30 January 2016

Bandara Bawean menjanjikan harapan

Sabtu 30 Januari 2016, Lapangan Terbang Harun Tahir, Bawaan Gresik, diresmikan Menteri Perhubungan Ignasius Jonan. Inilah momentum bersejarah bagi rakyat Bawean yang sejak Indonesia merdeka terisolasi dari Jawa. Meskipun masuk Kabupaten Gresik, tetangga terdekat Kota Surabaya, Bawean terkesan seperti negeri yang jauh di Maluku atau Papua atau Natuna.

Selama ini warga Bawaan hanya dilayani kapal laut yang jumlahnya terbatas. Butuh waktu empat jam bahkan lebih. Itu pun tak selalu ada. Orang Bawaan sering terkatung-katung di Gresik karena tak ada kapal yang berani berlayar. Ombak kelewat besar. Bahaya!Maka beroperasinya bandara kecil ini layak disyukuri. Surabaya ke Bawean cukup 40 menit. Tarifnya pun lumayan murah karena disubsidi. Pejabat Gresik pun bisa blusukan ke sana dengan mudah.

Sebagai putra NTT, yang hampir setiap kabupaten punya bandara kecil, sejak lama saya mempertanyakan keanehan Jawa Timur. Provinsi kaya dengan 45 juta penduduk. Dengan pulau-pulau terpencil cukup banyak macam Bawean dan pulau-pulau di Sumenep Madura. Mengapa tidak dari dulu bikin bandara perintis? Mengapa tidak pernah dipikirkan gubernur dan parlemen? Mengapa tunggu tahun 2015-2026, setelah 70 tahun Indonesia merdeka, baru bikin bandara?

Berapa sih biaya pembangunan bandara kecil? Pasti jauh lebih murah ketimbang biaya ngelencer, studi banding, atau jalan-jalan pejabat dan keluarganya. Tapi mengapa mengapa mengapa.....?

Pulau Bawean punya dua kecamatan. Statusnya bukan kabupaten sendiri. Sejak dulu orang Bawean lebih banyak merantau ke Malaysia dan Singapura sehingga jarang terlibat dalam proses pembuatan kebijakan publik di pemerintahan dan dewan. Mereka seperti orang Tionghoa yang apolitis. Yang penting bisa kerja di luar negeri, bisa mudik lebaran, dsb.

Inilah bedanya Bawean dan Kepulauan Sumenep di Jatim dengan Alor, Lembata, Larantuka, Labuanbajo, Rote, Sumba dsb di NTT. Tempat-tempat di NTT ini sejak dulu sudah jadi kabupaten sendiri. Lembata meskipun belakangan baru jadi kabupaten mandiri (lepas dari Flores Timur), tapi sejak dulu sudah punya embrio sebagai daerah otonom.

Ketika pemerintah pusat membuka penerbangan perintis pada 1970an dan 1980an, kabupaten-kabupaten di NTT ini sangat antusias. Siapa yang tidak senang melihat kapal terbang? Meskipun kapal terbang waktu itu TO bekas milik Merpati yang suaranya sangat bising itu. Meskipun tidak ada penerbangan berjadwal. Meskipun lapangan terbang itu sering jadi tempat merumput kambing dan sapi karena nganggur bertahun-tahun.

Nah, ketika masuk reformasi, deregulasi bisnis penerbangan, NTT boleh dibilang paling siap. Bandara-bandara kecil yang jumlahnya 15 atau 20 ini tinggal dibenahi sedikit saja. Landas pacu diperbaiki dan diperpanjang. Lalu maskapai-maskapai baru macam Susi Air dan Trans Nusa pun mengisi peluang bisnis pesawat komuter jarak pendek itu.

Susi Air mengandalkan pesawat dengan 14 penumpang (termasuk 2 awak), sementara Trans Nusa yang milik pengusaha Tionghoa NTT menyediakan pesawat yang lebih besar. Maka bisnis penerbangan skala kecil di NTT tumbuh sangat pesat. Saat musim libur akhir tahun, kita tak akan dapat tiket jika tidak booking jauh hari sebelumnya.

Sebaliknya di Jatim, yang dikuasai peradaban darat, sama sekali tidak tertarik mengembangkan bandara di kawasan terpencil atau kota yang terlalu jauh dari Surabaya. Buat apa bandara kalau kita bisa naik mobil? Bukankah pejabat-pejabat itu selalu dikawal tim khusus?

Syukurlah, beberapa tahun lalu mulai ada kesadaran akan pentingnya bandara-bandara kecil. Dibangunlah bandara di Sumenep, Jember, disusul Banyuwangi. Bandara militer di Malang, Lanud Abdulrachman Saleh, pun mulai dikomersialkan. Kemudian mulai digagas bandara di Bawean yang akhirnya diresmikan hari ini.

Belajar dari jatuh bangun belasan bandara perintis di NTT, Bandara Harun Tahir di Bawean ini punya nilai strategis dan ekonomis yang luar biasa. Mungkin di tahun-tahun awal perusahaan penerbangan Airfast belum bisa laba. Apalagi jadwal rutinnya cuma dua kali seminggu. Mungkin maskapai memilih tarik diri ketika tidak mencapai skala keekonomian.

Tidak apa-apa. Biarkan saja bandara itu ditumbuhi rumput liar karena tak ada penerbangan. Jangan pernah diokupasi untuk pembangunan perumahan atau peruntukan lain. Percayalah, seperti di NTT, suatu ketika bandara perintis itu akan menjadi bandara komersial yang sangat efektif ketika iklim ekonominya membaik.

Dan, jangan lupa, Bawean sebagai pulau eksotis senantiasa memiliki daya tarik bagi wisatawan domestik dan internasional. Semoga Lapter Harun Tahir ini membawa kemaslahatan bagi saudara-saudari kita di Pulau Bawean!

Hilangnya tulisan tangan

Tulisan tangan bakal hilang? Bisa jadi. Koran New York Post kemarin menulis: Many NYC students so tech-oriented they can't even sign their own names."

Para siswa di New York saking gandrung gawai, teknologi, tak punya waktu lagi untuk belajar menulis tangan. Mereka sih tetap menulis tapi pakai komputer, ponsel dan aneka gadget lain. Sampai menulis nama sendiri pakai bolpoin, pensil, pulpen dsb tidak bisa.

Kutipan selanjutnya :

Even the 11-year-old daughter of veteran Harlem legislator Herman "Denny" Farrell doesn't know how to sign her name.

"And she's smarter than me," Farrell said of his daughter, Prince, who attends a private school in Harlem. "They don't teach it. I'm going to go home now and teach her handwriting."

Hihihi.... Lucu juga berita dari Amerika ini. Anak-anak itu sejak bayi dididik dengan canggih. Langsung pakai komputer untuk mengenal ABC, tanda baca dsb. Mereka pun jadi lebih cerdas ketimbang ibu bapak, apalagi kakek nenek yang mengenal komputer secara bertahap. Kelemahan mereka ya satu itu: tidak bisa menulis tangan, hand writing.

Tentu saja kasus di Amerika ini sangat khusus. Tapi bisa jadi akan menjadi tren dalam sepuluh tahun atau 30 tahun ke depan. Di Indonesia pun sudah lama mahasiswa mencatat pakai laptop atau tablet. Lebih cepat, efisien dan pasti lebih mudah dibaca. Tulisan tangan anak sekarang jangan disamakan dengan tulisan miring oma opa yang artistik itu.

Hilangnya kemampuan menulis tangan ini sejatinya sudah terjadi di bahasa Mandarin. Khususnya di kalangan orang asing macam kita yang baru ingin tahu Zhongwen. Betapa sulitnya kalau harus menggores aksara Tionghoa itu. Apalagi yang tradisional. Aksara sederhana versi Beijing pun sulitnya minta ampun.

Tapi di komputer atau ponsel kita bisa dengan mudah memilih karakter-karakter yang ditawarkan. Saya sendiri mengenal kata-kata umum seperti wo hen hao... ni hao ma... nian gao... yinni ren... tapi sama sekali tidak bisa menulis hanzhi secara manual.

Maka bukan tidak mungkin sekian puluh tahun ke depan hand writing hanya sekadar jadi catatan sejarah peradaban manusia.




Dikirim dari ponsel cerdas Samsung Galaxy saya.

Uang kecil tidak laku

Uang kecil Rp 100 dan Rp 200 sudah tidak laku? Gejala itu sudah lama terjadi di banyak tempat. Bahkan, uang Rp 500 pun sering dianggap tak ada gunanya lagi karena tidak bisa dipakai untuk membeli camilan yang paling sederhana.

Jajan pasar di Surabaya yang Rp 1000 pun sudah jarang. Maka surat kabar yang dulu mematok harga Rp 1000 kini dinaikkan 100 persen jadi Rp 2000. Para pengemis dan gelandangan pun akan uring-uringan kalau dikasih uang Rp 500.

Silakan Anda memberi koin Rp 100 kepada pengemis di Surabaya. Bisa dipastikan anda akan dimaki dengan "juancuuk". Tukang parkir di Sidoarjo saya lihat sudah lama menolak uang Rp 1000. "Sekarang seribu gak laku Cak," kata jukir di tengah kota Sidoarjo. Aneh, juru parkir liar kok malah memalak masyarakat dan jumlahnya naik makin lama makin banyak.

Ghifar Maulana, Jakarta Utara, menulis surat pembaca di Kompas tentang uang kecil yang tidak laku di Jakarta. Koin 200 ditolak karena dianggap tidak laku. "Ini berlaku di warung, pasar tradisional, khususnya di kawasan Sunter," tulis Ghifar.

