13 December 2015

Pertobatan dan kerahiman Allah

Sudah setahun ini saya selalu misa Sabtu petang, 17.00-18.20. Maklum, paginya saya ikut acara nggowes sepeda pancal, car free day, dan event-event mingguan yang marak di Sidoarjo. Misa petang juga asyik karena udara lebih sejuk dan gerejanya tidak sesak.

Kalau imisa Minggu pagi atau sore, wah... sangat sulit dapat tempat duduk karena jemaatnya membeludak. Belum lagi hawa yang panas, khususnya misa jam 07.00 atau 09.00, meskipun ada kipas angin dan AC.

Nah, beberapa jam lalu saya ikut ekaristi di kawasan Wonokromo, Surabaya. Misa dipimpin Romo Wayan Eka SVD, pastor asal Bali yang suaranya keras dan antusias. "Hari ini tidak ada khotbah. Diganti surat gembala dari Uskup Surabaya," ujar sang romo saat misa hari Minggu ketiga Adven.

Seperti biasa, surat gembala selalu ditulis menggunakan kalimat-kalimat resmi gerejawi yang tidak mudah bagi awam. Banyak kutipan dokumen dalam bahasa Latin. Kutipan Alkitab. Namun, inti surat gembala Monsinyur Vincentius Sutikno Wisaksono ini adalah ajakan untuk bertobat. Demi menghadirkan kerahiman Allah.

Tema ini sesuai pesan Paus Fransiskus di Vatikan yang juga menekankan hal yang sama: menghadirkan kerahiman Allah. Uskup Surabaya kemudian menjelentehkan 10 wujud pertobatan itu. Mulai dari imam, katekis, suster, frater, pengurus dewan paroki, staf paroki, keluarga Katolik, hingga hubungan kemasyarakatan dan sosial karitatif.

Yang nyantol di kepala saya adalah pesan untuk keluarga-keluarga Katolik. Bapa Uskup mengajak umat Katolik untuk menumbuhkan kembali kebiasaan berdoa bersama, sharing, saling mendoakan, saling memaafkan dalam keluarga. Hindari aneka bentuk gosip. Biasakan menggunakan kata-kata positif, saling memaafkan, berbagi, musyawarah, pujian, peneguhan.

Kebiasaan doa bersama inilah yang saya rasa sangat merosot setelah tahun 2000. Begitu banyak hiburan, puluhan channel televisi, internet, media sosial, dsb membuat kehidupan doa, refleksi, lectio divina... sangat meredup.

Saya sendiri biasa menonton siaran sepak bola selama dua jam, tengah malam jelang subuh, tapi tidak bisa berdoa lama-lama. Pertandingan bola kayaknya lebih penting daripada berdoa. Padahal, umat beragama itu dituntut melakukan komunikasi intensif dengan Tuhan lewat doa-doa, ekaristi, katekese, dsb.

Di Surabaya dan Sidoarjo ini saya hampir tidak melihat ada acara doa lingkungan atau doa rosario dari rumah ke rumah macam di Jember atau Malang (apalagi Flores). Umat Katolik memang rajin misa, gereja sesak, tapi doa bersama ala umat tempo doeloe makin jarang dilakukan.

Kebiasaan doa angelus tiga kali sehari malah dianggap asing oleh umat Katolik di kota besar. Termasuk orang-orang yang bekerja di lingkungan gereja (paroki). Di kantin-kantin paroki malah tidak ada kebiasaan doa angelus pukul 12.00. Bagaimana pula dengan umat Katolik di rumah tangga atau tempat kerja?

Begitu antara lain pergumulan di otak saya saat menyimak Surat Gembala Uskup Surabaya yang dibacakan Romo Wayan Eka. Intinya: bertobat bertobat bertobat... karena Kerajaan Allah sudah dekat! Salam damai!

No comments:

Post a Comment