05 December 2015

Toko P&D Mencoba Bertahan

"Cak, beli aqua galonan di mana?"

Tukang becak itu menjawab, "Di Toko P&D di sebelah timur lampu merah. Sekitar 200 meter."

"Toko P&D apa?"

"Pokoke P&D! Semua orang sudah tahu yang namanya P&D itu ya tokonya wong Tionghoa di sebelah itu. Tokonya sudah puluhan tahun berdiri," kata mas Becak yang ramah itu.

Benar. Toko seluas separo lapangan bola voli itu dijaga pemiliknya pasangan suami-istri Tionghoa yang sudah sepuh. Usia keduanya mendekati 70 atau sedikit di atas 70. Orangnya ramah sekali. Tuan Tionghoa kemudian meminta seorang penjaga toko, wong Jawa kulonan (logatnya kental Jatim bagian barat) mengambil aqua galonan dari gudang di dalam. Harganya Rp 15 ribu.

"Toko P&D itu artinya apa?" tanya saya kepada cewek kulonan yang murah senyum itu.

"Mboten ngertos Pak! Aku gak ngerti. Pokoke P&D wis! Kok nanya-nanya P&D segala?" tukas sang penjaga toko yang masih 20an itu.

Pancingan saya ternyata gagal lagi. Di Sidoarjo saya pun pernah ngetes pemilik (dan penjaga toko) apa artinya P&D. Tapi jawaban mereka ngambang. Malah ada penjaga toko menjawab ngawur, katanya P dan D itu nama orang. "Mungkin itu inisial nama pendiri toko," katanya.

Saya jadi ingat pengalaman di Jember pada 1990an. Umat Katolik di wilayah kami di Paroki Santo Yusuf itu sering mengadakan doa lingkungan-wilayah di toko P&D milik Tionghoa yang sangat Katolik. Sebelum dan sesudah doa bersama, sambil menunggu hidangan makan malam disiapkan (meski sebenarnya tidak diperbolehkan ketua wilayah), kami sering membahas apa gerangan makna P&D tersebut.

Sang pemilik toko yang Tionghoa itu menjelaskan secara singkat, tapi jelas, arti P&D. Lengkap dengan bahasa Belandanya yang sudah saya lupa. Untung ada mbah Google yang sangat efektif membantu saya: P&D singkatan dari Provisien & Dranken.

Toko P&D adalah toko yang khusus menjual makanan dan minuman. Mulai biskuit, kue-kue, roti, sirup, air mineral, jajanan dsb dsb. Tapi P&D yang di Surabaya ini juga disediakan sabu mandi, sabun cuci, odol... dan di halamannya dijual aneka bibit tanaman hias. Tapi yang menonjol tetaplah makanan dan minuman alias provisien en dranken.

Ada minuman beralkohol? Saya perhatikan miras alias minol diletakkan di bagian pojok. "Kalau kamu butuh bir, saya punya banyak stok," kata Xiangshen sambil tersenyum.

Kehadiran mini market yang semakin masif, khususnya Indomaret dan Alfamart, tidak hanya menggerus pasar toko-toko kelontong lawas, tapi juga toko-toko P&D. Betapa tidak. Sebagian besar barang yang dijual di Alfamart dan Indomaret (juga supermarket besar) tidak lain makanan dan minuman. Harganya pun tak jauh berbeda.

Orang-orang lebih suka berbelanja di minimarket karena lebih sejuk dan nyaman. Begitu mendorong pintu kaca, cewek-cewek cantik secara otomatis (dan mekanis) menyapa kita: "Selamat datang di Indomaret, selamat belanja!"

Mungkin suatu ketika toko-toko P&D ala Tionghoa Hollands spereken bakal hilang ditelan toko-toko modern yang agresif itu. Seperti juga 16 pabrik gula peninggalan Belanda di Sidoarjo yang sekarang tinggal 4 (Candi Baru, Toelangan, Kremboong, Watoe Toelis).

No comments:

Post a Comment