Ada apa dengan rupiah, mata uang kita? Bukankah koin-koin itu kalau dikumpulkan jadi satu tas atau karung nominalnya cukup banyak? Mengapa uang kecil ditolak di mana-mana? Bahkan toko-toko menggantinya dengan permen?

Kalau dipikir-pikir, rakyat kecil yang menolak uang kecil juga tidak salah. Mereka tahu persis betapa hancurnya nilai rupiah dalam 10 tahun belakangan ini. Uang Rp 100.000 sudah lama kehilangan arti sejak kursnya jatuh di atas Rp 13.000 per USD. Kalau sampai tembus Rp 15.000 ya tambah hancur.

Pemerintah sebetulnya sangat sadar akan hancurnya nilai rupiah ini. Di era Presiden SBY sempat ada usulan untuk melakukan redenominasi mata uang. Tiga nol dicoret sehingga rupiah kelihatan "kuat" meskipun itu cuma psikologis saja. Wacana terus bergulir tapi pemerintah ragu-ragu menerapkannya.

Tapi redenominasi tak akan membuat rupiah jadi perkasa. Ia cuma menghilangkan nol yang banyak itu. Pemerintah yang punya menteri-menteri ekonomi yag hebat tentu lebih tahu caranya memperkuat ekonomi kita. Kalau gak tau juga ya buat apa ada pemerintah?

28 January 2016

Trotoar Jadi Pedestrian, Dirigen Jadi Konduktor

Makin banyak kata-kata lama yang menghilang dari media massa (sosial) sejak awal 2000. Masyarakat cenderung lebih suka serapan dari bahasa Inggris. Atau menggunakan bahasa Indonesia meskipun sangat mudah menemukan padanannya dalam bahasa Indonesia.

Kata KARCIS (dari bahasa Belanda) misalnya sudah jarang kita dengar. Orang kota di Jawa Timur lebih suka pakai TIKET. Kata MODE pun dirasa sudah ketinggalan zaman. Media massa lebih suka pakai FASHION atau dijawakan menjadi FESYEN.

Kata DIRIGEN pun mulai hilang diganti KONDUKTOR atau CONDUCTOR. Istilah dirigen biasanya dipakai para pelatih atau guru paduan suara yang senior. Adik-adik kita yang lahir 1990an ke atas bahkan asing dengan DIRIGEN. "Oh, dirigen itu ternyata conductor," ujar seorang mahasiswa anggota paduan suara.

Paduan suara di gereja, khususnya Katolik, khususnya di NTT, selalu disebut KOR (dari bahasa Belanda KOOR). Tapi belakangan ini kata KOR, yang sudah dibakukan Pusat Musik Liturgi (Katolik) sejak awal 1970an, makin tersisih. Diganti CHOIR. Makanya Paduan Suara Santo Paulus sekarang diganti St Paul Choir.
Ada satu kata lagi yang paling sering dipakai di koran-koran di Jawa Timur untuk menggantikan TROTOAR. Yakni PEDESTRIAN. Istilah trotoar sudah lama hilang dari masyarakat. Pedestrian itu dianggap sinonim dengan trotoar. "Coba kamu cek kamus dulu," ujar saya kepada seorang mahasiswa komunikasi di Sidoarjo yang magang wartawan.

Anak muda itu ngotot menyebut pedestrian sebagai tempat pejalan kaki. Sama dengan arti trotoar. "Apa gak salah nih?"

Coba kita simak kamus di internet atau Wikipedia. Penjelasan ensiklopedia ini: "A PEDESTRIAN is a person traveling on foot, whether walking or running."

Pedestrian itu orang yang bepergian dengan jalan kaki. Bisa jalan kaki, bisa berlari. Jelas bahwa pedestrian itu manusia yang melintas di trotoar. Keliru kalau pedestrian disamakan dengan trotoar. Kalau ngotot menggunakan pedestrian, yang dianggap lebih modern, mungkin lebih baik ditambahi JALUR. Menjadi JALUR PEDESTRIAN.

Anehnya, salah kaprah pedestrian, yang belum terlalu lama ini, merembet pula ke kalangan pejabat. Bapak kepala dinas yang satu itu sangat sering menyebut pedestrian sebagai ganti trotoar. "Bulan ini kami akan memperbaiki semua pedesrian di dalam kota," kata si pejabat.
Anehnya, koran-koran pun mengutip apa adanya omongan pejabat itu. Tidak ditambahi "jalur" agar tidak melenceng jauh dari bahasa Inggris.

Bahasa Arab yang bikin masalah

Ciputra Alim, pengusaha Tionghoa Sidoarjo, tak menyangka harus berurusan dengan polisi. Front Pembela Islam (FPI) pun sudah mengadukan dirinya ke Polda Jatim. Gara-gara panci yang diproduksi di Desa Kedungturi, Kecamatan Taman, bertuliskan ALHAMDU ALLAH (maksudnya sih ALHAMDULILLAH).

Ciputra Alim tidak menyangka label di panci yang dulu bermerek Paramount itu bikin geger seluruh Jawa Timur. Sebab, aksara Arab itu salah eja dan -- ini yang gawat -- dianggap melecehkan agama Islam. Waduh, waduh... waduh! Kalau FPI sudah turun tangan bisa berabe!

"Saya salah. Saya minta maaf kepada semua umat Islam," kata Ciputra Alim pada hari Rabu (28/1/2016) di Sidoarjo.

Pengusaha yang hemat bicara itu bilang label ALHAMDULILLAH justru diusulkan para pekerjanya yang hampir semuanya muslim. Mereka bersyukur bisa bekerja lagi setelah pabrik panci itu bangkrut dan tutup selama 12 tahun. Maka mereka bersyukur kepada Tuhan dengan memasang label bahasa Arab yang disoal itu.

Manusia memang sudah selayaknya mengucap syukur kepada Tuhan. Syukur terus-menerus. Alhamdulillah tak putus-putus! Haleluya berkali-kali! Tapi kalau pasang label di panci, ejaan Arabnya, meleset pula ya beginilah akibatnya. Ciputra harus berurusan dengan polisi. Digertak FPI. Dipanggil MUI Sidoarjo, Gresik, Pasuruan, Jember dsb.

Fokus untuk mengurus pabrik panci jadi terbelah. Ribuan panci yang sudah telanjur beredar harus ditarik kembali. Berapa duit yang harus dikeluarkan? Bukan tidak mungkin pabrik yang baru menggeliat itu tidur lagi seperti dulu. Dan ujung-ujungnya karyawan diputus kontrak kerja.

Sebelum kasus panci di Sidoarjo, ada kasus sandal di Gresik, yang juga sangat heboh di Jatim karena dianggap melecehkan agama. Kasus yang muncul hanya karena kecerobohan pengusaha. Ketidaktahuan Ciputra Alim bahwa menempelkan aksara Arab di tempat sembarangan merupakan masalah besar di Indonesia.

Belum lama ini Agnes Monica pun dipermasalahkan karena busana panggungnya ada aksara Arab. Heboh di internet karena dianggap melecehkan agama Islam. Padahal, tulisan Arab itu artinya persatuan. Saya pun geleng-geleng kepala. Isunya tak sampai meluas ke mana-mana.

Agnes sih tidak salah. Tapi tidak sensitif. Bahwa di Indonesia tulisan Arab (hampir) selalu diidentikkan dengan Islam. Kalau tidak hati-hati, bisa berurusan dengan FPI dan ormas-ormas sejenis.

Saya sendiri pernah diberi dua kaos oblong dari teman aktivis gereja. Kaos itu ditulisi doa Bapa Kami dan Salam Maria dalam bahasa dan aksara Arab. Saya terima kaosnya tapi tidak pernah saya pakai. Sebab bisa menimbulkan salah pesepsi ketika dibaca orang-orang yang paham bahasa Arab.

Lha, doanya nasrani kok pakai bahasa Arab? Jangan-jangan siasat untuk kristenisasi? Maka kaos itu mau saya bakar. Tapi saya berubah pikiran dan kasihkan ke teman nasrani yang ndableg. Sebelumnya saya berpesan bahwa aksara Arab itu doa Bapa Kami dan Salam Maria. Hehehe....

Berbeda dengan bahasa Inggris, Jerman, Belanda, Jepang, Mandarin, Jawa, Sunda, dsb, bahasa Arab ini punya sensitivitas keislaman yang luar biasa tinggi di Indonesia. Bahasa Arab dianggap identik dengan Islam. Belajar bahasa Arab biasanya satu paket dengan belajar mengaji kitab suci Alquran.

Saya hampir tidak pernah melihat kursus bahasa Arab yang mengajarkan bahasa percakapan sehari-hari seperti "saya makan nasi", "kita harus menang", "saya sedang bekerja".. dsb dsb. Karena itu, sangat jarang orang kristiani di Indonesia yang belajar bahasa Arab. Kecuali para teolog peminat bahasa macam Pendeta Bambang dari Ortodoks Siria, Yapi Tambayong, atau Romo Pidyarto. Beda dengan kursus bahasa Mandarin, Jepang, Prancis, Belanda, atau Jerman yang peminatnya sangat banyak di Surabaya.

Maka, suatu ketika ratusan jemaat sebuah gereja di Surabaya yang mengikuti seminar terheran-heran mendengar orang Kristen asal Mesir dan Palestina ternyata sangat fasih berbahasa Arab. Jauh lebih fasih ketimbang ulama Indonesia sekalipun. "Saya kira bahasa Arab itu hanya boleh dipakai oleh orang Islam saja," ujar seorang ibu dengan guyonan khasnya.

Hehehe....

22 January 2016

Bahasa Indonesia yang makin keminggris

Makin lama gaya bahasa orang Indonesia makin nginggris. Bahasa Indonesia yang sedikit-sedikit dicampur ungkapan bahasa Inggris sebagai bumbu atau penyedap. Sekaligus ingin menunjukkan bahwa orangnya bisa ber-English ria.

