11 December 2015

Selamat untuk Semua Calon yang Kalah

Meski tinggal di Surabaya, Tan Mei Hwa sangat paham bahwa Saiful Ilah bakal sulit dikalahkan dalam pemilihan bupati Sidoarjo, 9 Desember 2015. Abah Saiful sudah kaya raya sejak belum lahir. Punya ribuan hektare tambak, puluhan perusahaan, istrinya pun putri juragan kaya.

Abah Saiful calon petahana alias baru menjabat bupati Sidoarjo 2010-15. Sebelumnya jadi wakil bupati selama 10 tahun. Beliau ketua PKB Sidoarjo, tokoh nahdlatul ulama (NU) yang disegani. Begitu banyak modal sosial, modal harta, modal kultural sebagai putra asli Jenggolo, yang membuatnya sulit dikalahkan siapa pun dalam pilkada 9 Desember 2015.

Lha, kok sampeyan berani maju di pilkada Sidoarjo?

"Ya, kita mencoba berusaha, ikhtiar. Soal jadi atau tidak itu kan tergantung kehendak rakyat dan takdir Allah. Manusia cuma melaksanakan tugasnya sebagai khalifah di bumi Allah," begitu kata-kata Tan Mei Hwa yang selama ini dikenal sebagai ustadah populer di Jawa Timur itu.

Jalan ke pendapa di alun-alun itu kian terjal karena Tan Mei Hwa justru mendampingi cabup Utsman Ikhsan. Orang Sidoarjo tahu Utsman ini bekas narapidana kasus korupsi. Ketika menjabat ketua DPRD Sidoarjo, semua anggota dewan terkena kasus korupsi berjamaah anggaran untuk pengembangan sumber daya manusia. Akal-akalan untuk memperkaya para wakil rakyat sendiri.

Bagaimana bisa menang kalau cabupnya mantan napi? Tapi Tan Mei Hwa bergeming. Dia mengaku diminta PKS untuk mendampingi Abah Utsman agar ikut pilkada.

Warih Andono, ketua DPD Golkar Sidoarjo, juga rela melepaskan jabatannya sebagai anggota DPRD Sidoarjo untuk menantang Saiful Ilah. Bung Warih dari Waru ini tentu sangat paham sosok Abah Saiful. Semua orang tahu elektabilitas Warih sangat rendah. "Tapi kita harus berusaha untuk perubahan Sidoarjo lebih baik. Sudah saatnya pemimpin muda yang mengurusi Sidoarjo," kata Warih Andono.

Abdul Kolik juga mau mundur sebagai anggota DPRD Sidoarjo agar bisa menjadi calon wakil bupati mendampingi Hadi Sutjipto. Kolik bahkan dipecat dari PKB yang dipimpin Saiful Ilah. Padahal, saat pemilu legislatif Kolik berjuang sangat keras agar masuk ke kursi legislatif. Dan Kolik sukses menjadi pengumpul suara terbanyak.

Kok berani-beraninya membuang kursi dewan untuk mengejar kursi wakil bupati yang peluangnya setipis rambut? Itulah yang namanya pengorbanan. Jer basuki mawa beya! Yang namanya perjuangan selalu menuntut pengorbanan.

MG Hadi Sutjipto boleh dikata nothing to lose. Dia baru lengser sebagai wakil bupati, tidak ambisius, dan diminta maju pilkada karena "diceraikan" Saiful Ilah. PKB ingin cawabup dari kalangan PKB sendiri untuk kaderisasi pemimpin Sidoarjo lima tahun ke depan. Karena itu, Pak Cip tidak perlu mengorbankan jabatan, harta, uang dsb. Pak Tjip birokrat sejati, bukan pengusaha kaya atau juragan tambak macam Abah Saiful.

Melihat peta kekuatan politik di Sidoarjo, siapa pun tak akan mampu mengalahkan Saiful Ilah. Sekadar mengimbangi saja pun susah. Dan ini terbukti dari hasil perhitungan cepat beberapa lembaga survei kemarin. Saiful Ilah menang sekitar 60 persen, Sutjipto 20 persen, Utsman-Tan Mei Hwa 7 persen, Warih Andono 5 persen.

Tapi, melihat kasus Kota Surabaya jelang pilkada tiga bulan lalu, rasanya kita di Sidoarjo harus angkat topi untuk orang-orang yang berani menantang Saiful Ilah meski tahu peluang menangnya merupakan hil yang mustahal (pinjam istilah Srimulat). Pilkada Surabaya hampir batal karena partai-partai tidak berani menantang Tri Rismaharini yang sangat populer. Buat apa mengusung calon, keluar duit untuk kampanye, biaya macam-macam, kalau sudah bisa dipastikan akan kalah?

Maka, kita juga perlu memberi respek yang luar biasa untuk Pak Rasiyo dan Ning Lucy yang akhirnya maju menantang Bu Risma. Salut juga untuk Partai Demokrat dan PAN yang mau mencalonkan Rasiyo-Lucy... meski sudah tahu bakal kalah. Tanpa paslon-paslon yang mau bertarung, hajatan politik lima tahunan bernama pilkada ini pasti tak akan terjadi.

Saya biasa menganalogikan superioritas petahana macam Bu Risma di Surabaya, Abah Saiful di Sidoarjo, dan Pak Sambari di Gresik ini dengan La Liga Spanyol. Semua pengemar sepak bola tahu bahwa Barcelona itu pasti akan jadi juara Liga Spanyol. Real Madrid sekalipun dibantai 4-0 dan dipermalukan di depan pendukungnya sendiri.

Betapa jauhnya jarak mutu Barcelona dengan 19 tim lain. Tapi semua tim tetap sportif. Mereka tetap berusaha menyuguhkan permainan sebaik mungkin, sesuai dengan kemampuan yang ada. Bahwa nanti akan kalah, (hampir) pasti. Tapi ikhtiar untuk berkompetisi, mengibur penonton di seluruh dunia, menyelamatkan La Liga, itulah kemenangan tertinggi bagi klub-klub tersebut.

Bayangkan bila 19 klub mundur, WO, karena sadar tak akan bisa menang lawan Barcelona! Mungkinkan Messi dkk bermain sendiri di stadion tanpa lawan? Kasus jelang pilkada Surabaya beberapa waktu lalu semakin menunjukkan kepada kita betapa berharganya orang-orang yang bersedia maju untuk berkompetisi. Mereka sesungguhnya pahlawan-pahlawan demokrasi yang sejati.

Salut dan selamat kepada Utsman Ikhsan, Tan Mei Hwa, Hadi Sutjipto, Abdul Kolik, Warih Andono, dan Imam Sugiri di Sidoarjo! Juga selamat untuk Pak Rasiyo dan Ning Lucy di Surabaya! Juga semua pasangan calon kepala daerah di Indonesia. Anda semua pahlawan demokrasi! Anda semua adalah pemenang!

1 comment:

  1. Maju sekarang walaupun tahu kalah itu investasi untuk 5 tahun ke depan, agar namanya sudah dikenal oleh khalayak ramai. Dengan demikian beliau-beliau bisa maju ke jabatan lain nantinya.

    ReplyDelete