bahwa di Indonesia tulisan Arab (hampir) selalu diidentikkan dengan Islam. Kalau tidak hati-hati, bisa berurusan dengan FPI dan ormas-ormas sejenis.

Saya sendiri pernah diberi dua kaos oblong dari teman aktivis gereja. Kaos itu ditulisi doa Bapa Kami dan Salam Maria dalam bahasa dan aksara Arab. Saya terima kaosnya tapi tidak pernah saya pakai. Sebab bisa menimbulkan salah pesepsi ketika dibaca orang-orang yang paham bahasa Arab.

Lha, doanya nasrani kok pakai bahasa Arab? Jangan-jangan siasat untuk kristenisasi? Maka kaos itu mau saya bakar. Tapi saya berubah pikiran dan kasihkan ke teman nasrani yang ndableg. Sebelumnya saya berpesan bahwa aksara Arab itu doa Bapa Kami dan Salam Maria. Hehehe....

Berbeda dengan bahasa Inggris, Jerman, Belanda, Jepang, Mandarin, Jawa, Sunda, dsb, bahasa Arab ini punya sensitivitas keislaman yang luar biasa tinggi di Indonesia. Bahasa Arab dianggap identik dengan Islam. Belajar bahasa Arab biasanya satu paket dengan belajar mengaji kitab suci Alquran.

Saya hampir tidak pernah melihat kursus bahasa Arab yang mengajarkan bahasa percakapan sehari-hari seperti "saya makan nasi", "kita harus menang", "saya sedang bekerja".. dsb dsb. Karena itu, sangat jarang orang kristiani di Indonesia yang belajar bahasa Arab. Kecuali para teolog peminat bahasa macam Pendeta Bambang dari Ortodoks Siria, Yapi Tambayong, atau Romo Pidyarto. Beda dengan kursus bahasa Mandarin, Jepang, Prancis, Belanda, atau Jerman yang peminatnya sangat banyak di Surabaya.

Maka, suatu ketika ratusan jemaat sebuah gereja di Surabaya yang mengikuti seminar terheran-heran mendengar orang Kristen asal Mesir dan Palestina ternyata sangat fasih berbahasa Arab. Jauh lebih fasih ketimbang ulama Indonesia sekalipun. "Saya kira bahasa Arab itu hanya boleh dipakai oleh orang Islam saja," ujar seorang ibu dengan guyonan khasnya.

Hehehe....

3 comments:

  1. Banyak rakyat Indonesia yang tidak mengerti, menganggap Bahasa Arab identik dengan Islam. Istri almarhum Yasser Arafat, Suha, itu lahir sebagai seorang Katolik (dia ganti agama ketika menikah dengan Tuan Yasser). Banyak orang Kristen di Mesir, Lebanon, Syria, dan dulu Irak. Semuanya tentunya fasih berbahasa Arab. Bahkan Malta, yang penduduknya 100% Katolik, berbahasa yang akarnya dari Bahasa Arab. Oleh karena itu mereka menyebut God dengan "Alla".

    ReplyDelete
  2. om hurek, dulu waktu saya sekolah pun sempat ada juga kawan Kristen yg bilang ke saya: "kamu gak boleh belajar bahasa Arab, itu kan bahasanya orang Islam"...

    tapi saya tetep iseng2 belajar huruf Arab, terutama huruf Jawi (Arab Melayu)... sekarang saya lumayan lancar membaca bahasa Melayu dalam tulisan Arab, tapi tetap gak bisa bahasa Arab...

    baru2 ini saya senang sekali mencari video2 lagu liturgi gereja2 di Timur Tengah sana, seperti gereja Maronit, gereja Koptik, gereja Ortodoks Syria, gereja Katolik Syria, dan sebagainya...

    setelah mendengarnya, jujur saja, saya merasakan bahwa mungkin seperti inilah dulu Daud menyanyikan Mazmur, Salomo menyanyikan lagu2 dalam Kidung Agung... dan mungkin juga seperti inilah gereja mula-mula sejak zaman Para Rasul memuji dan memuliakan nama-Nya...

    sayang, ibadah dan nyanyian ala gereja2 Arab ini kelihatannya akan susah diterima di Indonesia, karena sudah ada stereotip bahwa Arab=Islam... umat Islam dan umat Kristen terutama aliran Haleluya itu akan sulit menerimanya...

    ReplyDelete
  3. Sama seperti ketika belajar bahasa Latin sepaket dengan belajar agama Katolik. :D Salam Pak.
    lutfi.syarifudin85@gmail.com

    ReplyDelete