Fenomena nginggris ini sangat terasa sejak 20 tahun terakhir. Dulu, tahun 1950an hingga awal 1970an gaya bahasa rakyat elite Indonesia kemelondo: sedikit-sedikit dioplos bahasa Belanda. Lihatlah kalimat-kalimat Bung Karno dan menteri-menteri awal Orde Baru yang selalu ada oplosan ungkapan berbahasa Belanda. Setelah Belanda pergi, kita tetap saja berkiblat ke Barat, tapi kali ini Londo-nya ganti Amerika.

Mengapa penyakit NGINGGRIS dan KEMELONDO sulit dihapus di Indonesia?

Sudah banyak kajian yang dibuat doktor-doktor bahasa, munsyi, pusat bahasa, atau cuma obrolan kelas warung kopi. Mulai dari sejarah sebagai bangsa jajahan, mental rendah diri kas Inlander, snobisme, hingga mode sesaat. Kalau gak nginggris ketinggalan zaman. Kalau gak kemelondo dianggap bodoh. Orang yang berbahasa daerah malah jadi bahan guyonan di sinetron. Bahasanya para pembantu yang status sosialnya sangat rendah.

Pagi ini saya membaca ulasan bung Joss Wibisono di media sosial. Mantan redaktur Radio Nederland Seksi Indonesia ini mengutip kajian mendiang Ben Anderson PhD, indonesianis asal Amerika Serikat, yang belum lama ini jasadnya dikremasi di Kembang Kuning, Surabaya. Ben mengingatkan bahwa pola penjajahan Belanda di Hindia Belanda itu paling unik di dunia. Beda dengan kolonialisme di tempat-tempat lain.

Selama 200 tahun, Ben Anderson bilang, Hindia (Indonesia) diperintah oleh sebuah perusahaan dagang yang bernama VOC. Bukan pemerintahan nasional. Dan VOC yang tidak mau buang-buang duit untuk menjadikan bahasa Belanda sebagai bahasa jajahannya. VOC ambil jalan pintas dengan mengambil bahasa setempat (bahasa Melayu) sebagai bahasa pemerintahan. Bahasa Melayu Pasar sudah lama jadi lingua ranca di Nusantara.

"Inilah satu2nja djadjahan di dunia jang saya tahu jang diperintah terutama bukan oleh bahasa Eropa. Ini menundjukkan keanehannja," kata Ben Anderson yang diterjemahkan Joss Wibisono.

Opa Ben dan Joss dikenal sebagai penganjur utama ejaan Suwandi dan menolak EYD bikinan rezim Orde Baru. Mendiang Ben sangat fasih berbicara dalam bahasa Melayu pasar ala Tionghoa atau rakyat di Indonesia Timur macam Maluku, Papua, NTT, atau Manado.

Ketika pemerintah Kerajaan Belanda mengambil alih Nusantara dari tangan VOC pada abad ke-19, negara ini sangat miskin untuk standar Eropa waktu itu. Tingkat harapan hidup orang Belanda tahun 1860 sama dengan wong cilik di Nusantara. Belanda tidak punya uang untuk program menjadikan bahasa Belanda sebagai bahasa resmi di Nusantara. Apalagi Nusantara ini sangat luas.

Pemerintah Belanda kemudian membuka sekolah-sekolah yang mengajarkan bahasa Belanda pada awal abad ke-20. Tapi bahasa Melayu sudah digunakan selama 200 tahun sebagai bahasa pergaulan di Nusantara. Itu berarti orang Indonesia tidak perlu berjuang untuk membuat bahasa nasional sebagai antitesis bahasa penjajah. Lantaran waktu itu bahasa Melaju memang tidak disaingin oleh bahasa Londo.

Joss Wibisono menyimpulkan: "Artinja, kita akan gampang melepas bahasa kita dan menggantinja dengan bahasa laen, seperti sikap keminggris jang belakangan ini begitu meluas."

15 January 2016

Orang lama ingin junta militer

Sambil menonton liputan teror bom di Jakarta, seorang bapak 60an tahun bikin analisis panjang. Analisisnya diamini tiga bapak lain yang sama-sama sepuh. Suasana di depot mi dan es degan di dekat kampus UPN Surabaya itu pun makin meriah di siang bolong.

"Sudahlah, dari dulu saya sudah bilang belum waktunya sipil jadi presiden. Paling aman itu tentara," kata bapak yang tinggal di kawasan Waru Sidoarjo.

"Dulu, zaman SBY, gak ada bom kayak gini," tambahnya.

"Siapa bilang gak ada bom?" saya menyela. "Zaman SBY, 2004-2014, itu juga banyak kejadian bom. Silakan diingat baik-baik."

Bapak berkacamata itu terdiam sesaat. Kelihatannya tidak suka argumentasinya saya mentahkan. "Paling aman itu zaman Pak Harto," kata saya menghibur beliau. Tidak enak juga menyerang orang tua yang sedang semangat-semangatnya menyerang kepemimpinan sipil.

"Oh iya, zaman Pak Harto itu paling aman dan damai. Gak ada bom, cari uang gampang, bensin murah, gak seperti sekarang. Gak ada bom-boman dan kekacauan kayak di TV itu," ujarnya bersemangat.

Bapak-bapak yang lain pun mengiyakan. Mengganggap militer paling cocok memimpin Indonesia. Pak Harto dinilai paling hebat karena bisa menciptakan stabilitas ekonomi, keamanan, dsb.

Sebetulnya saya ingin menyampaikan pendapat berbeda. Sisi gelap rezim Orde Baru yang otoriter an antidemokrasi itu. Semua bupati, wali kota, gubernur, menteri-menteri dijabat tentara aktif. Tapi situasi di warkop tidak kondusif untuk berdebat.

Di warkop kita harus ikut arus pendapat yang dominan. Melawan pendapat dominan terang-terangan, apalagi tiyang sepuh, orang tua, jelas tidak sopan. Kita bakal menjadi persona non grata alias orang yang tidak disukai. Maka, kita cukup melawan di dalam hati.

Pendapat para tiyang sepuh di Surabaya ini sejatinya masih berkembang di mana-mana. Intinya, sipil belum saatnya jadi kepala negara. Militer yang paling cocok jadi presiden untuk Indonesia yang luas, penduduknya banyak, dan ruwet itu. Sampai kapan?

"Ya, sampai situasinya memungkinan," kata bapak dari Sidoarjo itu. Menurut dia, risikonya terlalu tinggi kalau sipil macam Jokowi yang jadi presiden. Wibawa dan power-nya lemah.

Tentu saja pendapat ini antidemokrasi. Di mana-mana yang namanya junta militer ala Orde Baru tidak bisa dibenarkan. Myanmar pun rupanya mulai kapok diperintah militer. Thailand juga begitu. Kecuali di Korea Utara yang tampaknya masih akan lama prosesnya.

Tapi mengubah mindset atau (istilah Jokowi) revolusi mental niscaya sangat tidak gampang di Indonesia. Jangankan orang-orang awam di warkop, para politisi koalisi merah putih pun menganggap Prabowo lebih layak jadi presiden karena eks militer, mantan danjen kopassus.

Apakah presidennya militer lantas dijamin aman, damai, bebas teror? Nggak juga. Kerusuhan Situbondo dan Tasikmalaya misalnya terjadi pada zaman Pak Harto. Puluhan tempat ibadah dibakar tanpa bisa dicegah oleh polisi dan tentara. Termasuk tempat-tempat ibadah yang dekat dengan kantor polisi dan markas tentara.

Syukurlah, media sosial yang dikuasai anak-anak muda kelahiran di atas 1990 tak ada suara yang menginginkan junta militer berkuasa. Anggap saja suara orang tua di warkop mi ini cuma mimpi di siang bolong.

Iman yang makin lemah

Renungan yang dianjurkan gereja hari ini sangat menggugah di era yang serba heboh ini. Cerita lama tentang warga mengusung orang lumpuh kepada Yesus di Kapernaum. Rumah sesak. Tak ada celah untuk membawa orang itu untuk disembuhkan.

Maka atap pun dijebol. Pasien itu diturunkan dari atas. Sebab mereka sangat percaya akan kuasa Tuhan. Mereka percaya si lumpuh itu pasti tahir. "Dosamu sudah diampuni," kata Yesus. Hadirin terkejut.

"Bangunlah... dan pulangkan ke rumahmu," seru Yesus. Orang itu pun sehat kembali.

Cerita Markus 12,1-12 ini sudah sangat klasik. Lawas poll. Apalagi bagi kami di Flores yang mayoritas katolik. Saking seiringnya dengar dan baca, lama-lama jadi biasa. Kemudian bosan. Malas. Ketika dibahas lagi oleh romo di gereja, kita jadi ngantuk. Walah. .. Sudah tau. Gak menarik.

Iman akan kuasa penyembuhan jadi meredup. Makin tua makin apatis. Makin banyak orang yang tidak ke gereja. Apalagi diajak ikut kegiatan-kegiatan di luar liturgi. "Saya cari uang dulu," kata seorang teman di kampung yang sudah lama absen ekaristi.

Tidak gampang memang menjaga kestabilan iman di kota besar yang sibuk. Tapi tanpa iman, kita akan kehilangan harapan. Iman sekecil biji sesawi pun bisa memindahkan gunung.

Hehehe... Artikelnya kok kayak khotbah? Salam damai!

Mesin ketik tua di pasar loak

Ada mesin ketik tua di lapak pasar loak Pucang Surabaya. Tak ada yang melirik. Sudah dua bulan lebih belum laku. Tapi si penjual tetap saja memajang di lapak baju bekas, baju, elektronik dsb yang serba bekas itu.

