18 December 2015

Nikita Mirzani dan Puty Revita bukan korban trafficking

Di dunia "perbalonan" di Jawa Timur, khususnya ketika masih ada Gang Dolly, dan Tretes masih jaya, ada profesi germo alias mucikari (KBBI: muncikari) dan makelar. Mucikari yang wanita biasa dipanggil mami, sedangkan yang laki-laki disapa papi. Mami dan papi inilah pelaku bisnis pelacuran sejati.

Para mucikari punya kaki tangan untuk merekrut calon-calon balon (PSK) ke berbagai daerah. Cewek-cewek yang diincar tentu yang muda, U-24 (di bawa 24 tahun), cakep, bisa dijual kepada para tamu hidung belakang. Kalau dapat banyak calon balon yang bagus, para kaki tangan germo ini dapat komisi banyak. Kayak bisnis-bisnis lainlah.

Di Gang Dolly sendiri, dulu ketika masih buka, di sepanjang jalan depan wisma ada banyak laki-laki yang kerjaannya membujuk semua pria yang lewat. Dijawil, diajak mampir, ke wisma tertentu. Mereka-mereka ini ABG alias anak buah germo. Dia dapat komisi setiap kali berhasil menjebloskan para laki-laki untuk kelonan dengan PSK di dalam kamar wisma. Tidak heran para makelar ini sering berkelahi lantaran rebutan tamu.

Berbeda dengan bisnis perbalonan kelas bawah di Dolly dan sejenisnya, bisnis prostitusi yang melibatkan beberapa pesohor macam Nikita Mirzani, Puty Revita, Anggita Sari, atau TM agak lain cara kerjanya. Beberapa germo yang ditangkap polisi macam Ronald Rumagit (Nikita), Ferry Okviansyah (Puty), Alvania Tiar (Anggita Sari), Robby Abbas (Anggita, Amel Alvi, Tyas Mirasih, Shinta Bachir) tidak sama dengan germo-germo di Dolly.

Germo-germo di Dolly, Jarak, Moroseneng dsb sangat jelas terlibat bisnis perdagangan manusia. Menjebloskan gadis-gadis polos di desa yang miskin untuk dijadikan pekerja seks. Eksploitasi atas PSK-PSK ini sangat luar biasa. Para germo menciptakan sistem bisnis sedemikian rupa sehingga para PSK sulit keluar dari Dolly. Utang mereka dibuat menumpuk, surat-surat penting ditahan dsb.

Kalau membaca berita-berita di internet dan surat kabar, jelas banget kalau Nikita Mirzani, Puty Revita, Anggita Sari dsb menjual diri sendiri untuk mereguk uang puluhan atau ratusan juta rupiah secepat kilat. Nikita pasang tarif Rp 65 juta. Puty Revita Rp 50 juta. Amel Alvi Rp 80 juta. Anggita Sari Rp 10 juta. Daftar panjangnya bisa cari sendiri di internet. Tidak ada germo yang menjebloskan Nikita dkk ke dunia pelacuran. Tidak ada yang mengeksploitasi para artis gadungan yang karya seninya gak jelas itu.

Bisa dikatakan Nikita Mirzani atau Puty Revita ini pekerja seks merangkap germo/mucikari. Adapun tersangka Ronald dan Ferry ini tak lebih dari para makelar yang tupoksinya adalah mencarikan konsumen sebanyak-banyaknya untuk diporoti uangnya oleh Nikita cs. Mereka ini ibarat para makelar alias anak buah germo di Dolly atau Jarak atau Tretes.

Selain dapat komisi dari si PSK artis, mereka biasa menggoreng harga ketika bernegosiasi dengan calon konsumen. Bisa saja tarif Nikita Rp 50 juta tapi dijual ke konsumen dengan harga Rp 65 juta. Dapatlah untung Rp 15 juta. Nanti dapat komisi 10 persen dari Nikita senilai Rp 5 juta. Saat disidang di Pengadilan Negeri Surabaya, model Anggita Sari mengaku tarifnya hanya Rp 10 juta. Tapi makelar yang namanya Robby menggelembungkan harga (kayak proyek pemerintah aja) sampai Rp 25 juta, bahkan Rp 50 juta.

Maka, sangat aneh dan menggelikan ketika polisi mengangap Nikita dan Puty sebagai korban perdagangan manusia alias human trafficking. Dan polisi tidak salah karena undang-undang yang ada sekarang tafsirannya seperti itu. Seakan-akan Nikita dan Puty ini cewek-cewek ndeso yang miskin, dikibuli, untuk dijadikan budak seks di Gang Dolly. Karena itu, Nikita dan Puty tidak diapa-apakan alias bebas merdeka. Yang ditahan justru makelar-makelar online seperti Ronald dan Ferry.

Undang-undang di Indonesia memang tidak mengatur tentang pelacur yang merangkap sebagai germo macam para artis ini. Kenapa pula harus diributkan? Toh, Nikita, Puty, Angita Sari dkk cuma menjual tubuhnya sendiri untuk memenuhi kebutuhan gaya hidup keartisannya yang sangat mahal. Bukan menjual aset negara atau mencuri uang rakyat seperti yang biasa dilakukan pejabat-pejabat dan politisi di tanah air.

Katanya koran sih Nikita, Puty, Anggita, Shinta Bachir, Amel Alvi sering dipakai pejabat, pengusaha, hingga politisi. Terus duitnya dari mana untuk njajan yang gila-gilaan itu?

Prek!!!

No comments:

Post a Comment