17 December 2015

Salah Rakyat NTT Pilih Setya Novanto



Jauh sebelum pemilu legislatif, 9 April 2014, sudah muncul suara-suara kritis di kalangan orang-orang Nusa Tenggara Timur (NTT) yang berada di perantauan. Meskipun tidak punya hak mencoblos di NTT, perantau NTT ini selalu mengikuti perkembangan sosial, politik, budaya, dsb di kampung halamannya.

"Banyak bangsat-bangsat politik dari Jakarta yang jadi caleg untuk dapil NTT. Mereka didukung kekuatan uang yang tidak terbatas jumlahnya," kata seorang opa asli Timor yang sudah puluhan tahun jadi warga Jawa Timur.

"Kita harus bicara, sonde (tidak bisa) diam. Kalau dibiarkan, lama-lama tidak ada lagi politisi asli NTT yang tembus ke Senayan. Mana ada orang NTT yang kaya raya," kata sang opa yang sangat kritis di media sosial itu.

Maka, dibuatlah daftar nama-nama caleg dapil NTT (ada dua dapil) untuk dikritisi. Cukup banyak mantan aktivis mahasiswa, asli NTT, cerdas, tapi tidak punya uang. Sebaliknya, ada beberapa nama politisi level nasional yang kelas konglomerat. Salah satunya ya Setya Novanto dari Golkar.

"Bapak Setya Novanto ini punya modal yang tidak terbatas. Seng ada lawanlah," kata seorang teman yang juga caleg lokal. "Sekarang ini eranya politik uang. Orang-orang NTT di kampung juga sudah lama kena virus money politics. Kalau tidak ada amunisi (uang), bagaimana bisa menang?"

Omongan kawan caleg, yang kemudian gagal ini, memang tidak meleset. Saat berada di NTT jelang pemilu tahun lalu, saya menangkap suasana yang sangat mengiris hati. Caleg-caleg yang tidak punya duit, cuma modal otak, kritis, berani melawan penguasa yang korup, malah jadi bahan tertawaan.

"Si A itu caleg miskin, tidak punya apa-apa. Kalau bertamu ke rumah, dia tidak bawa apa-apa untuk kita. Justru kita yang dimintai uang untuk biaya jadi caleg. Hahahaha... Tidak punya uang kok berani jadi caleg? Hahaha," kata seorang wanita yang sangat sinis dengan si A ini.

"Kalau si caleg B itu.. begini!" kata tante itu menunjuk jempol kanannya. "Kita mau minta bantuan apa saja dia kasih. Kalau dia ke sini, di selalu tinggalkan oleh-oleh (uang)," tuturnya.

Asal tahu saja, si A masih keluarga dekat, satu kakek-nenek, sedangkan si B tak ada hubungan keluarga. Kampung B juga berbeda kecamatan alias cukup jauh meskipun satu dapil.

"Tolong dibantulah si A itu. Kalau pihak keluarga sendiri tidak memilih dia, bagaimana orang lain mau coblos gambarnya?" pancing saya.

"Hahaha.... Ini kan politik, bukan urusan keluarga! Mau keluarga kek, sepupu... kalau kita tidak dapat apa-apa, masak kita pilih dia?" jawabnya tegas.

"Kasihan si A. Orangnya pintar dan punya idealisme," kata saya prihatin. "Tapi dia tak punya uang."

Begitulah. Hasil pileg 9 April 2014 benar-benar memperlihatkan kemenangan politik uang. Si A kalah di kampung halamannya sendiri. Di level Senayan (DPR RI), cukong-cukong besar dari Jakarta macam Setya Novanto menang dengan sangat meyakinkan.

Orang NTT rupanya tak lagi mempertimbangkan asal usul, darah Flobamora, etnis, ras, bahkan agama. Setya Novanto yang bukan orang NTT, bukan Katolik, bukan GMIT (gereja Protestan terbesar dan paling berpengaruh di NTT), bukan Pentakosta... dengan mudah mengalahkan caleg-caleg asli NTT, kristiani, mantan-mantan aktivis gereja, mantan aktivis PMKRI, GMKI, dan sebagainya.

Isu SARA alias agama, ras, suku benar-benar tidak laku dalam pileg 2014. Maka melengganglah Setya Novanto ke Senayan. Bahkan, Novanto terpilih sebagai ketua DPR RI berkat kemenangan patgulipat politik yang dimainkan Koalisi Merah Putih. Setya Novanto kemudian menjadi sangat terkenal bukan karena bikin banyak program untuk memajukan NTT, memberantas kemiskinan akut di NTT, tapi akibat manuver-manuver politik bisnisnya yang kontroversial.

Dua minggu terakhir ini diskusi di FB yang melibatkan orang-orang NTT sangat intensif. Peter A Rohi, wartawan kawakan asli NTT, yang ber-KTP Surabaya, lebih banyak tinggal di Jakarta, pun memperlihatkan kemarahannya yang amat sangat pada Setya Novanto. "Setya ini memecah belah orang NTT dengan duitnya," kata om Peter. Ia menyoroti unjuk rasa sekelompok orang NTT di Jakarta yang berunjuk rasa mendukung Setya Novanto.

Tapi mau bilang apa lagi?

Saya perhatikan hampir semua komentator dan pengamat yang mengkritik Setya Novanto itu orang-orang NTT yang tinggal di Pulau Jawa. Om Peter, saya, dan ratusan warga perantauan NTT tidak pegang KTP NTT. Kami hanya bisa curhat, mengelus dada, melihat kegentingan politik nasional dengan aktor utamanya Setya Novanto, wakil rakyat NTT di Senayan.

Sebaliknya, orang-orang NTT di bumi Flobamora (Flores Sumba Timor Alor) sangat jarang nimbrung diskusi di internet dan media sosial. Bahkan teman-teman di Kupang, ibukota provinsi, pun makin jarang terlibat diskusi untuk membahas NTT. Bukan apa-apa, sudah sebulan ini listrik di Kupang sering padam karena mesin rusak dsb.

Saya tidak tahu apakah Setya Novanto pun ikut memikirkan kelistrikan di NTT yang masih sangat parah itu. Kelihatannya beliau lebih asyik ngurusin Donald Trump dan Freeport yang kaya raya ketimbang ngurusin 5 juta rakyat miskin di NTT yang diwakilinya.

Siapa suruh pilih Setya Novanto?

No comments:

Post a Comment