Di era digital ini siapa yang peduli mesin ketik lawas? Tak tik tak tik yang bunyinya khas itu? Ketika komputer biasa dan laptop pun mulai ditinggalkan karena dirasa kurang praktis?

Mesin ketik itu rupanya sudah jadi barang antik. Hanya punya nilai buat kolektor dan penggemar peradaban macam bung Leo mantan editor Radio Nederland. Atau penulis Remy Sylado yang masih sangat produktif menulis buku-buku tebal dengan mesin tik lawas.

Saya jadi ingat masa anak-anak di pelosok NTT. SD kami hanya punya satu mesin tik Brother. Mesin tulis itu layaknya barang mewah yang hanya bisa kami lihat dan kagumi. Hanya guru tertentu yang memakai untuk mengetik surat dsb.

Di desa saya cuma ada dua mesin ketik. Satunya lagi milik desa, sumbangan pemerintah karena Golkar menang 100 persen. Betapa bangganya desa kami punya mesin ketik mengingat banyak desa lain di kabupaten Flores Timur saat itu tidak punya.

Wow... betapa hebatnya anak-anak sekarang. Begitu lahir sudah main tablet dan aneka gadget nan canggih. Langsung kenal QWERTY tanpa perlu mengikuti proses yang panjang dan bertahap ala generasi saya.

Sambil berlalu dari lapak loak ini saya terus merenung. Ternyata buku-buku atau naskah yang dihasilkan lewat mesin ketik lawas itu justru jauh lebih bermutu ketimbang buku-buku di era digital. Ini pula yang membuat saya takjub dengan Sukarno, Hatta, Sjahrir, Muhammad Jamin, Tan Malaka, STA, Iwan Simatupang, HB Jason.... dan tentu saja Pramoedya Ananta Tour.

Iklan Lifebuoy tahun 1960an

Usia sabun Lifebouy ternyata sudah tua banget. Dan terkenal sejak dulu. Kemarin saya iseng buka majalah tahun 1960an di perpustakaan milik Oei Hiem Hei di Medokan Ayu Selatan Surabaya. Hehe... ada iklan sabun mandi langganan saya ini satu halaman.

Teknologi percetakan saat itu masih sangat sederhana. Majalah Minggu Pagi terbitan Jogjakarta (grup Kedaulatan Rakyat) yang muat iklan Lifebuoy ini masih hitam putih. Jauh berbeda dari sistem sekarang yang serba komputer dan canggih.

Tapi di balik kesederhanaan itu, saya melihat keindahan di balik iklan sabun mandi ini. Pakai sketsa. Mirip ilustrasi cerpen di koran sekarang. Pesannya juga bisa ditangkap dengan jelas.

Saat ini, era 2000an, kayaknya hampir tidak ada lagi iklan pakai sketsa. Tahun lalu Pertamina menggunakan sketsa untuk iklan sosialisasi BBM bersubsidi. Selain itu hampir tidak ada.

Di era audiovisual kayaknya orang tak lagi percaya pada kekuatan gambar. Apalagi yang hitam putih. Para pelukis yang fokus pada sketsa pun makin sedikit. Kecuali pelukis-pelukis sepuh macam Tedja Suminar di Surabaya yang gambar hitam putihnya dihargai puluhan, bahkan ratusan juta.

14 January 2016

Ketua Gafatar Sidoarjo Jual Rumah lalu Hijrah ke Kalimantan



Lama tak terdengar kabarnya, Ketua Gerakan Fajar Gafatar Sidoarjo Arif Muarifin kini sudah hengkang ke Kalimantan. Bung Arif, sapaan akrabnya, rela menjual rumahnya di Kecamatan Waru, Sidoarjo, untuk bergabung dengan ribuan anggota Gafatar lainnya yang tengah membuka lahan di Kalimantan.

Berikut petikan wawancara Lambertus Hurek dengan Arif Muarifin, yang juga mantan ketua Gafatar Jawa Timur.

Apa saja kegiatan Gafatar Sidoarjo dan Jawa Timur sekarang?


Tidak ada. Gafatar itu sudah membubarkan diri saat kongres pada Agustus 2015
lalu. Maka, otomatis semua kegiatan organisasi seperti bakti sosial,kampung Pancasila, budidaya pertanian juga tidak ada lagi. Saya pun bukan ketua lagi. Wong organisasinya tidak ada.

Mengapa bubar?


Itu keputusan kongres. Alasannya antara lain karena Gafatar tidak kunjung mendapat legalisasi atau pengakuan dari pemerintah. Kegiatan-kegiatan kami juga mulai dicurigai. Padahal yang kami lakukan itu kegiatan sosial untuk masyarakat luas. Akhirnya, kongres sepakat untuk membubarkan Gafatar.

Anda sekarang di mana?


Di Kalimantan.

Kabarnya para pengurus dan anggota Gafatar memutuskan hijrah ke Kalimantan untuk membuat semacam kampung Gafatar?


Tidak begitu. Kami tersebar di mana-mana, membaur bersama masyarakat. Kami di sini (Kalimantan) tidak membawa-bawa bendera Gafatar yang sudah bubar itu.

Investasi apa? Kabarnya Anda sampai menjual rumah untuk membiayai kegiatan Gafatar di Kalimantan?


Tidak benar. Saya menjual rumah (di kawasan Waru) ya untuk pengembangan ekonomi saya sendiri. Secara pribadi saya melihat ada peluang bisnis di Kalimantan. Nggak ada kaitan dengan Gafatar. Tujuan investasi ini ya untuk keluarga saya juga.

Berapa orang eks Gafatar dari Sidoarjo dan Jatim yang sudah hijrah ke Kalimantan?
Wah, saya nggak tahu karena tersebar di mana-mana. Perkiraan saya dari Sidoarjo sekitar 100 keluarga.

Apakah semua pengurus diminta ke Kalimantan?


Nggak juga. Teman-teman memang diajak (ke Kalimantan), tapi sifatnya sukarela. Yang nggak mau ya nggak apa-apa. Jadi, tidak benar tuduhan seakan-akan kami membawa lari orang ke Kalimantan. Memangnya kami ini punya kekuatan apa? Modalnya dari mana? Orang yang ke Kalimantan itu karena kemauannya sendiri. Saya juga tidak dipaksa ke Kalimantan.

Bisnis apa sih di Kalimantan?


Usaha yang ada kaitannya dengan ketahanan dan swasembada pangan. Makanya, butuh lahan yang luas. Di Jawa kan sulit mendapatkan lahan yang luas untuk pertanian. Teman-teman juga masih bisa melakukan kegiatan sosial di sini.

Belakangan muncul tuduhan bahwa kegiatan-kegiatan sosial yang dulu sering diadakan Gafatar itu cuma kedok untuk mencari pengikut dan simpatisan?


Silakan tanya ke masyarakat di kampung-kampung tempat kami baksos dulu. Apa benar kami melakukan hal yang aneh-aneh saat kegiatan sosial. Wong kami cuma mengadakan pengobatan gratis, kerja bakti, bersih-bersih saluran air, penghijauan, dan sebagainya. Kami juga ajak warga untuk mencintai NKRI, dengan deklarasi kampung Pancasila, sosialisasi UUD 1945, Bhinneka Tunggal Ika. Silakan tanya ke warga
setempat.

Sekarang ada tuduhan bahwa kelompok Gafatar itu memiliki paham keagamaan yang menyimpang dari ajaran agama Islam? Misalnya tidak wajib salat lima waktu?


Ah, nggak seekstrem itulah. Yang jelas, kami mengikuti ajaran yang bersumber dari Millah Ibrahim baik yang diajarkan Nabi Musa AS, Nabi Isa AS, maupun Nabi Muhammad SAW. Penjelasan soal keyakinan agama ini nggak bisa dibicarakan sepotong-sepotong lewat telepon. Ini membutuhkan pemahaman yang mendalam.

Bagaimana dengan tuduhan bahwa Bapak Ahmad Musadek merupakan pemimpin utama Gafatar?


Yang jelas, beliau Ustad Ahmad Musadek itu merupakan sumber inspirasi bagi kami. Semua kegiatan sosial kemasyarakatan dan pengembangan organisasi selama ini terinspirasi oleh beliau. (rek)

11 January 2016

Gaya pacaran di era gadget

Gawai alias gadget telah mengubah gaya pacaran kaum muda sekarang. Selama hampir satu jam sepasang sejoli ini asyik dengan hp masing-masing. Nyaris tidak ada percakapan di antara mereka.

Mungkin keduanya sibuk main game, fb, lihat youtube atau.. entahlah. Ponsel itu mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat. Sebuah peradaban baru yang aneh tapi kian merasuk di masyarakat modern.

Saya jadi ingat almarhum Slamet Abdul Syukur, komponis dan begawan musik asal Surabaya. Setiap kali memberikan kuliah bersama tentang musik klasik beliau selalu mengingatkan peserta agar melupakan dulu ponsel satu dua jam. Fokus dulu ke acara.

Tapi tetap saja sulit. Bahkan di arena konser klasik pun banyak orang yang sulit mematikan ponselnya untuk sementara. Bukan main fenomena gadget yang makin membuat orang modern kecanduan.

10 January 2016

Di Sela Rumput Hijau lagu seriosa



Mbah Greg, seniman yang pernah dibuang di Pulau Buru, ternyata suka menyanyikan lagu-lagu seriosa lawas. Meskipun suaranya pas-pasan, pelukis bernama lengkap Gregorius Suharsojo Gunito ini sangat menjiwai syair dan melodi seriosa yang memang bagus. Saya jadi teringat pelukis tua Mbah Bambang Thelo (almarhum) yang juga biasa bersenandung lagu-lagu seriosa.

