12 December 2015

Sulitnya mengetik di keyboard virtual

Sudah dua tahun ini saya belajar mengetik pakai keyboard virtual di Samsung. Tapi tak kunjung berhasil. Salah melulu. Hampir semua kata harus diulang karena a jadi s, f jadi g, j jadi k, c jadi v, dan seterusnya.

Mengetik pakai layar sentuh juga tidak bisa pakai dua tangan. Jari telunjuk kanan yang pegang peranan. Mengetiknya jadi lamaaa banget. Sampai saya belum berhasil menulis satu pun artikel pendek pakai Samsung.

Maka, si Samsung itu lebih banyak sama pakai untuk membaca berbagai lama internet. Sesekali mengintip facebook beberapa grup di Sidoarjo sambil menulis komentar pendek pakai si telunjuk. Kata-katanya juga sering keliru sehingga perlu koreksi berkali-kali. Memang ada fasilitas prediksi kata, tapi tidak selalu pas. Aliran pikiran saya jadi rusak karena harus beberapa kali mengoreksi salah ketik.

Bagaimanapun juga mengetik paling enak itu ya pakai komputer biasa (desktop) atau laptop karena persis mesin ketik biasa. Tapi, begitu mengenal BB, saya jadi keasyikan mengetik pakai jempol. Dua jempol bekerja sama, menemukan huruf-huruf, membentuk kata, kalimat, artikel pendek dan panjang.

Lama-lama dua jempol ini bisa bekerja secara otomatis. Sekarang ini kecepatan mengetik saya pakai jempol sudah nyaris sama dengan desktop. Bahkan, sudah lama saya jarang mengisi konten blog ini dengan laptop atau komputer biasa. Saya begitu menikmati zona nyaman dengan BB yang sederhana tapi sangat efisien.

Ketika (hampir) semua teman meninggalkan BB, beralih ke android si Samsung khususnya, awalnya saya cuek aja. Ngapain pakai keyboard virtual yang salah melulu itu? Tapi, namanya juga tren, mau tidak mau kita harus ikut arus teknologi informasi. Sebab fitur-fitur Samsung jauh lebih banyak, asyik, kecuali mengetiknya yang salah melulu itu - menurut saya.

"Kalau anda tidak belajar ngetik di android bisa ketinggalan zaman. BB itu tidak lama lagi akan mati. Nantinya semua HP pakai layar sentuh," kata teman saya rada sok tahu.

Saya pun mencoba belajar mengetik di kibod vitual. Tapi gagal terus. Beda banget dengan beberapa teman yang kelihatannya sangat asyik menikmati tablet anroid mereka. "Alah bisa karena biasa. Semua itu harus dilatih," kata teman yang pakar IT.

Mengetik pakai jempol di BB pun awalnya susah. Tapi lama-lama keasyikan dan ketagihan. Saya pun membayangkan suatu saat bisa mengetik di Samsung secepat di BB - dengan kesalahan sekecil mungkin. Sayang, sudah setahun ini belum bisa.

Catatan ringan ini pun diketik pakai BB lawas yang sebetulnya sudah kedaluwarsa. Soalnya, tadi saya sempat belajar mengetik pakai kibod di layar sentuh tapi salah dan salah melulu!

3 comments:

  1. mungkin jari-jarinya pak hurek ukurannya lebih besar jadi ketika mengetik salah-salah terus.. Kalau jarinya kecil dan lentik mungkin memang cocok untuk typed menggunakan hp samsung dan kesalahan ketik pun sedikit.hihiiii :D

    ReplyDelete
  2. Bung Hurek, saya pun tadinya (8 tahun lalu) terbiasa memakai Blackberry. Tetapi kemudian saya pindah ke iPhone, dan permulaan tidak terbiasa menggunakan layar sentuh. Tetapi kemudian iPhone saya menjadi pintar dan mengenali kebiasaan termasuk kesalahan saya, dan dengan fitur auto-correct malah ketikan saya di iPhone menjadi sangat cepat. Hanya, yang tidak saya sukai menggunakan layar kecil ialah otot leher menjadi kaku karena selalu menunduk.

    ReplyDelete
  3. Mas Hurek, mungkin lebih nyaman dengan menghidupkan rotasi layarnya, sehingga pegang gadgednya bisa horizontal dan papan tombol tampil lebih besar ukurannya , sehingga lebih nyaman daripada mengetik dengan posisi layar vertikal....

    ReplyDelete