Kok bisa ya lagu-lagu serius begitu sangat populer dan membekas di kalangan mbah-mbah jadul? "Rasanya lain bung! Beda dengan lagu-lagu pop sekarang yang terlalu cengeng," kata Mbah Greg di rumahnya Beringinbendo, Taman, Sidoarjo, yang tergenang air sejak pekan lalu.

Mbah Greg kemudian bercerita bahwa ketika masih sangat muda, belajar melukis, teater, drama, musik...di Balai Pemuda Surabaya, lagu-lagu seriosa ciptaan Maladi, Muchtar Embut, Cornel Simanjuntak, FA Warsono, Binsar Sitompul dsb sering dinyanyikan para seniman dan orang kebanyakan. Kebetulan majalah-majalah tahun 1960an dan 1970an sering memuat teks lagu-lagu seriosa lengkap dengan not angka, not balok, dan syair.

"Jadi, kami dulu memang dipaksa untuk belajar notasi. Kaset atau PH nggak ada. Itulah yang membuat saya bisa mengarang lagu selama berada di pembuangan (Pulau Buru)," kata mbah Greg yang akrab dengan komponis terkenal macam Subronto Kusumo Atmodjo dan Sudharnoto, sesama seniman Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) itu.

Akhirnya, secara tak sengaja saya menemukan teks lagu Di Sela Rumput Hijau karangan R. Maladi di tumpukan majalah bekas. Majalah Minggu Pagi (MP edisi 25 Maret 1962. Luar biasa! Di masa itu redaksi majalah (dan koran) menyediakan ruang yang sangat luas untuk mempublikasikan lagu seriosa. Media massa tempo doeloe rupanya melakoni fungsi edukasi dan apresiasi kesenian.

Orang-orang lama macam Mbah Greg, Mbah Telo, Mbah Bete, atau Mbah Rijati biasa menggunting teks lagu itu untuk dipelajari. Dan disimpan bertahun-tahun hingga tutup usia. Itulah yang saya temui dari koleksi mbah Rijati almarhumah.

Bagi penggemar lagu seriosa, apalagi penyanyi klasik di Indonesia, Di Sela Rumput Hijau ini luar biasa populer. Melodinya indah, syairnya bagus, tidak terlalu sulit. Karena itu, biasa dipakai untuk mengenalkan musik seriosa Indonesia kepada para siswa pemula. Asyik banget!

Di YouTube pun sudah ada beberapa video lagu Di Sela Rumput Hijau yang dibawakan soprano senior Rose Pandanwangi dan Binu D. Sukaman. Kedua soprano ini pernah menjadi juara Bintang Radio dan Televisi pada masa lalu. Rekaman Binu D. Sukaman terasa lebih dahsyat dengan paduan suara sebagai backing vocal.

"Sayang, sekarang ini lagu-lagu seriosa sudah tidak ada lagi," kata mbah Greg.

Larantuka Lewonamang, Nagi Tua Punya Nama

Sejak Lembata jadi kabupaten sendiri di awal reformasi, hubungan orang Lembata dengan Larantuka seakan terputus. Sangat jarang orang Lembata yang bepergian ke Larantuka. Kecuali ada urusan yang sangat-sangat penting.

Lembata punya pelabuhan, bandara, dan hampir semua fasilitas yang sama dengan Larantuka, ibukota Kabupaten Flores Timur, NTT. Urusan dinas, sembako, BBM, dsb bisa diselesaikan di Lewoleba, kota sederhana yang jadi ibukota Kabupaten Lembata, hasil pemekaran Flores Timur.

Syukurlah, hubungan Lembata dengan Flores Timur, yang sama-sama etnis Lamaholot, doyan makan jagung titi dan sayur kelor (motong alias merungge), masih sedikit terjaga karena sama-sama masuk Keuskupan Larantuka. Dan hampir mustahil Lembata membuat keuskupan sendiri yang terpisah dari Dioses Larantuka di Bukit San Dominggo itu.

Dulu, kami, perantau asal Lembata, harus singgah dulu di pelabuhan atau bandara Larantuka sebelum naik kapal motor kecil ke Lembata. Sekitar 2,5 sampai 3,5 jam. Naik feri pun harus turun di Waibalun, dekat Larantuka. Tapi sekarang Lembata punya dermaga feri yang justru lebih bagus ketimbang Larantuka di Waijarang.

Begitulah. Referensi saya tentang Larantuka pun akhirnya hilang. Sebab saya memang tidak pernah mampir lagi di kota tua yang berbahasa Nagi alias Melayu Larantuka nan unik itu. Saya hanya bisa memantau Larantuka via media massa dan YouTube.

Lagu-lagunya itu lho yang bikin saya kangen. Khususnya lagu Bale Nagi dan Ema Sayang. Setiap kali menikmati dua lagu itu, berbahasa Nagi, saya melihat video kota Larantuka yang pernah menjadi tempat sekolah saya selama 4 tahun. Khususnya di San Dominggo, dekat keuskupan. Mengenang pastor-pastor tua yang dulu "sangat berkuasa" di Keuskupan Larantuka. Khususnya Monsinyur Darius Nggawa, uskup saat itu, yang sangat kebapakan dan khotbahnya paling enak di NTT (menurut saya).

Saat mudik ke kampung halaman akhir Desember 2015, saya kebetulan duduk di samping seorang pria asal Larantuka. Lamat-lamat saya dengar lagu lama karya Bapak Mateus Wari Weruin (almarhum) berjudul Larantuka Kota Reinha. Iramanya dolo-dolo, syair berbahasa Nagi. Menceritakan ketaatan orang Larantuka pada imannya di bawah lindungan Reinha Rosari alias Bunda Maria.

Pak Wari ini komposer lagu-lagu liturgi sekaligus guru musik dan dirigen terkenal di Larantuka. Salah satu karya monumentalnya adalah Misa Dolo-Dolo yang sangat terkenal di kalangan umat Katolik Indonesia sampai sekarang. Di tangan Pak Wari, lagu dolo-dolo terasa sangat hidup. Merangsang orang Lamaholot untuk bernyanyi dan menari bersama.

Saya pun menikmati lagu dolo-dolo ciptaan Pak Wari itu. Membuka kenangan lama yang sudah lama berlalu. "Larantuka lewo namang. Nagi tua punya nama. Tuan Reinha Tuan Ana. Torang mati di kaki Tuan," begitu syair yang melukiskan dahsyatnya iman umat Katolik di Larantuka tempo doeloe di awal pekabaran Injil di bumi Lamaholot.

Saya pun berselancar di YouTube. Ketemu! Tiga nenyora dan satu no bernyanyi dalam vocal group. Lumayan enak meskipun suara si no (pria) tenggelam dikeroyok tiga gadis. Tapi lumayan enak untuk nostalgia, mengenang Kota Reinha alias Larantuka.

LARANTUKA KOTA REINHA

By Mateus Wari Weruin/FK Fernandez

Misi Solor telah lenyap
Benteng Lohayong saksi nyata
Kaka aring pindah agama
Bale serang kota reinha
Larantuka Sikka Paga
Lagi Wure dengan Konga
Siap siaga dalam bertahan
Berdiri teguh di dalam iman

Refren:

Larantuka lewo namang
Nagi tua punya nama
Tuan Reinha Tuan Ana
Torang mati di kaki Tuan

Raja dengan Conferia
Keka dinde renu semua
Tiap hari tetap berdoa
Dalam tori dalam kapela
Angkat hati pada Allah
Serah diri pada Reinha
Kru dan kontas ganti ajimat
Rela mati untuk agama

Larantuka lewonamang...

Pesa penya san dominggo
Tempa somba dudo mendeko
Kapal musuh di ujung tanjo
Bapa sentidu mama besindo
Hela genta memberi segna
Rede genda tamba semangat
Asa pesa sambil permesa
Tiro tiro jo lalu ponta

Larantuka lewonamang...

Tuan panje tuan andara
Minta berkat dari allah
Tuan sisu kapiten jantera
Kumpu renu kipa belanda
Lia tuan reinha datang
Lindo nagi larantuka
Lagi anyo di guarda
Dengan pedang api bernyala

Larantuka lewonamang...

(Album Rohani Bersama Bunda 2)

09 January 2016

Klik berita koran sangat rendah

Akhir-akhir ini saya sering membaca berita surat kabar versi online meskipun masih sering membeli edisi kertas (cetak). Membaca di internet dan kertas punya plus minusnya sendiri. Bagi kita yang sudah bertahun-tahun membaca koran kertas, newspaper, tentu menikmati edisi cetak lebih asyik. Sebaliknya, edisi online sangat praktis, efisien, tapi juga punya banyak kelemahan.

Sabtu malam, 9/1/2016, jelang pukul 21.00, iseng-iseng saya memantau edisi print koran Kompas. Surat kabar yang oplahnya buanyaak ini, 500 ribuan, ternyata sangat mengenaskan di internet. Sangat sedikit orang yang membaca edisi print di internet (print.kompas.com).

Berita narapidana kabur, sebagai misal, hanya 70 klik (dibaca). Artikel bagus tentang tunabudaya tulisan Haidar Bagir 218 klik. Berita gonjang-ganjing Partai Golkar hanya 122 klik. Betapa jomplangnya pembaca koran kertas dengan koran online.

Jumlah klik berita-berita Kompas ini malah kalah dengan blog-blog populer. Melihat data sepintas ini, saya jadi sangat bahagia jika tulisan sederhana di blog saya bisa diklik 30-80 kali. Tak hanya Kompas, koran-koran lain yang bikin edisi internet pun kliknya rendah.

Ada apa ini? Bisa dipastikan, jutaan pengguna internet di Indonesia sebetulnya tidak berminat membaca berita-berita serius ala surat kabar atau majalah. Internet digunakan untuk hal-hal lain di luar urusan berita. Situs-situs berita macam detik.com atau okezone.com jauh lebih banyak kliknya daripada situs koran-koran yang edisi cetaknya sangat mapan.

Fakta ini juga menunjukkan bahwa sesungguhnya edisi internet tidak menggusur edisi cetak. Sangat sedikit pembaca koran kertas yang beralih ke edisi online. Profil pembaca media cetak dan media online bisa dipastikan sangat berbeda.

Yang jadi tantangan terbesar bagi media-media tradisional macam surat kabar dan majalah justru media sosial. Media sosial ini heboh luar biasa. Begitu banyak informasi yang dibagi, dikopi, dikomentari, dan dijadikan topik diskusi di media sosial.

Tinggal bagaimana para pengguna media sosial agar bisnis media cetak tetap bertahan di era tsunami informasi ini.

Aneh, Lapindo ngebor lagi di Sidoarjo



Sudah 9,5 tahun lumpur panas menyembur di Porong. Tak jelas kapan semburan itu akan berhenti. Puluhan ribu orang kehilangan rumah dan lahan. Dan sampai sekarang persoalan ganti rugi belum tuntas diselesaikan Lapindo Brantas Inc.

Ganti rugi untuk puluhan pengusaha yang pabriknya tenggelam sama sekali belum dibayar. Begitu juga masjid dan musala yang jumlahnya ratusan. Belum lagi aset pemerintah daerah pun tak jelas kapan dibayar si Lapindo. Orang pun ragu dengan kesungguhan Lapindo untuk mengembalikan dana talangan dari pemerintah yang dikucurkan tahun lalu.

Eh, tiba-tiba di awal 2016 ini Lapindo Brantas mengerahkan alat-alat beratnya untuk mengebor gas lagi di Desa Kedungbanteng, Kecamatan Tanggulangin, Sidoarjo. Jaraknya hanya sekitar 3 km dari sumur Banjarpanji 1 yang meledak pada 29 Mei 2006 itu. Bagaimana kalau menyembur lagi? Menyebabkan ribuan warga dan ratusan hektare lahan hilang?

Rupanya, risiko terburuk dan trauma masyarakat itu tidak dipikirkan pemerintah. Buktinya, Lapindo sudah mengantongi izin pengeboran. Tinggal eksekusi pada Maret 2016. Unjuk rasa dan protes masyarakat, juga aktivis lingkungan, dianggap angin lalu.

Pemkab Sidoarjo yang paling terkena dampak semburan lumpur di Porong sejak 2016 sepertinya sudah lupa dengan penderitaan rakyatnya. Hilangnya 4 desa plus sebagian wilayah belasan desa lain dianggap sepi. Ada apa dengan pemerintah daerah?

Di koran hari ini Pak Agus dari pemkab malah memberi angin kepada Lapindo Brantas untuk mengekplorasi sumur Tanggulangin 1. Katanya, Sidoarjo dapat banyak manfaat dari gas sedotan Lapindo itu senilai puluhan atau ratusan miliar. Belum lagi CSR dsb. Beliau rupanya lupa dengan mudarat sekian ratus triliun akibat tragedi pengeboran di Banjarpanji 1 sembilan tahun lalu.

Untung masih ada Gubernur Soekarwo yang masih mempertimbangkan protes warga Desa Kedungbanteng dan Banjarasri. Tapi Pakde Karwo hanya meminta pengeboran sumur baru itu ditunda sampai "suasana kondusif". Bukan meminta pusat menghentikan rencana Lapindo mengeruk lagi sumur gas baru di Sidoarjo yang masih sangat dekat dengan sumur lama yang sialan itu.

"Soal izin itu urusan pusat, bukan pemkab," kata Jonathan Judianto, penjabat bupati Sidoarjo.

Aneh, pemimpin yang punya wilayah, paling tahu kondisi Kabupaten Sidoarjo, malah pasrah ke pusat. Seakan tidak belajar dari pengalaman sangat buruk yang sempat membelenggu Sidoarjo selama bertahun-tahun itu. Membiarkan pengeboran gas (atau minyak) di dekat permukiman penduduk ibarat bermain-main api di dekat bensin. Keseleo sedikit, badai bencanalah yang akan dipanen seperti sembilan tahun terakhir.

Anehnya lagi, sekitar 500 polisi dan tentara dikerahkan untuk mengawal Lapindo Brantas yang melakukan penyiapan lahan pengeboran di Kedungbanteng. Bahkan, polisi juga ikut membantu Lapindo melakukan sosialisasi kepada warga bahwa eksplorasi gas di Tanggulangin ini aman-aman saja. Jadi, tidak usah khawatir bakal mbeledhos seperti sembilan tahun lalu.

Kalau ternyata mbeledhos juga? Katanya sih sudah ada MOU dengan Lapindo Brantas yang isinya Lapindo siap membayar semua ganti rugi. Percaya dengan janji-janji Lapindo?

Hehehe....

Jangankan cuma MOU yang tak punya kekuatan hukum. Peraturan Presiden Nomor 14 Tahun 2007 pun ternyata tak dilaksanakan oleh Lapindo Brantas. Inti perpres itu: semua urusan ganti rugi sudah selesai paling lama lima tahun sejak perpres ditandatangani Presiden SBY. Artinya, paling lambat 31 Desember 2012 Lapindo sudah membayar semua ganti rugi kepada warga korban lumpur di dalam peta terdampak yang mencakup 4 desa itu (Siring, Jatirejo, Renokenongo, Kedungbendo).

Tapi kenyataannya?

Sampai SBY lengser Lapindo ingkar janji alias wanprestasi. Barulah setelah Jokowi naik, "negara hadir" dengan memberikan dana talangan sekitar Rp 800 miliar untuk menyelesaikan ganti rugi. Nantinya Lapindo yang harus mengembalikan utang itu ke negara paling lama tiga tahun sesuai perjanjian.

Negara masih percaya komitmen Lapindo? Pepatah lama bilang sekali lancung ke ujian, seumur hidup tak akan dipercaya! Pemerintah kita, dari tingkat kabupaten, provinsi, hingga pusat, rupanya tidak kompak dalam menyikapi kelancungan yang berulang-ulang itu. Rakyat kecil yang ketar-ketir, trauma dengan bencana di Porong, malah ketakutan bersuara untuk menyampaikan isi hatinya.

"Mas, jangan tulis nama saya. Tolong, tolong pahami posisi kami," begitu kata-kata sejumlah tokoh masyarakat Desa Kedungbendo yang sebentar lagi tanahnya akan dibor.

"Agar Lapindo bisa bayar utang. Kalau tidak ngebor, dia bayar utang pakai apa," kata Wakil Presiden Jusuf Kalla.

Wah, tambah mumet!

06 January 2016

Kawin Kampung dan Kawin Lari di Flores Timur




Masih dalam suasana Natal 2015 yang meriah di kampung halaman, pantai utara Kabupaten Lembata, pinggir Laut Flores, tiba-tiba muncul berita mengagetkan. Seorang pemuda 19 tahun, sebut saja P, menghamili gadis sebaya di desa tetangga. Usia kandungan sudah tiga bulan.

Sesuai adat Lamaholot, etnis di Kabupaten Flores Timur dan Lembata, solusinya ada dua: dijadikan istri alias dinikahi atau cukup membayar belis (maskawin) berupa gading gajah. Opsi pertama paling diinginkan keluarga besar satu marga, misalnya Hurek Making.

"Kita rugi besar kalau cuma pate bala (membayar gading) tapi tidak dinikahi. Sia-sia gading keluar dari suku lango," kata seorang petinggi suku Hurek.

Lagi pula, stok gading di Lembata saat ini benar-benar langka. Akibatnya, masih banyak suami yang punya utang adat berupa maskawin gading gajah itu. Sampai mati, hingga anak cucu, utang adat ini akan selalu ditagih oleh petinggi marga sang istri alias opulake.

Sistem belis gading yang luar biasa langka dan ketat ini juga sekaligus mengikat para laki-laki etnis Lamaholot agar tidak berpoligami. Sebab, pada dasarnya setiap laki-laki hanya dijatah satu gading. Kalau mau tambah istri ya silakan cari gading sendiri sampai mati! Dan itu akan merusak sistem adat Lamaholot yang sampai sekarang dikawal dengan sangat ketat.

"Saya mau menikahi dia," kata adik P kepada para pemuka adat. "Saya yang tanggung jawab."

Plong! Jawaban positif ini membuat urusan adat menjadi mulus. Toh sudah biasa zaman dulu, ketika orang kampung belum mengenal agama Katolik dan Islam, banyak wanita hamil sebelum upacara pernikahan resmi. Orang-orang kampung justru lebih ribut jika pasangan suami istri yang menikah resmi, pesta besar-besaran, tapi ternyata tidak punya anak. Atau, tidak punya anak laki-laki. Siapa yang jadi penerus adat patriarkistis itu?

"Keluarga besar sudah koda kiring (bicara adat) untuk mengurus persoalan ini. Tidak ada masalah," kata seorang bibi saat saya hubungi lewat ponsel kemarin.

Intinya, si P sudah pasti akan menikahi gadis yang telah dihamilinya itu. Maskawin berupa gigi gajah yang panjang itu akan diserahkan ke opulake (keluarga wanita) kelak di kemudian hari. Suatu saat kalau sudah ada gading baru dibayar belisnya. Tapi wanita itu akan diantar masuk ke keluarga P, jadi anggota suku/marga si pria.

"Persoalannya menjadi lain kalau anak P ini tidak mau kawin dengan nona itu," kata si bibi yang sangat ahli soal adat Lamaholot.

Lalu, bagaimana dengan urusan agama atau gereja?

Itu urusan belakangan hehehe.... Orang Flores Timur dan Lembata, meskipun sejak dulu beragama Katolik, kebanyakan lebih mendahulukan penyelesaian secara adat. Inilah yang disebut KAWIN KAMPUNG. Pastor-pastor lama yang berasal dari Eropa biasanya pusing tujuh keliling dengan budaya kawin kampung tempo doeloe yang ternyata masih dijumpai sampai sekarang. Sebab pasangan yang sudah kawin kampung sangat layak hidup bersama layaknya suami istri meskipun belum diberkati di gereja.

Sistem kawin kampung ala Lamaholot jelas bertentangan dengan hukum kanonik perkawinan Katolik. Gereja sangat menekankan sebuah pernikahan ideal yang monogamis, tidak terceraikan, pantang berhubungan seks sebelum menikah, tidak boleh punya ikatan darah yang sangat dekat.

Tapi bagaimana kalau pelaku-pelaku kawin kampung ini banyak sekali? Dan sudah menjadi budaya masyarakat tradisional macam Lamaholot yang baru mengenal Katolik beberapa generasi? Apakah mereka-mereka ini akan dikucilkan? Tidak boleh terima komuni? Tak boleh terima sakramen-sakramen?

"Bukankah Yesus datang untuk menyembuhkan orang sakit? Orang-orang sakit itulah yang justru sangat membutuhan dokter. Bukan orang sehat," begitu argumentasi para sesepuh kampung saat berdiskusi dengan pastor.

Maka, para pasutri kawin kampung ini suatu saat akan "diputihkan" di melalui pemberkatan pernikahan di gereja. Diberkati ramai-ramai lewat pernikahan massal. Bukan pemberkatan satu pasang mempelai layaknya penerimaan sakramen pernikahan yang normal.

Orang-orang kampung biasa menyebut pernikahan yang normal (ideal) sebagai KAWIN MULIA. Pasangan kawin mulia ini berhak menerima sakramen pernikahan secara eksklusif, misa panjang dan lengkap. Mereka juga biasanya dipestakan besar-besaran di lapangan dan sangat meriah. Pemberkatan nikah massal biasanya cuma sekadar makan-makan ringan karena toh mereka sudah punya anak dan sudah lama tinggal serumah.

Saya masih ingat, saat masih kecil, Pater Petrus M. Geurtz SVD asal Belanda sangat gencar melakukan penyuluhan dan penyadaran untuk mengikis tradisi kawin kampung yang tidak gerejawi itu. Hasilnya lumayan. Angka kawin kampung turun, kawin mulia naik tajam. Tapi setelah pastor-pastor misionaris berpulang, diganti pastor-pastor muda yang justru asli Lamaholot, angka kawin kampung naik lagi. Maklum, romo-romo pribumi lebih permisif dengan tradisi nenek moyangnya meskipun bertentangan dengan hukum gereja.

Oh ya, kawin kampung di Flores Timur dan Lembata tidak selalu karena si wanita sudah hamil duluan. Ada juga si wanita yang nekat kabur ke rumah keluarga pacarnya, tidak mau pulang, karena orangtuanya tidak setuju dengan si laki-laki. Ini semacam cerita KAWIN LARI di sinetron atau filem.

Kawin lari hanya dilakukan si wanita (yang belum hamil) yang sudah sangat cinta pada kekasihnya. Kalau laki-laki sih tidak perlu kawin lari segala. Begitu si pacar hamil, otomatis proses kawin kampung, urusan adat, langsung ditangani kedua keluarga besar.

Biasanya wanita yang nekat seperti ini tidak akan pulang meskipun diancam macam-macam. Dia hanya ingin jadi istri si pria pujaannya itu. Kalau sudah begitu, pihak keluarga besar suku si pria langsung merespons dengan mengurus koda kiring, bahas gading, dsb. Kawin kampung jadi solusi yang efektif. Kalau wanita itu tidak dilindungi, tidak ada solusi adat, bisa jadi nyawa wanita nekat itu akan terancam.

Biasanya, setelah punya anak, beberapa tahun kemudian, hubungan dengan orangtuanya akan pulih. Tapi ada juga orangtua yang melakukan ritual PORO KOLI alias memutus hubungan keluarga dengan anak kandungnya untuk selamanya.

05 January 2016

NTT terbaik toleransi beragama



Di depot kecil di kompleks Bandara Eltari Kupang, saya membaca Kompas edisi 2 Januari 2016. Salah satu berita kecil di halaman dalam menarik perhatian saya. "NTT terbaik jalankan praktik toleransi beragama," begitu judul berita yang ditulis Kornelis Kewa Ama, jurnalis asal Adonara, Flores Timur.

Gubernur NTT Fransiskus Lebu Raya, juga asli Adonara, menerima penghargaan itu dari Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin. NTT bisa dianggap sebagai teladan untuk keharmonisan umat yang berbeda agama. "Sudah puluhan tahun NTT orang NTT hidup rukun meski berbeda agama karena menjunjung tinggi kearifan lokal," ujar Pak Gubernur.

Meski bisa bias, karena saya pun asli NTT, harus diakui bahwa kehidupan antarumat di NTT paling asyik dan harmonis. Tak usah jauh-jauh. Saat Natal di Desa Waowala, Kabupaten Lembata, 24-26 Desember 2015, umat Islam yang jumlahnya cukup banyak ikut jadi panitia resepsi. Bersama warga desa lain yang Katolik (di sana hanya ada dua agama: Katolik dan Islam), warga muslim ikut sibuk mempersiapkan makanan untuk menjamu jemaat dari 6 desa lain.

Tradisi menjamu jemaat yang mengikuti misa Natal dan Paskah sudah berlangsung sejak lama. Tidak ada seruan untuk mengharamkan selamat Natal dsb di NTT. Natal, Paskah, Lebaran jadi momentum untuk membangun kebersamaan. Juga makan besar karena pasti sembelih kambing, babi, sapi, ayam.

Sebaliknya, saat Lebaran pun umat Katolik yang mayoritas jadi panitia Idulfitri dan Iduladha. Umat Islam dari belasan desa itu ditempatkan di rumah-rumah orang Katolik karena salat dan perayaan Idulfitri bergiliran dari desa ke desa. Usai salat Id, umat Islam dijamu makan bersama di tenda-tenda yang sudah disiapkan. Semua orang ikut terlibat. Tak memandang Islam, Katolik, dsb.

Kearifan lokal yang disebut Gubernur Frans Lebu Raya ini merupakan tradisi Lamaholot di Flores Timur dan Lembata. Di wilayah lain macam Sikka, Ende, Manggarai pun tradisi silaturahmi tanpa sekat agama ini sangat dijunjung tinggi. Perbedaan agama bahkan menjadi hilang karena nilai-nilai lokal Lamaholot itu tadi.

Terlalu banyak contoh harmoni antarumat yang bisa diangkat di NTT. Kalau di Jawa sering ribut izin mendirikan gereja, izin dipersulit, di Lembata gereja atau masjid sepertinya tidak perlu repot urus izin. Umat Katolik ikut jadi panitia pembangunan masjid (langgar) di desa seperti di Mawa, Kecamatan Ile Ape. Semua orang, apa pun agamanya, ikut kerja bakti mengambil batu, pasir, dsb untuk bikin masjid bernama Nurul Jannah itu.

Karena itu, saya paling malas membaca artikel, pernyataan, pidato, atau seruan para tokoh di Jawa tentang toleransi beragama. Bukan apa-apa. Yang namanya toleransi itu sudah jadi napas hidup di bumi NTT.

Setahu saya setiap tahun hanya ada dua gubernur yang mengantar dan menjemput rombongan jamaah haji di Bandara Juanda Surabaya. Gubernur Jawa Timur Soekarwo dan Gubernur NTT Frans Lebu Raya yang beragama Katolik. Pakde Karwo memang harus melepas rombongan calon haji karena Bandara Juanda itu memang wilayahnya. Tapi gubernur NTT jelas terkait kearifan lokal dan kasih sayang sesama anak manusia yang berakar sangat lama.

Tiba di kampung halaman, Lembata misalnya, yang mayoritas Katolik, para haji itu kembali dijemput bupati yang juga Katolik. Kemudian dijemput lagi oleh warga desa setempat yang juga Katolik. Lalu makan bersama gule kambing yang lezat.

"Toleransi dan kerukunan itu jangan hanya dibicarakan tapi dipraktikkan," kata Udin Kamaludin, tokoh muslim NTT.

Salut untuk NTT!

Kejutan! Lion Air dan Trans Nusa tidak terlambat



Ada dua maskapai penerbangan yang citranya kurang bagus di NTT: Lion Air dan Trans Nusa. Maskapai Lion Air paling banyak jadwalnya dari Bandara Juanda ke Bandara Eltari Kupang. Sedangkan Trans Nusa boleh dibilang perintis dan penguasa belasan rute di Nusa Tenggara Timur (NTT). Citra buruk itu karena kedua airline ini sangat doyan terlambat alias delayed.

"Delayed satu jam atau dua jam itu sih biasa," kata teman-teman asal NTT di Surabaya.

Saya pernah mengalami delayed Lion Air selama tiga jam di Bandara Juanda. Tahun lalu, 3 Januari 2016, delayed dua jam lebih di Kupang. Karena itu, kita tidak boleh percaya pada jadwal alias ETD yang tertera di tiket. Selalulah berasumsi pesawat telat mendarat di Kupang dua jam.

Kalau telat tiga jam lebih ya risiko tiket hangus. Sebab penerbangan antarkota di NTT tidak punya urusan dengan Surabaya-Kupang. "Kita harus berani berjudi Bung! Dan harus banyak berdoa agar tidak terlambat," kata Andreas asal NTT juga.

Saya pernah kalah judi satu kali. Pesawat dari Lembata terlambat sehingga tiket Lion Air Kupang-Surabaya hangus. Maklum, waktu itu saya belum cakap menyiasati jadwal penerbangan.

Nah, tahun ini saya harus angkat topi untuk Lion Air dan Trans Nusa. Saya yang sejak awal menyiapkan mental bahwa pesawat "sudah biasa terlambat" dibuat kaget karena ternyata Trans Nusa justru datang di Lembata lima menit sebelum jadwal pukul 10.00.

Wow, luar biasa! Saya seakan tidak percaya dengan ketepatan waktu maskapai milik pengusaha Tionghoa asal NTT itu. Maka, saya yang masih ngobrol di luar ruang tunggu Bandara Wunopitu pun pontang-panting berlari masuk agar tidak ketinggalan.

"Ternyata Trans Nusa bisa. Puji Tuhan," kata saya dalam hati. Bukan hanya Susi Air yang bisa karena pilot-pilotnya bule. Orang-orang kita pun bisa... kalau mau disiplin dan profesional.

Di Kupang, saya kembali mendengar obrolan calon penumpang Lion Air tujuan Surabaya. Temanya sama: track record Lion Air yang telatan. "Tapi, jangan lupa, cewek-cewek pramugarinya cakep-cakep, di bawah 21 tahun. Bisa buat cuci mata yang kabur," kata seorang pria asal Alor. Ketawa pun pecah.

Persis pukul 15.05, jadwal takeoff, Lion Air belum nongol di bandara di kawasan Penfui itu. Sabar sabar... Lion akan datang! Eh, lima menit kemudian sudah parkir di bandara terbesar di NTT itu. Lima atau enam pramugari cantik pun masuk ke waiting room untuk menggantikan teman-teman mereka.

Wow, kejutan! Kali ini Lion Air tidak terlambat terbang ke Surabaya. Selisihnya tidak sampai 30 menit dari jadwal yang dicetak di tiket. Pramugarinya pun kesan saya makin ramah, murah senyum, tak lagi menggerutu.

"Mas, anda duduk di dekat pintu darurat aja ya," pinta sang pramugari kurus langsing kepada saya.

Mudah-mudahan prestasi bagus ini bisa dipertahankan Lion Air, Trans Nusa, dan semua perusahaan penerbangan lain di Indonesia.

Natal di Waowala Lembata yang Mengenyangkan




Di kampung halaman saya, yang mayoritas Katolik, perayaan Natal dan Paskah sejak dulu selalu meriah dan merakyat. Tak ada sinterklas. Tak ada pohon terang. Tak ada lagu-lagu Natal yang ramai di mana-mana.

Kor atau paduan suara pun tidak mungkin sebagus punyanya mas Yulius di Katedral Surabaya atau bung Sipri di Paroki Karangpilang yang ciamik soro. Kor-kor desa itu ya pokoke muni. Pokoknya bisa memawakan lagu-lagu ordinarium misa dan sebagainya. Kualitas petugas liturgi pun jelas kalah dengan umat Katolik di Jawa yang super minoritas.

Yang membedakan adalah kebersamaan dan kekeluargaan antarumat, bahkan antaragama. Di Jawa Timur, selesai misa Natal yang panjang semua orang buru-buru pulang ke rumah, mall, tempat hiburan, dsb. Jabat tangan selamat Natal hanya sebatas di antara keluarga atau teman-teman dekat. Sementara ribuan jemaat yang ikut misa itu kebanyakan tidak saling kenal, tak saling sapa, kecuali saat salam damai. Itu pun hanya bersalaman dengan dua tiga orang yang duduk di kiri kanan depan belakang.

Nah, ekaristi Natal 2015 ini dipusatkan di Gereja Stasi Waowala, Paroki Tokojaeng, Lembata. Masyarakat dari 7 desa ikut misa bersama di Waowala. Tahun lalu di Stasi/Desa Mawa, tahun sebelumnya di Stasi Atawatung. Diputar bergantian setiap tahun. Kebetulan tahun ini pastor yang memimpin perayaan Natal merupakan imam baru asal kampung halaman kami, Pater Ferdinandus Nuho SVD.

Ini kejutan bagi saya. Sebab baru kali ini saya ikut misa di NTT yang dipimpin romo kongregasi SVD (Societes Verbi Divini). Romo-romo SVD ini sudah sangat lama menyerahkan Kabupaten Lembata dan Flores Timur kepada romo-romo diosesan alias projo. Umat yang lama jelas sangat kangen dengan imam-imam SVD yang merakyat itu.

Pater Ferdinandus sendiri awal 2016 ini dikirim sebagai misionaris di Afrika. Gantianlah! Kalau waktu saya kecil pater-pater misionaris dari Eropa yang dikirim ke Lembata, sejak 20 tahun terakhir pater-pater asal Lembata yang SVD dikirim ke Afrika, Amerika Latin, Eropa dsb. "Dunia adalah paroki kami," begitu jargon SVD yang saya ingat sejak SD.

Perayaan ekaristi malam Natal dan 25 Desember 2015, pagi, lancar dan ramai. Listrik PLN (yang baru masuk Lembata tahun 2000an) jeglek beberapa kali. Tapi homili (khotbah) pastor muda ini sangat berkualitas. Pantaslah Pater Ferdinandus diutus sebagai misionaris di luar negeri. Ini juga menunjukkan bahwa SVD berhasil menjaga standar mutu imam-imamnya sejak prakemerdekaan Indonesia.

Yang paling asyik di Lembata -- dan tidak ada di Surabaya, Sidoarjo, Malang, Jember dan Jawa umumnya -- adalah acara makan bersama setelah misa. Pemerintah desa Waowala dan dewan stasi telah menyiapkan 4 tenda. Juga menyembelih kambing, babi, ayam, tak ketinggalan ikan laut nan segar untuk menjamu para tamu dari 6 desa tetangga tadi.

Semua orang, tua muda, anak-anak, siapa saja, digiring menuju ke tenda yang sudah disediakan tadi. Saya kebagian tenda di halaman rumah keluarga muslim. Orang-orang Islam setempat pun sangat sibuk melayani kami yang baru selesai mengikuti misa Natal pagi, 25 Desember 2015. Karena itu, makanan yang disediakan di sini 100 persen halal alias tanpa babi. Tapi ada tuak yang dicampur raha (kulit kayu) untuk jamu rada pahit. Ikan segar yang digoreng di rumah keluarga muslim ini enak sekali.

Suasana benar-benar mirip pesta rakyat. Jalan kaki sekitar 300 meter, saya kembali digiring ke tenda kedua. "Waduh, saya sudah makan di tenda sebelah," kata saya berkelit.

"Itu kan tenda sebelah. Di sini kan belum," kata seorang pengurus desa sembari menggandeng saya dan jemaat lain masuk ke tenda.

Yang ini tenda yang menyediakan daging babi. Ada juga minuman tradisional tuak (nira pohon siwalan) yang baru disadap. Makanlah lagi kami di situ. Perut pun makin penuh. Tentu tidak mungkin lagi mampir ke dua tenda sisanya atau ke rumah warga. Pesta rakyat Natal ini, maksudnya makan besar dan minum, berlangsung sampai sore.

Kemeriahan Natal ala orang kampung di Lembata inilah yang selalu mendorong para perantau untuk mudik meskipun tiket pesawat Surabaya-Kupang sudah melonjak sekitar 200 persen dibandingkan 5 tahun lalu di bulan Desember. Frans Hurek yang sudah karatan di Sabah Malaysia Timur pun menyempatkan diri datang bersama istrinya.

"Bae (baik) tidak bae, Natal di kampung lebih bae," kata perantau yang lain.

Blog macet di NTT karena gaptek




Selama 10 hari, seperti biasa, saya mudik ke kampung halaman di Kabupaten Lembata NTT. Selama itu pula saya kehilangan sinyal untuk berselancar di jagat maya. Sampai sekarang wilayah NTT hanya bisa diangkau Telkomsel.

Maka ponsel BB saya yang pakai operator lain mati kutu di kampung. Ibarat HP mainan anak-anak saja. Padahal, saya hanya bisa mengetik dengan nyaman di BB yang tidak pakai layar sentuh. Mengetik di Samsung yang android itu, yang saya cemplungkan kartu Telkomsel, ternyata masih salah melulu meskipun saya sudah mencoba hampir dua tahun.

Tapi tidak apa-apa. Justru hidup tanpa sinyal seluler, kecuali Telomsel, itu pun di titik tertentu saja (dataran tinggi) banyak manfaatnya. Saya bisa kembali seperti masa anak-anak sebelum meninggalkan kampung halaman selepas lulus SD.

Saya jadi sangat dengan alam. Bercumbu dengan tanaman jagung yang masih setinggi 20an cm. Memetik daun kelor untuk sayur setiap hari. Kelor alias merungge memang sayuran yang paling populer di NTT yang kering itu. Saya juga makin betah menikmati rumah-rumah adat di Napaulun, kampung lama nenek moyang, yang cenderung tidak terurus itu.

Jauh dari hiruk pikuk kendaraan bermotor, suara angin, dedaunan yang bergoyang, binatang liar, burung-burung terasa begitu jelas. Itulah musik alam ciptaan Tuhan yang sejati. Tetirah dari jagat maya juga membebaskan saya untuk sesaat tidak terlibat dalam polemik berapa grup media sosial di Sidoarjo yang gak jelas juntrungannya.

Masa liburan usai sudah. Saatnya kerja kerja kerjaaaa.... Sinyal seluler kembali penuh sesak. Aku kembali larut dalam hiruk pikuk ala orang kota yang memang begitulah adanya.

Selamat tahun baru 2016. Salam sukses untuk sahabat-sahabat pembaca blog ini.